Tanggal: 11 November 2025 | Lokasi: Gedung BSDK Mahkamah Agung, Megamendung, Bogor
Suasana ruang rapat di Gedung BSDK Mahkamah Agung terasa agak lain siang menjelang sore itu. Cuaca sejuk cenderung dingin di kawasan Megamendung seolah tak mampu membendung kegairahan optimisme para peserta rapat. Tidak hanya karena menjadi pertemuan perdana Tim Redaksi suarabsdk.com, tetapi karena di dalamnya lahir kesadaran dan semangat baru: bahwa media ini bukan sekadar wadah publikasi kegiatan, melainkan medium nilai, pikiran, dan kebajikan kelembagaan.
Kepala BSDK Mahkamah Agung, Syamsul Arief, membuka pertemuan dengan kalimat sederhana namun bernas: “Umur suarabsdk masih muda. Bayi yang lahir ini harus kita bimbing agar berjalan lurus, membawa kabar baik bagi dunia peradilan.” Dari sana, percakapan sore itu beranjak menjadi kuliah panjang tentang etika, politik komunikasi, dan cita-cita intelektual lembaga peradilan.
Media yang Tidak Sekadar Mengabarkan
Bagi Kepala BSDK, banyak media lembaga berhenti pada fungsi memberitakan, hanya mengabarkan fakta. Padahal, esensi suarabsdk bukan pada apa yang terjadi, melainkan apa makna di balik yang terjadi. Jurnalistik sejati lahir bukan hanya untuk mengabarkan, tetapi untuk menggerakkan kesadaran. Media lahir dari tradisi kritik terhadap kekuasaan. Namun bagi BSDK, kritik harus bertransformasi menjadi propaganda kebajikan. Kalau kebohongan diulang terus bisa jadi kebenaran, maka kebenaran yang dikabarkan terus-menerus akan menjadi inspirasi. Mahkamah Agung bukan hanya memproduksi putusan, tetapi juga membangun narasi kelembagaan. Narasi itulah yang menjaga kepercayaan publik di tengah tegangan politik antara keadilan dan kekuasaan. Kemampuan komunikasi publik lembaga peradilan menjadi penentu persepsi keadilan. suarabsdk.com diharapkan menjadi jembatan strategis antara kebijakan, publik, dan dunia akademik.
Media Sebagai Perjuangan Politik Kebijakan
Ketika berbicara tentang kesejahteraan hakim, sesungguhnya yang sedang diperjuangkan adalah politik kemandirian lembaga. Komunikasi publik menjadi bagian dari perjuangan politik kelembagaan yang meneguhkan negara hukum yang bermartabat. Mengutip pesan Ketua Mahkamah Agung, Prof Sunarto, Kepala BSDK menegaskan bahwa Keadilan tidak cukup ditegakkan, tapi harus diperlihatkan. Melalui suarabsdk.com, wajah keadilan perlu hadir dalam narasi, tindakan, dan keseharian aparatur peradilan. Media ini harus menjadi cermin kebijaksanaan lembaga peradilan – tempat kebijakan dituturkan dengan hikmah, bukan sekadar data. Setiap berita harus punya kedalaman nilai dan makna yang menumbuhkan inspirasi.

Membentuk Tradisi Intelektual yang Memihak
Peradilan yang agung tidak hanya dibangun oleh putusan, tetapi juga oleh tradisi berpikir. Media menjadi ruang untuk menumbuhkan kultur ilmiah di lingkungan Mahkamah Agung – tempat hakim tidak hanya bekerja, tapi juga berpikir dan menulis. Bila propaganda dapat digunakan untuk menanam kebohongan, maka mengapa tidak kita gunakan untuk menanamkan kebenaran? suarabsdk.com harus menjadi mesin kecil yang menyiarkan contoh baik, inovasi, dan semangat kebajikan di seluruh lini peradilan. Menulis di suarabsdk.com bukan sekadar tugas administratif, melainkan ibadah intelektual: merawat gagasan, mengabadikan nilai, dan menyalakan lentera kebajikan di dunia hukum.
Pertemuan sore itu meneguhkan bahwa suarabsdk.com bukan proyek komunikasi, melainkan gerakan moral dan intelektual lembaga peradilan – wadah bagi hakim, peneliti, dan aparatur untuk menuturkan nilai serta membangun kepercayaan publik.
Menutup arahannya, Syamsul Arief menegaskan: “Kita tidak sedang membangun situs, kita sedang menanamkan nilai.” Kalimat itu menjadi fondasi etis bagi seluruh insan redaksi. Di balik layar suarabsdk.com, tengah tumbuh pohon besar bernama harapan. Dari nilai-nilai itulah muncul kesadaran baru: bahwa media peradilan tidak boleh berdiri di ruang netral yang hampa.
Dalam pandangan Kepala BSDK ini, netralitas tanpa nurani justru kehilangan makna moralnya. Karena itu, Suara BSDK memilih untuk memihak – bukan kepada kekuasaan, melainkan kepada nilai-nilai hukum yang menjunjung martabat manusia. “Suara BSDK, suara keberpihakan hukum dan keadilan,” menjadi semboyan yang menegaskan arah etis media ini. Keberpihakan itu menemukan bentuk nyatanya dalam perhatian pada mereka yang lemah, terpinggirkan, dan belum memperoleh keadilan yang layak. Hukum yang agung bukan hanya berbicara lewat pasal dan amar putusan, tetapi juga melalui empati dan keberanian untuk menyuarakan yang tidak bersuara. Inilah napas yang hendak dihidupkan Suara BSDK — keberanian moral untuk berpihak pada kemanusiaan di tengah kekuasaan, menjadi jembatan antara nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup di masyarakat.
Dengan semangat itu, keberpihakan bukanlah keberpihakan politik, melainkan keberpihakan profetik: berpihak kepada kebenaran, kepada kebajikan, dan kepada cita-cita besar hukum yang membebaskan. Hukum yang memihak kepada kemanusiaan bukanlah hukum yang lemah, melainkan hukum yang berjiwa. Itulah makna terdalam dari Suara BSDK — suara yang hidup dari nurani dan berbicara untuk keadilan.
Dalam keyakinan Syamsul Arief, suarabsdk.com lahir bukan dari ruang redaksi komersial, melainkan dari rahim lembaga yang ingin bicara dengan hati. Ia menghadirkan suara lembaga yang berpikir, berjiwa, dan berkeadilan – suara yang tidak keras, tapi dalam. Suara yang tidak banyak, tapi bermakna. Suara BSDK.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


