Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Causa Essendi, Causa Cognoscendi, dan Tugas Hakim Menyelesaikan Problem Hukum
Artikel Features

Causa Essendi, Causa Cognoscendi, dan Tugas Hakim Menyelesaikan Problem Hukum

Fariz Prasetyo AjiFariz Prasetyo Aji17 December 2025 • 13:19 WIB4 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Dalam ruang sidang, hukum sering hadir sebagai teks yang harus diterapkan. Namun di balik pasal dan frasa yang tegas, terdapat dua pertanyaan yang menyertai setiap langkah Hakim: mengapa sebuah aturan ada? dan bagaimana aturan itu dapat dipahami dengan benar? Dua pertanyaan ini, dikenal sebagai causa essendi dan causa cognoscendi.

Meskipun istilahnya berasal dari kosakata filsafat klasik, keduanya sesungguhnya berhubungan sangat erat dengan peran Hakim sebagai penjaga hukum. Ketika dibaca lebih dalam, kedua causa ini memperlihatkan bahwa tugas Hakim tidak semata mengakhiri perkara, tetapi juga menanggapi dan mengatasi problem yang melatarbelakanginya.

Causa Essendi: Alasan Suatu Aturan Lahir

Causa essendi merujuk pada sebab keberadaan suatu norma atau aturan. Ia menjelaskan mengapa sebuah aturan dianggap perlu. Aturan lahir karena ada sesuatu yang ingin diperbaiki, dilindungi, atau dicegah dalam kehidupan masyarakat seperti kerentanan, ketidakadilan, kerugian, atau kekerasan yang pernah terjadi dan tidak ingin hal itu diulang.

Memahami causa essendi berarti memahami keadaan yang membuat suatu aturan dibentuk. Setiap pasal membawa suatu peristiwa, pengalaman, dan nilai yang pernah dialami. Ia adalah ingatan kolektif yang diformulasikan menjadi norma.

Bagi Hakim, memasuki causa essendi adalah memasuki ruang keberadaan hukum. Di sana terdapat kesadaran bahwa norma tidak diciptakan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk manusia dan problem yang mereka hadapi. Ketika Hakim memahami tujuan kelahiran norma, ia tidak terjebak dalam bacaan yang datar. Ia mampu menilai apakah penerapan norma pasal tertentu benar-benar menyentuh problem yang ingin dibereskan oleh pembuatnya.

Causa Cognoscendi: Jalan Pengetahuan Menuju Aturan

Jika causa essendi menjelaskan alasan kelahiran norma, causa cognoscendi menjelaskan bagaimana kita mengetahuinya. Ini mencakup proses pengetahuan seperti membaca teks, menafsirkan makna, menelusuri sejarah pembentukan, mencermati putusan-putusan sebelumnya, mendengar para pihak, dan menimbang fakta secara hati-hati.

Baca Juga  BSDK Leading Sector yang Siap Majukan MA

Causa cognoscendi mengajak Hakim melihat bahwa pemahaman hukum bukan sekadar hasil hafalan, tetapi perjalanan intelektual dan moral. Jalan menuju pengertian tidak hanya melalui metode interpretasi, tetapi juga kejujuran berpikir, kesabaran menimbang, dan kesediaan untuk mengakui batas-batas tafsir manusia.

Melalui causa cognoscendi, Hakim menyadari bahwa setiap putusan bukan hanya kesimpulan logis, tetapi juga hasil dari proses memahami, menguji, dan kadang meragukan kembali.

Hakim dan Tugas Menyelesaikan Problem

Ketika Hakim memadukan kedua causa ini, ia dapat menjalankan perannya secara lebih utuh. Hukum tidak lagi dipahami hanya sebagai rumusan yang harus diterapkan, tetapi sebagai jawaban terhadap problem yang sedang dialami masyarakat.

Dalam praktik saat ini, peradilan sering bergerak cepat, dan perkara datang beruntun seperti arus tak berkesudahan. Situasi ini membuat banyak putusan berfungsi sebagai penyelesaian administrasi: perkara selesai, berkas ditutup, lalu Hakim berpindah ke kasus berikutnya.

