Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hakim Agung Syamsul Arief Tekankan Pengujian Ilmiah dalam Penggunaan Expert Judgment pada Perkara Lingkungan Hidup

October 20, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Lima Hakim Yustisial MA Ikuti Forum Ahli Lingkungan Hidup 2026 di Bali

October 20, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Camar-Camar yang Mengawasi Sejarah

Camar-Camar yang Mengawasi Sejarah

Kisah George, Sungai Yarra dan Peneliti Pengadilan Indonesia
Syamsul AriefBy Syamsul AriefNovember 21, 2025 · 16:48 WIB10 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

09.30 AM waktunya tour Kota Melbourne

Para peneliti Indonesia melambaikan tangan, meminta difotokan dengan latar St Paul’s Cathedral dan suara bising trem di Swanston Street. George tersenyum. Sopir asal China tinggal berpuluh tahun di Melbourne dan kini warga negara Australia, mengatur turis agar tidak tersesat ke arah Hosier Lane dan mengira grafiti di sana adalah peta jalan menuju harta karun.

“Kadang hidup tidak berubah. Hanya konteksnya saja yang memindahkan manusia dari tragedi ke turisme,” Guman George.

Ketika rombongan meminta dibawa ke Queen Victoria Market, George mengangguk. Ia ingat cerita bahwa pasar barang murah itu dulu berdiri di atas bekas pemakaman. Dulu tempat itu adalah situs Old Melbourne Cemetery, pemakaman resmi tertua di kota Melbourne yang didirikan pada tahun 1837 dan ditutup pada tahun 1922.

Lucu juga, pikirnya, dulu aku berlari dari kematian, kini aku mengantar rombongan berbelanja di atasnya.

Van-nya melaju melewati Bourke Street Mall, berhenti sebentar di lampu merah, lalu menanjak lembut ke arah Flagstaff Gardens, taman yang tenang padahal dulunya adalah pemakaman awal tidak resmi yang dikenal Burial Hill dibangun tahun 1836 lalu ditutup 1837 selanjutnya dijadikan stasiun radio pantai tahun 1840. Nama Flagstaff sebenarnya diambil dari pemasangan tiang bendera flagstaff yang digunakan untuk memberikan sinyal kepada kapal yang masuk ke Pelabuhan Phillip yang berjarak 6 KM dari stasiun itu.

Sama seperti Queen Victoria Market, Taman Flagstaff itu berdiri di atas Perkuburan. Jadi Orang-orang yang joging petang itu sesungguhnya membakar kalori diatas tulang belulang tempat tangis dan ingatan pernah dikubur dalam-dalam. Tiada lagi orang mengenang karena tiada paham. Taman yang tenang di atas riwayat yang pernah kacau. Melbourne memang pandai, mengubah kesedihan akan kematian menjadi tawa riang belanja dan indah taman.

Melewati Little Bourke Street, aromanya membawa George pada ingatan lebih jauh: bau dimsum dan udara asin pelabuhan, mungkin sama seperti ketika ia melangkah naik kapal puluhan tahun lalu.

Sesampainya di Hobsons Bay, angin laut menerpa wajahnya. Camar-camar berteriak, seolah memanggilnya pulang ke masa ketika ia bukan George, bukan sopir travel, orang yang pernah percaya bahwa ilmu sosial dapat menyelamatkan manusia dari kekuasaan yang rapuh dan ketakutan yang gemuk.

Ia tersenyum.”Baiklah,” bisiknya, “kalau kau mau ikut, ikutlah. Tapi kali ini, aku yang memegang setir.” Camar-camar terbang memutar seakan setuju. Dan George terus melaju ke arah kota yang bercampur cerita: antara Federation Square, Swanston Street, dan sungai tua bernama Yarra yang terus mengalir seperti sejarah manusia.

Saat matahari turun, George menepi. Ia melihat bayangan dirinya di kaca mobil: seorang lelaki yang lari dari sejarah, tetapi sejarah tetap mengikuti sambil berpura-pura sebagai burung camar yang lucu.

Di Tepian Yarra River

Di tepi Yarra River, Sungai yang bernafas pelan seperti nenek moyang. George berdiri dihadapan sungai membelah kota Melbourne yang dulu bernama Birrarung.
Ia memotret rombongan peneliti asal Indonesia yang baru saja turun dari van Sprinter hitam Hi-Ace milik perusahaan Southern Cross Travel & Tours yang disopirinya, perusahaan kecil yang lebih sering disalahpahami wisatawan sebagai agen penjual boneka kangguru.

