Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Harmonisasi dan Rekonstruksi Pemidanaan: Menelaah Urgensi dan Tantangan Undang-Undang Penyesuaian Pidana

5 March 2026 • 12:45 WIB

PA Baturaja Gelar Rapat Monitoring dan Evaluasi Pembangunan Zona Integritas (ZI)

5 March 2026 • 12:35 WIB

Kepemimpinan, Manajemen Teknis Peradilan  dan Implementasi KEPPH Merupakan Tiga Pilar Utama Penjaga Integritas dan Pelindung Hak Warga Negara

5 March 2026 • 12:08 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Court Security System : Pelajaran dari lantai 27 Victoria Police Centre
Artikel Features

Court Security System : Pelajaran dari lantai 27 Victoria Police Centre

Syamsul AriefSyamsul Arief19 November 2025 • 21:59 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

SUARABSDK. ~ Melbourne, Rabu pagi, 19 November 2025. Cuaca cerah, suhu 15 derajat. Sejuk yang membuat logika bisa bekerja tanpa dipaksa. Martin, Manager International Program Federal Court Australia (FCA), menunggu kami di depan gedung FCA yang berdiri anggun di posisi hook simpang jalan raya William Street dan La Trobe Street.

Disampingnya Flagstaff Garden membentang hijau ditingkahi burung camar paruh merah terbang di cabang pohon london plane lalu turun melenggang dijalan tiada takut pada manusia didekatnya.

Kami berjalan 200 meter menuju Victoria Police Center (VPC). Di depan gedung itu, Superintendent Scot Johnson menyambut kami. Setelah saling bersalaman, ia mengajak masuk dan bercerita bahwa gedung megah 40 lantai itu baru dua tahun ditempati. Kantor polisi ini menampung 21.324 polisi, guna seluruh tenaga keamanan negara bagian Victoria. Setelah diberi ID card, kami menuju lantai 27. Di sana, Inspector Peter Mellas dan Senior Sergeant Chris Jefferey sudah menunggu.
Kemudian ketiganya bergantian menjelaskan tugas Kepolisian Victoria dalam pengaman di Pengadilan.

Peran Polisi Victoria di Pengadilan

Polisi Victoria Australia memberi perlindungan pada gedung dan fasilitas publik, kekuasaan negara yang harus dijaga bukan karena kehormatan birokrasi tapi karena keamanan warga.

Mereka bertugas menjaga pengadilan: County Court, Magistrates’ Court, hingga Supreme Court Victoria. Semua berdasarkan Undang-undang, bukan undangan khusus dari ketua pengadilan, bukan pula amplop makan siang dari panitera.

Di Victoria, keamanan pengadilan bukan “pilihan moral”, melainkan kewajiban legal. Polisi bekerja berdasar: Court Security Act 2017, Victoria Police Act 2013, Judicial Proceedings Reports Act, Standard Operating Procedures, Court Security Officers (G4S).

Tugas teknis polisi di pengadilan antara lain: Patroli harian di County Court, Magistrates’ Court, dan Supreme Court. Mengambil alih barang berbahaya hasil screening petugas keamanan pengadilan. Respon langsung terhadap ancaman: agresi, kekerasan, percobaan serangan terhadap hakim, jaksa, atau saksi. Pengawalan tahanan dari fasilitas Corrections Victoria jika dibutuhkan. Koordinasi harian dengan Court Security Officers (CSO). Tentu tidak menerima honorarium, konsumsi atau uang tambahan dari pengadilan.Tidak menunggu undangan resmi dari ketua pengadilan. Singkatnya: Polisi datang karena undang-undang memerintah, bukan karena undangan kepala pengadilan membujuk melalui grup WhatsApp.

Integritas Sebagai Barang Publik

Di sini ironi mulai terasa: Polisi Victoria datang setiap hari ke pengadilan bukan jika diminta. Mereka hadir tanpa mengajukan syarat-syarat tambahan yang di negeri lain sering dikemas sebagai “uang transport”, “uang konsumsi”, atau “uang rokok” – istilah yang terdengar lebih sopan daripada “gratifikasi kecil-kecilan”.

