Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Sudah Punya Nama, Jangan Cari Muka
Features Satire

Sudah Punya Nama, Jangan Cari Muka

Tri IndroyonoTri Indroyono3 January 2026 • 14:05 WIB5 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Realitas Kehidupan

Di sebuah ruang kerja yang dindingnya penuh slogan motivasi Integritas, Profesionalisme, Akuntabilitas, hidup sekelompok manusia yang setiap pagi tampak sibuk, tetapi tak selalu bekerja. Mereka datang tepat waktu, duduk rapi, membuka komputer, lalu membuka jendela lain yang lebih penting dari pekerjaan: jendela untuk menilai orang lain.

Tokoh utama kita sebut saja Aku bukan siapa-siapa. Sudah punya nama di kartu identitas, sudah punya muka di cermin, dan karena itu tak berniat mencari muka di hadapan siapa pun. Prinsipnya sederhana: bekerja secukupnya dengan sungguh-sungguh, bicara seperlunya dengan jujur, dan berharap hasil pada Allah SWT, bukan pada tepuk tangan manusia.

Namun prinsip sederhana itu sering dianggap aneh di ruang kerja ini.

Di sini, ada tradisi tak tertulis: bekerja bukan untuk hasil, melainkan untuk terlihat. Siapa yang paling sering mengkritik, dialah yang dianggap paling peduli. Siapa yang paling lantang menilai, dialah yang disebut paling berintegritas. Anehnya, mereka yang rajin menilai jarang terlihat menyelesaikan pekerjaan sendiri.

“Pekerjaan si A lambat,” kata seseorang sambil menyeruput kopi.

“Laporan si B banyak salah,” timpal yang lain sambil membuka media sosial.
“Kalau saya yang pegang, pasti beres,” ujar yang ketiga, meski pekerjaannya sendiri belum pernah benar-benar selesai.

Aku mendengarkan, tersenyum, lalu kembali menatap layar. Dalam hati Aku bergumam: “Betapa mudahnya menilai pekerjaan orang lain, dan betapa beratnya menilai kinerja sendiri”.

Cermin Bermuka Dua

Satire kehidupan kantor memang sering lucu sekaligus menyedihkan. Banyak orang sibuk menambal kekurangan diri dengan menyoroti kesalahan orang lain. Seolah dengan menemukan cacat pada sesama, lubang pada dirinya akan tertutup rapi. Padahal, kekurangan itu bukan hilang hanya disembunyikan di balik suara kritik.

Aku pernah bertanya pada diri sendiri: “Mengapa manusia begitu gemar mencari kesalahan orang lain?” Jawabannya sederhana: “Karena menilai orang lain lebih ringan daripada memperbaiki diri sendiri. Mengkritik tidak membutuhkan disiplin, sedangkan memperbaiki diri menuntut kejujuran dan kerja keras.”

Baca Juga  Pleno Teknis Perdana PN Karawang Perjelas Standar Pemeriksaan Perubahan Nama Anak

Dalam satu rapat evaluasi, seorang rekan berdiri dengan penuh semangat. Ia menyampaikan daftar panjang kesalahan tim lain. Slide demi slide dipenuhi kata “kurang”, “tidak optimal”, dan “perlu diperbaiki”. Ketika giliran laporan timnya sendiri, layar “mendadak mati”. Ia tersenyum dan berkata, “Untuk tim kami, rasanya sudah cukup baik.”

Aku menunduk. Bukan menahan tawa, tetapi menahan sedih. Sebab di situlah satire itu berdiri telanjang: mencari kebenaran saat menilai orang lain, tetapi mencari pembenaran saat menilai diri sendiri.

Padahal, dalam iman yang kami yakini bersama, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Manusia diciptakan dengan keterbatasan, dengan cela, dengan potensi salah. Lalu mengapa kita begitu berambisi tampil sempurna di hadapan sesama, sementara lupa memperbaiki diri di hadapan-Nya?

Aku teringat satu nasihat lama yang sering terdengar klise: “Jangan mencari kesalahan orang lain, lebih baik mengisi dan melengkapi kekurangannya.” Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi sulit dijalankan di dunia yang lebih menghargai kritik daripada kontribusi.

