Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Arah Kebijakan dan Pembaharuan KUHAP 2025

4 March 2026 • 14:51 WIB

Pilar Penting Peradilan Pajak  dalam mendukung sistem  Perpajakan dan Kekuasaan Kehakiman di bawah Mahkamah Agung RI

4 March 2026 • 14:00 WIB

Follow the Money: Mengadili Narkotika dengan Membaca Jejak Aliran Dana

4 March 2026 • 13:53 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » “Litani Pohon Berjubah Jerami”
Artikel Features

“Litani Pohon Berjubah Jerami”

Syamsul AriefSyamsul Arief12 December 2025 • 20:08 WIB4 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Esai Syamsul Arief

Ketika dingin Korea menetes perlahan dari langit seperti jarum-jarum perak menusuk di pipi, aku berhenti dihadapan barisan pohon saat tiba di taman di depan Judicial Research and Training Institute, Badan Diklat-nya para Hakim di Korea.

Setiap pagi selama seminggu terakhir aku berada di Kota Goyang Provinsi Gyeonggi, 20 menit perjalanan dari Kota Seoul guna studi tentang MA, Peradilan, Badiklat, Hukum dan keadilan.

Pohon-pohon itu berdiri tidak seperti pohon, tetapi seperti para biksu tua dalam meditasi abadi. Aku terpukau melihat batang-batang Pinus dan Ginko itu dibungkus anyaman jerami padi, rapi dan bersahaja, seakan mengingatkan mereka untuk tetap hangat, tetap bernapas, tetap hidup.

Orang Korea menyebut tradisi ini sebagai onggiri atau dongpali, tali kebajikan yang dililitkan tanpa suara. Tradisi tua menjaga alam dengan membungkus batang pohon dengan rajutan jerami padi atau ilalang yang membentuk pemandangan estetik saat musim dingin tiba.

Ini bertujuan memerangkap telur serangga atau hama kecil yang mencoba naik ke pohon, yang kemudian mudah dibersihkan saat ilalang dilepas di musim semi. Berguna untuk melindungi kulit pohon dari perubahan suhu ekstrem, mencegah keretakan akibat beku di musim dingin, menjaga kelembaban kulit kayu dan dipercaya membawa keberuntungan dan melindungi pohon agar tetap tumbuh subur, serta bagian dari kepercayaan rakyat untuk kesejahteraan.

Namun bagiku yang berdiri dihadapannya, ia tampak lebih seperti Litani, doa misa natal yang diwujudkan dalam bentuk selimut.

Aku berhenti di depan sebuah Ginkgo raksasa. Jerami di tubuhnya bergemerisik pelan ketika disentuh angin, seperti suara seorang ibu yang memperbaiki letak kain bedong di tubuh bayinya.

Ada kelembutan kuno di sana, kelembutan yang tak pernah diminta, tak pernah dipamerkan, namun hadir sepenuhnya.

Entah kenapa, pohon yang dibungkus itu memanggil ingatanku pada Toraja. Pada Pohon Tarra yang menjulang dan lubang kecil tempat bayi-bayi suci pernah dikembalikan kepada rahim alam.

Baca Juga  Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

Bayi-bayi yang belum tumbuh gigi dimakamkan di batang pohon. Passiliran, sebuah upacara keheningan yang mengembalikan anak yang masih suci kepada tubuh alam. Lubang-lubang di pohon itu, ditutup ijuk, menandai tempat dimana kehidupan kecil pernah dititipkan kembali, baby grave.

Di sana, pohon bukan sekadar pohon, melainkan ibu cadangan, rahim pengganti, penjaga kesunyian.

Sebagian dunia mungkin akan gemetar mendengar jenazah kecil disemayamkan di batang pohon hidup. Tapi aku selalu melihatnya sebagai puisi paling lembut yang pernah diciptakan manusia: Bahwa ketika tubuh kita terlalu rapuh untuk hidup, alam bersedia memeluknya hingga akhir.

Begitu pula tradisi di Nusantara, tempat Sasi memberi laut waktu untuk bernapas, Nyepi memberikan bumi sehari untuk memulihkan diri, Baduy menjaga hutan dengan kesederhanaan. yang lebih tajam dari seribu pasal hukum yang selama ini kupelajari, dan hutan-hutan larangan bertahan seperti kitab suci hijau yang ditulis oleh para leluhur.

Ada begitu banyak cara manusia dulu menghormati alam, bukan dengan pidato, bukan dengan program pemerintah, tetapi dengan kesadaran bahwa kita ini tamu, bukan tuan rumah.

Lalu kesadaran itu retak di banyak tempat. Banjir bandang yang beberapa pekan lalu melanda Sumatera adalah isyarat murka alam yang sudah lama ditahan. Ketika hutan ditebang demi keuntungan cepat beberapa tangan, air mencari jalannya sendiri. Dan manusia, yang merasa paling cerdas itu menjadi makhluk yang paling mudah tersapu.

Kerap kali ironi datang dengan langkah tenang dan wajah pucat: Pohon yang dibungkus jerami di negeri empat musim ini lebih dicintai daripada hutan yang dilucuti pakaiannya di negeri sendiri.

