Semua Ada Batasnya
Sesi filsafat kali ini membahas “kematian”, topik yang mungkin bagi kebanyakan orang absurd untuk dibicarakan, tetapi bersama Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, ratusan Hakim muda mendengarkan dan mendiskusikan dengan cukup antusias dan tajam menghunjam selama lebih dari 3 jam.
Mengawali paparan, Prof. Komar mengajukan pertanyaan menggelitik: “Kapan waktu belajar paling produktif?” Jawabannya adalah saat waktu belajar dibatasi, atau saat kita hanya punya sedikit waktu untuk menghadapi ujian. Melalui Sistem Kebut Semalam, kita lebih produktif dalam belajar. Dalam lari marathon, ada garis finish. Pada permainan sepakbola, ada batasan waktu. Garis finish dan waktu 2 x45 menit tersebut, membuat pelari beradu sprint dan pemain bola bekerja sama dan berjuang keras bagiamana bisa mencetak gol ke gawang lawan.
Demikian juga hidup ada batasnya. Orang menyebutnya dengan kematian. Kematian adalah misteri yang memunculkan banyak pertanyaan, diantaranya apakah hidup ini layak dijalani? Apa yang berharga dari hidup? Mengapa kematian ditakuti? Apakah ada kehidupan setelah kematian? Di sinilah kemudian muncul Filsafat Kematian, cabang filsafat yang mengkaji makna kematian dan dampaknya pada kehidupan manusia serta cara menghadapinya secara rasional dan bermakna. Pandangan umum menyatakan bahwa kematian adalah kepastian yang tidak pasti, yang mendorong kita untuk menghargai hidup, mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian, dan memotivasi kita untuk menjalani kehidupan yang autentik.
Pandangan Pesimis terhadap Kehidupan
Namun, tidak sedikit orang memaknai hidup ini sebagai kesengsaraan, selalu bergelut dengan masalah dan berakhir dengan kematian yang menyedihkan, sehingga ada orang yang memandang bahwa Live is terrible joke, hidup adalah lelucon yang mengerikan. Kehidupan penuh penderitaan, sia-sia, dan absurditas. “Lelucon yang mengerikan” bisa diartikan sebagai ironi eksistensial –bahwa hidup “diberi hadiah” eksistensi, tapi eksistensi itu sendiri terasa seperti siksaan atau simulasi tanpa maksud yang indah. Mengenang masa lalu memunculkan penderitaan dan penyesalan, dan sebaliknya menatap masa depan, terbayang keadaan udzur, kelemahan, hilang ketampanan/kecantikan, sirna segala kekayaan dan berbagai macam pernghormatan dan perghargaan.
Pandangan Hidup Masih Ada Harapan
Kelompok lain memandang bahwa hidup adalah kesempatan dan harapan untuk menikmati kebahagiaan. Lebih lanjut, Guru Besar UIN Syarif Hidaytullah ini menjelaskan pandangan terhadap kebahagiaan, yaitu mulai dari Physical happiness (kebahagiaan dengan terpenuhinya kebutuhan fisikn), estetical happiness (konsep yang mengacu pada perasaan senang, kepuasan, atau kenikmatan yang timbul dari pengalaman estetika, yaitu mengapresiasi keindahan), intellectual happiness (seperti kebahagiaan saat mengajar, membaca buku, dll), moral happiness (merasa bahagia saat bisa berbagi dan memberi manfaat pada orang lain), dan puncaknya adalah spiritual happiness (adanya harapan kebahagiaan dari kehidupan yang berdimensi spiritual, yaitu pada kehidupan setelah kehidupan, live after live).
Istilah Kematian
Prof. Komar memaparkan beberapa istilah tentang kematian, yaitu: (1) maut/mati: terminilogi yang menunjuk kepada berpisahnya ruh dengan jasad, sehingga jasad manusia yang mati disebut jenazah; (2) ‘ajal: ada batasnya, bahwa usia setiap manusia (ummat) ada batasnya, setelah sampai pada batasnya sampailah ‘ajalnya; (3) wafat: bermakna panen, disempurnakan. Orang yang wafat berarti sempurna. Orang yang telah lulus kuliah dan yudisium disebut wafat, telah memanen hasilnya dan telah sempurna pendidikannya; (4) raaji’un/berpulang: berpulang kepada Tuhannya. Orang yang berjumpa dengan kekasihnya tentu akan Bahagia, sebagaimana disitir dalam QS. Al-Fajr ayat 27-28 yang artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya”.
