#Segmen 2 – Ruang Tunggu Bernama Keadilan
Ruang tunggu itu tidak pernah benar-benar sunyi, meskipun kadang nyaris tanpa suara. Di sanalah manusia menaruh harapan dengan cara yang paling sederhana: duduk, menunggu, dan berdoa dalam diam. Bangku-bangku panjang berjajar rapi, catnya mulai kusam oleh usia dan oleh banyaknya kisah yang pernah singgah.
Setiap hari aku menyaksikan ruang itu terisi wajah-wajah yang berbeda, tetapi dengan beban yang serupa. Ada kecemasan yang tertahan di mata, ada harap yang diselipkan dalam lipatan doa. Di sanalah keadilan tidak lagi berbentuk pasal dan angka, melainkan rasa yang lama menunggu untuk dipastikan.
Aku bertugas di balik meja pelayanan. Meja yang memisahkan antara aparatur dan pencari keadilan, antara sistem dan manusia. Meja itu tampak sederhana, tetapi di sanalah amanah bekerja dengan sunyi. Di sanalah setiap kalimat, setiap sikap, bahkan setiap raut wajah, dapat menjadi penentu apakah hukum terasa adil atau sekadar terasa selesai.
Sering kali aku merenung: ruang tunggu ini sejatinya adalah madrasah kesabaran. Mereka yang duduk di sana tidak hanya menunggu giliran dipanggil, tetapi sedang diuji keyakinannya apakah keadilan benar-benar ada, atau hanya sekadar janji yang diulang dalam teks undang-undang.
Seorang ibu tua duduk di sudut ruang. Tangannya menggenggam map lusuh, seolah di sanalah seluruh hidupnya disimpan. Bibirnya bergetar lirih melafalkan doa. Aku tidak tahu doa apa yang ia panjatkan, tetapi aku yakin ia sedang menggantungkan nasibnya kepada Yang Maha Adil, lebih daripada kepada manusia.
Aku teringat firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri.” (QS. An-Nisā’: 135).
Ayat itu seperti mengetuk kesadaranku setiap kali aku memandang ruang tunggu. Bahwa keadilan bukan semata-mata tentang memutus perkara, tetapi tentang keberanian menjaga nurani. Tentang kesetiaan pada amanah, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Suatu hari, seorang lelaki paruh baya menghampiri mejaku. Suaranya bergetar, bukan karena marah, tetapi karena takut berharap terlalu tinggi.
“Pak, apakah perkara saya masih lama?” tanyanya pelan.
Aku menjawab sesuai ketentuan. Jawaban yang benar, formal, dan prosedural. Namun saat ia melangkah pergi, aku menyadari sesuatu yang tertinggal di ruang itu kekosongan rasa. Aku pun belajar, bahwa melayani bukan sekadar menjelaskan aturan, tetapi juga menghadirkan ketenangan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai apabila seseorang melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh dan profesional).” (HR. Thabrani)
Hadis itu menjadi cermin bagiku sebagai aparatur. Profesionalitas bukan hanya ketepatan administrasi, tetapi kesungguhan hati. Bukan sekadar cepat dan selesai, tetapi jujur dan bermartabat.
Ruang tunggu itu sering mengajarkanku tentang waktu. Bahwa keadilan memang tidak selalu datang cepat. Namun keterlambatan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan empati. Sebab di balik setiap keterlambatan, ada manusia yang sedang diuji kesabarannya.
Suatu siang, listrik padam. Ruang tunggu menjadi redup. Dalam temaram itu, suara-suara perlahan menghilang. Beberapa orang menunduk, beberapa memejamkan mata. Seolah ruang itu berubah menjadi tempat munajat bersama.
Dalam gelap itu, aku justru merasa lebih terang. Aku memahami bahwa keadilan sejati bukan hanya urusan lembaga, tetapi urusan batin. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa jabatan adalah titipan, dan pelayanan adalah ibadah.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Mā’idah: 8).
Ayat itu menegaskan, bahwa keadilan adalah jalan menuju ketakwaan. Maka setiap aparatur yang mengabaikan keadilan sejatinya sedang menjauh dari nilai-nilai ilahiah yang menjadi fondasi pengabdiannya.
Menjelang sore, ibu tua itu mendekat. Ia tersenyum sederhana.
“Saya tidak tahu hasilnya nanti bagaimana,” katanya, “tapi hari ini saya merasa diperlakukan sebagai manusia.”
Kalimat itu sederhana, namun bagiku terasa lebih berat daripada laporan kinerja mana pun. Barangkali inilah makna awal keadilan saat seseorang merasa dihormati martabatnya, meski putusan belum dijatuhkan.
Saat ruang tunggu mulai lengang dan matahari turun perlahan, aku menatap bangku-bangku kosong. Aku tahu, esok hari ruang ini akan kembali dipenuhi. Dengan harapan-harapan baru, dengan doa-doa yang kembali dititipkan.
Ruang tunggu bernama keadilan itu akan terus ada. Ia akan terus menguji kami apakah kami sekadar penjaga prosedur, atau benar-benar pelayan amanah.
Dan setiap hari, aku berdoa agar aku tidak sekadar bekerja, tetapi mengabdi. Karena di ruang tunggu itu, keadilan tidak hanya dinilai oleh manusia, tetapi juga dicatat oleh Tuhan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


