Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Membumikan Ekonomi Islam: Dr. Yasardin, S.H.,M.Hum (Tuaka Agama MA RI) Ajak Hakim PA Menyelami Maqasid Syariah dalam Penyelesaian Sengketa Niaga Syariah

20 April 2026 • 19:11 WIB

Dualisme Kewenangan dan Formasi Majelis: Solusi Penyelesaian Sengketa Niaga Syari’ah di Pengadilan Niaga

20 April 2026 • 19:00 WIB

Antara Komando dan Keadilan: Ujian Etika dan Independensi Hakim Militer Pasca KUHAP Baru

20 April 2026 • 18:49 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » CATATAN KEHILANGAN
Roman

CATATAN KEHILANGAN

Ira SoniawatiIra Soniawati19 November 2025 • 20:55 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Namaku Mira, hakim di Pengadilan Agama Kutamaya. Dua minggu lalu, Allah mengujiku dengan keguguran di usia kandungan empat belas minggu. Aku seharusnya masih menjalani istirahat, tapi daftar sidang tidak mengenal belas kasihan. Perkara hari itu menyangkut perceraian kumulasi harta bersama. Seorang istri menggugat cerai suaminya yang divonis mandul dan ingin mendapatkan harta bagiannya sebagai kompensasi dari tidak adanya keturunan. Ironis, aku harus memutus nasib orang lain di saat nasibku sendiri sedang retak.

Suamiku, Ardi, juga hakim — di pengadilan negeri. Kami sering bergurau bahwa kami pasangan yang lengkap: dia memutus perkara peradilan umum, aku memutus perkara agama. Dulu aku merasa itu romantis, sekarang aku tahu itu berarti kami terbiasa menimbang, tapi jarang memeluk.

Hari itu, sesaat setelah buang air kecil, aku seolah-olah melihat bayangan anak kecil di belakang cermin toilet ruang hakim. Mungkin itu bayangan dari lukaku yang belum sembuh. Aku menatap cermin itu lama. Aku harus memilih — duduk dan menangisi, atau melangkah dan melanjutkan hidupku. Aku memilih yang kedua. Bayangan anak kecil itu terus menghantuiku bahkan ketika aku mencoba membuat putusan.

Sepulang dari kantor, aku langsung mandi dan berganti pakaian. Sebagaimana layaknya seorang istri, aku membersihkan rumah dan  memasak makan malam untukku dan Ardi. Sayangnya aku malah mendapat pesan singkat darinya:

“Aku masih harus lembur sidang pembunuhan bayi. Mungkin pulang malam.”

Nafsu makanku mendadak hilang. Aku ingin membuang semua makanan yang kumasak malam itu, tapi aku tahu itu perbuatan mubazir yang dibenci Allah. Akhirnya semua makanan itu kuberikan untuk kucing jalanan.

Aku masih menunggu Ardi sampai jam sebelas malam. Namun, dia tak kunjung pulang ke rumah. Penantianku terasa sia-sia. Aku akhirnya melakukan kebiasaan yang kulakukan sejak hari pertama keguguran, menulis catatan harian.

[Catatan Harian, 12 Juli]

Hari ini aku kembali ke kantor lebih cepat dari yang seharusnya. Semua orang bersikap sopan, tapi mata sebagian dari mereka seolah menghakimiku. Ruang sidang tetap dingin seperti biasa. Aku memutus perkara orang lain, tapi di dalam diri sendiri, belum ada putusan. Mungkin kehilangan tidak bisa dibacakan dalam amar. Ia hanya bisa dirasakan, disembunyikan, dan ditulis diam-diam seperti ini.

Aku sempat berpikir bahwa menulis catatan harian atau diary itu hanya untuk orang kurang iman yang tidak berani menghadapi kerasnya kehidupan. Nyatanya kegiatan menulis catatan harian justru menenangkanku sejak kejadian keguguran itu. Ardi masih belum pulang ketika aku selesai menulis catatan harianku.

Waktu terasa begitu cepat berlalu ketika akhirnya perkara perceraian kumulasi harta bersama yang ku tangani berakhir damai.  Mereka bahkan mencabut perkara yang sudah didaftarkan. Mengurangi jumlah perkara yang harus aku sidangkan di tahun itu. Aku mengetuk palu dengan penuh syukur, menetapkan bahwa perkara selesai karena dicabut.

 Di dalam diriku, sesuatu ikut terbelah. Mendadak teringat akan rumah tanggaku sendiri. Semenjak aku kembali ke kantor, aku dan Ardi jarang bertegur sapa dan tidur seranjang.

Baca Juga  Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi

Di sisi lain aku bersyukur karena malam harinya Ardi pulang lebih cepat. Kami akhirnya bisa makan malam bersama.

Ardi menatapku lama di meja makan. “Kamu kelihatan pucat,” katanya. “Aku sudah bilang, jangan dulu masuk kantor.”

