Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Integritas di Balik Palu Hakim: Refleksi Etika Peradilan dari Kisah Di Renjie

8 March 2026 • 12:46 WIB

INSTRUMEN REKAMAN PENGAWAS ATAU CLOSED CIRCUIT TELEVISION SEBAGAI DOKUMENTASI OBJEKTIF INTERAKSI VERBAL DAN VISUAL

8 March 2026 • 12:42 WIB

TAJUK EDITORIAL SUARABSDK : Ketika Hakim Menjaga Demokrasi

8 March 2026 • 12:33 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Camar-Camar yang Mengawasi Sejarah
Features Roman

Camar-Camar yang Mengawasi Sejarah

Kisah George, Sungai Yarra dan Peneliti Pengadilan Indonesia
Syamsul AriefSyamsul Arief21 November 2025 • 16:48 WIB10 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

09.30 AM waktunya tour Kota Melbourne

Para peneliti Indonesia melambaikan tangan, meminta difotokan dengan latar St Paul’s Cathedral dan suara bising trem di Swanston Street. George tersenyum. Sopir asal China tinggal berpuluh tahun di Melbourne dan kini warga negara Australia, mengatur turis agar tidak tersesat ke arah Hosier Lane dan mengira grafiti di sana adalah peta jalan menuju harta karun.

“Kadang hidup tidak berubah. Hanya konteksnya saja yang memindahkan manusia dari tragedi ke turisme,” Guman George.

Ketika rombongan meminta dibawa ke Queen Victoria Market, George mengangguk. Ia ingat cerita bahwa pasar barang murah itu dulu berdiri di atas bekas pemakaman. Dulu tempat itu adalah situs Old Melbourne Cemetery, pemakaman resmi tertua di kota Melbourne yang didirikan pada tahun 1837 dan ditutup pada tahun 1922.

Lucu juga, pikirnya, dulu aku berlari dari kematian, kini aku mengantar rombongan berbelanja di atasnya.

Van-nya melaju melewati Bourke Street Mall, berhenti sebentar di lampu merah, lalu menanjak lembut ke arah Flagstaff Gardens, taman yang tenang padahal dulunya adalah pemakaman awal tidak resmi yang dikenal Burial Hill dibangun tahun 1836 lalu ditutup 1837 selanjutnya dijadikan stasiun radio pantai tahun 1840. Nama Flagstaff sebenarnya diambil dari pemasangan tiang bendera flagstaff yang digunakan untuk memberikan sinyal kepada kapal yang masuk ke Pelabuhan Phillip yang berjarak 6 KM dari stasiun itu.

Sama seperti Queen Victoria Market, Taman Flagstaff itu berdiri di atas Perkuburan. Jadi Orang-orang yang joging petang itu sesungguhnya membakar kalori diatas tulang belulang tempat tangis dan ingatan pernah dikubur dalam-dalam. Tiada lagi orang mengenang karena tiada paham. Taman yang tenang di atas riwayat yang pernah kacau. Melbourne memang pandai, mengubah kesedihan akan kematian menjadi tawa riang belanja dan indah taman.

Melewati Little Bourke Street, aromanya membawa George pada ingatan lebih jauh: bau dimsum dan udara asin pelabuhan, mungkin sama seperti ketika ia melangkah naik kapal puluhan tahun lalu.

Sesampainya di Hobsons Bay, angin laut menerpa wajahnya. Camar-camar berteriak, seolah memanggilnya pulang ke masa ketika ia bukan George, bukan sopir travel, orang yang pernah percaya bahwa ilmu sosial dapat menyelamatkan manusia dari kekuasaan yang rapuh dan ketakutan yang gemuk.

Ia tersenyum.”Baiklah,” bisiknya, “kalau kau mau ikut, ikutlah. Tapi kali ini, aku yang memegang setir.” Camar-camar terbang memutar seakan setuju. Dan George terus melaju ke arah kota yang bercampur cerita: antara Federation Square, Swanston Street, dan sungai tua bernama Yarra yang terus mengalir seperti sejarah manusia.