Petugas keamanan pengadilan (Court Security Officers) melakukan screening di pintu masuk. Polisi Victoria mendampingi, menerima barang-barang berbahaya hasil pemeriksaan: pisau, gunting, benda tajam. Dicatat, disimpan, dikembalikan, atau disita sesuai aturan. Tak ada drama. Tak ada negosiasi gelap-gelapan. Tak ada oknum yang berkata, “Bisa kita bicarakan, Pak?”. Keamanan adalah prosedur, bukan transaksi.

Lalu saya bertanya hal yang di beberapa negara dianggap sensitif: “Apakah kalian tidak iri dengan gaji hakim atau jaksa yang jauh lebih tinggi?”

Baca Juga  “Eksekusi yang Dieksekusi": Mengapa Indonesia Butuh Sheriff dan Court Security ala Victoria

Peter polisi berpuluh tahun pengalaman dalam menghadapi demonstrasi masyarakat itu tersenyum kecil. “Profesi ini saya pilih sejak muda,” ujarnya. “Saya tahu gajinya tidak sebesar profesi hukum lain. Saya bisa saja mengeluh kepada istri saya, tapi tidak kepada publik. Masyarakat tidak perlu tahu kekurangan kami. Tugas kami adalah melindungi mereka. Itu perintah undang-undang. Integritas kami tidak boleh menjadi tebusan untuk simpati.” Ucap Peter tenang dan tidak dibuat-buat seperti janji politisi lima tahunan.

Lalu saya bertanya lagi. Kali ini pertanyaan yang sering relevan di republik seberang garis khatulistiwa: “Apakah pimpinan kalian pernah memerintahkan aksi populis? Direkam, diviralkan, lalu dijadikan alat untuk meminta tambahan anggaran? Atau taktik agar pimpinan polisi kalian mendapat tempat di panggung politik?”

Peter menggeleng. “Kami bukan politisi. Kami bekerja karena undang-undang, bukan pencitraan”, Jawab Peter sambil tersenyum seperti mau mengatakan pertanyaan langka apa ini.

Lalu Chris Jefferey yang lebih tua tapi posisinya adalah anakbuah Peter itu menimpali sopan: “Integritas itu mengalir dalam darah kami, jadi tidak terpikir oleh kami untuk bertransaksi dijalanan menjual rasa keamanan”, ucap Chris tenang meski ditubunya mengenakan perangkat keamanan seberat 5 kg tanpa sedikit pun ekspresi lelah.

“Kami tidak bermain politik. Tugas kami: menjaga ketertiban dan melindungi masyarakat. Titik”, ucap Peter menjawab terang pertanyaan saya.

Dalam logika akademik, pernyataan Peter dan Chris dua Polisi Victoria itu adalah Etika Weberian. Bahwa Polisi Victoria ini bertindak berdasarkan legalitas dan etos jabatan, bukan kepentingan pribadi. Mereka bekerja melindungi warga dan memberikan keamanan sebagai panggilan moral semata bentuk asketisme duniawi.

Dalam logika satire, pernyataan Peter itu terdengar seperti: “Kami miskin, tapi tidak menjual integritas. Maaf kalau itu terdengar asing di beberapa negara.”
Sedangkan Chris yang menambahkan: “Integritas mengalir dalam darah kami.”
Seperti bermakna : Kalau integritas bisa jadi tes darah, Chris pasti lulus tanpa perlu revisi hasil lab.

Indonesia Satire yang Menjadi Kenyataan Saat Keamanan Sidang Dianggap Tambahan, Bukan Tugas Negara

Kontras terasa mencolok bila dibandingkan dengan Indonesia. Polisi Victoria hadir di pengadilan karena tugas. Di Indonesia, polisi hadir kalau diminta, dan kadang disambut seolah tamu istimewa yang perlu diberi makan siang dan kopi, sebuah budaya feodal yang bertahan hidup lebih lama dari kewarasan.

