Prolog: Pesta Demokrasi dan Auman Janji Manis
Di Kerajaan Alasnusa yang megah, pesta demokrasi baru saja usai. Dengan gemuruh sorak-sorai yang memecah langit, Sang Singa terpilih sebagai Penguasa Tertinggi. Di atas Batu Orationis, tempat segala janji diumbar, aumannya bergema memenuhi sudut-sudut kerajaan. “WARGAAAA ALASNUSA YANG KUCINTAI!” gertaknya, dada membusung penuh wibawa. “Kepada Sang Kambing penegak keadilan, dengarlah suaraku! Kami AKAN MELIPATGANDAKAN pasokan rumput kalian RATUSAN KALI LIPAT! Setiap tetes keringat kejujuran dan integritas kalian, akan kami tukar dengan gunungan rumput hijau yang menjulang hingga menyentuh awan! PERCAYALAH PADAKU!”
Sorak-sorai membahana. Para kambing menari-nari kegirangan, melompat-lompat, dan para bersuit riang. Janji itu begitu manis, namun hingga kini tetap menggantung di udara bagai khayalan indah yang tak ingin mereka lupakan.
Babak 1: Rapat Anggaran, di Mana Janji Dikubur dalam Kompromi
Beberapa bulan berlalu. Di Balai Markas Beruang, ruangannya harum oleh aroma madu dan kekuasaan. Sang Beruang duduk empuk di singgasananya, mencakar-cakar setumpuk dokumen sambil sesekali menyeruput madu murni dari guci bertuliskan “Dana Aspirasi Strategis”. Sang Kambing masuk dengan langkah gontai, membawa proposal anggaran yang telah ia susun semalaman. Matanya berkaca-kaca.
“Yang Terhormat Pimpinan Beruang dan Sang Singa yang Tegas,” mulainya dengan suara bergetar namun berusaha tegas. “Janji pelipatgandaan pasokan rumput sudah waktunya direalisasikan. Musim kemarau datang. Rekan-rekan kami di perbatasan mulai kelaparan. Rekan kami yang berada di lereng bukit hanya bisa memakan kulit kayu. Bagaimana mereka bisa menegakan keadilan jika perut mereka keroncongan dan fokusnya terpecah belah?”
Sang Singa, yang baru saja selesai menyisir bulu tengkuknya, menghela napas dramatis. “Kambing, Kambing… Kau itu selalu terlalu teknis, bahkan cenderung filosofis. Tapi yaa sesuailah sama profesimu itu,” ujarnya, suara berat penuh bas. “Kamu harus realistis juga. Janji itu suci, tapi realisasi butuh proses yang elegant. Anggaran harus feasible, measurable, dan… tidak mengganggu existing programs.”
Beruang mengetukkan cakarnya yang besar ke meja. “Setuju (seperti kalimat template yang sering diucapkan dalam ruang rapat)! Kita harus prioritaskan program yang lebih visioner. Seperti proyek “Pengeras Auman Nasional” untuk Sang Singa, agar wibawanya terdengar hingga ke sarang semut. Atau program “Peningkatan Kapasitas Cakar Berpikir” untuk para staf dewan saya. Itu baru investasi jangka panjang!”
“Tapi” bantah Kambing.
Tidak ada tapi!” sela Singa tiba-tiba, matanya menyala. “Bagaimana dengan program “Makan Daging Gratis untuk Anak-Anak Karnivora”? Itu sangat populis dan mendesak daripada melipatgandakan rumput kalian! Atau kau sudah tidak peduli pada generasi penerus?”
Proposal anggaran rumput Kambing hanya naik satu ton saja tahun depan. Alasan resminya: “Efisiensi Anggaran dan Pemprioritasan Program Strategis Nasional.” Sebagai gantinya, disetujui dana fantastis untuk proyek “Peningkatan Ketajaman Indera Para Serigala sang Pembasmi kejahatan dan para macan tutul sang eksekutor” yang lebih jauh di atas pasokan kambing. Aksi mereka lebih nyata di hadapan para hewan. Baru-baru ini macan tutul berhasil menyelamatkan kerugian kerajaan dan memulihkannya di hadapan Singa sang penguasa. Di sisi lain, serigala yang citranya kian memburuk karena represifitasnya tetap dinaikan pasokan dagingnya untuk tahun depan. Ya karena mereka mudah dikontrol oleh singa sang penguasa dan secara struktur jadi alat penguasa.
Babak 2: Pengadilan dan Timbangan yang Dijungkirbalikkan
Seekor Kelinci tua dengan bulu kusam dan mata sembap menghadap Sang Kambing, yang sedang duduk di Balai Yustisia.
“Yang Mulia,” ratap Kelinci sambil membungkuk. “Lahan warisan keluarga kami, yang penuh wortel terbaik, dirampas paksa oleh Ceetah! Dia bilang, itu sudah menjadi wilayah perburuan kerajaan atas perintah Sang Singa!”