Saat matahari turun, George menepi. Ia melihat bayangan dirinya di kaca mobil: seorang lelaki yang lari dari sejarah, tetapi sejarah tetap mengikuti sambil berpura-pura sebagai burung camar yang lucu.

Di Tepian Yarra River

Di tepi Yarra River, Sungai yang bernafas pelan seperti nenek moyang. George berdiri dihadapan sungai membelah kota Melbourne yang dulu bernama Birrarung.
Ia memotret rombongan peneliti asal Indonesia yang baru saja turun dari van Sprinter hitam Hi-Ace milik perusahaan Southern Cross Travel & Tours yang disopirinya, perusahaan kecil yang lebih sering disalahpahami wisatawan sebagai agen penjual boneka kangguru.

Cuaca cerah 15°C membuat burung-burung camar paruh merah beterbangan rendah. Petang yang indah buat rombongan turun dari Van hitam itu ditempat terakhir petualangan. Mereka tour dalam kota seharian usai 3 hari sebelumnya sibuk studi karena esok hari mereka akan kembali ke Indonesia.. Mereka tur keliling kota, foto-foto dan tertawa.

George, gantian hari ini sejak pagi hingga petang sibuk bekerja. Sopir yang tak keberatan menjadi pemandu dan juru foto dadakan mengatur pose rombongan itu berdiri didepan latar belakang sungai itu mengatur sudut foto agar tidak ada burung yang menclok di kepala para peserta.

Camar-camar itu terbang rendah di atas Yarra River, seakan sedang memeriksa tiket masuk para turis. George mengamati seekor camar seperti mengamati masa lalunya sendiri: jinak, tapi tak bisa dijerat.

Di antara rombongan itu berdiri Checep Savara, pria paruh baya yang auranya tidak seperti peneliti kehakiman biasa. Ada sesuatu yang terlampau hidup di matanya. Seolah setiap kilatan cahaya menangkap dua puluh tujuh tahun sejarah gerakan mahasiswa.

George memperhatikan sejak Checep pagi tadi duduk disebelahnya dalam Van itu. Lalu kembali memperhatikan sejak ia turun dari mobil. Pria itu bukan sibuk berfoto dengan latar Yarra River seperti kawan-kawannya. Ia justru memotret burung-burung.

Baca Juga  Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi

Ia membidik Camar Seagul (Chroicocephalus bulleri), burung-burung yang menghatui ingatan George pada masa lalu, yang biasanya terlalu lincah untuk turis, tetapi hari itu seolah berpose demi Checep. Dengan smartphonenya Checep memfoto mandar kelam (Gallinula tenebrosa), burung gelap dengan ekor putih yang di kampung halamannya di Sulawesi hampir punah.
Lalu ia mengitari pohon London plane tumbuh kokoh berbaris, mengendus ranting, mengelus batang pohon seperti ahli botani yang sedang menguji DNA tanaman. Pohon-pohon Hibrida asal Eropa persis seperti dirinya yang juga hidup Hybrid sebagai imigran.

George memperhatikan Checep lebih lama.
“Orang ini bukan peneliti biasa, dari namanya sepertinya bapaknya mengidolakan Che Guevara,” gumannya.

Dan memang, Checep bukan orang biasa. Checep adalah mahasiswa hukum puluhan tahun lalu, pemimpin demonstrasi, sekaligus koordinator kelompok diskusi mahasiswa yang gerakannya seperti komunitas iluminati yang dilatih membaca pikiran Socrates, Plato, Aristoteles, Aquinas, Locke, Bentham, John Austin, Rudbruch, Foucault, Durkheim, Lévi-Strauss, Freud, Spinoza, Manifesto Communist, Marx-Engels hingga buku sastra dan buku botani yang tulisannya lebih banyak simbol daripada kata.

