Senin pagi yang bagi banyak orang hanyalah repetisi waktu, menjadi babak paling berat bagi AI. Ia melangkah ke ruang sidang dengan tubuh lemah dan hati yang koyak. Bukan hanya karena statusnya sebagai terdakwa, tetapi karena di sudut ruang rumah sakit, anaknya yang masih PAUD sedang berjuang antara kuat dan rapuh, membutuhkan darah golongan A, golongan darah yang langka, dan lebih langka lagi ketika bantuan tertahan oleh prasangka. Berkali-kali ia mencari, namun pintu kebaikan seolah menutup diri.
Sesaat sebelum membuka persidangan, Ketua Majelis Hakim Ruth Marina Damayanti Siregar menangkap keganjilan itu. Ada sesuatu dalam sorot mata AI yang tak bisa diabaikan: ketakutan seorang ayah yang hampir kehilangan. Usai mendengar bahwa sang anak kritis dan tak ada seorang pun yang bersedia menolong, Hakim Ketua berdiri dan mengumumkan dengan suara yang memecah sunyi: “Siapa yang bergolongan darah A? Ayo ikut saya… ada seorang anak yang membutuhkan segera.”
Di tengah riuh tugas yudisial yang tak pernah menunggu, Hakim Anggota Romi Hardika ikut berdiri tanpa jeda keraguan. Ia menyelesaikan pekerjaannya, lalu bergegas menuju PMI Pare-Pare untuk mendonorkan darahnya. Tidak melihat siapa yang ia bantu, tidak menghitung risiko, tidak menimbang status hanya kemauan untuk menyelamatkan manusia lain yang sedang berada di ujung harapan.
Bayangkan menjadi AI. Terhimpit perkara hukum, diselimuti stigma, dan pada saat yang sama dihantam kecemasan seorang ayah. Di saat dunia seperti menjauh, justru di ruang siding tempat ia diadili datang pertolongan dari mereka yang seharusnya menjaga jarak: hakim yang memeriksa perkaranya, hakim yang memimpin ruang itu.
Di sinilah hidup mengajarkan filosofi terpentingnya:
Bahwa manusia tidak diukur dari status, melainkan dari keberanian menunjukkan belas kasih. Bahwa hukum mengatur, tetapi nurani menggerakkan. Bahwa di percabangan antara tugas dan kemanusiaan, selalu ada kesempatan untuk memilih menjadi manusia yang lebih baik.
Tindakan kecil itu menjungkirbalikkan logika stigma. Mengingatkan kita pada pelajaran lama namun sering dilupakan: bahwa martabat kemanusiaan melekat jauh sebelum adanya perannya sebagai hakim, terdakwa, atau siapa pun ia dalam struktur sosial. Dan ketika satu hati memilih untuk peduli, hati-hati lain ikut tergerak. Terima kasih Ruth Marina Damayanti Siregar dan Romi Hardika.
Dari catatan singkat ini, kita belajar bahwa di balik jubah hakim, tetap berdenyut jiwa manusia yang memilih untuk bertindak bukan demi aturan, melainkan demi kemanusiaan itu sendiri. Dan mungkin, di titik itulah keadilan menemukan makna terdalamnya.

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


