Baturaja 3 Maret 2026
Di bawah naungan bulan suci Ramadan, Pengadilan Agama (PA) Baturaja mengonstruksi ulang makna kebersamaan. Bukan sekadar seremoni berbuka puasa, agenda yang digelar pada Selasa (3/3) ini menjadi panggung pertautan antara formalitas birokrasi, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial (social responsibility) melalui pemberian santunan kepada masyarakat sekitar.
Acara ini mencapai esensi puncaknya dengan kehadiran Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Palembang, YM. Drs. Abdullah, S.H., M.H., didampingi Plt. Sekretaris Rahmat Supli, S.H., M.Si. Kehadiran pimpinan PTA Palembang ini memberikan dimensi strategis, di mana agenda Pembinaan dan Monitoring Evaluasi (Monev) melebur secara organik dalam suasana kekeluargaan yang harmonis.

Ketua PA Baturaja, YM. Sri Roslinda, S.Ag., M.H., dalam sambutannya menekankan bahwa Ramadan adalah instrumen teologis untuk mempertajam empati institusional. Menurutnya, hubungan antara lembaga peradilan dan masyarakat tidak boleh hanya sebatas dinding formalitas persidangan, melainkan harus berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan yang inklusif.
Beliau juga mengajak seluruh aparatur untuk menjadikan momentum ini sebagai sarana memvalidasi diri. Kualitas pelayanan kepada para pencari keadilan harus linear dengan peningkatan kualitas spiritual dan moral setiap individu di lingkungan peradilan.
Nuansa ilmiah-spiritual semakin kental saat Wakil Ketua PA Baturaja, H. Aman, S.Ag., SE., SH., MH., MM., menyampaikan tausiyahnya. Beliau membedah puasa sebagai sebuah “Laboratorium Pelatihan Intensif” yang mengintegrasikan tiga pilar kecerdasan manusia dalam satu tarikan napas.
Dalam paparannya, H. Aman menjelaskan bahwa Kecerdasan Spiritual (SQ) berperan sebagai kompas yang memberikan visi hidup dan arah pengabdian. Sementara itu, Kecerdasan Emosional (EQ) menjadi instrumen kendali diri dalam menghadapi kompleksitas problematika hukum di lapangan.
Melengkapi trilogi tersebut, Kecerdasan Intelektual (IQ) hadir sebagai motor penggerak strategi dan inovasi dalam menegakkan keadilan. Perpaduan ketiga kecerdasan ini diharapkan mampu melahirkan aparatur peradilan yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga bijaksana secara nurani.
Sebagai bentuk nyata dari internalisasi nilai-nilai tersebut, PA Baturaja menyalurkan santunan kepada masyarakat di lingkungan sekitar kantor secara simbolis. Aksi filantropi ini bukan sekadar bantuan material, melainkan simbol keberpihakan institusi terhadap kesejahteraan sosial (social justice).
Kegiatan ini ditutup dengan harapan besar bahwa kultur kerja yang berbasis pada kebersamaan dan pengabdian tulus ini tidak berhenti sampai disini. Semangat kepedulian ini diharapkan terpatri menjadi DNA organisasi yang memperkokoh marwah Pengadilan Agama Baturaja di mata publik.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