Checep tipe aktivis yang ketika ditangkap polisi, polisi sendiri butuh catatan kaki untuk mengerti apa yang ia bicarakan. George mendapatkan sedikit informasi dan konklusi dari obrolan sepanjang jalan saat Checep duduk disampingnya.

George menawarkan memotret Checep.
Checep tersenyum, lalu berbaur dengan rombongan kawan-kawannya yang lain. George merasa, entah kenapa, senyum itu bukan senyum orang yang sedang berlibur, tapi lebih seperti senyum orang yang pernah diuji hidup, lalu menang.

Kemarin mereka melakukan penelitian keamanan pengadilan. Rupanya, kata Checep sambil tertawa, di Indonesia keamanan pengadilan seringkali setara toko swalayan: orang keluar masuk tanpa screening, tanpa penjaga, kadang tanpa perhatian. “Bandingkan dengan Victoria,” kata Checep. “Di sini bahkan burung-burung nakal itu tidak berani berjalan di depan pengadilan.”

George mengangguk. Ia tahu itu benar.
Selama tiga hari ia mengantarkan mereka ke County Court Victoria, Magistrates’ Court of Victoria, Federal Court-High Court of Australia (Melbourne Registry) dan Supreme Court Victoria. Dan memang tidak ada seekor burung pun yang berani melintas di atas gedung-gedung itu.

Tentu para ilmuwan akan mengatakan itu fenomena angin, atau pola terbang.
Tapi George diam-diam percaya: mungkin burung-burung itu mengerti konsep otoritas lebih baik daripada manusia.

Checep dan teman-temannya ingin memastikan bahwa hasil rekomendasi penelitiannya nanti bisa dipakai pimpinan Pengadilan Tertinggi di negaranya untuk membentuk Court Security Officers seperti G4S di Pengadilan Victoria. Memimpikan aparatur bailif / juru sita pengganti di Indonesia tangguh dan tegap tubuhnya, paham cara mengeksekusi putusan hakim, berani dan sigap gerakannya dilapangan. Tidak seperti kondisi saat ini, lambat dan kalah sigap bahkan dengan hansip kelurahan saat resepsi khitanan tiba.

Checep dan teman-temannya berharap polisi di Indonesia kelak seperti polisi di Victoria yang siaga menjaga keamanan di pengadilan setiap hari kerja semata karena tugas dan perintah UU bukan karena diminta pengadilan melalui Ketua dan Panitera.

Dua hari lalu adalah hari yang membuat George gelisah karena ia harus mengantar mereka ke Victoria Police Centre dan setengah hari menunggu dan parkir disana. Sejak melarikan diri dari Pelabuhan Tianjin tiga puluh enam tahun lalu, setiap melewati kantor polisi dadanya berdegup seperti terjebak dalam interogasi yang tidak pernah terjadi.

George juga mengantar mereka ke kantor Sheriff Victoria, tempat polisi menagih denda dan menyita harta suami yang kalah perkara gono-gini. Di Indonesia, pikirnya, itu akan menyebabkan perang saudara skala kecil.

Sebenarnya George dulunya bukan bernama George. Dahulu ia dikenal sebagai Xhi Zin Yu, dosen sosiologi pada Fakultas Sosial-Politik Universitas Renmin Beijing, kampus yang terkenal karena mahasiswa-mahasiswanya lebih cepat marah daripada kecepatan Wifi gratis di kantin. Xhi dulu mengajarkan teori konflik sambil bercanda bahwa negara adalah “ayah paling protektif yang tidak pernah bisa ditinggalkan, meskipun kamu sudah menikah, sudah punya anak, atau sudah bersembunyi di balik rak buku perpustakaan.” Para mahasiswa tertawa. Kelak, candaan itu menjadi bukti di meja interogasi mereka.

