Di ruang kerja yang diselimuti senyap, seorang pria paruh baya menghempaskan tubuh tambunnya ke kursi kulit cokelat yang megah. Kemeja safarinya yang tercekik kini melonggar, seiring kancing teratas yang ia lepas. Di hadapannya, foto-foto formal Presiden dan Wakil Presiden, mengapit Garuda Pancasila yang gagah, seolah menjadi saksi bisu kelelahan yang menyelimutinya.
Dari saku celananya, kotak rokok muncul. Sebatang diselipkan di antara bibir gelapnya. Api keluar dari ujung mancis membakar batang kretek. Asap mengepul, dihirup dalam-dalam sembari mata terpejam, seolah mencari ketenangan dalam pekatnya tembakau. Meja kerjanya, baru beberapa menit lalu dirapikan asisten pribadinya, kini terhampar rapi. Dokumen-dokumen penting, pulpen tinta seharga jutaan rupiah, dan sebuah papan kayu jati berukiran tradisional dengan tulisan kapital “BUPATI” terpampang nyata, simbol kekuasaan yang kini terasa memberatkan.
Hari ini adalah hari yang panjang. Sejak pagi hingga matahari karam, ia berkeliling meninjau lokasi bencana banjir dan longsor yang meluluhlantakkan daerahnya. Di sana, di tengah puing dan lumpur, ia menyapa warga. Tentu saja, kamera tak pernah mati. Setiap perpindahan, setiap senyuman, diatur oleh aba-aba semacam, “rolling action!” Ia mengangkut sendiri kotak-kotak bantuan bahan pokok, seolah tak ada satu pun staf lain yang sanggup melakukannya. Bantuan itu, ia serah terimakan langsung kepada warga terdampak, seolah kalau tidak melalui tangannya maka bantuan itu rentan salah sasaran.
Beberapa wajah yang ia jumpai siang tadi, ia kenali. Wajah-wajah relawan yang tahun lalu, kala kampanye, meneriakkan namanya paling keras. Mengelu-elukan prestasinya seolah ia adalah dewa yang sempurna untuk menduduki kursi nomor satu. Tahun lalu, mereka mengenakan kemeja rapi, ada yang berwarna merah, hijau, kuning, juga biru. Kini, baju mereka berwarna cokelat pekat tertutup lumpur yang mengering, menyisakan jejak pilu. Pria itu berpikir, “Tahun lalu mereka membantuku, kini saatnya aku membantu mereka.”
Ia teringat beberapa kampung dan kecamatan yang menjadi lumbung suaranya, kunci kemenangan di banyak TPS tahun lalu. Hari ini, kampung-kampung itu hilang, lenyap ditelan air bah yang membawa kayu-kayu gelondongan. Mungkin terkubur. Tanpa ampun, tanpa aba-aba. Orang-orang di kampung itu, para konstituennya, ikut terbenam bersama tanah yang dulu mereka pijak.
Tak terasa, air mata menetes. Air mata yang tulus, dari relung hati yang paling dalam. Matanya tertumbuk pada pulpen mahal di hadapannya, pulpen yang ia gunakan untuk menandatangani dokumen-dokumen perizinan perusahaan tambang dan pembalakan hutan.
Perusahaan tambang yang konon dapat menghasilkan rupiah tak terkira dan menjanjikan kemakmuran bagi daerahnya. Hari ini, tambang-tambang itu dikambinghitamkan, dituding sebagai biang keladi bencana. “Bukankah bencana ini lahir karena badai hujan?” pikirnya dengan geram. “Kenapa justru tambang yang disalahkan? Harusnya hujan yang disalahkan, kenapa ia turun begitu deras?”
Ia memutar kursi kerjanya, matanya sedikit melotot ke arah burung Garuda yang bertengger gagah di antara foto Presiden dan Wakil Presiden. Ia melihat simbol bintang di tengah tameng Garuda, “Ketuhanan Yang Maha Esa.” “Bukankah Tuhan yang menghendaki semua ini? Bukankah Tuhan yang mengirim hujan yang begitu dahsyatnya, sehingga menyapu warga yang saya cintai?”
Air mata yang awalnya hanya menetes, kini mulai mengalir deras. Tangisnya pecah, dadanya terasa sesak oleh luapan amarah, sesekali ia pukul meja kerjanya. Entah kapan terakhir kali ia menangis sekeras ini.
Ia ingat wajah-wajah penyokongnya ketika pemilu, ia ingat rakyat-rakyat yang berduyun-duyun ke TPS kala itu untuk mencoblosnya. Ia memikirkan simpatisan yang rela berpeluh, membantunya ketika kampanye, memasang fotonya di pohon-pohon pinggir jalan.
Tangisnya kian keras, hatinya bergemuruh. Ia tahu, simpatisan itu, rakyat itu, pendukungnya, semua yang mencoblos hingga ia bisa jadi bupati, tak ia dapatkan cuma-cuma. Suara itu ia bayar dengan “serangan fajar” dengan uang yang tidak sedikit. Uang itu ia peroleh dari pengusaha-pengusaha tambang, yang di kemudian hari, ia tandatangani izin tambangnya.
Dalam politik, tentu tidak ada makan siang gratis. Uang kampanye yang sudah ia terima dari para pengusaha tambang harus ia bayar lunas selama ia menjabat sebagai bupati. Jika tidak, gelontoran uang tak akan mengalir lagi saat kampanye untuk menjabat di periode kedua atau untuk istri dan anaknya nanti apabila ingin maju ke kursi anggota dewan.
Tangisnya kian pecah. Sialnya bencana ini membuat masyarakat percaya bahwa proyek-proyek tambang dan pembalakan hutan adalah biang masalah. Alhasil, proyek-proyek yang menjadi urat nadinya kini terancam batal. Masa depannya, masa depan kekuasaannya, kini terombang-ambing tak tentu arah. Gundah menyelimuti hati dan pikiran pak bupati, entah dari proyek mana lagi bisa ia bayar hutang kampanyenya.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


