“AWAL SEBUAH KONSPIRASI”
Bagian Ketiga – Cerita Bersambung – D.Y. Witanto
Di hadapan tumpukan berkas berwarna merah, aku termenung memikirkan tentang perkara pembunuhan yang sedang kutangani, tiba-tiba aku teringat pada seorang teman lama yang saat ini berprofesi sebagai pengacara. Aku buka kontak HP untuk mencari nomornya. Saat ku telepon, tanpa menunggu lama terdengar suara seseorang menyapaku.
“Halo Assalamualaikum, To” “Waalaikumsalam, gimana kabarnya San?
“Alhamdulilah baik, tumben kamu telepon ada apa gerangan nih?” “Besok ngopi di café simpang stasiun, yuk?”
“Maksudmu, di café yang dulu sering kita singgahi itu?” “Iya, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu, San.”
“Sebentar, sebentar… berarti sekarang kamu tinggal di Purwokerto, ya? Wah, ini pelanggaran berat, masa nggak ngabarin kalau sudah pindah tugas ke sini.”
“Makanya sekarang aku telepon kamu.” “Oh gitu ya, siap, siap. Jam berapa?” “Pas jam makan siang aja ya?.”
“Ok, sip. Berarti kamu yang traktir, ya?”
“Iya, aku yang traktir. Emang dari dulu kamu nggak pernah traktir aku.” Orang yang berbicara di telepon itu tertawa lepas.
“Ok, sampai ketemu besok, ya.”
***
Di sudut café, aku duduk sendirian. Seorang pelayan menghampiri dan memberikan daftar menu.
“Hot cappuccino tanpa gula, ya.” “Ada yang lain, Pak?”
“Untuk makanannya nanti aja, saya masih menunggu teman.”
“Oh, baik, Pak.” Pelayan itu pergi dan tak lama kemudian kembali membawa secangkir kopi yang dipesan. Aku menunggu sekitar 15 menit sambil ditemani secangkir kopi.
Tiba-tiba, seorang pria berperawakan agak gemuk dengan pakaian kemeja rapi masuk ke dalam café. Wajahnya terlihat menengok ke kanan dan kiri. Aku segera berdiri dari kursi dan melambaikan tangan.
“San…”
“Weh, kamu terlihat semakin muda aja, To!” ucap Sandy sambil menepuk bahuku.
“Apa nggak kebalik, San? Kayaknya kamu deh yang makin keren.”
“Ya, kalau pengacara beginilah, To. Kita kan selain menjual jasa, juga menjual penampilan, bercanda To, faktanya hidupku begini-gini aja.”
“Maksudnya?”
“Susah kaya, rumah masih kontrakan, kemana-mana masih pakai motor jelek.”
“Yang penting kan berkah, San. Aku juga sama, rumah dan mobil masih nyicil, karena gajiku nggak cukup buat beli cash.”
“Aku paham, kamu kan dari dulu sangat idealis To. Ya, aku juga mirip-mirip seperti itu, walaupun belum seperti kamu,” ucapnya.
“Itulah salah satunya kenapa aku pengin ketemu kamu. Aku kenal kamu sejak jaman kuliah dulu dan aku juga sering dengar tentang kiprahmu di dunia pengacara.”
“Ngomong-ngomong, keluargamu sudah diboyong ke sini juga?” tanya Sandy.
“Belum, San. Anak dan istriku masih di Jakarta. Nanti setelah kenaikan kelas, baru semuanya aku pindahin ke sini.”
“Oya, ngomong-ngomong, ada apa nih? Aku jadi penasaran.”
“Begini, San. Aku pegang perkara pembunuhan yang terdakwanya seorang perempuan.”
“Lah, emangnya kenapa? Bukannya kamu sering menangani perkara-perkara seperti itu?”
“Iya, San, tapi ini beda.”
“Beda bagaimana?” Sandy mengerutkan dahinya tanda bingung.
“Belakangan, aku baru tahu bahwa kejadian pembunuhan itu sempat aku saksikan tiga bulan lalu di sebuah hotel tempat aku menginap saat datang ke sini untuk melapor, San.”
“Lah, kok bisa, To?”
“Iya, San. Waktu itu aku keluar dari balkon hotel, tiba-tiba aku melihat seorang perempuan berlari keluar dari balkon kamar yang terletak di ujung. Jaraknya memang cukup jauh dari kamarku, tapi aku masih bisa melihat wajah perempuan itu dengan jelas. Dia berteriak meminta tolong, lalu masuk lagi ke dalam kamar.”
“Terus apa yang kamu lakukan, To?”
“Aku turun ke lobi untuk mencari tahu apa yang terjadi, tapi aku lupa menyimpan kartu akses kamar. Setelah itu aku kembali mengambil kartu akses untuk turun ke lobi, dan di sana sudah banyak orang berkerumun. Tidak lama kemudian, seorang wanita dibawa petugas keamanan keluar dari lift. Bajunya berlumuran darah, dan dia menangis tersedu-sedu sambil berulang kali mengatakan, ‘Aku tidak membunuhnya.’”
“Terus, kamu yang pegang perkara itu, To?” “Iya, San. Aku yang jadi ketua majelisnya.”
“Lakadalah, belgedes… Kamu pasti lebih paham lah. Hakim kan nggak boleh mengadili perkara yang punya kepentingan pribadi, dan aku pikir kamu punya kepentingan karena kamu tahu peristiwanya.”
“Iya, aku paham, San.”
“Lah, kenapa nggak mengundurkan diri?” Aku tidak menjawab pertanyaan Sandy, hanya menggelengkan kepala.
