Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Prof. Komarudin hidayat: Membicarakan Kematian Membuat Hidup Lebih Produktif
Berita

Prof. Komarudin hidayat: Membicarakan Kematian Membuat Hidup Lebih Produktif

SyihabuddinSyihabuddin21 November 2025 • 12:35 WIB6 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Semua Ada Batasnya

Sesi filsafat kali ini membahas “kematian”, topik yang mungkin bagi kebanyakan orang absurd untuk dibicarakan, tetapi bersama Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, ratusan Hakim muda mendengarkan dan mendiskusikan dengan cukup antusias dan tajam menghunjam selama lebih dari 3 jam.

Mengawali paparan, Prof. Komar mengajukan pertanyaan menggelitik: “Kapan waktu belajar paling produktif?” Jawabannya adalah saat waktu belajar dibatasi, atau saat kita hanya punya sedikit waktu untuk menghadapi ujian. Melalui Sistem Kebut Semalam, kita lebih produktif dalam belajar. Dalam lari marathon, ada garis finish. Pada permainan sepakbola, ada batasan waktu. Garis finish dan waktu 2 x45 menit tersebut, membuat pelari beradu sprint dan pemain bola bekerja sama dan berjuang keras bagiamana bisa mencetak gol ke gawang lawan.

Demikian juga hidup ada batasnya. Orang menyebutnya dengan kematian. Kematian adalah misteri yang memunculkan banyak pertanyaan, diantaranya apakah hidup ini layak dijalani? Apa yang berharga dari hidup? Mengapa kematian ditakuti? Apakah ada kehidupan setelah kematian? Di sinilah kemudian muncul Filsafat Kematian, cabang filsafat yang mengkaji makna kematian dan dampaknya pada kehidupan manusia serta cara menghadapinya secara rasional dan bermakna. Pandangan umum menyatakan bahwa kematian adalah kepastian yang tidak pasti, yang mendorong kita untuk menghargai hidup, mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian, dan memotivasi kita untuk menjalani kehidupan yang autentik. 

Pandangan Pesimis terhadap Kehidupan

Namun, tidak sedikit orang memaknai hidup ini sebagai kesengsaraan, selalu bergelut dengan masalah dan berakhir dengan kematian yang menyedihkan, sehingga ada orang yang memandang bahwa Live is terrible joke, hidup adalah lelucon yang mengerikan. Kehidupan penuh penderitaan, sia-sia, dan absurditas. “Lelucon yang mengerikan” bisa diartikan sebagai ironi eksistensial –bahwa  hidup “diberi hadiah” eksistensi, tapi eksistensi itu sendiri terasa seperti siksaan atau simulasi tanpa maksud yang indah. Mengenang masa lalu memunculkan penderitaan dan penyesalan, dan sebaliknya menatap masa depan, terbayang keadaan udzur, kelemahan, hilang ketampanan/kecantikan, sirna segala kekayaan dan berbagai macam pernghormatan dan perghargaan.

Pandangan Hidup Masih Ada Harapan

Kelompok lain memandang bahwa hidup adalah kesempatan dan harapan untuk menikmati kebahagiaan. Lebih lanjut, Guru Besar UIN Syarif Hidaytullah ini menjelaskan pandangan terhadap kebahagiaan, yaitu mulai dari Physical happiness (kebahagiaan dengan terpenuhinya kebutuhan fisikn), estetical happiness (konsep yang mengacu pada perasaan senang, kepuasan, atau kenikmatan yang timbul dari pengalaman estetika, yaitu mengapresiasi keindahan), intellectual happiness (seperti kebahagiaan saat mengajar, membaca buku, dll), moral happiness (merasa bahagia saat bisa berbagi dan memberi manfaat pada orang lain), dan puncaknya adalah spiritual happiness (adanya harapan kebahagiaan dari kehidupan yang berdimensi spiritual, yaitu pada kehidupan setelah kehidupan, live after live).

Istilah Kematian

Baca Juga  Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan

Prof. Komar memaparkan beberapa istilah tentang kematian, yaitu: (1) maut/mati: terminilogi yang menunjuk kepada berpisahnya ruh dengan jasad, sehingga jasad manusia yang mati disebut jenazah; (2) ‘ajal: ada batasnya, bahwa usia setiap manusia (ummat) ada batasnya, setelah sampai pada batasnya sampailah ‘ajalnya; (3) wafat: bermakna panen, disempurnakan. Orang yang wafat berarti sempurna. Orang yang telah lulus kuliah dan yudisium disebut wafat, telah memanen hasilnya dan telah sempurna pendidikannya; (4) raaji’un/berpulang: berpulang kepada Tuhannya. Orang yang berjumpa dengan kekasihnya tentu akan Bahagia, sebagaimana disitir  dalam QS. Al-Fajr ayat 27-28 yang artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya”.

Pemikiran Komarudin Hidayat tentang kematian mengubah perspektif dari ketakutan menjadi optimisme. Ia menganggap kematian sebagai “pulang” ke Allah, pintu gerbang menuju kehidupan yang lebih indah, dan hari panen atas segala amal perbuatan selama hidup di dunia. Bagi orang beriman, kematian bukanlah akhir, melainkan proses mendekat kembali kepada Sang Pencipta yang merupakan asal dan tujuan akhir. 