Tidak semua polisi demikian, tentu. Namun sistemnya memang memberi ruang bagi ketidakteraturan. Di banyak pengadilan kecil, security screening hampir tidak ada karena selain screening machine tidak ada nir pula kesiapsiagaan petugas.

Tersangka, saksi, korban, pengunjung, semua masuk dari pintu yang sama, membawa tas yang tidak diperiksa, emosi yang tidak ditapis, dan potensi kekerasan yang tidak pernah diprediksi.

Akibatnya, tragedi berulang:
Seorang hakim ditikam oleh tentara yang tidak terima putusan cerai.
Seorang saksi di Pengadilan Jakarta Pusat tewas ditikam simpatisan lawan. Keluarga korban mengejar terdakwa, jaksa ikut diserang. Seorang jaksa pernah dilempar kayu ketika membaca tuntutan.
Dan ruang sidang, tempat hukum mestinya melindungi semua orang, berubah menjadi arena yang rawan maut.

Baca Juga  Menjangkau Keadilan: Transformasi Kesadaran Yudisial Dari Reifikasi Critical Legal Studies Menuju Hakim Meditatif

Peristiwa-peristiwa tragis itu hanya menjadi berita sesaat lalu dilupakan begitu saja. Keselamatan dianggap aksesoris, bukan kewajiban negara.

Berbeda dengan Victoria, di Indonesia peran polisi di pengadilan bersifat: tidak permanen, tidak terstandar, sering by request dan kadang perlu diberi konsumsi

Struktur keamanan pengadilan di Indonesia mengandalkan Petugas Keamanan Dalam (PKD) yang bahkan kalah sigap dengan hansip kelurahaan saat riungan. Polisi hanya datang jika diminta dan tidak ada UU khusus yang mengatur pengamanan pengadilan seperti di Victoria Australia.

Akibatnya, hasilnya bisa ditebak:
Keamanan ruang sidang diserahkan pada harapan, bukan sistem. Dan harapan, seperti biasa, tidak pernah lolos audit BPK.

Pengamanan Victoria vs Indonesia : Perbandingan yang tidak memerlukan saksi ahli untuk menyimpulkan

Di Victoria Australia 1 gedung pengadilan besar sama dengam minimal 20–60 Court Security Officers lalu ditambah 5–15 Polisi Victoria standby setiap hari. Tersedia Metal detector, X-ray conveyor, mandatory bag screening. Panic button terhubung langsung ke Victoria Police Centre.

Adapun CCTV dengan 100-200 titik pemantauan. Kemudian Petugas bersenjata siap respon dalam 3 menit jika dibutuhkan.

Sedangkan di Indonesia 1 pengadilan negeri rata-rata memiliki 4–8 Petugas Keamanan Dalam alias satpam internal yang entah seperti apa metode rekruitmen dan nir pendidikan. Tidak ada screening tas, apa kabar metal detector. Tersedia hanya 6–20 unit CCTV, itupun banyak yang mati sensor dan respon polisi bergantung jarak Polsek atau Polres.

Adapun dokumen pengamanan, jikapun ada hanya SOP internal, tidak memiliki undang-undang khusus. Lalu pengawalan tahanan sering diserahkan pada kejaksaan, bukan kepolisian.
Perbedaan ini menghasilkan gap keamanan yang sepadan dengan perbedaan kurs dolar dan kurs kepercayaan publik. Semua terjadi karena negara absen dari ritual keamanan.

Penutup

Dalam rapat Komisi III DPR, 18 November 2025, Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mengakui banyak Kapolsek, Kasatreskrim dan Kapolres belum bekerja optimal. Sebuah pengakuan jujur, tetapi juga pengingat: pembenahan tidak boleh berhenti pada laporan rapat. Pembenahan harus sampai pada titik di mana polisi memandang pengadilan bukan sekadar bangunan administratif, melainkan jantung peradaban hukum.