“Parah kamu, To… gimana sih, kalau itu sampai ketahuan, kamu bisa diperiksa.”
“Aku tahu, San. Tapi persoalannya begini… Aku tarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-kataku.
“Saat aku bertemu langsung dengan perempuan itu di ruang sidang, entah kenapa aku merasa yakin bahwa dia bukan pelakunya.”
“Mak semakin aneh aja nih, kamu sudah membangun keyakinan sebelum ada pembuktian.”
“Iya, aku tahu, San. Tapi rasanya ada yang nggak beres. Kalau aku mundur dan membiarkan hakim lain menyidangkan perkara ini, lalu perempuan itu dihukum, aku justru merasa telah berbuat zalim.”
“Apa maksudmu, pembunuhan itu pelakunya orang lain?”
“Bisa jadi begitu, atau mungkin si korban bukan dibunuh, melainkan bunuh diri.”
“Dari mana kamu bisa yakin seperti itu?”
“Waktu aku lihat perempuan itu berlari keluar balkon sambil teriak-teriak minta tolong, bajunya nggak ada darah sama sekali San. Tapi saat ketemu di lobi hotel, bajunya sudah berlumuran darah.”
“Terus, kenapa kamu yakin dia bukan pelakunya?”
“Kalau pada sat itu dia sudah membunuh korban, pasti pas berlari keluar balkon, bajunya udah penuh darah. Panik itu reaksinya pasti muncul setelahnya. Aneh kalau dia berteriak dulu baru setelah itu membunuh.”
“Iya juga, agak masuk akal sih.”
“Agak?”
“Maksudku, itu tetep belum cukup untuk menyimpulkan kalau dia bukan pelakunya To. Dan kamu harus ingat, cerita itu harus muncul di persidangan. Apa kamu siap jadi hakim sekaligus juga menjadi saksi?”
“Ya jelas nggak lah, San. Makanya aku panggil kamu ke sini, buat bantu aku cari fakta yang sebenarnya seperti apa, karena pasti aku nggak bisa melakukannya sendiri.”
“Terus, sekarang apa yang harus aku lakukan?” Aku terdiam sejenak.
“Beberapa hari yang lalu aku sempat bingung antara harus mengundurkan diri atau melanjutkan sidang. Tapi, jika aku serahkan perkara ini ke hakim yang lain, bisa dipastikan perempuan itu akan dihukum karena di berita acara penyidikan hampir semua saksi menerangkan bahwa saat pintu kamar dibuka terdakwa sedang memegang tubuh korban yang bersimbah darah, di tangan terdakwa ada sebilah pisau berlumuran darah.”
“Okelah, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku kan nggak mungkin melakukan investigasi ulang seperti penyidik.”
“Maukah kamu jadi penasihat hukumnya secara probono, San?”
Sandy terdiam sesaat, lalu mengangguk sambil meneguk kopi yang sudah agak dingin.
“Baiklah. Jujur, kalau bukan kamu yang minta, aku nggak mau melakukan ini.” “Kenapa, San?”
“Iyalah, meskipun aku tahu niatmu baik, tapi ini pelanggaran etik, ini sebuah persekongkolan, To. Seharusnya kamu nggak boleh melakukan ini. Kalau aku ikut, berarti aku juga ikut salah.”
“Aku sudah memikirkan ini berulang-ulang, San. Kalau aku serahkan perkara ini ke hakim lain, perempuan itu pasti akan dihukum, dan kamu tahu kan berapa ancaman pidananya?”
“Tapi, sebelum lebih jauh, To, aku harus tanya sama kamu, apa kamu sudah memikirkan semua risikonya kalau ini sampai diketahui pimpinanmu atau penuntut umum?”
“Aku siap terima risikonya, San. Tapi aku yakin kalau niat kita tulus, Tuhan pasti melindungi kita.”
“Oke, to the poin aja, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?”
“Kamu datangi terdakwa di Rutan, bilang kalau kamu diutus oleh saya untuk jadi penasihat hukumnya secara probono, dan yakinkan dia kalau kamu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolongnya.”
“Oke, besok aku akan datangi dia di Rutan.”
“Oya, tolong korek juga darinya apa yang sebenarnya terjadi. Aku nggak mau nanti salah mengambil keputusan kalau ternyata dia benar-benar pelakunya.”
“Baiklah, aku pergi dulu, To. Nanti aku kabari kalau sudah menemuinya di Rutan. Kirimkan identitasnya dan nomor perkaranya lewat WA ya, supaya aku bisa siapkan surat kuasanya.”
“Oke, San. Nanti aku kirim lewat WA. Kalau ada apa-apa atau kamu butuh biaya untuk operasional, kabari aja aku.”
“Weleh, weleh, kamu sudah kaya Robin Hood aja, nih,” kata Sandy sambil tertawa.
“Kalau mau bantu orang, jangan setengah-setengah, San. Nanti pahalanya juga nggak setengah-setengah,” jawabku sambil tersenyum.
“Terus, gimana dengan kopinya ini?”
“Udah ga usah basa-basi, aku nanti yang bayar. Lagian, kamu kan tadi udah bilang kalau kamu pengacara kere,” jawabku sambil tersenyum mengejek.
“Ah, kampret lu… Oke, aku permisi dulu, ya.”
Setelah meneguk sisa kopinya, Sandy beranjak meninggalkan tempat duduknya dan menuju keluar café. Aku juga tidak lama kemudian bangkit dan berjalan menuju kasir untuk membayar tagihan. Tanpa kusadari, sepasang mata tajam mengawasi setiap gerak-gerikku dari balik ornamen kaca dan tanaman di sudut café.
Bersambung…
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


