Pendahuluan
Kejadian bencana alam yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini mulai dari wilayah Aceh , Medan dan juga Sumatra Barat merupakan suatu fakta kehidupan yang tidak dapat dihindari, kerap datang tiba-tiba, menimbulkan kerusakan bahkan kematian. Kerusakan alam yang dirasakan manusia tersebut, sering dikonotasikan dengan kehendak Allah SWT semata hingga memunculkan beragam tafsir dari ketidakpedulian manusia atas peringatan alam dan keserakahan manusia mengeploaitasi sumber alam demi mengumpulkan pundi-pundi duniawi tanpa memikirkan dampaknya.
Sumber ajaran Islam yang paling otentik dan diakui oleh para ulama, adalah Alquran dan Sunnah Nabi saw. Bagi para ulama yang ingin menetapkan ajaran Islam, maka mereka harus memiliki pengetahuan yang benar tentang kedua sumber di atas. Untuk mengetahui kedua sumber tersebut harus dibekali dengan seperangkat ilmu yang berkenaan dengan itu. Dengan demikian Alquran merupakan pedoman hidup (way of life) umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Selanjutnya bagaimana Al-Qur’an mengungkap persoalan masalah musibah atau bencana alam beserta derivasinya.
Pembahasan
Ibnu Manzūr dalam karyanya Lisān al-‘Arab menyebutkan istilah bencana dikenal dengan al-kaaritsah (الكارثة) yang berarti suatu keadaan yang diliputi kesulitan, al-baliyyah (البلية) dan ad-dahr (الدهر) yang berarti perkara yang tidak disukai oleh manusia, seperti kemalangan dan musibah.
Kata musibah sudah sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, musibah diartikan dengan; (1) kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa; (2) malapetaka; bencana.
Alquran menyebut kata musibah dengan dua versi pertama kata Asaba sebanyak 77 kali sedangkan kata musibah sebanyak 10 kali. Bila ditelaah lebih lanjut, bahwa musibah yang diturunkan Allah swt, sebagaimana informasi Alquran, setidaknya ada tiga konteks pemahaman, Yang pertama adalah bencana yang menimpa suatu kaum karena tidak taat pada perintah Allah, bencana ini sebagai azab atas perbuatan yang mereka lakukan agar senantiasa kembali ke jalan yang benar. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 45,
فَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۖ وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَّقَصْرٍ مَّشِيْدٍ
“Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (ti-dak ada penghuninya).”
Yang kedua adalah bencana yang menimpa kaum muslim yang beriman, bencana ini merupakan ujian bagi hamba-Nya atas keimanan yang dimiliki. Apakah kaum muslim tersebut dapat bersabar atau justru tidak menerima atas ujian yang menimpanya.Dalam QS. Al Hasyr: 19, Allah SWT berfirman,
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”
Yang ketiga adalah bencana yang menimpa masyarakat muslim yang fasik, yang terkadang taat dan tekadang maksiat, bencana ini termasuk teguran dari Allah SWT agar senantiasa kaum tersebut bertaubat dan kembali ke jalan yang dirahmati Allah.
اَفَلَا يَتُوْبُوْنَ اِلَى اللّٰهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَهٗۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Bila dilihat pada kontek kajian tulisan ini lebih condong kepada musibah atau bencana yang menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitan. Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 155 sebagai berikut:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.”
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, Allah SWT menimpakan cobaan kepada hamba-Nya berupa kesenangan, kesengsaraan yang berupa rasa takut dan rasa lapar, kehilangan harta, serta meninggalnya para sahabat, kerabat dan orang-orang yang dicintai. Tak hanya itu, ujian bisa ditimpakan pula dalam sektor ekonomi, yang dalam ayat di atas disebut dengan (وَالثَّمَرٰتِۗ) yakni kebun dan sawah tidak mengeluarkan hasil seperti biasanya. Ibnu Katsir juga menambahkan, manusia diperintahkan untuk bersabar dalam menghadapi ujian. Barang siapa bersabar maka diganjar pahala dari-Nya dan siapa saja berputus asa, maka Allah SWT akan menimpakan siksaan terhadapnya. Sebab datangnya bencana patut diketahui, datangnya bencana di muka bumi, dapat disebabkan faktor kejadian alam (seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan lain-lain) dan akibat ulah manusia (seperti banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan,pembalakan liar dan lain sebagainya) tanpa memperhitungkan dampaknya dimasa yang akan datang.
Faktanya bencana atau musibah yang terjadi pada saat ini (Di Aceh, Medan dan Sumatra Barat) sebagaian bencana hadir dikarenakan perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap alam. Sepertinya releven dengan Firman Allah dalam surat ar-Ruum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Bahkan dalam sebuah keterangan dan kutipan yang lain Baginda Rasulullah Saw pernah bersabda:
لا ضرر ولا ضرار
“ Jangan memberikan madara kepada diri sendiri dan jangan juga memadaratkan orang lain ataupun membahayakan orang lain”.