Kapolri dan Tim Reformasinya harus mencatat bahwa tanpa keamanan di ruang sidang pengadilan, hukum hanya menjadi teks rapuh. Tanpa perlindungan polisi, martabat peradilan hanya selembar spanduk di dinding.
Dan tanpa integritas aparat, negara hanyalah panggung sandiwara yang menunggu penonton terakhir pergi sebelum tirai roboh.

Victoria menunjukkan bahwa keamanan pengadilan bukan soal gengsi institusi, tapi soal nilai peradaban. Polisi harus hadir karena itu mandat konstitusional, bukan permintaan seremonial.
Indonesia bisa melakukan hal yang sama seperti di Victoria asal keberanian moral mengalahkan kebiasaan lama.

Jika integritas mengalir dalam darah Polisi Victoria, maka semoga suatu hari integritas juga mengalir deras di negeri ini: tidak hanya di darah polisi, tetapi di nadi seluruh sistem peradilan.

Syamsul Arief
Kontributor
Syamsul Arief
Kepala Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

australia
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Harmonisasi dan Rekonstruksi Pemidanaan: Menelaah Urgensi dan Tantangan Undang-Undang Penyesuaian Pidana

5 March 2026 • 12:45 WIB

Mengkaji ulang konsep Judicial Scrutiny dalam KUHAP Baru: Antara Tameng Legalitas atau Benteng Impunitas?

5 March 2026 • 09:25 WIB

Wakaf Jenazah

4 March 2026 • 22:22 WIB
Demo
Top Posts

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB

Penerapan Asas Equality Of Arms dalam Pembuktian Kebocoran Data Pribadi

24 February 2026 • 09:05 WIB

Pertanggung Jawaban Pidana dan Kesadaran Moral Pelaku: Analisis Konseptual Mens Rea dalam Perspektif Fikih Jinayat

24 February 2026 • 08:31 WIB
Don't Miss

Harmonisasi dan Rekonstruksi Pemidanaan: Menelaah Urgensi dan Tantangan Undang-Undang Penyesuaian Pidana

By Syailendra Anantya Prawira5 March 2026 • 12:45 WIB0

Pendahuluan Sistem hukum pidana Indonesia saat ini berada dalam titik nadir transformasi yang paling fundamental…

PA Baturaja Gelar Rapat Monitoring dan Evaluasi Pembangunan Zona Integritas (ZI)

5 March 2026 • 12:35 WIB

Kepemimpinan, Manajemen Teknis Peradilan  dan Implementasi KEPPH Merupakan Tiga Pilar Utama Penjaga Integritas dan Pelindung Hak Warga Negara

5 March 2026 • 12:08 WIB

Mengkaji ulang konsep Judicial Scrutiny dalam KUHAP Baru: Antara Tameng Legalitas atau Benteng Impunitas?

5 March 2026 • 09:25 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Harmonisasi dan Rekonstruksi Pemidanaan: Menelaah Urgensi dan Tantangan Undang-Undang Penyesuaian Pidana
  • PA Baturaja Gelar Rapat Monitoring dan Evaluasi Pembangunan Zona Integritas (ZI)
  • Kepemimpinan, Manajemen Teknis Peradilan  dan Implementasi KEPPH Merupakan Tiga Pilar Utama Penjaga Integritas dan Pelindung Hak Warga Negara
  • Mengkaji ulang konsep Judicial Scrutiny dalam KUHAP Baru: Antara Tameng Legalitas atau Benteng Impunitas?
  • Judicial Pardon dalam Perkara Pidana Bermuatan Konflik Agraria: Catatan atas Putusan Pengadilan Negeri Poso Nomor 471/Pid.B/2025/PN Pso

Recent Comments

  1. hello world on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Mayor Laut (H) A. Junaedi, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas, S.H., M.Kn.
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Letkol Chk Dendi Sutiyoso, S.S., S.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.