Awalnya saya mengira Kepala BSDK, Dr. Syamsul Arif, hanya bercanda. Dalam sambutannya pada acara peresmian President Suite di Kampus BSDK pagi itu, ia menyebut satu per satu nama para hakim agung dan pimpinan Mahkamah Agung, lengkap dengan pengalaman serta “rekam jejak” mereka di meja tenis meja.
Candaan itu terdengar ringan dan mengundang tawa. Ada yang disebut sebagai langganan juara, ada pula yang dikenal tak pernah absen bermain. Sambutan mengalir santai, seolah menutup seremoni dengan humor segar.
Rasa penasaran mulai tumbuh ketika Ketua Mahkamah Agung ikut menimpali dengan candaan. Ia mengaku justru khawatir jika kali ini menang, karena selama ini lebih sering kalah. Kalimat sederhana itu menyalakan pertanyaan: sejauh mana sebenarnya kemampuan tenis meja para Yang Mulia itu?
Pertanyaan itu membawa kami melangkah ke belakang gedung utama Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan. Di sanalah lapangan tenis meja berdiri megah dan tertata. Suasana berubah—dari seremoni ke arena.
Saya menyaksikan pertandingan pertama sambil duduk mendampingi Ketua Kamar Tata Usaha Negara. Ketua Mahkamah Agung berpasangan dengan Hakim Agung Ennid, berhadapan dengan Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial yang berduet dengan Ketua Kamar Pengawasan.
Sejak reli awal, satu kesimpulan langsung muncul: ini bukan pertandingan basa-basi. Pengembalian bola rapi, smash keras dan akurat, tempo permainan terjaga. Tidak tergesa, namun tak memberi celah.

Pertandingan berjalan sangat berimbang. Kedua pasangan piawai mengatur ritme, membaca arah bola, dan mencari celah. Reli panjang berulang kali membuat penonton menahan napas, sebelum ditutup smash yang memicu tepuk tangan spontan.
Di titik itu, candaan pagi hari runtuh dengan sendirinya. Ketua Mahkamah Agung dan Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial tampil sebagai pemain tenis meja yang benar-benar matang—refleks cepat, kontrol kuat, dan insting kompetitif yang terasah.
Pertandingan lain menyusul. Pasangan demi pasangan tampil silih berganti. Polanya sama: ketat, sengit, dan penuh kejutan. Tidak ada laga yang berjalan satu arah. Setiap poin direbut dengan kerja keras.
Para Hakim Yustisial dan pegawai Mahkamah Agung mengerumuni lapangan. Suasana hidup, tetapi tetap tertib. Ada sorak kecil, tawa singkat, dan decak kagum—semuanya larut dalam semangat olahraga.
Menariknya, meski tensi tinggi, atmosfer tetap dingin dan bersahabat. Tidak ada gestur berlebihan. Tidak ada emosi yang meledak. Yang hadir adalah sportivitas.
Lapangan tenis meja pagi itu menjelma ruang perjumpaan yang unik. Di luar toga dan jabatan, para Yang Mulia hadir sebagai atlet rekreasional yang serius—kompetitif, namun santun.
Hingga akhirnya, partai final mempertemukan pasangan Ketua Mahkamah Agung–Hakim Agung Ennid melawan pasangan Hakim Agung Prim Haryadi–Sugiyanto selaku Sekretaris Mahkamah Agung. Laga berjalan ketat, sarat reli panjang, dan adu strategi yang menghibur.

Di akhir laga, pasangan Ketua Mahkamah Agung dan Hakim Agung Ennid keluar sebagai juara pertama, setelah menaklukkan perlawanan sengit pasangan Prim Haryadi–Sugiyanto. Kemenangan itu disambut tepuk tangan hangat penonton.
Sementara peringkat ketiga diraih pasangan Sobandi Kabua dan Bambang Myanto, Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum, usai mengalahkan pasangan Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Agama Yasardin dan DY Witanto, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan.
Lebih dari sekadar hasil pertandingan, yang tertinggal adalah suasana. Kebersamaan yang jarang hadir di ruang formal. Ruang di mana jabatan melebur dalam permainan, dan kepemimpinan hadir sebagai keteladanan.
Dalam sambutan paginya, Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia menegaskan bahwa olahraga bukan aktivitas pelengkap bagi seorang hakim, melainkan kebutuhan yang melekat pada profesi. Kebugaran fisik menjadi prasyarat kejernihan berpikir, ketahanan emosi, dan konsistensi integritas—terutama di tengah beban kerja peradilan yang kian kompleks.
Pesan itu menemukan konteks nyatanya di meja tenis BSDK. Olahraga tak berhenti sebagai jargon, tetapi menjelma praktik. Di balik reli dan smash, tersirat kesadaran bahwa merawat tubuh adalah bagian dari merawat amanah profesi—bukan soal prestasi, melainkan kesiapan mental memikul tanggung jawab keadilan dengan kepala dingin dan hati lapang.
Tenis meja pagi itu menjadi pengingat: menjaga kebugaran jasmani adalah bagian dari menjaga ketajaman nalar dan kejernihan batin—dua hal yang tak terpisahkan dalam dunia peradilan.
Di meja hijau BSDK, para Yang Mulia menunjukkan bahwa ketegasan di ruang sidang dapat berjalan seiring dengan keluwesan di ruang kebersamaan.
Dari satu reli ke reli berikutnya, tersirat pesan sederhana: kepemimpinan yang sehat lahir dari tubuh yang terjaga, jiwa yang lapang, dan sportivitas yang dirawat bersama.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


