Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Debu di Atas Map Hijau

27 February 2026 • 18:45 WIB

Mempererat Integritas dan Spiritualitas: Rangkaian Giat Ramadan 1447 H di Pengadilan Negeri Kotabaru

27 February 2026 • 17:53 WIB

“Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”

27 February 2026 • 16:00 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Debu di Atas Map Hijau
Roman

Debu di Atas Map Hijau

Ari GunawanAri Gunawan27 February 2026 • 18:45 WIB6 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Sore itu, langit di atas Pengadilan Negeri Daya berwarna jingga pucat, seolah ikut menanggung beban ratusan perkara yang menumpuk di sana. Arga Wahyu masih terpaku di kursinya, jemarinya perlahan membalik lembaran berkas merah perkara pidana yang sudah mulai usang karena sering dibaca bolak-balik agar tidak salah dalam menyusun konsep putusan.

Ketukan pintu memecah keheningan, Bu Satinah (Panitera Pengganti) melangkah masuk membawa sebuah map hijau yang tampak masih segar. “Selamat sore, Pak Arga. Ada berkas perdata baru,” ucapnya lembut sambil meletakkan map itu di hadapan Arga.

Arga Wahyu kemudian membaca nama-nama di sana:  Perusahaan Industri Daya dan Sulastri sebagai Penggugat, melawan Munawar sebagai Tergugat. Seketika ingatannya melayang ke masa lalu, ke sebuah sengketa yang pernah ia putus dan dikuatkan di tingkat Kasasi. “Ini perkara yang dulu, Bu,” bisik Arga, lebih kepada dirinya sendiri. Hanya posisinya yang dibalik. Dulu Munawar yang menggugat mereka. Sekarang mereka yang menggugat kembali.

Pikiran Arga Wahyu melayang jauh, menembus kabut masa lalu saat ia pertama kali menyentuh berkas sengketa ini. Di atas tanah yang kini angkuh dikuasai oleh deru mesin Perusahaan Industri Daya, sebenarnya tersimpan jejak napas almarhum Pak Sarmin yang telah membagi kasih sayangnya melalui tanah warisan kepada keempat buah hatinya. Namun, takdir berubah menjadi kelam ketika tanah bagian si bungsu, Pak Burhan, dikhianati oleh tangan-tangan yang tak berhak.

Arga Wahyu mengingat dengan jelas betapa pedihnya fakta itu; tanpa sepatah kata pun kepada keluarga, Subari (sang anak angkat) yang diam-diam menjual tanah tersebut. Padahal, tanah itu telah berpindah tangan dengan tulus dari Pak Burhan kepada kakaknya, Pak Munawar. Keyakinan Arga semakin mengakar saat ia mendengar kesaksian Pak Slamet, adik kandung Pak Sarmin, yang dengan suara lantang menegaskan bahwa tanah itu adalah hak mutlak Pak Burhan, sementara Subari sebenarnya telah mendapatkan bagiannya sendiri namun telah habis terjual.

Di ruang sidang yang dingin, Ibu Nada, istri dari Pak Burhan, hadir membawa secercah harapan melalui kesaksiannya yang jujur. Ia menguatkan bahwa ikatan jual beli dengan Pak Munawar bukanlah sekadar janji lisan, melainkan telah terpatri dalam akta notaris yang sah. Sementara itu, pihak perusahaan hanya mampu bersandar pada selembar kuitansi rapuh dari tangan Subari.

Sebagai seorang pengabdi keadilan, Arga Wahyu menyadari bahwa hukum acara perdata menuntutnya untuk menjunjung tinggi kebenaran formil. Baginya, kekuatan akta otentik adalah pilar yang tak tergoyahkan, jauh melampaui selembar kuitansi biasa. Dengan keyakinan yang bulat, Arga dan majelis hakim kala itu memutuskan bahwa tanah yang kini dalam cengkeraman industri tersebut, sesungguhnya adalah milik sah Pak Munawar.

