Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengawal Legislasi Demokratis: Prof. Andi Muhammad Asrun Tekankan Pentingnya Partisipasi Publik

5 March 2026 • 15:27 WIB

Harmonisasi dan Rekonstruksi Pemidanaan: Menelaah Urgensi dan Tantangan Undang-Undang Penyesuaian Pidana

5 March 2026 • 12:45 WIB

PA Baturaja Gelar Rapat Monitoring dan Evaluasi Pembangunan Zona Integritas (ZI)

5 March 2026 • 12:35 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » CATATAN KEHILANGAN
Roman

CATATAN KEHILANGAN

Ira SoniawatiIra Soniawati19 November 2025 • 20:55 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Namaku Mira, hakim di Pengadilan Agama Kutamaya. Dua minggu lalu, Allah mengujiku dengan keguguran di usia kandungan empat belas minggu. Aku seharusnya masih menjalani istirahat, tapi daftar sidang tidak mengenal belas kasihan. Perkara hari itu menyangkut perceraian kumulasi harta bersama. Seorang istri menggugat cerai suaminya yang divonis mandul dan ingin mendapatkan harta bagiannya sebagai kompensasi dari tidak adanya keturunan. Ironis, aku harus memutus nasib orang lain di saat nasibku sendiri sedang retak.

Suamiku, Ardi, juga hakim — di pengadilan negeri. Kami sering bergurau bahwa kami pasangan yang lengkap: dia memutus perkara peradilan umum, aku memutus perkara agama. Dulu aku merasa itu romantis, sekarang aku tahu itu berarti kami terbiasa menimbang, tapi jarang memeluk.

Hari itu, sesaat setelah buang air kecil, aku seolah-olah melihat bayangan anak kecil di belakang cermin toilet ruang hakim. Mungkin itu bayangan dari lukaku yang belum sembuh. Aku menatap cermin itu lama. Aku harus memilih — duduk dan menangisi, atau melangkah dan melanjutkan hidupku. Aku memilih yang kedua. Bayangan anak kecil itu terus menghantuiku bahkan ketika aku mencoba membuat putusan.

Sepulang dari kantor, aku langsung mandi dan berganti pakaian. Sebagaimana layaknya seorang istri, aku membersihkan rumah dan  memasak makan malam untukku dan Ardi. Sayangnya aku malah mendapat pesan singkat darinya:

“Aku masih harus lembur sidang pembunuhan bayi. Mungkin pulang malam.”

Nafsu makanku mendadak hilang. Aku ingin membuang semua makanan yang kumasak malam itu, tapi aku tahu itu perbuatan mubazir yang dibenci Allah. Akhirnya semua makanan itu kuberikan untuk kucing jalanan.

Aku masih menunggu Ardi sampai jam sebelas malam. Namun, dia tak kunjung pulang ke rumah. Penantianku terasa sia-sia. Aku akhirnya melakukan kebiasaan yang kulakukan sejak hari pertama keguguran, menulis catatan harian.

[Catatan Harian, 12 Juli]

Hari ini aku kembali ke kantor lebih cepat dari yang seharusnya. Semua orang bersikap sopan, tapi mata sebagian dari mereka seolah menghakimiku. Ruang sidang tetap dingin seperti biasa. Aku memutus perkara orang lain, tapi di dalam diri sendiri, belum ada putusan. Mungkin kehilangan tidak bisa dibacakan dalam amar. Ia hanya bisa dirasakan, disembunyikan, dan ditulis diam-diam seperti ini.

Aku sempat berpikir bahwa menulis catatan harian atau diary itu hanya untuk orang kurang iman yang tidak berani menghadapi kerasnya kehidupan. Nyatanya kegiatan menulis catatan harian justru menenangkanku sejak kejadian keguguran itu. Ardi masih belum pulang ketika aku selesai menulis catatan harianku.

Waktu terasa begitu cepat berlalu ketika akhirnya perkara perceraian kumulasi harta bersama yang ku tangani berakhir damai.  Mereka bahkan mencabut perkara yang sudah didaftarkan. Mengurangi jumlah perkara yang harus aku sidangkan di tahun itu. Aku mengetuk palu dengan penuh syukur, menetapkan bahwa perkara selesai karena dicabut.

 Di dalam diriku, sesuatu ikut terbelah. Mendadak teringat akan rumah tanggaku sendiri. Semenjak aku kembali ke kantor, aku dan Ardi jarang bertegur sapa dan tidur seranjang.

Baca Juga  Kemana Perginya?

Di sisi lain aku bersyukur karena malam harinya Ardi pulang lebih cepat. Kami akhirnya bisa makan malam bersama.

Ardi menatapku lama di meja makan. “Kamu kelihatan pucat,” katanya. “Aku sudah bilang, jangan dulu masuk kantor.”