Sementara aku berjalan setiap pagi disini menuju ruang kuliah, mempelajari hukum dan keadilan dari lembar demi lembar teori tapi pohon-pohon di taman ini mengajarkan sesuatu yang jauh lebih tua daripada hukum, lebih jujur daripada pasal, lebih murni daripada argumen apa pun: Bahwa menjaga alam adalah bentuk keadilan pertama. Sebelum manusia sempat menciptakan pengadilan.

Baca Juga  Dilema Eksploitasi Komoditas dan Menjaga Komunitas : Tantangan Peran Hakim Muda dalam Mewujudkan Keadilan Iklim

Di bawah salju yang mulai turun, jerami-jerami itu berkilau tipis, seperti aura hangat yang menolak kalah dari musim. Aku tiba-tiba sadar: Pohon-pohon ini tidak peduli apakah manusia yang membungkusnya orang kaya, miskin, pejabat, atau siswa asing. Mereka hanya tahu satu hal: seseorang masih peduli pada kehidupan selain dirinya. Dan di sanalah letak nilai yang sebenarnya.

Sebelum aku berlalu pergi, aku menyentuh salah satu batang yang dibalut jerami itu. Rasanya dingin, tetapi dari dalamnya ada denyut yang samar, sebuah kesetiaan yang tak pernah meninggalkan dunia, meski dunia kerap mengabaikannya.

Lalu aku mendengar bisikan yang lembut, nyaris tidak terdengar, namun cukup untuk menembus dada:

“Jika pada akhirnya hanya tersisa satu pohon, satu tanaman, satu helai hijau di dunia yang compang-camping, maka semua uangmu, semua kekuasaanmu akan menjadi benda mati tanpa fungsi. Karena setelah ibu mengering, tak ada kehidupan yang bisa lahir kembali.”

Aku menunduk, dan dalam keheningan taman musim dingin itu aku seperti berjanji pada diriku sendiri: Menjaga alam bukan tugas. Bukan pilihan. Itu adalah cara paling sederhana untuk tidak mengkhianati ibu yang melahirkan kita.

Dan pohon-pohon berjubah jerami itu, diam dan tegak di bawah langit Korea yang dingin, menjadi saksi janji kecil itu, janji manusia untuk kembali menjadi manusia.

Seoul, Korea 12/12/2025

Syamsul Arief
Kontributor
Syamsul Arief
Kepala Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel Baduy Bencana Sumatera Dongpali Ekologi Esai Etika Lingkungan Filsafat Lingkungan Keadilan Alam Kearifan Lokal Kemanusiaan Lingkungan Hidup Nyepi Onggiri Passiliran Pohon Ginkgo Pohon Tarra Refleksi Sasi Suara BSDK Syamsul Arief Toraja Tradisi Korea
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Antara Algoritma dan Akal: Benarkah AI Mulai Memiliki Pikiran?

4 March 2026 • 11:48 WIB

Mengintip Sisi “Matrealistik” Negara Dalam Tindak Pidana Korporasi

4 March 2026 • 08:32 WIB

Orang Tua Otomatis Wali : Rumusan Kamar Perdata Dalam SEMA 1 Tahun 2025 Akhiri Praktik Berlebihan di Pengadilan

4 March 2026 • 08:11 WIB
Demo
Top Posts

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB

Penerapan Asas Equality Of Arms dalam Pembuktian Kebocoran Data Pribadi

24 February 2026 • 09:05 WIB

Pertanggung Jawaban Pidana dan Kesadaran Moral Pelaku: Analisis Konseptual Mens Rea dalam Perspektif Fikih Jinayat

24 February 2026 • 08:31 WIB
Don't Miss

Arah Kebijakan dan Pembaharuan KUHAP 2025

By Anton Ahmad Sogiri4 March 2026 • 14:51 WIB0

Megamendung, 4 Maret 2026 – Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum., Hakim Tinggi Badan Strategi Kebijakan dan…

Pilar Penting Peradilan Pajak  dalam mendukung sistem  Perpajakan dan Kekuasaan Kehakiman di bawah Mahkamah Agung RI

4 March 2026 • 14:00 WIB

Follow the Money: Mengadili Narkotika dengan Membaca Jejak Aliran Dana

4 March 2026 • 13:53 WIB

Antara Algoritma dan Akal: Benarkah AI Mulai Memiliki Pikiran?

4 March 2026 • 11:48 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Arah Kebijakan dan Pembaharuan KUHAP 2025
  • Pilar Penting Peradilan Pajak  dalam mendukung sistem  Perpajakan dan Kekuasaan Kehakiman di bawah Mahkamah Agung RI
  • Follow the Money: Mengadili Narkotika dengan Membaca Jejak Aliran Dana
  • Antara Algoritma dan Akal: Benarkah AI Mulai Memiliki Pikiran?
  • Mengintip Sisi “Matrealistik” Negara Dalam Tindak Pidana Korporasi

Recent Comments

  1. hello world on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Mayor Laut (H) A. Junaedi, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas, S.H., M.Kn.
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Letkol Chk Dendi Sutiyoso, S.S., S.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.