Pengantar Redaksi
Memasuki penghujung tahun, Suara BSDK membuka ruang refleksi dengan satu tema yang sejak lama hadir dalam praktik peradilan, namun terus berubah wajah dan tantangannya: Perempuan dan Anak dalam Sistem Peradilan Modern. Tema ini kami pilih bukan semata karena urgensinya, tetapi karena ia selalu menjadi cermin paling jujur tentang sejauh mana hukum bekerja dengan nurani, empati, dan keadilan yang hidup.
Perempuan dan anak hadir di ruang sidang dan secara umum dalam konteks penegakan hukum yang lebih luas, dalam beragam peran—sebagai korban, pencari keadilan, pihak yang dipersalahkan, bahkan kerap sebagai pihak yang suaranya paling mudah terpinggirkan. Di sinilah peradilan diuji, bukan hanya oleh teks hukum, tetapi oleh kepekaan membaca relasi kuasa, luka sosial, trauma, dan konteks kemanusiaan yang menyertai setiap perkara.
Isu perempuan dan anak muncul di seluruh kamar peradilan: kekerasan seksual dan KDRT (Pidana), hak asuh dan waris (Perdata & Agama), perlindungan layanan publik seperti identitas kependudukan (TUN), serta isu kedisiplinan dan lingkungan keluarga prajurit (Militer). Tema ini universal dan menjadi perhatian moral, hukum, dan sosial. Isu ini mengalami aktualitas seiring dengan adanya fenomena kekerasan daring, eksploitasi digital, adopsi lintas negara, warisan digital, dan dampak teknologi terhadap relasi keluarga menciptakan lanskap baru penyelesaian perkara.Pada posisi ini, sistem peradilan dituntut lebih sensitif gender, humanis, serta adaptif terhadap kebutuhan perlindungan khusus kelompok rentan. Di sinilah gagasan-gagasan kritis dan visioner menjadi penting—bukan untuk menghakimi sistem, tetapi untuk merawat harapan akan peradilan yang semakin manusiawi.
Menulis tentang perempuan dan anak bukan semata membahas perkara, tetapi membaca ulang makna keadilan itu sendiri: apakah ia masih mampu hadir sebagai harapan bagi mereka yang paling membutuhkan perlindungan. Dalam setiap perkara yang menyangkut perempuan dan anak, peradilan sejatinya sedang bercermin—apakah hukum berdiri sebagai penjaga martabat, atau sekadar menjadi prosedur yang kehilangan jiwa?. Di tengah dunia yang kian cepat dan bising, peradilan ditantang untuk tetap berjalan pelan namun pasti—menjaga agar keadilan bagi perempuan dan anak tidak tergilas oleh rutinitas dan formalitas.
Suara BSDK mengundang para kontributor untuk menulis dengan cara yang paling otentik dan merdeka. Tema ini bisa diulas melalui opini reflektif, artikel ilmiah populer, feature, berita, bahkan melalui cerpen, satire, atau narasi sastra-hukum yang menggugah. Tidak ada satu bentuk yang paling benar—yang kami harapkan adalah kejujuran berpikir, keberanian bertanya, dan kesediaan berbagi perspektif.
Sebagaimana semangat yang sejak awal kita bangun bersama, Suara BSDK adalah ruang menulis yang kritis, visioner, dan berkemajuan, namun tetap asyik, cair, dan berkawan. Di sini, gagasan boleh tajam tanpa harus dingin, boleh berbeda tanpa harus berjarak. Setiap tulisan adalah kontribusi kecil yang, jika dirangkai bersama, membentuk percakapan besar tentang masa depan peradilan kita.
Kami menantikan tulisan-tulisan rekan-rekan semua. Semoga tema ini menjadi pemantik, bukan beban; menjadi undangan berdialog, bukan kewajiban administratif. Mari menutup tahun dengan gagasan yang jernih, dan membuka masa depan dengan keberanian berpikir—dengan tetap menikmati prosesnya, sambil ngopi, tertawa, dan saling menyemangati.
Pada kesempatan yang baik ini, kami perlu ”memperkenalkan” dan menegaskan kembali wajah dan ideologi Suarabsdk; bahwa Suarabsdk bukanlah jurnal ilmiah, tetapi media refleksi strategis peradilan, maka standar tidak boleh seketat jurnal, tetapi lebih bernas dari media umum.. Pun Editor dan jajaran redaktur juga hadir sebagai kurator gagasan, bukan hanya penyaring teknis. Tim Redaktur hadir dan berperan memastikan substansi, etika, dan arah wacana.Ketika kami melakukan review, maka kami pastikan bahwa proses Review bersifat substantif–kualitatif, bukan administratif karena kami Fokus pada kualitas gagasan, argumentasi, dan relevansi, bukan sekadar format. So, kami hadirkan Suarabsdk sebagai Ruang aman untuk berpikir kritis, tetapi tetap beradab dan bertanggung jawab. Suarabsdk ingin selalu memastikan adanya batas etik, profesionalisme, dan kehati-hatian institusional.
Pada akhirnya, menulis di Suarabsdk bukan sekadar menyampaikan pendapat, melainkan merawat nalar, empati, dan keberanian berpikir—agar hukum tetap berpihak pada manusia, dan peradilan selalu punya wajah yang hangat.
Hormat Kami
Tim Redaktur
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