“Di kantorku aku jadi hakim tunggal. Kalau aku absen, jadwal kacau,” jawabku sambil berusaha tersenyum.

“Biar saja,” ucapnya datar tapi tegas. “Kamu bukan mesin. Dua minggu lalu kamu kehilangan bayi, Mira. Tubuhmu belum siap.”

“Ketika bekerja di kantor setidaknya aku merasa berguna.” ada rasa sesak di dadaku ketika aku mengucapkannya.

“Berguna bukan berarti memaksa diri,” katanya lebih pelan. “Aku tahu kamu kuat, tapi kekuatan juga butuh istirahat.”

Aku menatap wajahnya, mencoba menahan gemetar di ujung suara. “Kamu memang tidak pernah mengerti aku ya?”

Ardi menatapku lama sebelum menjawab, suaranya nyaris berbisik. “Apa kamu bilang? Aku ambil cuti demi kamu, Mira. Aku habiskan cuti tahunanku. Suami mana yang lakukan itu, padahal bukan dia yang keguguran?”

“Kamu merasa jadi pahlawan dengan bersikap begitu?”

“Mira,” suaranya meninggi, “Aku sudah berusaha memeluk dan menenangkanmu. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah selama kamu beristirahat! Di mana salahku? Kamu bahkan lebih sering bercerita pada catatanmu daripada kepadaku, suamimu sendiri!” Ardi tiba-tiba bangkit dan mengambil piring.

Perkataan Ardi seolah menusukku. Dalam suara serak dan mata letih itu, aku tiba-tiba sadar — mungkin tak mudah juga baginya. Dunia tidak mengajarkan laki-laki untuk menangis, apalagi untuk berduka atas kehilangan yang bukan terjadi di tubuhnya. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk melindungi lukaku sendiri, sampai lupa bahwa ia juga terluka, hanya saja tidak punya ruang untuk menunjukkannya.

Suara jam dinding terdengar begitu jelas. Kami tidak melanjutkan percakapan itu.

Ardi menunduk, menatap makanan yang sudah dingin.Aku menahan air mata yang menggumpal di tenggorokan. Malam itu entah malam keberapa kami tidur terpisah, Ardi tidur di sofa ruang tamu, sementara aku di kamar kami berdua. Seusai shalat isya dan membaca Al-Quran, aku menuliskan semua perasaanku di catatan harian.

[Catatan Harian, 27 Juli]

Ardi tidak salah. Kami sama-sama sedang menuduh waktu yang tidak bisa kami gugat. Tapi kalau aku berhenti menulis, aku takut hilang arah. Aku menulis untuk mengingat bahwa aku masih hidup, bahkan tanpa detak kecil di perutku. Di sisi lain aku masih membutuhkan dia. Aku rindu Ardi yang hangat dan selalu menenangkanku.

*

Beberapa hari kemudian, aku ditunjuk menjadi mediator dalam perkara perceraian pasangan yang sudah menikah sepuluh tahun tapi belum dikaruniai anak. Istri duduk di depanku dengan mata bengkak; suaminya menatap lantai lebih banyak daripada menatap wajah pasangannya.

“Kami sudah mencoba segalanya, Yang Mulia,” kata sang istri. “Obat, pengobatan, doa… tapi hasilnya tetap sama, rumah ini makin sunyi.”

Baca Juga  Ahli Waris

Aku menatap mereka, dan di antara kalimat-kalimat hukum yang seharusnya kuucapkan, ada suara lain di kepalaku sendiri: aku juga tahu rasanya sunyi yang seperti itu.

“Kadang,” kataku perlahan, “Ketenangan tidak selalu datang bersama jawaban. Tapi kadang, ketenangan muncul ketika dua orang berhenti saling menyalahkan.”

Mereka terdiam lama. Aku sendiri terkejut ketika mengetahui bahwa kata-kataku itu menjadi penentu keberhasilan mediasi. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya sejak keguguran, aku merasa bisa bicara dengan hati tanpa melanggar etika profesi.

Seusai mediasi, aku pulang lebih cepat. Aku dan Ardi berjanji untuk kontrol ke dokter kandungan di kota sebelah sore harinya. Di halaman rumah, aku melihat Ardi sedang menggali tanah kecil di pojok halaman.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Untuk pohon kenanga,” jawabnya. “Katanya, kalau ditanam di tempat yang pernah kehilangan, aromanya jadi doa.”

Aku berjongkok di sebelahnya, ikut menimbun tanah. “Pohon ini tidak akan menggantikan bayi kita.”

“Aku tahu,” katanya pelan. “Tapi mungkin nanti, kalau aromanya merebak, kita akan ingat bahwa kehilangan pun bisa tumbuh.”

Seusai dari dokter kandungan, aku kembali menulis catatan harian.

