Namaku Mira, hakim di Pengadilan Agama Kutamaya. Dua minggu lalu, Allah mengujiku dengan keguguran di usia kandungan empat belas minggu. Aku seharusnya masih menjalani istirahat, tapi daftar sidang tidak mengenal belas kasihan. Perkara hari itu menyangkut perceraian kumulasi harta bersama. Seorang istri menggugat cerai suaminya yang divonis mandul dan ingin mendapatkan harta bagiannya sebagai kompensasi dari tidak adanya keturunan. Ironis, aku harus memutus nasib orang lain di saat nasibku sendiri sedang retak.
Suamiku, Ardi, juga hakim — di pengadilan negeri. Kami sering bergurau bahwa kami pasangan yang lengkap: dia memutus perkara peradilan umum, aku memutus perkara agama. Dulu aku merasa itu romantis, sekarang aku tahu itu berarti kami terbiasa menimbang, tapi jarang memeluk.
Hari itu, sesaat setelah buang air kecil, aku seolah-olah melihat bayangan anak kecil di belakang cermin toilet ruang hakim. Mungkin itu bayangan dari lukaku yang belum sembuh. Aku menatap cermin itu lama. Aku harus memilih — duduk dan menangisi, atau melangkah dan melanjutkan hidupku. Aku memilih yang kedua. Bayangan anak kecil itu terus menghantuiku bahkan ketika aku mencoba membuat putusan.
Sepulang dari kantor, aku langsung mandi dan berganti pakaian. Sebagaimana layaknya seorang istri, aku membersihkan rumah dan memasak makan malam untukku dan Ardi. Sayangnya aku malah mendapat pesan singkat darinya:
“Aku masih harus lembur sidang pembunuhan bayi. Mungkin pulang malam.”
Nafsu makanku mendadak hilang. Aku ingin membuang semua makanan yang kumasak malam itu, tapi aku tahu itu perbuatan mubazir yang dibenci Allah. Akhirnya semua makanan itu kuberikan untuk kucing jalanan.
Aku masih menunggu Ardi sampai jam sebelas malam. Namun, dia tak kunjung pulang ke rumah. Penantianku terasa sia-sia. Aku akhirnya melakukan kebiasaan yang kulakukan sejak hari pertama keguguran, menulis catatan harian.
[Catatan Harian, 12 Juli]
Hari ini aku kembali ke kantor lebih cepat dari yang seharusnya. Semua orang bersikap sopan, tapi mata sebagian dari mereka seolah menghakimiku. Ruang sidang tetap dingin seperti biasa. Aku memutus perkara orang lain, tapi di dalam diri sendiri, belum ada putusan. Mungkin kehilangan tidak bisa dibacakan dalam amar. Ia hanya bisa dirasakan, disembunyikan, dan ditulis diam-diam seperti ini.
Aku sempat berpikir bahwa menulis catatan harian atau diary itu hanya untuk orang kurang iman yang tidak berani menghadapi kerasnya kehidupan. Nyatanya kegiatan menulis catatan harian justru menenangkanku sejak kejadian keguguran itu. Ardi masih belum pulang ketika aku selesai menulis catatan harianku.
Waktu terasa begitu cepat berlalu ketika akhirnya perkara perceraian kumulasi harta bersama yang ku tangani berakhir damai. Mereka bahkan mencabut perkara yang sudah didaftarkan. Mengurangi jumlah perkara yang harus aku sidangkan di tahun itu. Aku mengetuk palu dengan penuh syukur, menetapkan bahwa perkara selesai karena dicabut.
Di dalam diriku, sesuatu ikut terbelah. Mendadak teringat akan rumah tanggaku sendiri. Semenjak aku kembali ke kantor, aku dan Ardi jarang bertegur sapa dan tidur seranjang.
Di sisi lain aku bersyukur karena malam harinya Ardi pulang lebih cepat. Kami akhirnya bisa makan malam bersama.
Ardi menatapku lama di meja makan. “Kamu kelihatan pucat,” katanya. “Aku sudah bilang, jangan dulu masuk kantor.”
“Di kantorku aku jadi hakim tunggal. Kalau aku absen, jadwal kacau,” jawabku sambil berusaha tersenyum.
“Biar saja,” ucapnya datar tapi tegas. “Kamu bukan mesin. Dua minggu lalu kamu kehilangan bayi, Mira. Tubuhmu belum siap.”
“Ketika bekerja di kantor setidaknya aku merasa berguna.” ada rasa sesak di dadaku ketika aku mengucapkannya.
“Berguna bukan berarti memaksa diri,” katanya lebih pelan. “Aku tahu kamu kuat, tapi kekuatan juga butuh istirahat.”
Aku menatap wajahnya, mencoba menahan gemetar di ujung suara. “Kamu memang tidak pernah mengerti aku ya?”
Ardi menatapku lama sebelum menjawab, suaranya nyaris berbisik. “Apa kamu bilang? Aku ambil cuti demi kamu, Mira. Aku habiskan cuti tahunanku. Suami mana yang lakukan itu, padahal bukan dia yang keguguran?”
“Kamu merasa jadi pahlawan dengan bersikap begitu?”
“Mira,” suaranya meninggi, “Aku sudah berusaha memeluk dan menenangkanmu. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah selama kamu beristirahat! Di mana salahku? Kamu bahkan lebih sering bercerita pada catatanmu daripada kepadaku, suamimu sendiri!” Ardi tiba-tiba bangkit dan mengambil piring.
