#Segmen 3 – Di Balik Meja Pelayanan
Meja pelayanan itu tampak kokoh dan rapi. Permukaannya bersih, map-map tersusun, komputer menyala tanpa cela. Dari luar, ia terlihat seperti meja kerja biasa. Namun bagi mereka yang duduk di baliknya, meja itu adalah batas tipis antara amanah dan kelalaian, antara ibadah dan rutinitas.
Aku duduk di sana setiap hari. Di balik meja pelayanan, tempat segala urusan dimulai dan sering kali disalahpahami. Banyak orang mengira, di balik meja itu hanya ada pegawai yang mengulang kalimat prosedur. Padahal di sanalah hati aparatur diuji apakah ia masih mampu melihat manusia, atau telah terbiasa melihat berkas semata.
Setiap pagi aku membuka hari dengan do’a singkat. Bukan do’a agar pekerjaan ringan, melainkan agar hatiku tidak mengeras. Sebab aku tahu, pekerjaan yang berulang dapat membuat nurani tumpul jika tidak dijaga.
Di depan meja itu, manusia datang dengan wajah yang beragam. Ada yang marah, ada yang takut, ada yang berharap terlalu besar. Ada pula yang datang dengan kepala tertunduk, seolah keadilan adalah sesuatu yang jauh dan asing. Mereka tidak membawa senjata, hanya lembaran berkas dan segenggam harap.
Aku pernah bertanya dalam hati: mengapa sebagian dari mereka tampak lebih gugup berhadapan dengan meja pelayanan daripada dengan ruang sidang? Barangkali karena di sinilah kesan pertama keadilan dibentuk. Di sinilah hukum pertama kali menyapa mereka apakah dengan keramahan, atau dengan jarak yang dingin.
Seorang lelaki muda berdiri di hadapanku suatu pagi. Tangannya gemetar saat menyerahkan berkas.
“Maaf, Pak… saya takut salah,” katanya pelan.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Ia bukan takut pada hukum, melainkan takut diperlakukan tidak adil. Saat itu aku teringat sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang tidak menyayangi manusia, maka ia tidak akan disayangi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Aku pun belajar bahwa pelayanan bukan hanya soal kepastian hukum, tetapi juga soal rasa aman. Aparatur yang baik bukan hanya yang paham aturan, tetapi yang mampu menenangkan kegelisahan.
Namun di balik meja pelayanan, godaan itu nyata. Ada kejenuhan yang perlahan menyelinap. Ada tekanan target, ada beban administrasi, ada suara hati yang kadang kalah oleh rutinitas. Di sanalah integritas diuji dalam bentuk yang paling sunyi bukan oleh pengawasan, tetapi oleh kesadaran diri.
Aku menyaksikan sendiri bagaimana meja pelayanan dapat menjadi ladang pahala, atau sebaliknya menjadi saksi kelalaian. Satu kalimat yang kasar dapat melukai hati seseorang bertahun-tahun. Sebaliknya, satu senyum tulus dapat menguatkan mereka melewati proses yang panjang.
Allah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Ayat itu sering terngiang saat aku mulai lelah. Bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan moral. Bahwa melayani dengan empati tidak mengurangi wibawa hukum, justru mengokohkannya.
Di balik meja pelayanan, aku juga belajar tentang diam. Tidak semua keluhan harus dijawab dengan panjang lebar. Ada kalanya kehadiran yang tenang lebih menenteramkan daripada penjelasan yang bertele-tele. Aparatur bukan hakim perasaan, tetapi penjaga martabat manusia.
Suatu sore, seorang ibu menangis tertahan setelah menerima penjelasan panjang tentang proses yang harus ia lalui. Ia tidak protes, tidak marah. Hanya berkata lirih, “Saya akan sabar, Pak.”
Kalimat itu menusuk hatiku. Kesabaran masyarakat sering kali lebih besar daripada kesabaran aparatur. Maka sungguh tidak pantas jika aparatur justru kehilangan empati.
Di balik meja pelayanan, aku menyadari bahwa jabatan hanyalah sementara. Yang abadi adalah catatan amal. Setiap tanda tangan, setiap jawaban, setiap sikap—semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Meja pelayanan itu, pada akhirnya, bukan sekadar furnitur kantor. Ia adalah saksi. Saksi atas niat yang tersembunyi, atas kejujuran yang dijaga, atau atas amanah yang diabaikan.
Ketika jam kerja usai dan ruangan mulai lengang, aku menatap meja itu sejenak. Aku merapikan berkas, mematikan komputer, lalu berdiri dengan perasaan yang sama setiap hari: apakah hari ini aku telah benar-benar melayani, atau sekadar menyelesaikan tugas?
Di balik meja pelayanan, aku belajar bahwa keadilan tidak selalu dimulai di ruang sidang. Ia sering kali lahir lebih awal dari sikap, dari tutur kata, dari hati aparatur yang masih hidup.
Dan selama aku masih duduk di balik meja itu, aku berdoa agar pekerjaanku tidak sekadar tercatat di laporan, tetapi juga bernilai di hadapan Tuhan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