Kambing memeriksa bukti dengan cermat. Ada peta warisan, kesaksian para tupai, bahkan coretan anak kelinci di tanah. Setelah berhari-hari merenung, dengan hati berat ia memutuskan: “Ceetah terbukti melakukannya dan bersalah. Lahan dikembalikan kepada Kelinci. Ceetah harus menjalani hukuman kurungan di Gua Gelap selama 14 hari karena perbuatannya yang sewenang-wenang!”
Keputusan itu mengguncang Alasnusa. Tapi, sebelum Keluci sempat mengangkat wortel sebagai rasa syukur, Sang Singa sudah berdiri gagah di atas Hak Prerogatif.
“Warga Alasnusa” aumnya, disiarkan langsung oleh Burung Gagak dari NNC Alasnusa. “Keputusan ini… PICIK! Tidak mencerminkan rasa keadilan hewani dan berpotensi mengganggu stabilitas nasional! Maka, dengan berat hati… saya ANULIR! Saya bebaskan Ceetah dari hukuman”
Langsung, kerumunan hewan bersorak, “HIDUP SINGA! PAHLAWAN KITA!”
Media sosial ramai. Tagar #KambingTidakAdil, dan #SingaPenyelamat menjadi trending. Tak ada yang peduli pada dokumen putusan Kambing yang detail dan penuh makna. Yang mereka lihat adalah Singa yang “berani membela ceetah yang tak bersalah” Kambing pun kembali ke habitatnya yang sederhana. Jatah rumputnya jadi berkurang, jangankan janji lipatganda pasokan direalisasi, yang ada justru dipotong lagi, dengan alasan “kinerja tidak memuaskan”. Ia memandang lesu ke padang rumput yang kian gersang, sambil berpikir bagaimana memberi makan anaknya yang sakit dengan gajinya yang habis untuk “kebutuhan sehari-hari, bayar hutan, sewa kendang dan lain sebagainya”.
Babak 3: Sekolah Malam dan Kebenaran yang Diterbangkan Angin
Di atas Pohon Kebijaksanaan, di Sekolah Malam Burung Hantu, sang Guru yang tua dan bijak bertanya pada murid-muridnya yang bersinar matanya dalam gelap.
“Anak-anakku”, sang Burung Hantu mengembangkan sayapnya. “Sang Singa dan Sang Beruang sengajaa mendudukkan Kambing di kursi keadilan, lalu mengikatnya dengan tali anggaran. Mereka menyuruhnya berlari cepat, sambil merantai kakinya. Mereka memaksamu melihat keseimbangan diantara mereka, dimana yang ada hanya ketundukan satu dengan lainnya. Inilah yang disebut… ILUSI KEKUASAAN!”
“Lalu apa solusinya, Guru?” tanya salah satu anak Burung Hantu.
Suasana hening sejenak sebelum sang Guru menjawab, suaranya bergetar penuh keyakinan:
“POTONG KUKU SINGA YANG TELAH TERLALU PANJANG MENCENGKRAM PARA MUSUH YANG TIDAK TERMASUK GOLONGANNYA! TUMPULKAN TARING BERUANG YANG TAJAM NAMUN TIDAK MENDENGAR ANSPIRASI PARA HEWAN YANG ADA MENGUNTUNGKAN KRONI-KRONINYA! DAN… ASAH TANDUK KAMBING HINGGA RUNCING DAN BERKILAU, AGAR IA TAK LAGI BISA DIREMEHKAN. ITU LAH KEKUASAAN YANG IDEAL!”
Saat Fajar Menyingsing, dan Rumput Tetap Menguap
Dan demikianlah, roda waktu berputar tanpa peduli. Di padang savana yang semakin gersang, janji-janji yang pernah bergema di Batu Orationis akhirnya benar-benar menguap, tertiup angin panas musim kemarau dan dilupakan dalam hiruk-pikuk proyek mercusuar baru. Sang Singa dan Beruang tetap perkasa. Proyek lain tetap berjalan mulus, suara auman kini menggema hingga ke liang tikus, membungkus semua keluhan dalam balutan wibawa yang tak terbantahkan. Sang Kambing? Ia masih duduk di kursi keadilannya, tetapi tanduknya mulai terasa gatal. Dalam kesunyian malam, ia memandangi bulan dan mengingat nasihat Burung Hantu. Mungkin suatu saat nanti, ia harus mempertajam tanduknya bukan untuk menyerang, tetapi untuk membela kebenaran yang semakin terpojok. Atau mungkin, ia akan tetap menjadi simbol keadilan yang tak berdaya, diikat oleh tali pasokan makanan dan dibungkam oleh auman kekuasaan. Pada akhirnya janji tetaplah janji yang tak tahu kapan terealisasi.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


