Lebih separuh tahun, Abdul Manaf telah pergi. Nama besarnya di kalangan hakim peradilan agama cukup mencuri perhatian. Saya beberapa kali berkomunikasi langsung dengan almarhum. Bukan di ruang kerja, tetapi di ruang studi Pasca UIN Jakarta. Saya bersaksi bahwa almarhum termasuk penegak hukum yang berintegritas, sederhana sesuai dengan potongan raut wajahnya yang tidak klimis dan apa adanya.
Mendiang almarhum dikenal sebagai tokoh bangsa di bidang hukum Islam yang pernah menduduki jabatan mentereng. Hakim Agung dan Dirjen Badan Peradilan Agama (Badilag) pernah disandangnya. Rekam jejaknya di bidang hukum patut diacungi jempol, kesederhanaan dalam hidup juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Untungnya, segenap profilnya didokumentasikan dalam kertas kerja, karya dan pemberitaan di berbagai media sehingga menjadi pembelajaran bagi generasi setelahnya.
Selama memegang jabatan penting, pria yang disapa Pak Manaf itu selalu tekun menjaga integritas profesinya. Integritas harga mati baginya. Dirinya tidak mudah silau dengan godaan dan tawaran suap padahal kekuasaannya sangat besar. Dirinya lebih memilih jalan tegak lurus, menjadi teladan bagi generasi setelahnya. Dengan begitu, dirinya patut dijadikan rujukan integritas para penegak hukum terutama hakim di tengah erosi integritas yang tidak baik-baik saja.
Pria asal Bogor itu menjaga integritas sejak dirinya menjadi pegawai. Dia sadar betul bahwa profesi itu amanah, yang harus dijaga kehormatannya sejak disumpah hingga purna. Sehingga apa yang diucapkan sesuai dengan apa yang dikerjakan. Konsistensinya barangkali dipengaruhi firman Tuhan:
“Kemurkaan yang sangat besar di sisi Allah bagi kalian akibat ucapan kalian yang tidak kalian laksanakan”.
Integritas Pak Manaf gak kaleng-kaleng. Dia bukan pemain baru yang siuman dari nirintegritas, atau bangun citra bersih untuk panggung karirnya. Bukan juga tipe yang meledak-ledak bilang “kita harus jaga integritas”. Dia lebih memilih sikap tenang dan kalem namun konsisten menjaga integritas dirinya. Karena itu, ketenangannya “lebih berbahaya” dari ucapannya.
Sewaktu menjabat hakim agung, Pak Manaf dikenal sosok bersih dan bersahaja. Nama besarnya seharum nama-nama pendahulunya sebut saja Artidjo Alkostar, Abdul Rahman Saleh, dan lain-lain. Banyak torehan putusan yang dibuatnya, banyak kontribusi ide otentiknya saat menduduki kursi Inspektur Wilayah Badan Pengawasan MA. Lantas, apa yang bisa kita contoh dari mendiang almarhum?
Pertama, kesederhanaan. Almarhum hidupnya sederhana. Rumahnya biasa banget, tidak sementereng pejabat negara lainnya. Gaya hidupnya tidak seglamor pejabat kerah putih lainnya. Padahal, statusnya sebagai pejabat negara sangat mampu untuk menumpuk pundi-pundi kekayaan, namun dia tidak memilih itu. Dari situ, saya simpulkan bahwa almarhum tidak silau urusan duniawi. Gemerlapnya ibu kota tidak membuat gelap mata. Pembawaannya yang sederhana cukup membuat lawan bicara segan “berparlente” di hadapannya.
Kedua, bersahaja. Almarhum sangat bersahaja terhadap akhi-akhi-nya. Tidak pernah absen mengirimkan doa, pesan singkat WA menjadi saksinya. Menariknya, dia tidak pernah memposisikan diri sebagai atasan atau pejabat negara di hadapan orang lain. Sehingga wajar, sikap bersahajanya telah me-manaf-kan Abdul Manaf (hamba yang mulia).
Ketiga, belajar. Pak Manaf adalah sosok pembelajar yang merasa tak kunjung pandai. Saat saya duduk bersamanya di majelis ilmu, almarhum terlihat gigih belajar, semangat juangnya tidak pernah kendor, perpustakaan Pasca UIN Jakarta menjadi saksi hidupnya. Alhasil, semangat belajarnya tanpa ampun telah mengantarkan dirinya ke Medan Merdeka Utara.
Kini Pak Manaf telah tiada. Jasadnya telah dikubur dalam-dalam namun ke-manaf-annya tetap abadi nan luhur. Iya, almarhum sosok bersih, sederhana sekaligus bersahaja untuk mengatakan yang hak dan bathil serta melaksanakannya tanpa kompromi. Mungkin kita tidak bisa menirunya 100 persen lebih, namun 10 persen pun sudah lumayan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp:
SUARABSDKMARI