Baca Juga  CATATAN KEHILANGAN

Siasat di Ambang Perpisahan

Waktu seolah berputar kembali ke titik yang sama, namun dengan wajah-wajah yang telah berganti warna. Panggung persidangan atas tanah yang lama itu kembali digelar, menghadirkan luka lama dalam balutan berkas yang serupa. Meski sang nahkoda, Pak Anto, telah melangkah pergi ke tempat pengabdian yang baru, dua pilar keadilan lainnya masih berdiri kokoh di sana: Arga Wahyu dan Bu Rani.

Di sudut ruang yang dingin, sepasang mata milik Pak Santoso menatap tajam, menyimpan bara kegelisahan yang menyala-nyala. Sebagai pengacara dari Perusahaan Industri Daya, kehadirannya membawa beban ambisi yang berat. Ia tahu betul siapa yang ia hadapi, dua sosok hakim yang integritasnya tak tergoyahkan oleh rayuan apa pun. “Arga Wahyu dan Bu Rani…” gumamnya dengan nada lirih yang tertahan di tenggorokan. “Mereka adalah batu karang yang tak bisa diajak kompromi. Jika mereka tetap di sana, asaku pasti akan kandas di ujung putusan Ne Bis In Idem yang dingin.” Pak Pendi memutar otak, mencari celah di tengah keputusasaan saat proses pembuktian surat mulai mencapai puncaknya.

Namun, dewi fortuna seolah berbisik di telinganya melalui hembusan kabar angin. Berita tentang gerbong mutasi hakim yang mulai bergerak menjadi oase di tengah gurun kegelisahannya. Mendengar bahwa nama Arga dan Rani masuk dalam daftar promosi mutasi, senyum kemenangan mulai mengembang di bibirnya. Dengan binar kegembiraan yang tak mampu ia sembunyikan, sebuah niat licik mulai merayap di benaknya: ia akan meminta pergantian majelis hakim, memastikan perkara ini tidak jatuh ke tangan mereka yang ia takuti akan menutup pintu kemenangannya selamanya.

Sebagai pengacara yang telah lama mengecap asam garam dunia peradilan, Pak Santoso bergerak dengan langkah yang penuh perhitungan. Seuntai surat segera ia layangkan ke meja Ketua Pengadilan Negeri Daya, sebuah permohonan yang dibungkus rapi dengan alasan administrasi: ia meminta agar majelis hakim segera diganti, mengingat Arga Wahyu dan Bu Rani telah masuk dalam pusaran gelombang mutasi yang akan membawa mereka ke tempat tugas yang baru.

Di ruang kerjanya yang senyap, Pak Warto, sang Ketua Pengadilan, memanggil kedua hakim tersebut untuk duduk berhadapan. “Sudah sejauh mana langkah kalian dalam perkara nomor 32/Pdt.G/2010/PN Dy?” tanyanya dengan nada suara yang berat, mencoba mencari kepastian di tengah ketidakpastian waktu.

Arga menjawab dengan ketenangan seorang nakhoda di tengah badai, “Kami sudah sampai pada tahap pemeriksaan saksi, Pak”. Pak ketua selanjutnya bertanya, “Apakah kalian yakin bisa menyelesaikannya sebelum kaki kalian melangkah pergi dari kota ini?”, matanya menatap lekat kedua hakim di hadapannya. Bu Rani menyahut dengan lembut namun penuh penekanan, “Semua akan selesai tepat waktu, asalkan para pihak menaati setiap detik jadwal yang telah kita sepakati bersama. Namun, satu kali saja ada penundaan, mungkin kisah perkara ini tidak akan sempat kami tutup dengan tangan sendiri”.