Pemikiran Komarudin Hidayat tentang kematian mengubah perspektif dari ketakutan menjadi optimisme. Ia menganggap kematian sebagai “pulang” ke Allah, pintu gerbang menuju kehidupan yang lebih indah, dan hari panen atas segala amal perbuatan selama hidup di dunia. Bagi orang beriman, kematian bukanlah akhir, melainkan proses mendekat kembali kepada Sang Pencipta yang merupakan asal dan tujuan akhir.
Konsep utama tentang kematian
Penulis buku Psikologi Kematian ini, kemudian memaparkan beberapa konsep utama tentang kematian, yaitu Pertama: Kematian sebagai “pulang”: Kematian diibaratkan seperti pulang dari perantauan untuk kembali ke rumah orang tua atau mudik saat berlebaran. Karena itu, kematian dipandang sebagai peristiwa yang dinantikan, damai, dan menyejukkan bagi orang yang beriman.
Kedua: Kematian sebagai pintu gerbang: Kematian adalah pintu gerbang menuju kehidupan baru yang lebih berkualitas. Kematian dianggap sebagai momen untuk menyempurnakan perjalanan dan meneruskan ke kehidupan abadi. Ketiga: Kematian sebagai hari panen: Bagi para sufi, kematian adalah hari di mana semua hasil dari perbuatan di dunia akan dituai. Ini menjadi motivasi untuk melakukan kebaikan agar mendapatkan hasil yang melimpah di akhirat. Dunia adalah tempat berladang, dan akhirat merupakan tempat menuai hasilnya;
Ketiga: Mengubah ketakutan menjadi optimisme: Komarudin Hidayat berupaya mengubah cara pandang manusia dari ketakutan akan kematian menjadi optimisme. Ia melihat bahwa rasa takut seringkali datang dari ketidaktahuan tentang apa yang akan terjadi setelah kematian dan hanya melihat sisi negatifnya saja, berdasarkan bayangan, imanjinasi, atau keyakinan masing-masing; dan Keempat: Setiap hari adalah hari kelahiran dan kematian: Ia juga berpendapat bahwa jika manusia dapat menghayati makna kehidupan secara intens, maka setiap hari adalah hari kelahiran (saat bangun tidur) dan kematian (saat tidur yang tidak sadar). Ini menjadi momen untuk bersyukur dan bertaubat, sehingga dengan demikian kehidupan manusia diliputi oleh ketenangan, kedamaian, keindahan, kebahagiaan, dan sikap optimis.
Kehidupan yang Optimis dan Produktif
Pada akhir diskusi, pria kelahiran Muntilan yang ditinggal ibunya sejak usia 9 tahun menyampaikan bahwa Tuhan mempunyai desain dan rencana dalam hidup kita. “Saya pernah merasakan hopeless, karena ditinggal orang tua tercinta, hingga saya tidak betah tinggal di rumah dan akhirnya merantau ke Jakarta. Keadaan tersebut ternyata membahwa blessing in disgue. Saya melihat dari sisi lain, jadi tidak terpenjara dengan masalah. Pendidikan saya jadikan sebagai pelampiasan dan tangga menuju kesuksesan, sehingga saya bisa seperti saat ini.”
Lebih lanjut, Prof. Komar berpesan, hidup tidak berakhir dengan kematian. Live after live akan terwujud pada kehidupan paska kematian. Peristiwa mati hanya konstruksi saja, sejatinya hanya berpindah kehidupan. Ada Hakim yang Maha Adil yang akan memberikan keadilan yang hakiki. Reward and punishment pun akan diberikan. Rekaman amal kebajikan kita akan menjadi saksi. Oleh karenanya, apa saja yang dimiliki, investasikan dan pergunakan untuk kebaikan, menolong dan memberi manfaat untuk sesama. Pahit getir hidup dijalani, kita tumbuh dan berkembang karena ditempa oleh masalah. Pelaut ulung tidak lahir dari laut yang tenang. Jadikan problem sebagai guru dan teman yang akan menjadi batu bata yang menopang kesuksesan, dan jangan lupa jalan pulang.
Saat memberikan closing statemen, Pria yang hobi membaca dan menulis tersebut berpesan: “Sebagai wakil Tuhan, Hakim harus memiliki hati yang bersih, memperbanyak bacaan yang sehat dan menjauhkan dari konten hoaks. Kecerdasan intelektual penting, tetapi lebih penting lagi adalah ketajaman Nurani. Carilah rizki yang halal yang membawa kebaikan dan keberkahan. Hindarkan pendapatan yang tidak halal, karena itu akan menjerumuskan dan membawa mala petaka.” Bravo Hakim Indonesia! Salam Cadas!
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