Banyaknya penebangan pohon di mana-mana menjadikan bumi ini tidak stabil. Bahkan orang yang paling terlaknat adalah orang yang merusak lingkungan dan bisa membahayakan orang lain. Penebangan pohon-pohon besar yang kita saksikan setelah terjadi bencana di wilayah Aceh khususnya dan juga di Sumatra Barat dan Sumatra Utara banyak menimbulkan bencana banjir bahkan longsor dan mengakibatkan korban kematian yang sangat memilukan infra struktur rusak rumah-rumah, tempat ibadah fasilitas sekolah , Rumah Sakit, Pondok Pesantren dan yang laiannya rusak berat bahkan ada yang rata ditelan longsor, itu semua bagian daripada dosa yang sangat besar dan dosa yang terlaknat akibat ulah perbutan Manusia, hal ini sesuai dengan Perkataan Imam Albaghawi dalam Tafsirnya .
ما يكون من ضرر في الارض بسبب أعمال الناس
“Bencana yang terjadi di atas bumi ini, itu semua akibat perbutan manusia”
Bahkan di dalam sebuah keterangan hadits, orang yang akan terlaknat adalah orang yang membuang kotoran di jalan ataupun orang yang mengganggu tempat teduhnya manusia
الذي يتخلى في طريق الناس أوظلهم
Jadi bukan hanya sekedar membuang kotoran saja dalam hal ini banyak sekali makna yang bisa kita tafsirkan termasuk mencemari lingkungan adalah termasuk dosa besar karena itu mengganggu kerusakan alam dan bisa mengganggu lingkungan manusia itu sendiri. Sesuai dengam Ucapan Rasulullah saw:
اتلاف الزورع والحيوان من انواع المعاصي
‘Merusak tanama-tanaman dan hewan-hewan adalah termasuk perbuatan maksiat”
Bahkan di dalam sebuah keterangan yang lain kita tidak boleh ditebang pohon-pohonnya dan tidak boleh diganggu hewan-hewannya.
لا يعضد شجرها ولا ينفرصيدها
“Pohon tidak boleh ditebang dan hewan tidak boleh diburu”.
Hutan tidak boleh pohon-pohonnya ditebang karena hutan merupakan ekosistem alam untuk tempat tinggal banyak makhluk hidup di sana dan menghasilkan banyak ekosistem. ada satu kalimat yang perlu kita renungkan seperti yang dikatakan oleh
Ibn Katsir dalam Tafsinya:
“Merusak tanaman, merusak pepohonan bahkan mengganggu hewan termasuk adalah jenis-jenis maksyiat yang tidak termaafkan”.
Karena merusak alam, kemudian terjadinya bencana akan memakan banyak korban dan korban yang mengalami itu ditanggung oleh orang yang melakukan dosa itu.
Sebagai penutup dalam tulisan ini. Bagaimana menyikapi kejadian musibah atau bencana yang terjadi akhir-akhir ini, Allah swt melalui firmannya dalam Al-Qurán memberikan solusi, sebagaimana yang disebutkan dalam surah al-Baqarah ayat 156-157:
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ (١٥٦) اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ (١٥٧)
“(156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). (157) Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Prof Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah menjelaskan, kalimat (اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ) merupakan kalimat yang tidak diajarkan Allah kecuali kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Barang siapa yang mengucapkan kalimat tersebut mana kala tertimpa musibah serta menghayati maknanya, maka dia akan mendapat keberkahan dari-Nya. Keberkahan yang didapat manusia tersebut dapat berupa pengampunan, pujian, menggantikan yang lebih baik daripada nikmat sebelumnya yang telah hilang, dan lain-lain. Semua keberkahan itu bersumber dari Allah SWT agar manusia mendapatkan rahmat dan petunjuk. Bukan saja petunjuk untuk mengatasi kesulitan, dan kesedihan, tetapi juga petujuk menuju jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Kewajiban manusia sebagai khalifah di bumi adalah untuk menjalankan amanah sebaik-baiknya dan menjaga apa yang telah Allah SWT berikan.
Daftar Pustaka
Ibn Manzhur, Lisan al-‘Arab, jilid 4, (T.tp: Dar al-Misriyah li al-Ta‟lif wa al- Tarjamah, 1968).
M.Quraish Shihab,Membumikan Alquran; Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1992).
, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1996).
, Tafsir Alquran Al-Karim, Tafsir atas Surat-Surat Pendek berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997).
,Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera, 2001).
Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Beirut;
Abu Muhammad Al-Baghawi, Tafsir al-Munir Li -Maalim al-Tanzil, Beirut;
Tim Penterjemah Alquran Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Toha Putra, 1989). Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1988).
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