Cuaca cerah 15°C membuat burung-burung camar paruh merah beterbangan rendah. Petang yang indah buat rombongan turun dari Van hitam itu ditempat terakhir petualangan. Mereka tour dalam kota seharian usai 3 hari sebelumnya sibuk studi karena esok hari mereka akan kembali ke Indonesia.. Mereka tur keliling kota, foto-foto dan tertawa.

George, gantian hari ini sejak pagi hingga petang sibuk bekerja. Sopir yang tak keberatan menjadi pemandu dan juru foto dadakan mengatur pose rombongan itu berdiri didepan latar belakang sungai itu mengatur sudut foto agar tidak ada burung yang menclok di kepala para peserta.

Camar-camar itu terbang rendah di atas Yarra River, seakan sedang memeriksa tiket masuk para turis. George mengamati seekor camar seperti mengamati masa lalunya sendiri: jinak, tapi tak bisa dijerat.

Di antara rombongan itu berdiri Checep Savara, pria paruh baya yang auranya tidak seperti peneliti kehakiman biasa. Ada sesuatu yang terlampau hidup di matanya. Seolah setiap kilatan cahaya menangkap dua puluh tujuh tahun sejarah gerakan mahasiswa.

George memperhatikan sejak Checep pagi tadi duduk disebelahnya dalam Van itu. Lalu kembali memperhatikan sejak ia turun dari mobil. Pria itu bukan sibuk berfoto dengan latar Yarra River seperti kawan-kawannya. Ia justru memotret burung-burung.

Baca Juga  Keamanan Pengadilan Ditata Ulang

Ia membidik Camar Seagul (Chroicocephalus bulleri), burung-burung yang menghatui ingatan George pada masa lalu, yang biasanya terlalu lincah untuk turis, tetapi hari itu seolah berpose demi Checep. Dengan smartphonenya Checep memfoto mandar kelam (Gallinula tenebrosa), burung gelap dengan ekor putih yang di kampung halamannya di Sulawesi hampir punah.
Lalu ia mengitari pohon London plane tumbuh kokoh berbaris, mengendus ranting, mengelus batang pohon seperti ahli botani yang sedang menguji DNA tanaman. Pohon-pohon Hibrida asal Eropa persis seperti dirinya yang juga hidup Hybrid sebagai imigran.

George memperhatikan Checep lebih lama.
“Orang ini bukan peneliti biasa, dari namanya sepertinya bapaknya mengidolakan Che Guevara,” gumannya.

Dan memang, Checep bukan orang biasa. Checep adalah mahasiswa hukum puluhan tahun lalu, pemimpin demonstrasi, sekaligus koordinator kelompok diskusi mahasiswa yang gerakannya seperti komunitas iluminati yang dilatih membaca pikiran Socrates, Plato, Aristoteles, Aquinas, Locke, Bentham, John Austin, Rudbruch, Foucault, Durkheim, Lévi-Strauss, Freud, Spinoza, Manifesto Communist, Marx-Engels hingga buku sastra dan buku botani yang tulisannya lebih banyak simbol daripada kata.

Checep tipe aktivis yang ketika ditangkap polisi, polisi sendiri butuh catatan kaki untuk mengerti apa yang ia bicarakan. George mendapatkan sedikit informasi dan konklusi dari obrolan sepanjang jalan saat Checep duduk disampingnya.

George menawarkan memotret Checep.
Checep tersenyum, lalu berbaur dengan rombongan kawan-kawannya yang lain. George merasa, entah kenapa, senyum itu bukan senyum orang yang sedang berlibur, tapi lebih seperti senyum orang yang pernah diuji hidup, lalu menang.

Kemarin mereka melakukan penelitian keamanan pengadilan. Rupanya, kata Checep sambil tertawa, di Indonesia keamanan pengadilan seringkali setara toko swalayan: orang keluar masuk tanpa screening, tanpa penjaga, kadang tanpa perhatian. “Bandingkan dengan Victoria,” kata Checep. “Di sini bahkan burung-burung nakal itu tidak berani berjalan di depan pengadilan.”

George mengangguk. Ia tahu itu benar.
Selama tiga hari ia mengantarkan mereka ke County Court Victoria, Magistrates’ Court of Victoria, Federal Court-High Court of Australia (Melbourne Registry) dan Supreme Court Victoria. Dan memang tidak ada seekor burung pun yang berani melintas di atas gedung-gedung itu.

Tentu para ilmuwan akan mengatakan itu fenomena angin, atau pola terbang.
Tapi George diam-diam percaya: mungkin burung-burung itu mengerti konsep otoritas lebih baik daripada manusia.