Namun penyelesaian kasus tidak selalu berarti penyelesaian problem. Perkara yang sama bisa kembali hadir dengan wajah yang berbeda, tetapi dengan akar persoalan yang serupa. Pengalaman demikian menunjukkan bahwa sistem hukum baru bekerja sebatas permukaan.

Di sinilah pentingnya pemahaman mendalam terhadap causa essendi dan causa cognoscendi. Keduanya memberi ruang bagi Hakim untuk melihat perkara bukan sebagai peristiwa tunggal, tetapi sebagai bagian dari pola problem yang lebih luas. Ketika Hakim memahami alasan keberadaan aturan dan memiliki jalur pengetahuan yang jernih, ia dapat membuat putusan yang tidak hanya menutup sengketa, tetapi juga merespons problem yang melatarbelakanginya.

Mengembalikan Peran Hakim sebagai Penjaga Keutuhan Sosial

Ada dimensi kemanusiaan dalam pekerjaan Hakim yang sering terlupakan. Setiap putusan adalah upaya mengembalikan keseimbangan: antara individu dan masyarakat, antara hak dan kewajiban, antara peraturan dan keadilan. Untuk menjaga keseimbangan itu, Hakim membutuhkan kedalaman refleksi.

Baca Juga  Menjadi Hakim Berintegritas dengan Pembelajaran Keberlanjutan

Causa essendi memberi arah moral, causa cognoscendi memberi arah intelektual. Ketika keduanya dihayati, putusan tidak hanya menjadi jawaban atas satu perkara, tetapi juga kontribusi bagi kesehatan sosial. Hakim tidak sekadar “mengadili”, melainkan hadir untuk memastikan bahwa problem yang mendasari suatu sengketa tidak terus berulang tanpa pemahaman.

Dalam dunia hukum yang penuh kompleksitas, pendekatan yang reflektif dan manusiawi ini bukan sekadar idealisme. Ia adalah syarat agar hukum tetap relevan, dan agar putusan dapat menyentuh inti persoalan yang dialami manusia.

Penutup

Causa essendi membantu Hakim memahami mengapa sebuah norma diperlukan. Causa cognoscendi membantu Hakim memahami bagaimana norma itu dapat diketahui dan diterapkan secara bertanggung jawab. Ketika keduanya dipertemukan, putusan menjadi lebih dari sekadar respons terhadap satu kasus; ia menjadi bagian dari upaya memperbaiki problem yang melatarbelakangi kasus itu.

Di titik itu tugas Hakim menemukan kedalaman maknanya. Memutus bukan lagi sekadar memilih pasal yang tepat atau menata pertimbangan yang rapi. Ia menjadi upaya memahami nilai kehidupan yang hadir di ruang sidang, membaca penderitaan, kekeliruan, dan struktur sosial yang ikut membentuknya. Dari sana, keadilan tidak jatuh sebagai prosedur, melainkan sebagai keputusan yang selaras dengan moral dan nurani hukum yang tidak hanya tepat secara administratif, pantas secara moral, setia pada norma, tetapi juga tidak buta pada realitas manusia, lingkungan dan subjek hukum lainnya yang memerlukan pemulihan.

Fariz Prasetyo Aji
Fariz Prasetyo Aji
Hakim Pengadilan Agama Tanah Grogot

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel hukum
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB
Demo
Top Posts

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

15 January 2026 • 08:06 WIB

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB
Don't Miss

Urgensi Penghapusan Pengadilan Khusus Dan Hakim Ad Hoc di Bawah Mahkamah Agung

By Muhammad Adiguna Bimasakti15 January 2026 • 08:06 WIB

Sistem peradilan di Indonesia pada awalnya dirancang sederhana, dengan seluruh jenis perkara ditangani oleh Pengadilan-Pengadilan…

CODE NAPOLÉON: RASIONALITAS KODIFIKASI DAN WARISAN BAGI TRADISI CIVIL LAW

14 January 2026 • 20:29 WIB

Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

13 January 2026 • 16:35 WIB

KMA Tegaskan Komitmen Penguatan Kepemimpinan Hakim Perempuan

13 January 2026 • 14:44 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire SuaraBSDK Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Abdul Ghani
  • Abiandri Fikri Akbar
  • Agus Digdo Nugroho
  • Ahmad Junaedi
  • Anderson Peruzzi Simanjuntak
Lihat semua →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.