Jakarta, 12 Desember 2025 — Pagi ini, Balairung Mahkamah Agung berubah menjadi ruang perjumpaan besar para penjaga sunyi peradilan. Lebih dari 935 Sekretaris Pengadilan dari empat lingkungan peradilan—Peradilan Umum, Agama, Tata Usaha Negara, dan Militer—memenuhi ruangan megah itu, duduk rapat dari baris depan hingga ke sayap ruangan, menyimak dengan khidmat pembinaan langsung dari Ketua Mahkamah Agung RI, Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H.
Foto besar Ketua MA yang terpampang di layar utama memantulkan keteduhan, namun juga ketegasan. Dari podium, beliau menyampaikan bukan sekadar evaluasi kinerja, melainkan renungan etik tentang makna jabatan dan marwah peradilan. Suasana ruang—yang dipenuhi warna batik dan wajah-wajah penuh perhatian—menegaskan bahwa forum ini adalah momen penting dalam kalender peradilan.


Administrasi: Keadilan dalam Wujud yang Tidak Terlihat
Dalam arahannya, Ketua MA mengingatkan bahwa keadilan tidak hanya lahir dari putusan hakim. Ia juga hadir melalui administrasi yang tertata, laporan yang akurat, ruangan sidang yang layak, serta sarana prasarana yang mendukung pelayanan publik.
“Setiap dokumen yang Saudara tata, setiap layanan yang Saudara pastikan berjalan—itu adalah bagian dari keadilan yang dirasakan masyarakat, meski tidak terlihat di dalam putusan,” ujar Sunarto, yang disambut anggukan para peserta.
Beliau menempatkan peran Sekretaris bukan sebagai pelengkap birokrasi, tetapi sebagai arsitek ekosistem peradilan. Dalam diam, mereka memastikan setiap roda berjalan tanpa hambatan.
Dalam bagian pidatonya yang lebih personal, Sunarto memberikan nasihat yang terasa menembus kesadaran kolektif para aparatur. Beliau mengingatkan bahwa setiap Sekretaris adalah wajah dari pengadilan di satuan kerja masing-masing. Integritas bukan hanya tugas, tetapi cara hidup.
“Jika Saudara ingin kantor Saudara dihormati, mulailah dari menghormati diri sendiri. Hormati tugas Saudara, hormati waktu, hormati anggaran, dan hormati kepercayaan publik.” Pesan ini disambut keheningan yang kuat sebelum akhirnya ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan.
Beliau juga menyinggung pentingnya konsistensi moral, menekankan bahwa pelanggaran kecil yang dibiarkan justru dapat merusak bangunan besar kepercayaan publik.
“Tidak ada kesalahan yang kecil ketika Saudara adalah pemegang amanah. Sekecil apa pun, ia tetap mencederai keadilan.” Nasihat-nasihat ini menjadi inti filosofis pidato Ketua MA, yang menempatkan integritas sebagai pondasi administratif sekaligus spiritual dalam pelayanan publik.
Apresiasi atas Capaian Lembaga
Sunarto menyampaikan apresiasi atas berbagai capaian Mahkamah Agung sepanjang tahun 2024–2025: opini WTP ke-13, prestasi Zona Integritas, dan penghargaan pelayanan publik di sejumlah pengadilan. Di balik capaian itu, kata beliau, hadir kontribusi para Sekretaris yang bekerja dengan disiplin dan kesungguhan.
“Kesungguhan Saudara telah mengangkat marwah lembaga,” ujarnya.
Riuh tepuk tangan terdengar, menandai kebanggaan kolektif atas peran yang selama ini jarang tampil di permukaan.
Peringatan Serius: Disiplin dan Bahaya Judi Online
Namun tidak semua disampaikan dalam nada apresiatif. Ketua MA secara tegas menyoroti meningkatnya pelanggaran disiplin, termasuk keterlibatan sejumlah ASN Mahkamah Agung dalam transaksi judi online berdasarkan temuan PPATK.
“Ini bukan sekadar pelanggaran administratif. Ini virus moral,” tegasnya. Beliau memerintahkan Badan Pengawasan untuk melakukan penelusuran menyeluruh.
Peringatan ini menjadi titik keheningan di antara ratusan peserta, yang menyadari beratnya tanggung jawab mereka sebagai atasan langsung dalam mengawasi pegawai.
Arah Kesejahteraan: Perubahan Tunjangan Kinerja
Ketua MA juga memaparkan langkah-langkah yang sedang ditempuh Mahkamah Agung untuk mengusulkan peningkatan tunjangan kinerja dari 80% menjadi 100%. Proses panjang perubahan Peraturan Presiden dijelaskan secara runtut, menegaskan keseriusan lembaga dalam memperjuangkan kesejahteraan aparatur.
Isu ini menjadi pusat perhatian peserta, terutama dari satuan kerja di daerah yang sangat merasakan langsung dampaknya pada kualitas pelayanan.
Suara dari Daerah: Energi Baru bagi Aparatur
Di sela forum, suarabsdk berhasil mewawancarai beberapa peserta yang datang dari berbagai penjuru tanah air.
Muhammad Imaduddin, Sekretaris Pengadilan Agama Malili, Sulawesi Selatan, menyampaikan kesannya dengan penuh refleksi.
“Pembinaan ini mengingatkan kami bahwa pekerjaan administrasi bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari ibadah pelayanan publik. Arahan Ketua MA membuat kami pulang dengan kompas moral yang lebih jelas—bahwa setiap laporan, setiap dokumen, dan setiap layanan adalah bagian dari keadilan yang kami jaga bersama.”
Ia menambahkan,
“Bagi kami di daerah, pesan Ketua MA meneguhkan bahwa peradilan yang kuat tidak hanya lahir dari putusan hakim, tetapi juga dari administrasi yang tertib dan aparatur yang berintegritas.”
Sementara itu, Suharno, Sekretaris Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru, menyampaikan pandangan yang senada.
“Apa yang disampaikan Ketua MA hari ini sangat menyejukkan sekaligus menggugah. Beliau tidak hanya bicara teknis, tetapi memberikan arah etis yang membuat kami memahami betapa besar makna jabatan yang kami pikul.”
Ia menutup dengan tekad yang kuat:
“Kami pulang dengan dorongan baru untuk memperbaiki pelayanan, memperketat pengawasan internal, dan membangun administrasi yang bersih. Pesan beliau tentang keteladanan adalah energi bagi kami untuk bekerja lebih jujur, lebih tertib, dan lebih bertanggung jawab.”
Kutipan dua peserta ini menggambarkan denyut batin ratusan Sekretaris yang hadir—bahwa pembinaan ini bukan hanya instruksi teknis, tetapi suntikan etika dan motivasi.
Di penghujung pidato, Ketua MA menutup dengan kalimat yang terasa meresap ke seluruh ruangan, menjadi penanda bahwa pembinaan kali ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momen refleksi nasional.
“Jabatan bukanlah sarana untuk mencari keuntungan, melainkan ladang pengabdian yang menuntut keteladanan.”
Kalimat itu disambut hening, lalu tepuk tangan panjang. Para Sekretaris bangkit dari kursinya dengan membawa pulang bukan hanya catatan kebijakan, tetapi juga kesadaran baru: bahwa administrasi adalah wajah keadilan yang pertama kali dilihat masyarakat.
Dan pada pagi itu, di Balairung Mahkamah Agung, keadilan itu terasa hadir—dalam ketertiban, dalam keteduhan, dan dalam komitmen yang diperbaharui bersama.

Tim Redaksi suaraBSDK
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


