#Segmen 1 – Ruang Tunggu Bernama Keadilan
Ruang tunggu itu tidak pernah benar-benar sepi. Sejak matahari belum sepenuhnya bangkit dari balik gunung hingga senja mengendap di sela-sela jendela kaca, bangku-bangku panjang berwarna cokelat kusam selalu terisi. Wajah-wajah yang datang ke sana membawa cerita masing-masing tentang sengketa tanah, perkara keluarga, harapan yang tertahan, dan keadilan yang masih dicari.
Aku duduk di balik meja pelayanan, memandangi ruang itu hampir setiap hari. Di sanalah waktu seakan berjalan lebih lambat. Detik jam dinding terdengar lebih nyaring, seolah setiap ketukannya mengingatkan: keadilan memang tidak pernah instan.
Seorang ibu tua duduk paling ujung. Tangannya menggenggam map hijau lusuh. Sesekali ia mengusap mata, entah karena lelah atau karena do’a yang terlalu lama tertahan di dada. Di sebelahnya, seorang lelaki muda berjaket hitam mondar-mandir, menatap pintu ruang sidang dengan gelisah. Ada pula seorang bapak berpeci yang sejak tadi menunduk, bibirnya bergerak pelan, melafalkan doa-doa yang mungkin hanya ia dan Tuhan yang tahu isinya.
Ruang tunggu ini, pikirku, bukan sekadar tempat menanti giliran. Ia adalah persimpangan antara harapan dan kecemasan. Di sinilah manusia diuji kesabarannya, diuji kepercayaannya bukan hanya kepada hukum, tetapi juga kepada sesama manusia yang mengemban amanah hukum itu.
Aku masih ingat hari pertamaku bertugas. Semangatku menyala, keyakinanku utuh. Aku datang dengan tekad melayani sebaik mungkin, tanpa prasangka, tanpa pamrih. Namun waktu mengajarkanku bahwa menjaga idealisme jauh lebih berat daripada mengucapkannya.
“Pak, kira-kira perkara saya bagaimana?” tanya seorang lelaki setengah baya suatu pagi. Suaranya lirih, matanya memohon kepastian.
Aku menjawab sesuai kewenanganku, berusaha netral dan jelas. Namun setelah ia pergi, ada perasaan yang tertinggal perasaan bahwa jawabanku, meski benar secara prosedur, belum tentu menenangkan hatinya. Sejak saat itu aku mulai bertanya pada diriku sendiri: apakah tugasku hanya menjelaskan aturan, atau juga menghadirkan rasa keadilan?
Ruang tunggu itu mengajarkanku banyak hal. Tentang sabar yang tidak selalu bersuara. Tentang marah yang dipendam demi harapan. Tentang manusia yang datang bukan untuk diperlakukan sebagai berkas, melainkan sebagai jiwa yang sedang mencari terang.
Suatu siang, listrik sempat padam. Ruang tunggu menjadi agak gelap, hanya cahaya matahari yang menyelinap dari jendela. Anehnya, suasana justru terasa lebih hening. Orang-orang berhenti berbicara. Beberapa menengadah, beberapa memejamkan mata.
Dalam gelap itu, aku melihat dengan lebih jernih. Keadilan bukanlah sekadar putusan yang tertulis rapi. Ia adalah proses panjang yang harus dilalui dengan kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Ia menuntut kesungguhan, bukan hanya kecerdasan. Ia memerlukan hati yang bersih, bukan sekadar tangan yang cekatan.
Aku teringat pesan seorang senior sebelum pensiun:
“Jangan pernah lelah menjaga nurani. Karena di sinilah di balik meja dan di depan ruang tunggu kita diuji, bukan oleh atasan, tetapi oleh Tuhan.”
Kalimat itu kini sering terngiang setiap kali aku melangkah masuk kantor. Terutama saat melihat ruang tunggu kembali dipenuhi manusia dengan segala ceritanya. Aku belajar menyapa lebih hangat, mendengar lebih sabar, menjelaskan dengan lebih manusiawi. Bukan karena aturan memerintahkanku, tetapi karena nurani memintaku.
Menjelang sore, ibu tua dengan map hijau itu berdiri. Ia menghampiri mejaku, tersenyum tipis.
“Terima kasih, Nak. Saya tidak tahu hasilnya nanti bagaimana. Tapi hari ini saya merasa didengar.”
Ucapan itu sederhana, tetapi mengguncang batinku. Barangkali itulah awal dari keadilan saat seseorang merasa diakui martabatnya, meski putusan belum dibacakan.
Ketika ruang tunggu mulai kosong dan matahari turun perlahan, aku menatap bangku-bangku yang kini sunyi. Namun aku tahu, esok hari ruang ini akan kembali hidup. Dengan cerita-cerita baru. Dengan harapan-harapan yang kembali dititipkan.
Ruang tunggu bernama keadilan itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus menguji kami yang bekerja di sekitarnya apakah kami sekadar penjaga prosedur, atau benar-benar pelayan keadilan.
Dan setiap hari, aku berdoa agar aku memilih yang kedua. Karena keadilan, pada akhirnya, bukan hanya tentang memutus perkara. Ia adalah tentang menjaga amanah, menegakkan nurani, dan mengingat bahwa di setiap bangku ruang tunggu, ada doa-doa yang diam-diam mengetuk langit.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


