Esai Syamsul Arief
Ketika dingin Korea menetes perlahan dari langit seperti jarum-jarum perak menusuk di pipi, aku berhenti dihadapan barisan pohon saat tiba di taman di depan Judicial Research and Training Institute, Badan Diklat-nya para Hakim di Korea.
Setiap pagi selama seminggu terakhir aku berada di Kota Goyang Provinsi Gyeonggi, 20 menit perjalanan dari Kota Seoul guna studi tentang MA, Peradilan, Badiklat, Hukum dan keadilan.
Pohon-pohon itu berdiri tidak seperti pohon, tetapi seperti para biksu tua dalam meditasi abadi. Aku terpukau melihat batang-batang Pinus dan Ginko itu dibungkus anyaman jerami padi, rapi dan bersahaja, seakan mengingatkan mereka untuk tetap hangat, tetap bernapas, tetap hidup.
Orang Korea menyebut tradisi ini sebagai onggiri atau dongpali, tali kebajikan yang dililitkan tanpa suara. Tradisi tua menjaga alam dengan membungkus batang pohon dengan rajutan jerami padi atau ilalang yang membentuk pemandangan estetik saat musim dingin tiba.
Ini bertujuan memerangkap telur serangga atau hama kecil yang mencoba naik ke pohon, yang kemudian mudah dibersihkan saat ilalang dilepas di musim semi. Berguna untuk melindungi kulit pohon dari perubahan suhu ekstrem, mencegah keretakan akibat beku di musim dingin, menjaga kelembaban kulit kayu dan dipercaya membawa keberuntungan dan melindungi pohon agar tetap tumbuh subur, serta bagian dari kepercayaan rakyat untuk kesejahteraan.
Namun bagiku yang berdiri dihadapannya, ia tampak lebih seperti Litani, doa misa natal yang diwujudkan dalam bentuk selimut.
Aku berhenti di depan sebuah Ginkgo raksasa. Jerami di tubuhnya bergemerisik pelan ketika disentuh angin, seperti suara seorang ibu yang memperbaiki letak kain bedong di tubuh bayinya.
Ada kelembutan kuno di sana, kelembutan yang tak pernah diminta, tak pernah dipamerkan, namun hadir sepenuhnya.
Entah kenapa, pohon yang dibungkus itu memanggil ingatanku pada Toraja. Pada Pohon Tarra yang menjulang dan lubang kecil tempat bayi-bayi suci pernah dikembalikan kepada rahim alam.
Bayi-bayi yang belum tumbuh gigi dimakamkan di batang pohon. Passiliran, sebuah upacara keheningan yang mengembalikan anak yang masih suci kepada tubuh alam. Lubang-lubang di pohon itu, ditutup ijuk, menandai tempat dimana kehidupan kecil pernah dititipkan kembali, baby grave.
Di sana, pohon bukan sekadar pohon, melainkan ibu cadangan, rahim pengganti, penjaga kesunyian.
Sebagian dunia mungkin akan gemetar mendengar jenazah kecil disemayamkan di batang pohon hidup. Tapi aku selalu melihatnya sebagai puisi paling lembut yang pernah diciptakan manusia: Bahwa ketika tubuh kita terlalu rapuh untuk hidup, alam bersedia memeluknya hingga akhir.
Begitu pula tradisi di Nusantara, tempat Sasi memberi laut waktu untuk bernapas, Nyepi memberikan bumi sehari untuk memulihkan diri, Baduy menjaga hutan dengan kesederhanaan. yang lebih tajam dari seribu pasal hukum yang selama ini kupelajari, dan hutan-hutan larangan bertahan seperti kitab suci hijau yang ditulis oleh para leluhur.
Ada begitu banyak cara manusia dulu menghormati alam, bukan dengan pidato, bukan dengan program pemerintah, tetapi dengan kesadaran bahwa kita ini tamu, bukan tuan rumah.
Lalu kesadaran itu retak di banyak tempat. Banjir bandang yang beberapa pekan lalu melanda Sumatera adalah isyarat murka alam yang sudah lama ditahan. Ketika hutan ditebang demi keuntungan cepat beberapa tangan, air mencari jalannya sendiri. Dan manusia, yang merasa paling cerdas itu menjadi makhluk yang paling mudah tersapu.
Kerap kali ironi datang dengan langkah tenang dan wajah pucat: Pohon yang dibungkus jerami di negeri empat musim ini lebih dicintai daripada hutan yang dilucuti pakaiannya di negeri sendiri.
Sementara aku berjalan setiap pagi disini menuju ruang kuliah, mempelajari hukum dan keadilan dari lembar demi lembar teori tapi pohon-pohon di taman ini mengajarkan sesuatu yang jauh lebih tua daripada hukum, lebih jujur daripada pasal, lebih murni daripada argumen apa pun: Bahwa menjaga alam adalah bentuk keadilan pertama. Sebelum manusia sempat menciptakan pengadilan.
Di bawah salju yang mulai turun, jerami-jerami itu berkilau tipis, seperti aura hangat yang menolak kalah dari musim. Aku tiba-tiba sadar: Pohon-pohon ini tidak peduli apakah manusia yang membungkusnya orang kaya, miskin, pejabat, atau siswa asing. Mereka hanya tahu satu hal: seseorang masih peduli pada kehidupan selain dirinya. Dan di sanalah letak nilai yang sebenarnya.
Sebelum aku berlalu pergi, aku menyentuh salah satu batang yang dibalut jerami itu. Rasanya dingin, tetapi dari dalamnya ada denyut yang samar, sebuah kesetiaan yang tak pernah meninggalkan dunia, meski dunia kerap mengabaikannya.
Lalu aku mendengar bisikan yang lembut, nyaris tidak terdengar, namun cukup untuk menembus dada:
“Jika pada akhirnya hanya tersisa satu pohon, satu tanaman, satu helai hijau di dunia yang compang-camping, maka semua uangmu, semua kekuasaanmu akan menjadi benda mati tanpa fungsi. Karena setelah ibu mengering, tak ada kehidupan yang bisa lahir kembali.”
Aku menunduk, dan dalam keheningan taman musim dingin itu aku seperti berjanji pada diriku sendiri: Menjaga alam bukan tugas. Bukan pilihan. Itu adalah cara paling sederhana untuk tidak mengkhianati ibu yang melahirkan kita.
Dan pohon-pohon berjubah jerami itu, diam dan tegak di bawah langit Korea yang dingin, menjadi saksi janji kecil itu, janji manusia untuk kembali menjadi manusia.
Seoul, Korea 12/12/2025
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