Checep dan teman-temannya ingin memastikan bahwa hasil rekomendasi penelitiannya nanti bisa dipakai pimpinan Pengadilan Tertinggi di negaranya untuk membentuk Court Security Officers seperti G4S di Pengadilan Victoria. Memimpikan aparatur bailif / juru sita pengganti di Indonesia tangguh dan tegap tubuhnya, paham cara mengeksekusi putusan hakim, berani dan sigap gerakannya dilapangan. Tidak seperti kondisi saat ini, lambat dan kalah sigap bahkan dengan hansip kelurahan saat resepsi khitanan tiba.

Checep dan teman-temannya berharap polisi di Indonesia kelak seperti polisi di Victoria yang siaga menjaga keamanan di pengadilan setiap hari kerja semata karena tugas dan perintah UU bukan karena diminta pengadilan melalui Ketua dan Panitera.

Dua hari lalu adalah hari yang membuat George gelisah karena ia harus mengantar mereka ke Victoria Police Centre dan setengah hari menunggu dan parkir disana. Sejak melarikan diri dari Pelabuhan Tianjin tiga puluh enam tahun lalu, setiap melewati kantor polisi dadanya berdegup seperti terjebak dalam interogasi yang tidak pernah terjadi.

George juga mengantar mereka ke kantor Sheriff Victoria, tempat polisi menagih denda dan menyita harta suami yang kalah perkara gono-gini. Di Indonesia, pikirnya, itu akan menyebabkan perang saudara skala kecil.

Sebenarnya George dulunya bukan bernama George. Dahulu ia dikenal sebagai Xhi Zin Yu, dosen sosiologi pada Fakultas Sosial-Politik Universitas Renmin Beijing, kampus yang terkenal karena mahasiswa-mahasiswanya lebih cepat marah daripada kecepatan Wifi gratis di kantin. Xhi dulu mengajarkan teori konflik sambil bercanda bahwa negara adalah “ayah paling protektif yang tidak pernah bisa ditinggalkan, meskipun kamu sudah menikah, sudah punya anak, atau sudah bersembunyi di balik rak buku perpustakaan.” Para mahasiswa tertawa. Kelak, candaan itu menjadi bukti di meja interogasi mereka.

Tragedi itu datang pada hari yang seharusnya paling indah. Xhi dan istrinya, Mei Yun, sedang menggelar resepsi pernikahan di desa kecil tempat keluarga istrinya berasal: Desa Baisha, Provinsi Hebei – desa yang begitu sepi sehingga sapi-sapinya pun berjalan pelan agar tidak mengganggu kedamaian.

Baca Juga  Kisah Hakim Bintang Laut (Part I) - Prologue

Di petang saat ia dan istri memotong kue pernikahan yang bentuknya mirip topi tentara Minggu Tanggal 4 Juni 1989, seorang tamu berlari membawa berita: dini hari tadi Lapangan Tiananmen berubah menjadi merah. Tank lewat, tentara menembaki massa demonstran dan mahasiswa ditangkap.Termasuk dosen-dosen yang kebetulan tidak sedang menikah hari itu.

Sehari setelah pembantaian itu, telepon di rumah mertua berbunyi. Di seberang sana, suara sahabatnya, Bo Liang, bergetar:
“Xhi, aku sudah di Pelabuhan Tianjin. Kau harus ke sini sekarang. Sebelum daftar namamu berikutnya keluarnkarena dituduh mengompori mahasiswa turun ke jalan”. Besoknya, Xhi dan Mei Yun melarikan diri. Mereka naik bus tua yang shockbreaker-nya sudah almarhum, berlari di antara camar-camar lapar di pelabuhan, dan menumpang kapal barang menuju Australia.

Camar-camar itu mengintip dari atas tiang kapal, seakan mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu yang tidak akan pernah pulang. Dan kini, tiga puluh enam tahun kemudian, camar-camar serupa kembali menari di atas Yarra River. Sama suara kepakkan sayapnya, sama tatapan mata bulatnya yang seolah tahu rahasia negara.

George menghela napas. Sejarah, pikirnya, adalah seperti burung camar: selalu datang tanpa diundang, mencuri apa saja, meninggalkan kotoran pada momen-momen sakral.

George dan berdamainya rasa takut

Senja di Melbourne lambat, karena matahari di bulan November jatuh pada pukul 7.30 PM. Setelah rombongan bubar menikmati tepian sungai, George dan Checep duduk di bangku kayu tepi Sungai Yarra, di bawah cahaya matahari condong yang membuat bayangan mereka tampak lebih tua daripada umur sesungguhnya.

