#Segmen 9 – Lorong yang Tidak Pernah Tercatat
Lorong itu tidak pernah muncul dalam denah resmi gedung. Ia tidak memiliki papan nama, tidak pula tercantum dalam laporan inventaris. Namun hampir setiap aparatur yang bekerja di gedung itu pernah melaluinya lorong sempit yang menghubungkan ruang sidang, ruang kerja, dan ruang tunggu.
Di lorong itulah banyak hal terjadi tanpa pernah dicatat.
Aku sering melintasinya pada jam-jam sunyi. Lampu-lampunya redup, dindingnya dingin, dan langkah kaki bergema lebih keras daripada suara hati. Di sanalah percakapan pendek berlangsung. Di sanalah keputusan kecil diambil. Di sanalah kelelahan disembunyikan.
Lorong yang tidak pernah tercatat itu adalah saksi diam dari pengabdian yang tidak tampil di depan publik.
Pernah suatu sore, aku melihat seorang panitera berdiri lama di lorong itu, memegang berkas erat-erat. Wajahnya tegang, seolah menimbang sesuatu yang berat. Tidak ada sidang, tidak ada atasan, tidak ada sorot kamera. Hanya ia dan pilihannya.
Aku tidak bertanya. Sebab aku tahu, di lorong itu, setiap aparatur sedang berdialog dengan dirinya sendiri.
Allah berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah: 7).
Ayat itu terasa hidup di lorong sempit tersebut. Tidak ada perbuatan yang benar-benar kecil. Tidak ada sikap yang benar-benar luput dari penilaian, meski tidak tercatat dalam sistem.
Di lorong itu pula aku pernah menyaksikan empati yang tulus. Seorang pegawai muda menenangkan pihak yang menangis sebelum masuk ruang sidang. Ia tidak berkata banyak. Hanya menawarkan air minum dan mendengarkan. Peristiwa itu berlangsung singkat, lalu hilang tanpa jejak administratif. Namun aku yakin, nilainya tidak kecil.
Lorong itu juga menyimpan godaan. Bisikan untuk menyederhanakan yang rumit. Dorongan untuk memilih jalan pintas. Ajakan halus yang tidak pernah diucapkan terang-terangan. Semua itu lebih sering muncul di lorong daripada di ruang resmi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Mintalah fatwa kepada hatimu, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu.”
(HR. Ahmad).
Hadis itu menjadi penunjuk arah di lorong sunyi. Sebab di sanalah aparatur benar-benar sendirian dengan niatnya. Tidak ada formulir yang bisa melindungi dari kesalahan niat. Tidak ada tanda tangan yang bisa menutup suara hati.
Aku menyadari, lorong yang tidak pernah tercatat itu justru paling jujur. Di ruang sidang, semua orang menjaga kata. Di meja pelayanan, semua orang menjaga sikap. Namun di lorong, topeng sering dilepas. Di sanalah karakter asli tampak.
Menjelang malam, lorong itu semakin sepi. Lampu satu per satu dipadamkan. Aku melangkah pelan, merasakan keheningan yang menenangkan sekaligus mengingatkan. Bahwa pengabdian tidak selalu berada di tempat yang terlihat.
Aku berhenti sejenak di ujung lorong. Menoleh ke belakang. Lorong itu tampak biasa saja. Namun aku tahu, ia menyimpan lebih banyak cerita kejujuran daripada banyak dokumen resmi.
Lorong yang tidak pernah tercatat itu akan terus ada, selama gedung ini berdiri. Ia akan terus menguji aparatur apakah mereka menjaga integritas hanya di ruang terang, atau juga di ruang sempit yang tidak diawasi.
Dan aku memahami satu hal penting: barangkali yang paling menentukan dalam hidup seorang aparatur bukan apa yang tercatat dalam jabatan, melainkan apa yang tetap lurus di lorong-lorong sunyi yang hanya Tuhan dan nurani yang menjadi saksi.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp:
SUARABSDKMARI