Perkataan Ardi seolah menusukku. Dalam suara serak dan mata letih itu, aku tiba-tiba sadar — mungkin tak mudah juga baginya. Dunia tidak mengajarkan laki-laki untuk menangis, apalagi untuk berduka atas kehilangan yang bukan terjadi di tubuhnya. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk melindungi lukaku sendiri, sampai lupa bahwa ia juga terluka, hanya saja tidak punya ruang untuk menunjukkannya.
Suara jam dinding terdengar begitu jelas. Kami tidak melanjutkan percakapan itu.
Ardi menunduk, menatap makanan yang sudah dingin.Aku menahan air mata yang menggumpal di tenggorokan. Malam itu entah malam keberapa kami tidur terpisah, Ardi tidur di sofa ruang tamu, sementara aku di kamar kami berdua. Seusai shalat isya dan membaca Al-Quran, aku menuliskan semua perasaanku di catatan harian.
[Catatan Harian, 27 Juli]
Ardi tidak salah. Kami sama-sama sedang menuduh waktu yang tidak bisa kami gugat. Tapi kalau aku berhenti menulis, aku takut hilang arah. Aku menulis untuk mengingat bahwa aku masih hidup, bahkan tanpa detak kecil di perutku. Di sisi lain aku masih membutuhkan dia. Aku rindu Ardi yang hangat dan selalu menenangkanku.
*
Beberapa hari kemudian, aku ditunjuk menjadi mediator dalam perkara perceraian pasangan yang sudah menikah sepuluh tahun tapi belum dikaruniai anak. Istri duduk di depanku dengan mata bengkak; suaminya menatap lantai lebih banyak daripada menatap wajah pasangannya.
“Kami sudah mencoba segalanya, Yang Mulia,” kata sang istri. “Obat, pengobatan, doa… tapi hasilnya tetap sama, rumah ini makin sunyi.”
Aku menatap mereka, dan di antara kalimat-kalimat hukum yang seharusnya kuucapkan, ada suara lain di kepalaku sendiri: aku juga tahu rasanya sunyi yang seperti itu.
“Kadang,” kataku perlahan, “Ketenangan tidak selalu datang bersama jawaban. Tapi kadang, ketenangan muncul ketika dua orang berhenti saling menyalahkan.”
Mereka terdiam lama. Aku sendiri terkejut ketika mengetahui bahwa kata-kataku itu menjadi penentu keberhasilan mediasi. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya sejak keguguran, aku merasa bisa bicara dengan hati tanpa melanggar etika profesi.
Seusai mediasi, aku pulang lebih cepat. Aku dan Ardi berjanji untuk kontrol ke dokter kandungan di kota sebelah sore harinya. Di halaman rumah, aku melihat Ardi sedang menggali tanah kecil di pojok halaman.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Untuk pohon kenanga,” jawabnya. “Katanya, kalau ditanam di tempat yang pernah kehilangan, aromanya jadi doa.”
Aku berjongkok di sebelahnya, ikut menimbun tanah. “Pohon ini tidak akan menggantikan bayi kita.”
“Aku tahu,” katanya pelan. “Tapi mungkin nanti, kalau aromanya merebak, kita akan ingat bahwa kehilangan pun bisa tumbuh.”
Seusai dari dokter kandungan, aku kembali menulis catatan harian.
[Catatan Harian, 1 Agustus]
Dokter kandungan bilang rahimku sudah bersih dan tidak ada jaringan yang tersisa. Aku refleks menggenggam tangan Ardi karena bahagia. Hari ini untuk pertama kalinya kami tersenyum bersama seperti pasangan suami istri yang harmonis. Tentu saja dokter kandungan pada akhirnya melakukan promosi tentang program kehamilan. Ardi hanya tersenyum simpul dan mengatakan ia mau ikut program jika aku sudah siap. Aku bilang aku perlu waktu untuk memutuskan.
*
Hari itu aku mencium aroma kenanga pertama kali. Ardi mendekat perlahan, seolah takut menyentuh sesuatu yang rapuh. Aku masih menatap tanah di sekitar batang kenanga itu—lembap, dengan beberapa kelopak kering yang menempel. Lalu ia memelukku. Tanpa kalimat, tanpa penjelasan.
Tubuhku sempat kaku; sudah lama sekali tidak ada pelukan yang terasa begini nyata. Entah bagaimana, semua hal yang selama ini kupendam—rasa bersalah, kehilangan, kemarahan—mengalir begitu saja bersama air mata yang tak lagi bisa kutahan.
Untuk pertama kalinya sejak keguguran itu, aku menangis. Bukan karena lemah, tapi karena akhirnya aku bisa menerima bahwa rasa sakit ini tidak perlu terus kusembunyikan.
Ardi tidak berkata apa-apa. Tangannya hanya mengusap punggungku, pelan, seolah mengatakan: kita sudah cukup kuat berduka, sekarang saatnya berdamai. Kami berdua tetap diam, tapi kali ini diamnya terasa hangat.
*
Sejak saat itu, setiap kali aku mengetuk palu di ruang sidang, aku ingat kenanga di halaman belakang. Aromanya lembut, menenangkan. Mungkin di sanalah, sebagian kehilangan kami perlahan tumbuh menjadi pengertian. Semoga dari pengertian itu, Allah tumbuhkan ketenangan yang menjadi doa bagi yang telah pergi.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