Baca Juga  Ahli Waris

Pak Warto kemudian menghela napas, menyodorkan surat dari Pak Pendi yang meminta pergantian majelis hakim. “Bagaimana tanggapan kalian?”. Dan kemudian Arga Wahyu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan makna tentang keikhlasan. “Semua kami serahkan pada kebijaksanaan Bapak selaku Ketua,” ucapnya pelan, yang kemudian diamini oleh Bu Rani dengan anggukan penuh hormat. Bagi mereka, keadilan tidak harus lahir dari tangan mereka, selama kebenaran tetap menjadi pemenang akhirnya

Gema Keadilan yang tak Kunjung Usai

Dua minggu telah berlalu sejak Arga Wahyu melangkahkan kaki di tanah pengabdian yang baru. Di tengah kesibukannya menyusun lembaran-lembaran takdir yang lain, sebuah kabar hinggap di telinganya: perkara lama itu akhirnya telah diputus oleh majelis hakim yang baru. Amar putusan itu berbunyi dingin namun tegas, gugatan tidak dapat diterima dengan alasan Ne Bis In Idem.

Mendengar kabar itu, Arga menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruang kerjanya sambil berbisik lirih, “Sudah seharusnya memang demikian…”. Ada kelegaan yang getir menyelinap di dadanya, seolah sebuah beban lama baru saja diletakkan.

Namun, waktu adalah penguji yang kejam. Bertahun-tahun kemudian, Arga kembali mendengar sayup-sayup kabar bahwa objek tanah yang sama masih terus digugat berulang-ulang, seolah luka itu sengaja dibiarkan menganga. Bahkan, sempat ada majelis hakim di Pengadilan Negeri Daya yang mengabulkannya, meski akhirnya keadilan kembali ditegakkan setelah dianulir di tingkat Kasasi bahkan juga telah diuji dalam tingkat Peninjauan Kembali.

Arga Wahyu menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan kepasrahan. Dalam renungannya yang sunyi, ia menyadari kerapuhan sistem yang mereka tinggali; sebuah sistem di mana pengadilan dilarang menolak perkara dan dipaksa menyidangkan kembali apa yang sebenarnya sudah diputuskan. “Sampai kapan keadilan harus menari di atas ketidakpastian ini?” batinnya pedih. Ia bermimpi tentang sebuah hari di mana regulasi akan menjadi benteng yang kokoh karena adanya sebuah batas yang menyatakan bahwa perkara yang telah tuntas di tingkat Kasasi tidak boleh lagi diusik, demi sebuah janji suci bernama kepastian hukum.

Ari Gunawan
Kontributor
Ari Gunawan
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

roman
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Kisah Hakim Bintang Laut (Part I) – Prologue

20 February 2026 • 10:21 WIB

Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi

20 February 2026 • 10:19 WIB

Pesona Sore Bonifacio Global City Di Mata Delegasi Sembilan Hakim Indonesia

18 February 2026 • 20:08 WIB
Demo
Top Posts

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB

Penerapan Asas Equality Of Arms dalam Pembuktian Kebocoran Data Pribadi

24 February 2026 • 09:05 WIB

Pertanggung Jawaban Pidana dan Kesadaran Moral Pelaku: Analisis Konseptual Mens Rea dalam Perspektif Fikih Jinayat

24 February 2026 • 08:31 WIB
Don't Miss

Debu di Atas Map Hijau

By Ari Gunawan27 February 2026 • 18:45 WIB0

Sore itu, langit di atas Pengadilan Negeri Daya berwarna jingga pucat, seolah ikut menanggung beban…

Mempererat Integritas dan Spiritualitas: Rangkaian Giat Ramadan 1447 H di Pengadilan Negeri Kotabaru

27 February 2026 • 17:53 WIB

“Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”

27 February 2026 • 16:00 WIB

Eksegesis vs Eisegeis : Pergulatan Dialektis Antara Otoritas Teks dan Subjektivitas Penafsir

27 February 2026 • 15:35 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Debu di Atas Map Hijau
  • Mempererat Integritas dan Spiritualitas: Rangkaian Giat Ramadan 1447 H di Pengadilan Negeri Kotabaru
  • “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
  • Eksegesis vs Eisegeis : Pergulatan Dialektis Antara Otoritas Teks dan Subjektivitas Penafsir
  • Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

Recent Comments

No comments to show.
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Mayor Laut (H) A. Junaedi, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas, S.H., M.Kn.
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Letkol Chk Dendi Sutiyoso, S.S., S.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.