[Catatan Harian, 1 Agustus]

Dokter kandungan bilang rahimku sudah bersih dan tidak ada jaringan yang tersisa. Aku refleks menggenggam tangan Ardi karena bahagia. Hari ini untuk pertama kalinya kami tersenyum bersama seperti pasangan suami istri yang harmonis. Tentu saja dokter kandungan pada akhirnya melakukan promosi tentang program kehamilan. Ardi hanya tersenyum simpul dan mengatakan ia mau ikut program jika aku sudah siap. Aku bilang aku perlu waktu untuk memutuskan.

*

Hari itu aku mencium aroma kenanga pertama kali. Ardi mendekat perlahan, seolah takut menyentuh sesuatu yang rapuh. Aku masih menatap tanah di sekitar batang kenanga itu—lembap, dengan beberapa kelopak kering yang menempel. Lalu ia memelukku. Tanpa kalimat, tanpa penjelasan.

Tubuhku sempat kaku; sudah lama sekali tidak ada pelukan yang terasa begini nyata. Entah bagaimana, semua hal yang selama ini kupendam—rasa bersalah, kehilangan, kemarahan—mengalir begitu saja bersama air mata yang tak lagi bisa kutahan.

Untuk pertama kalinya sejak keguguran itu, aku menangis. Bukan karena lemah, tapi karena akhirnya aku bisa menerima bahwa rasa sakit ini tidak perlu terus kusembunyikan.

Ardi tidak berkata apa-apa. Tangannya hanya mengusap punggungku, pelan, seolah mengatakan: kita sudah cukup kuat berduka, sekarang saatnya berdamai. Kami berdua tetap diam, tapi kali ini diamnya terasa hangat.

*

Sejak saat itu, setiap kali aku mengetuk palu di ruang sidang, aku ingat kenanga di halaman belakang. Aromanya lembut, menenangkan. Mungkin di sanalah, sebagian kehilangan kami perlahan tumbuh menjadi pengertian. Semoga dari pengertian itu, Allah tumbuhkan ketenangan yang menjadi doa bagi yang telah pergi.

Ira Soniawati
Kontributor
Ira Soniawati
Hakim Pengadilan Agama Tanjungbalai

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

roman
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Debu di Atas Map Hijau

27 February 2026 • 18:45 WIB

Kisah Hakim Bintang Laut (Part I) – Prologue

20 February 2026 • 10:21 WIB

Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposure) dan Peran Faktor Keserakahan Pemicu Korupsi

20 February 2026 • 10:19 WIB
Demo
Top Posts

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB

Penerapan Asas Equality Of Arms dalam Pembuktian Kebocoran Data Pribadi

24 February 2026 • 09:05 WIB

Pertanggung Jawaban Pidana dan Kesadaran Moral Pelaku: Analisis Konseptual Mens Rea dalam Perspektif Fikih Jinayat

24 February 2026 • 08:31 WIB
Don't Miss

Mengawal Legislasi Demokratis: Prof. Andi Muhammad Asrun Tekankan Pentingnya Partisipasi Publik

By Maria Fransiska Walintukan5 March 2026 • 15:27 WIB0

Sesi kedua siang hari ini (Kamis, 5/3/2026) Pusdiklat Teknis, BSDK MA RI, kembali menghadirkan ruang…

Harmonisasi dan Rekonstruksi Pemidanaan: Menelaah Urgensi dan Tantangan Undang-Undang Penyesuaian Pidana

5 March 2026 • 12:45 WIB

PA Baturaja Gelar Rapat Monitoring dan Evaluasi Pembangunan Zona Integritas (ZI)

5 March 2026 • 12:35 WIB

Kepemimpinan, Manajemen Teknis Peradilan  dan Implementasi KEPPH Merupakan Tiga Pilar Utama Penjaga Integritas dan Pelindung Hak Warga Negara

5 March 2026 • 12:08 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Mengawal Legislasi Demokratis: Prof. Andi Muhammad Asrun Tekankan Pentingnya Partisipasi Publik
  • Harmonisasi dan Rekonstruksi Pemidanaan: Menelaah Urgensi dan Tantangan Undang-Undang Penyesuaian Pidana
  • PA Baturaja Gelar Rapat Monitoring dan Evaluasi Pembangunan Zona Integritas (ZI)
  • Kepemimpinan, Manajemen Teknis Peradilan  dan Implementasi KEPPH Merupakan Tiga Pilar Utama Penjaga Integritas dan Pelindung Hak Warga Negara
  • Mengkaji ulang konsep Judicial Scrutiny dalam KUHAP Baru: Antara Tameng Legalitas atau Benteng Impunitas?

Recent Comments

  1. hello world on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Mayor Laut (H) A. Junaedi, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas, S.H., M.Kn.
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Letkol Chk Dendi Sutiyoso, S.S., S.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.