Realitas Kehidupan
Di sebuah ruang kerja yang dindingnya penuh slogan motivasi Integritas, Profesionalisme, Akuntabilitas, hidup sekelompok manusia yang setiap pagi tampak sibuk, tetapi tak selalu bekerja. Mereka datang tepat waktu, duduk rapi, membuka komputer, lalu membuka jendela lain yang lebih penting dari pekerjaan: jendela untuk menilai orang lain.
Tokoh utama kita sebut saja Aku bukan siapa-siapa. Sudah punya nama di kartu identitas, sudah punya muka di cermin, dan karena itu tak berniat mencari muka di hadapan siapa pun. Prinsipnya sederhana: bekerja secukupnya dengan sungguh-sungguh, bicara seperlunya dengan jujur, dan berharap hasil pada Allah SWT, bukan pada tepuk tangan manusia.
Namun prinsip sederhana itu sering dianggap aneh di ruang kerja ini.
Di sini, ada tradisi tak tertulis: bekerja bukan untuk hasil, melainkan untuk terlihat. Siapa yang paling sering mengkritik, dialah yang dianggap paling peduli. Siapa yang paling lantang menilai, dialah yang disebut paling berintegritas. Anehnya, mereka yang rajin menilai jarang terlihat menyelesaikan pekerjaan sendiri.
“Pekerjaan si A lambat,” kata seseorang sambil menyeruput kopi.
“Laporan si B banyak salah,” timpal yang lain sambil membuka media sosial.
“Kalau saya yang pegang, pasti beres,” ujar yang ketiga, meski pekerjaannya sendiri belum pernah benar-benar selesai.
Aku mendengarkan, tersenyum, lalu kembali menatap layar. Dalam hati Aku bergumam: “Betapa mudahnya menilai pekerjaan orang lain, dan betapa beratnya menilai kinerja sendiri”.
Cermin Bermuka Dua
Satire kehidupan kantor memang sering lucu sekaligus menyedihkan. Banyak orang sibuk menambal kekurangan diri dengan menyoroti kesalahan orang lain. Seolah dengan menemukan cacat pada sesama, lubang pada dirinya akan tertutup rapi. Padahal, kekurangan itu bukan hilang hanya disembunyikan di balik suara kritik.
Aku pernah bertanya pada diri sendiri: “Mengapa manusia begitu gemar mencari kesalahan orang lain?” Jawabannya sederhana: “Karena menilai orang lain lebih ringan daripada memperbaiki diri sendiri. Mengkritik tidak membutuhkan disiplin, sedangkan memperbaiki diri menuntut kejujuran dan kerja keras.”
Dalam satu rapat evaluasi, seorang rekan berdiri dengan penuh semangat. Ia menyampaikan daftar panjang kesalahan tim lain. Slide demi slide dipenuhi kata “kurang”, “tidak optimal”, dan “perlu diperbaiki”. Ketika giliran laporan timnya sendiri, layar “mendadak mati”. Ia tersenyum dan berkata, “Untuk tim kami, rasanya sudah cukup baik.”
Aku menunduk. Bukan menahan tawa, tetapi menahan sedih. Sebab di situlah satire itu berdiri telanjang: mencari kebenaran saat menilai orang lain, tetapi mencari pembenaran saat menilai diri sendiri.
Padahal, dalam iman yang kami yakini bersama, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Manusia diciptakan dengan keterbatasan, dengan cela, dengan potensi salah. Lalu mengapa kita begitu berambisi tampil sempurna di hadapan sesama, sementara lupa memperbaiki diri di hadapan-Nya?
Aku teringat satu nasihat lama yang sering terdengar klise: “Jangan mencari kesalahan orang lain, lebih baik mengisi dan melengkapi kekurangannya.” Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi sulit dijalankan di dunia yang lebih menghargai kritik daripada kontribusi.
Sudah Punya Nama, Tak Perlu Cari Muka
Di ruang kerja ini, orang yang bekerja diam-diam sering kalah pamor dengan mereka yang pandai berbicara. Mereka yang menuntaskan tugas tanpa banyak cerita sering luput dari perhatian. Tetapi Aku belajar satu hal: “Bekerja tanpa berharap balas budi adalah bentuk kemerdekaan batin. Ketika tidak berharap pujian, kita tidak kecewa saat dilupakan. Ketika tidak mengejar sanjungan, kita bebas bekerja dengan jujur.”
Aku memilih jalur yang mungkin tidak populer: bekerja mandiri, berusaha inovatif, dan tetap inspiratif setidaknya bagi diri sendiri. Bukan berarti menutup mata pada kesalahan, tetapi memilih cara yang lebih beradab untuk menyikapinya. Bukan dengan mengumumkan kekurangan orang lain, melainkan dengan menawarkan solusi dan kebersamaan.
Sebab pada akhirnya, kinerja yang berarti bukanlah kinerja yang paling terlihat, melainkan yang paling berdampak. Bukan yang paling sering dibicarakan, tetapi yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Suatu hari, seorang rekan mendekat dan bertanya, “Kenapa kamu jarang ikut mengkritik di rapat?”
Aku menjawab pelan, “Karena saya masih sibuk memperbaiki pekerjaan saya sendiri.”
Rekan tersebut terdiam, lalu tertawa kecil. Mungkin menganggap jawabanku sebagai satire. Padahal, itu adalah pengakuan paling jujur yang bisa kusampaikan. Sebab Aku sadar, kesalahan dan kekurangan diri kita sering kali belum diketahui orang lain, hanya karena semata Allah SWT menutupinya. Di hadapan Yang Maha Kuasa, semua kekurangan dan cela terpampang jelas dan tercatat sangat rinci.
Mencari kebenaran berarti berani bercermin. Mencari pembenaran berarti memecahkan cermin agar tak melihat pantulan sendiri. Banyak orang memilih yang kedua, karena lebih nyaman. Namun kenyamanan itu semu. Ia hanya menunda perjumpaan dengan kenyataan.
Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, seharusnya kebersamaan menjadi kekuatan. Tidak ada manusia yang cukup hebat bekerja sendirian. Tidak ada institusi yang berhasil karena satu orang paling vokal. Kinerja yang berarti, lahir dari saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan.
Di akhir cerita ini, ruang kerja itu masih sama. Slogan di dinding belum berubah. Orang-orang masih datang dan pergi. Sebagian masih sibuk menilai, sebagian mulai belajar bekerja. Aku tetap di mejaku, menuntaskan tugas, memperbaiki kekurangan, dan berdoa agar pekerjaanku bernilai ibadah.
Aku percaya, prestasi sejati bukan tentang siapa yang paling terlihat benar, tetapi siapa yang paling sungguh-sungguh berusaha. Bukan tentang siapa yang paling pandai bicara, tetapi siapa yang paling jujur bekerja.
Dan dalam sunyi itu, aku mengulang satu kalimat sebagai pengingat diri:
Sudah punya nama, jangan cari muka. Sudah punya amanah, tunaikan dengan sebaik-baiknya. Sisanya, serahkan pada Allah SWT.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