Tragedi itu datang pada hari yang seharusnya paling indah. Xhi dan istrinya, Mei Yun, sedang menggelar resepsi pernikahan di desa kecil tempat keluarga istrinya berasal: Desa Baisha, Provinsi Hebei – desa yang begitu sepi sehingga sapi-sapinya pun berjalan pelan agar tidak mengganggu kedamaian.

Baca Juga  Orkes Damai: Sebuah Kisah Setengah Wajar

Di petang saat ia dan istri memotong kue pernikahan yang bentuknya mirip topi tentara Minggu Tanggal 4 Juni 1989, seorang tamu berlari membawa berita: dini hari tadi Lapangan Tiananmen berubah menjadi merah. Tank lewat, tentara menembaki massa demonstran dan mahasiswa ditangkap.Termasuk dosen-dosen yang kebetulan tidak sedang menikah hari itu.

Sehari setelah pembantaian itu, telepon di rumah mertua berbunyi. Di seberang sana, suara sahabatnya, Bo Liang, bergetar:
“Xhi, aku sudah di Pelabuhan Tianjin. Kau harus ke sini sekarang. Sebelum daftar namamu berikutnya keluarnkarena dituduh mengompori mahasiswa turun ke jalan”. Besoknya, Xhi dan Mei Yun melarikan diri. Mereka naik bus tua yang shockbreaker-nya sudah almarhum, berlari di antara camar-camar lapar di pelabuhan, dan menumpang kapal barang menuju Australia.

Camar-camar itu mengintip dari atas tiang kapal, seakan mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu yang tidak akan pernah pulang. Dan kini, tiga puluh enam tahun kemudian, camar-camar serupa kembali menari di atas Yarra River. Sama suara kepakkan sayapnya, sama tatapan mata bulatnya yang seolah tahu rahasia negara.

George menghela napas. Sejarah, pikirnya, adalah seperti burung camar: selalu datang tanpa diundang, mencuri apa saja, meninggalkan kotoran pada momen-momen sakral.

George dan berdamainya rasa takut

Senja di Melbourne lambat, karena matahari di bulan November jatuh pada pukul 7.30 PM. Setelah rombongan bubar menikmati tepian sungai, George dan Checep duduk di bangku kayu tepi Sungai Yarra, di bawah cahaya matahari condong yang membuat bayangan mereka tampak lebih tua daripada umur sesungguhnya.

“George,” kata Checep sambil memotret camar yang duduk di atas pagar, “saya baca sungai ini dulu milik orang-orang Aborigin, pemilik asli tanah ini. di mana mereka sekarang?”. George termenung sejenak. “Sekarang banyak dari mereka tinggal di wilayah-wilayah seperti Northern Territory, Arnhem Land, Kimberley, dan sebagian komunitas di regional Victoria seperti Shepparton, Gippsland, dan Echuca. Jauh dari pusat kota ini.” Checep mengangguk pelan.“Kamu tahu apa yang paling menakutkan, George? Bukan hilangnya tempat.Tapi hilangnya ingatan bahwa tempat itu pernah menjadi rumah.”

Lalu George bertanya : “apakah kamu takut pada masa lalu Chep?,” Tidak, saya tidak takut dengan masa lalu saya hanya sedikit mengkhawatirkan masa depan. Khawatir pada nasib orang-orang yang saya cintai. Tapi saya sadar harus mengubah rasa khawatir itu dengan harapan “, jawab Checep.

George menutup mata. Dan seperti dikomando, Yarra berubah aroma.
Angin yang tadi dingin berubah menjadi lembap, seperti membawa bau sungai masa kecilnya: Sungai Chaobai, yang mengalir dekat desa tempat kakeknya dulu tinggal. Di balik kelopak matanya, ia melihat kembali foto hitam-putih kakeknya berdiri di samping pemuda gondrong yang kelak menjadi Mao muda, foto yang dulu diceritakan neneknya sebagai “pengingat bahwa sejarah tidak pernah memilih tempat foto keluarga.”