Sudah Punya Nama, Tak Perlu Cari Muka

Di ruang kerja ini, orang yang bekerja diam-diam sering kalah pamor dengan mereka yang pandai berbicara. Mereka yang menuntaskan tugas tanpa banyak cerita sering luput dari perhatian. Tetapi Aku belajar satu hal: “Bekerja tanpa berharap balas budi adalah bentuk kemerdekaan batin. Ketika tidak berharap pujian, kita tidak kecewa saat dilupakan. Ketika tidak mengejar sanjungan, kita bebas bekerja dengan jujur.”

Aku memilih jalur yang mungkin tidak populer: bekerja mandiri, berusaha inovatif, dan tetap inspiratif setidaknya bagi diri sendiri. Bukan berarti menutup mata pada kesalahan, tetapi memilih cara yang lebih beradab untuk menyikapinya. Bukan dengan mengumumkan kekurangan orang lain, melainkan dengan menawarkan solusi dan kebersamaan.

Sebab pada akhirnya, kinerja yang berarti bukanlah kinerja yang paling terlihat, melainkan yang paling berdampak. Bukan yang paling sering dibicarakan, tetapi yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Suatu hari, seorang rekan mendekat dan bertanya, “Kenapa kamu jarang ikut mengkritik di rapat?”

Baca Juga  Ketua MA Sampaikan 4 Refleksi Dan 1 Pesan Dalam Pemberian Anugerah Abhinaya Upangga Wisesa Tahun 2025

Aku menjawab pelan, “Karena saya masih sibuk memperbaiki pekerjaan saya sendiri.”

Rekan tersebut terdiam, lalu tertawa kecil. Mungkin menganggap jawabanku sebagai satire. Padahal, itu adalah pengakuan paling jujur yang bisa kusampaikan. Sebab Aku sadar, kesalahan dan kekurangan diri kita sering kali belum diketahui orang lain, hanya karena semata Allah SWT menutupinya. Di hadapan Yang Maha Kuasa, semua kekurangan dan cela terpampang jelas dan tercatat sangat rinci.

Mencari kebenaran berarti berani bercermin. Mencari pembenaran berarti memecahkan cermin agar tak melihat pantulan sendiri. Banyak orang memilih yang kedua, karena lebih nyaman. Namun kenyamanan itu semu. Ia hanya menunda perjumpaan dengan kenyataan.

Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, seharusnya kebersamaan menjadi kekuatan. Tidak ada manusia yang cukup hebat bekerja sendirian. Tidak ada institusi yang berhasil karena satu orang paling vokal. Kinerja yang berarti, lahir dari saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan.

Di akhir cerita ini, ruang kerja itu masih sama. Slogan di dinding belum berubah. Orang-orang masih datang dan pergi. Sebagian masih sibuk menilai, sebagian mulai belajar bekerja. Aku tetap di mejaku, menuntaskan tugas, memperbaiki kekurangan, dan berdoa agar pekerjaanku bernilai ibadah.

Aku percaya, prestasi sejati bukan tentang siapa yang paling terlihat benar, tetapi siapa yang paling sungguh-sungguh berusaha. Bukan tentang siapa yang paling pandai bicara, tetapi siapa yang paling jujur bekerja.

Dan dalam sunyi itu, aku mengulang satu kalimat sebagai pengingat diri:
Sudah punya nama, jangan cari muka. Sudah punya amanah, tunaikan dengan sebaik-baiknya. Sisanya, serahkan pada Allah SWT.

Tri Indroyono
Tri Indroyono
Panitera Pengadilan Negeri Garut

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

ASN cari muka dunia peradilan pengadilan profesionalisme
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB
Demo
Top Posts

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB

Ketua MA Sampaikan “Representasi Dan Kepemimpinan Hakim Perempuan Adalah Bagian Dari Strategi Membangun Peradilan Yang Berwibawa” Dalam Pembukaan Kegiatan Orientasi Dan Pelatihan Mentoring Badan Perhimpunan Hakim Perempuan Indonesia

13 January 2026 • 10:42 WIB
Don't Miss

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

By Muhamad Zaky Albana14 January 2026 • 20:29 WIB

Bayangkan sebuah masa ketika hukum bukanlah sesuatu yang tertulis rapi di buku tebal, melainkan terserak…

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB

Persiapan Pelatihan Dasar CPNS 2026: Fokus pada Blended Learning, Kedisiplinan, dan Inovasi Pembelajaran

13 January 2026 • 11:33 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire SuaraBSDK Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Abdul Ghani
  • Abiandri Fikri Akbar
  • Agus Digdo Nugroho
  • Ahmad Junaedi
  • Anderson Peruzzi Simanjuntak
Lihat semua →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.