“Di kantorku aku jadi hakim tunggal. Kalau aku absen, jadwal kacau,” jawabku sambil berusaha tersenyum.

“Biar saja,” ucapnya datar tapi tegas. “Kamu bukan mesin. Dua minggu lalu kamu kehilangan bayi, Mira. Tubuhmu belum siap.”

“Ketika bekerja di kantor setidaknya aku merasa berguna.” ada rasa sesak di dadaku ketika aku mengucapkannya.

“Berguna bukan berarti memaksa diri,” katanya lebih pelan. “Aku tahu kamu kuat, tapi kekuatan juga butuh istirahat.”

Aku menatap wajahnya, mencoba menahan gemetar di ujung suara. “Kamu memang tidak pernah mengerti aku ya?”

Ardi menatapku lama sebelum menjawab, suaranya nyaris berbisik. “Apa kamu bilang? Aku ambil cuti demi kamu, Mira. Aku habiskan cuti tahunanku. Suami mana yang lakukan itu, padahal bukan dia yang keguguran?”

“Kamu merasa jadi pahlawan dengan bersikap begitu?”

“Mira,” suaranya meninggi, “Aku sudah berusaha memeluk dan menenangkanmu. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah selama kamu beristirahat! Di mana salahku? Kamu bahkan lebih sering bercerita pada catatanmu daripada kepadaku, suamimu sendiri!” Ardi tiba-tiba bangkit dan mengambil piring.

Perkataan Ardi seolah menusukku. Dalam suara serak dan mata letih itu, aku tiba-tiba sadar — mungkin tak mudah juga baginya. Dunia tidak mengajarkan laki-laki untuk menangis, apalagi untuk berduka atas kehilangan yang bukan terjadi di tubuhnya. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk melindungi lukaku sendiri, sampai lupa bahwa ia juga terluka, hanya saja tidak punya ruang untuk menunjukkannya.

Suara jam dinding terdengar begitu jelas. Kami tidak melanjutkan percakapan itu.

Ardi menunduk, menatap makanan yang sudah dingin.Aku menahan air mata yang menggumpal di tenggorokan. Malam itu entah malam keberapa kami tidur terpisah, Ardi tidur di sofa ruang tamu, sementara aku di kamar kami berdua. Seusai shalat isya dan membaca Al-Quran, aku menuliskan semua perasaanku di catatan harian.

[Catatan Harian, 27 Juli]

Ardi tidak salah. Kami sama-sama sedang menuduh waktu yang tidak bisa kami gugat. Tapi kalau aku berhenti menulis, aku takut hilang arah. Aku menulis untuk mengingat bahwa aku masih hidup, bahkan tanpa detak kecil di perutku. Di sisi lain aku masih membutuhkan dia. Aku rindu Ardi yang hangat dan selalu menenangkanku.

*

Beberapa hari kemudian, aku ditunjuk menjadi mediator dalam perkara perceraian pasangan yang sudah menikah sepuluh tahun tapi belum dikaruniai anak. Istri duduk di depanku dengan mata bengkak; suaminya menatap lantai lebih banyak daripada menatap wajah pasangannya.

“Kami sudah mencoba segalanya, Yang Mulia,” kata sang istri. “Obat, pengobatan, doa… tapi hasilnya tetap sama, rumah ini makin sunyi.”

Baca Juga  Antara Buku, Pena, dan Penghapus

Aku menatap mereka, dan di antara kalimat-kalimat hukum yang seharusnya kuucapkan, ada suara lain di kepalaku sendiri: aku juga tahu rasanya sunyi yang seperti itu.

“Kadang,” kataku perlahan, “Ketenangan tidak selalu datang bersama jawaban. Tapi kadang, ketenangan muncul ketika dua orang berhenti saling menyalahkan.”

Mereka terdiam lama. Aku sendiri terkejut ketika mengetahui bahwa kata-kataku itu menjadi penentu keberhasilan mediasi. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya sejak keguguran, aku merasa bisa bicara dengan hati tanpa melanggar etika profesi.

Seusai mediasi, aku pulang lebih cepat. Aku dan Ardi berjanji untuk kontrol ke dokter kandungan di kota sebelah sore harinya. Di halaman rumah, aku melihat Ardi sedang menggali tanah kecil di pojok halaman.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Untuk pohon kenanga,” jawabnya. “Katanya, kalau ditanam di tempat yang pernah kehilangan, aromanya jadi doa.”

Aku berjongkok di sebelahnya, ikut menimbun tanah. “Pohon ini tidak akan menggantikan bayi kita.”

“Aku tahu,” katanya pelan. “Tapi mungkin nanti, kalau aromanya merebak, kita akan ingat bahwa kehilangan pun bisa tumbuh.”

Seusai dari dokter kandungan, aku kembali menulis catatan harian.