Ia melihat dirinya kecil, dituntun kakeknya.
Kakeknya memegang sekeranjang ikan, tangan yang keras tetapi hangat. Ayahnya sudah lama wafat. Kakeknyalah yang membuatnya percaya dunia ini masih bisa dipahami meski kacau.

George mendesah panjang. Lalu bahunya disentuh pelan. Checep menepuknya. “George, ayo,” katanya lembut. “Teman-teman sudah menunggu. Waktunya antar kami kembali ke Hotel.” George membuka mata.
Burung-burung camar itu adalah jenis sama yang mengawalnya kabur dari Tianjin puluhan tahun lalu itu. Tetapi kali ini ia merasa tidak sedang dikejar.

Ia berdiri. Checep tersenyum padanya.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah 36 tahun, George merasa bahwa masa lalu bukan lagi binatang buas yang harus ia hindari. Ia melangkah menuju Van.
George memandang camar-camar itu.
Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, ia merasa tidak sedang dikejar. Ia tidak berlari. Ia mengemudi.
Dan di kursi penumpang depan, duduk seseorang yang, entah bagaimana membuatnya merasa bahwa riwayat lama masih bisa disentuh tanpa membakar jari.
Di belakangnya, sejarah berjalan tanpa suara, seperti bayangan samar camar yang menolak jinak, tapi juga tidak lagi menakutkan.

Melbourne, 21/11/2025

Syamsul Arief
Kontributor
Syamsul Arief
Kepala Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

australia kejahatan dan hukuman roman
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Debu di Atas Map Hijau

27 February 2026 • 18:45 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB
Demo
Top Posts

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB

Penerapan Asas Equality Of Arms dalam Pembuktian Kebocoran Data Pribadi

24 February 2026 • 09:05 WIB
Don't Miss

Integritas di Balik Palu Hakim: Refleksi Etika Peradilan dari Kisah Di Renjie

By Ahmad Junaedi8 March 2026 • 12:46 WIB0

Hakim memegang peran yang sangat menentukan dalam mewujudkan keadilan. Tidak hanya sebagai penerap hukum, hakim…

INSTRUMEN REKAMAN PENGAWAS ATAU CLOSED CIRCUIT TELEVISION SEBAGAI DOKUMENTASI OBJEKTIF INTERAKSI VERBAL DAN VISUAL

8 March 2026 • 12:42 WIB

TAJUK EDITORIAL SUARABSDK : Ketika Hakim Menjaga Demokrasi

8 March 2026 • 12:33 WIB

Merajut Kebersamaan, Kolaborasi IKAHI Dan Dharmayukti Cabang Dataran Hunipopu Di Bulan Suci Ramadhan 1447 H

8 March 2026 • 12:32 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Integritas di Balik Palu Hakim: Refleksi Etika Peradilan dari Kisah Di Renjie
  • INSTRUMEN REKAMAN PENGAWAS ATAU CLOSED CIRCUIT TELEVISION SEBAGAI DOKUMENTASI OBJEKTIF INTERAKSI VERBAL DAN VISUAL
  • TAJUK EDITORIAL SUARABSDK : Ketika Hakim Menjaga Demokrasi
  • Merajut Kebersamaan, Kolaborasi IKAHI Dan Dharmayukti Cabang Dataran Hunipopu Di Bulan Suci Ramadhan 1447 H
  • Menata Standar Reliabilitas Ilmiah dan Integritas Prosedural dalam Pembuktian Digital

Recent Comments

  1. erythromycin ointment on Konsekuensi Hukum Penetapan Pengembalian Berkas oleh KPN dalam Proses MKR di Tingkat Penyidikan dan Penuntutan
  2. lisinopril 20 mg tablet on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  3. ciprofloxacin 500 mg on “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
  4. diflucan for yeast on “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
  5. amlodipine besylate 5mg on “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Mayor Laut (H) A. Junaedi, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas, S.H., M.Kn.
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Letkol Chk Dendi Sutiyoso, S.S., S.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.