Megamendung, sore yang teduh di bulan Ramadhan. Lampu-lampu hangat di Auditorium Badan Strategi Kebijakan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan (BSDK) Mahkamah Agung RI menyinari ratusan insan peradilan yang duduk bersila dengan khidmat. Para hakim, widyaiswara, peneliti, dan aparatur peradilan memenuhi ruangan itu dengan satu niat yang sama: menghadiri majelis ilmu dalam rangka memperingati Nuzulul Quran, malam turunnya wahyu yang menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia.
Di hadapan mereka, layar besar menampilkan tema kegiatan: Memperingati Malam Nuzulul Quran. Sore itu, keluarga besar BSDK mendapatkan kehormatan menghadirkan dai nasional K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), yang dikenal luas dengan pesan-pesan spiritual yang sederhana namun menggugah kesadaran.
Ketika Aa Gym berdiri di mimbar, suasana ruangan menjadi hening. Tausiyah yang ia sampaikan tidak sekadar mengingatkan tentang keutamaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan, tetapi juga menyentuh langsung jantung tanggung jawab moral para penegak keadilan: amanah kekuasaan dan integritas seorang hakim.
“Ketukan palu hakim bukan hanya menentukan nasib seseorang di dunia,” ujar Aa Gym membuka tausiyahnya, “tetapi juga akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban kita di akhirat.” Kalimat itu menggema di ruangan. Di hadapan para aparatur peradilan, pesan tersebut terasa begitu dekat—bahkan personal.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BSDK Dr. Syamsul Arif, Sekretaris Badan, para Kepala Pusat—termasuk Kapus Mempin dan Kapus Pustrajak—serta seluruh keluarga besar BSDK Mahkamah Agung. Para peserta tampak antusias mengikuti pengajian yang berlangsung dalam suasana sederhana namun sarat refleksi spiritual.
Dalam tausiyahnya, Aa Gym menyampaikan pesan yang sangat dekat dengan kehidupan para hakim dan aparatur peradilan. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan—termasuk kekuasaan kehakiman—pada hakikatnya adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. “Ketukan palu hakim bukan hanya menentukan nasib seseorang di dunia, tetapi juga akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban kita di akhirat,” ujarnya mengawali pesan yang menggugah kesadaran para hadirin.
Menurut Aa Gym, ada tiga hal yang pasti dalam kekuasaan. Pertama, jabatan pasti memiliki masa akhir. Kedua, setiap pemilik kekuasaan pasti akan menghadapi kematian. Dan ketiga, kekuasaan itu sendiri pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Karena itu, ia mengingatkan agar para pemegang amanah kekuasaan tidak terperangkap oleh ilusi jabatan. Gelar dan penghormatan yang diterima selama menjabat bukanlah tujuan utama, melainkan sekadar titipan sementara.
“Gelar ‘Yang Mulia’ yang disematkan kepada hakim itu pada hakikatnya adalah titipan Allah SWT. Ia seperti penutup yang diberikan Allah untuk menutupi aib manusia,” ungkapnya dengan nada reflektif. Dalam pandangan Aa Gym, kenikmatan sejati seorang hakim bukan terletak pada masa menjabat, melainkan setelah selesai menjabat dengan reputasi yang bersih dan integritas yang terjaga.
“Kenikmatan seorang hakim bukan ketika sedang menjabat, tetapi ketika selesai menjabat dan lulus dengan penuh integritas,” tegasnya. Selain menyinggung amanah kekuasaan, Aa Gym juga mengajak para hadirin untuk kembali kepada dua kunci kebahagiaan hidup: iman dan amal salih. Tanpa keduanya, kehidupan akan mudah diliputi kegelisahan dan ketidaktenangan. Ia menggambarkan ciri-ciri orang yang lemah iman: hidupnya dipenuhi kegelisahan yang tidak berkesudahan, sulit melepaskan diri dari masa lalu, dan cenderung menjalani kehidupan dengan penuh keluhan.
“Orang yang imannya lemah itu hidupnya sering galau, sulit move on dari masa lalu, dan selalu merasa hidupnya ribet. Di rumah rewel, di kantor juga rewel,” ujar Aa Gym disambut senyum para peserta. Sebaliknya, orang yang memiliki iman kuat akan menjalani hidup dengan lebih tenang, ikhlas, dan lapang dada.
Menurutnya, lemahnya iman sering kali disebabkan oleh dua hal: kurangnya pengetahuan agama dan kekalahan manusia terhadap hawa nafsunya sendiri—terutama keserakahan dan ambisi yang tidak terkendali. Karena itu, ia mengajak seluruh hadirin untuk terus meluangkan waktu memperdalam ilmu agama serta memperkuat kualitas ibadah, terlebih di bulan Ramadhan yang penuh berkah. “Kalau ingin iman kuat, jangan jauh dari majelis ilmu. Sisihkan waktu untuk belajar agama. Karena iman itu harus terus dipupuk,” pesannya.
Peringatan Nuzulul Quran di lingkungan BSDK Mahkamah Agung ini bukan sekadar kegiatan seremonial Ramadhan. Ia menjadi ruang perenungan bersama bahwa tugas menegakkan hukum tidak hanya memiliki dimensi profesional, tetapi juga dimensi spiritual yang mendalam.
Di hadapan Al-Qur’an—kitab yang diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia—para insan peradilan diingatkan kembali bahwa integritas bukan hanya tuntutan institusi, tetapi juga panggilan iman. Sebab pada akhirnya, setiap keputusan, setiap amanah, dan setiap ketukan palu keadilan akan kembali dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Adil.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