Konsep utama tentang kematian

Penulis buku Psikologi Kematian ini, kemudian memaparkan beberapa konsep utama tentang kematian, yaitu Pertama: Kematian sebagai “pulang”: Kematian diibaratkan seperti pulang dari perantauan untuk kembali ke rumah orang tua atau mudik saat berlebaran. Karena itu, kematian dipandang sebagai peristiwa yang dinantikan, damai, dan menyejukkan bagi orang yang beriman.

Kedua: Kematian sebagai pintu gerbang: Kematian adalah pintu gerbang menuju kehidupan baru yang lebih berkualitas. Kematian dianggap sebagai momen untuk menyempurnakan perjalanan dan meneruskan ke kehidupan abadi. Ketiga: Kematian sebagai hari panen: Bagi para sufi, kematian adalah hari di mana semua hasil dari perbuatan di dunia akan dituai. Ini menjadi motivasi untuk melakukan kebaikan agar mendapatkan hasil yang melimpah di akhirat. Dunia adalah tempat berladang, dan akhirat merupakan tempat menuai hasilnya;

Ketiga: Mengubah ketakutan menjadi optimisme: Komarudin Hidayat berupaya mengubah cara pandang manusia dari ketakutan akan kematian menjadi optimisme. Ia melihat bahwa rasa takut seringkali datang dari ketidaktahuan tentang apa yang akan terjadi setelah kematian dan hanya melihat sisi negatifnya saja, berdasarkan bayangan, imanjinasi, atau keyakinan masing-masing; dan Keempat: Setiap hari adalah hari kelahiran dan kematian: Ia juga berpendapat bahwa jika manusia dapat menghayati makna kehidupan secara intens, maka setiap hari adalah hari kelahiran (saat bangun tidur) dan kematian (saat tidur yang tidak sadar). Ini menjadi momen untuk bersyukur dan bertaubat, sehingga dengan demikian kehidupan manusia diliputi oleh ketenangan, kedamaian, keindahan, kebahagiaan, dan sikap optimis.

Baca Juga  KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

Kehidupan yang Optimis dan Produktif

Pada akhir diskusi, pria kelahiran Muntilan yang ditinggal ibunya sejak usia 9 tahun menyampaikan bahwa Tuhan mempunyai desain dan rencana dalam hidup kita. “Saya pernah merasakan hopeless, karena ditinggal orang tua tercinta, hingga saya  tidak betah tinggal di rumah dan akhirnya merantau ke Jakarta. Keadaan tersebut ternyata membahwa blessing in disgue. Saya melihat dari sisi lain, jadi tidak terpenjara dengan masalah. Pendidikan saya jadikan sebagai pelampiasan dan tangga menuju kesuksesan, sehingga saya bisa seperti saat ini.”

Lebih lanjut, Prof. Komar berpesan, hidup tidak berakhir dengan kematian. Live after live akan terwujud pada kehidupan paska kematian. Peristiwa mati hanya konstruksi saja, sejatinya hanya berpindah kehidupan. Ada Hakim yang Maha Adil yang akan memberikan keadilan yang hakiki. Reward and punishment pun akan diberikan. Rekaman amal kebajikan kita akan menjadi saksi. Oleh karenanya, apa saja yang dimiliki, investasikan dan pergunakan untuk kebaikan, menolong dan memberi manfaat untuk sesama. Pahit getir hidup dijalani, kita tumbuh dan berkembang karena ditempa oleh masalah. Pelaut ulung tidak lahir dari laut yang tenang. Jadikan problem sebagai guru dan teman yang akan menjadi batu bata yang menopang kesuksesan, dan jangan lupa jalan pulang.

Saat memberikan closing statemen, Pria yang hobi membaca dan menulis tersebut berpesan: “Sebagai wakil Tuhan, Hakim harus memiliki hati yang bersih, memperbanyak bacaan yang sehat dan menjauhkan dari konten hoaks. Kecerdasan intelektual penting, tetapi lebih penting lagi adalah ketajaman Nurani. Carilah rizki yang halal yang membawa kebaikan dan keberkahan. Hindarkan pendapatan yang tidak halal, karena itu akan menjerumuskan dan membawa mala petaka.” Bravo Hakim Indonesia! Salam Cadas!

syihabuddin
Syihabuddin
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

berita
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB

Persiapan Pelatihan Dasar CPNS 2026: Fokus pada Blended Learning, Kedisiplinan, dan Inovasi Pembelajaran

13 January 2026 • 11:33 WIB

Ketua MA Sampaikan “Representasi Dan Kepemimpinan Hakim Perempuan Adalah Bagian Dari Strategi Membangun Peradilan Yang Berwibawa” Dalam Pembukaan Kegiatan Orientasi Dan Pelatihan Mentoring Badan Perhimpunan Hakim Perempuan Indonesia

13 January 2026 • 10:42 WIB
Demo
Top Posts

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB
Don't Miss

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

By Muhammad Adiguna Bimasakti15 January 2026 • 08:06 WIB

Sistem peradilan di Indonesia pada awalnya dirancang sederhana, dengan seluruh jenis perkara ditangani oleh Pengadilan-Pengadilan…

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire SuaraBSDK Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Abdul Ghani
  • Abiandri Fikri Akbar
  • Agus Digdo Nugroho
  • Ahmad Junaedi
  • Anderson Peruzzi Simanjuntak
Lihat semua →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.