[Catatan Harian, 1 Agustus]

Dokter kandungan bilang rahimku sudah bersih dan tidak ada jaringan yang tersisa. Aku refleks menggenggam tangan Ardi karena bahagia. Hari ini untuk pertama kalinya kami tersenyum bersama seperti pasangan suami istri yang harmonis. Tentu saja dokter kandungan pada akhirnya melakukan promosi tentang program kehamilan. Ardi hanya tersenyum simpul dan mengatakan ia mau ikut program jika aku sudah siap. Aku bilang aku perlu waktu untuk memutuskan.

*

Hari itu aku mencium aroma kenanga pertama kali. Ardi mendekat perlahan, seolah takut menyentuh sesuatu yang rapuh. Aku masih menatap tanah di sekitar batang kenanga itu—lembap, dengan beberapa kelopak kering yang menempel. Lalu ia memelukku. Tanpa kalimat, tanpa penjelasan.

Tubuhku sempat kaku; sudah lama sekali tidak ada pelukan yang terasa begini nyata. Entah bagaimana, semua hal yang selama ini kupendam—rasa bersalah, kehilangan, kemarahan—mengalir begitu saja bersama air mata yang tak lagi bisa kutahan.

Untuk pertama kalinya sejak keguguran itu, aku menangis. Bukan karena lemah, tapi karena akhirnya aku bisa menerima bahwa rasa sakit ini tidak perlu terus kusembunyikan.

Ardi tidak berkata apa-apa. Tangannya hanya mengusap punggungku, pelan, seolah mengatakan: kita sudah cukup kuat berduka, sekarang saatnya berdamai. Kami berdua tetap diam, tapi kali ini diamnya terasa hangat.

*

Sejak saat itu, setiap kali aku mengetuk palu di ruang sidang, aku ingat kenanga di halaman belakang. Aromanya lembut, menenangkan. Mungkin di sanalah, sebagian kehilangan kami perlahan tumbuh menjadi pengertian. Semoga dari pengertian itu, Allah tumbuhkan ketenangan yang menjadi doa bagi yang telah pergi.

Ira Soniawati
Kontributor
Ira Soniawati
Hakim Pengadilan Agama Tanjungbalai

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

roman
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Kisah Dibalik Video Clip “Kau yang Teristimewa”

20 April 2026 • 16:25 WIB

The Trial

2 April 2026 • 10:23 WIB

Di Antara Perintah dan Nurani: Ketika Prajurit Dihadapkan pada Pengadilan Militer

29 March 2026 • 09:17 WIB
Demo
Top Posts

Etika Bermedia Sosial bagi Hakim: Antara Ekspresi Diri dan Marwah Peradilan

13 March 2026 • 20:03 WIB

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB
Don't Miss

Membumikan Ekonomi Islam: Dr. Yasardin, S.H.,M.Hum (Tuaka Agama MA RI) Ajak Hakim PA Menyelami Maqasid Syariah dalam Penyelesaian Sengketa Niaga Syariah

By Khoiriyah Roihan20 April 2026 • 19:11 WIB0

Megamendung, 20 April 2026 – Suasana ruang pelatihan di Pusdiklat Mahkamah Agung tampak berbeda hari…

Dualisme Kewenangan dan Formasi Majelis: Solusi Penyelesaian Sengketa Niaga Syari’ah di Pengadilan Niaga

20 April 2026 • 19:00 WIB

Antara Komando dan Keadilan: Ujian Etika dan Independensi Hakim Militer Pasca KUHAP Baru

20 April 2026 • 18:49 WIB

Wakil Ketua PTA Kepri Sampaikan Hasil Rapat Koordinasi Ditjen Badilag Tahun 2026

20 April 2026 • 16:31 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Membumikan Ekonomi Islam: Dr. Yasardin, S.H.,M.Hum (Tuaka Agama MA RI) Ajak Hakim PA Menyelami Maqasid Syariah dalam Penyelesaian Sengketa Niaga Syariah
  • Dualisme Kewenangan dan Formasi Majelis: Solusi Penyelesaian Sengketa Niaga Syari’ah di Pengadilan Niaga
  • Antara Komando dan Keadilan: Ujian Etika dan Independensi Hakim Militer Pasca KUHAP Baru
  • Wakil Ketua PTA Kepri Sampaikan Hasil Rapat Koordinasi Ditjen Badilag Tahun 2026
  • Kisah Dibalik Video Clip “Kau yang Teristimewa”

Recent Comments

  1. tadalafil cost goodrx on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  2. tadalafil 5mg directions on Konsekuensi Hukum Penetapan Pengembalian Berkas oleh KPN dalam Proses MKR di Tingkat Penyidikan dan Penuntutan
  3. doxycycline monohydrate 100mg on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
  4. lasix for dogs 12.5 mg on Kerahasiaan Perkara Perceraian: Mengkaji Ulang Anonimisasi Putusan
  5. esomeprazole magnesium 40 mg generic on Debu di Atas Map Hijau
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Emna Aulia
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.