“George,” kata Checep sambil memotret camar yang duduk di atas pagar, “saya baca sungai ini dulu milik orang-orang Aborigin, pemilik asli tanah ini. di mana mereka sekarang?”. George termenung sejenak. “Sekarang banyak dari mereka tinggal di wilayah-wilayah seperti Northern Territory, Arnhem Land, Kimberley, dan sebagian komunitas di regional Victoria seperti Shepparton, Gippsland, dan Echuca. Jauh dari pusat kota ini.” Checep mengangguk pelan.“Kamu tahu apa yang paling menakutkan, George? Bukan hilangnya tempat.Tapi hilangnya ingatan bahwa tempat itu pernah menjadi rumah.”

Lalu George bertanya : “apakah kamu takut pada masa lalu Chep?,” Tidak, saya tidak takut dengan masa lalu saya hanya sedikit mengkhawatirkan masa depan. Khawatir pada nasib orang-orang yang saya cintai. Tapi saya sadar harus mengubah rasa khawatir itu dengan harapan “, jawab Checep.

George menutup mata. Dan seperti dikomando, Yarra berubah aroma.
Angin yang tadi dingin berubah menjadi lembap, seperti membawa bau sungai masa kecilnya: Sungai Chaobai, yang mengalir dekat desa tempat kakeknya dulu tinggal. Di balik kelopak matanya, ia melihat kembali foto hitam-putih kakeknya berdiri di samping pemuda gondrong yang kelak menjadi Mao muda, foto yang dulu diceritakan neneknya sebagai “pengingat bahwa sejarah tidak pernah memilih tempat foto keluarga.”

Ia melihat dirinya kecil, dituntun kakeknya.
Kakeknya memegang sekeranjang ikan, tangan yang keras tetapi hangat. Ayahnya sudah lama wafat. Kakeknyalah yang membuatnya percaya dunia ini masih bisa dipahami meski kacau.

George mendesah panjang. Lalu bahunya disentuh pelan. Checep menepuknya. “George, ayo,” katanya lembut. “Teman-teman sudah menunggu. Waktunya antar kami kembali ke Hotel.” George membuka mata.
Burung-burung camar itu adalah jenis sama yang mengawalnya kabur dari Tianjin puluhan tahun lalu itu. Tetapi kali ini ia merasa tidak sedang dikejar.

Ia berdiri. Checep tersenyum padanya.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah 36 tahun, George merasa bahwa masa lalu bukan lagi binatang buas yang harus ia hindari. Ia melangkah menuju Van.
George memandang camar-camar itu.
Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, ia merasa tidak sedang dikejar. Ia tidak berlari. Ia mengemudi.
Dan di kursi penumpang depan, duduk seseorang yang, entah bagaimana membuatnya merasa bahwa riwayat lama masih bisa disentuh tanpa membakar jari.
Di belakangnya, sejarah berjalan tanpa suara, seperti bayangan samar camar yang menolak jinak, tapi juga tidak lagi menakutkan.

Melbourne, 21/11/2025

Syamsul Arief
Kontributor
Syamsul Arief
Hakim Agung Kamar Pidana & Plt. Kepala BSDK MA

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

australia kejahatan dan hukuman roman
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026

Belajar Keadilan Iklim dari Secangkir Kopi: Setiap Daerah Punya Cerita, Alam Punya Keunikan

October 15, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026

Belajar Keadilan Iklim dari Secangkir Kopi: Setiap Daerah Punya Cerita, Alam Punya Keunikan

October 15, 2026

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026
Don't Miss

Hakim Agung Syamsul Arief Tekankan Pengujian Ilmiah dalam Penggunaan Expert Judgment pada Perkara Lingkungan Hidup

By Ferdian PermadiOctober 20, 20260

BALI — Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung Republik Indonesia sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Badan…

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Lima Hakim Yustisial MA Ikuti Forum Ahli Lingkungan Hidup 2026 di Bali

October 20, 2026

Ketua Kamar Perdata MA: Ganti Rugi Saja Tidak Cukup, Lingkungan Harus Benar-Benar Pulih

October 20, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Hakim Agung Syamsul Arief Tekankan Pengujian Ilmiah dalam Penggunaan Expert Judgment pada Perkara Lingkungan Hidup
  • Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan
  • Lima Hakim Yustisial MA Ikuti Forum Ahli Lingkungan Hidup 2026 di Bali
  • Ketua Kamar Perdata MA: Ganti Rugi Saja Tidak Cukup, Lingkungan Harus Benar-Benar Pulih
  • PN Kayu Agung Gelar Kelas Kebakaran, Tingkatkan Kesiapsiagaan Aparatur Pengadilan

Recent Comments

  1. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  2. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  3. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
  4. Abdul Mustopa on Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia
  5. H. Moh. Nasri on Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Sebagai Pembelajaran Diklat Pertama di Hari Pertama
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
  • Avatar photo Reza Kresna Adipraya
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Robiatul Adawiyah, S.H., M.H.
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.