Bunyi palu itu menghantam kayu, tapi rasanya seperti menghantam ulu hatiku.
“Lima tahun penjara.”
Napasku tercekat. Lima tahun. Aku, Leo, seorang analis data junior, harus menghabiskan lima tahun masa mudaku di dalam bui. Aku menoleh ke samping. Di sana, Marco berdiri. Dia adalah sang perancang, mentor lamaku, orang yang meyakinkanku bahwa ini adalah “keadilan”.
Lalu palu itu berbunyi, lebih keras.
“Sembilan tahun penjara.”
Marco memejamkan matanya, hanya itu. Dia tidak bergeming. Aku? Sudah jelas gemetar hebat. Hukuman kami berbeda, tapi nasib kami sama: kami tidak akan pernah keluar dari sini sebagai manusia yang utuh.
Semua ini bukan dimulai karena uang. Itu kebohongan yang kuceritakan pada diriku sendiri. Semua dimulai karena keputusasaan.
Adik perempuanku, Maya, terbaring di rumah. Tulang punggungnya bengkok, menekan paru-parunya. Dokter di kota kami bilang operasinya rumit dan biayanya selangit. Asuransi perusahaan menolaknya; mereka menyebutnya “prosedur kosmetik”. Aku, seorang analis data yang gajinya habis untuk membayar sewa dan obat pereda nyeri, tercekik rasanya.
Di sanalah Marco masuk.
Dia bukan teman biasa. Dia adalah mantan Programmer jenius di perusahaan kami, dipecat karena “pemberontakan” setelah proyek besarnya, “Janius”, diambil alih oleh manajemen, yang masih dia yakini bahwa itu adalah pencurian. Dia menemukanku di kedai kopi di luar lobi menara kaca kami.
“Aku ada ‘pekerjaan’ untukmu, Leo,” katanya, suaranya tenang. “Kau satu-satunya yang tahu celah di sistem itu.”
“Pekerjaan apa?”
Dia tersenyum pahit. “Mengambil kembali apa yang mereka curi dariku. Bukan mencuri, Leo. Ini Keadilan. Sekali jalan, Maya bisa lari maraton.”
Aku seharusnya tahu. Seharusnya aku sadar tidak ada keadilan yang didapat di tengah gundah. Tapi aku teringat wajah Maya yang pucat.
“Aku ikut, Bang.”
Misi kami tidak melibatkan senjata atau kekerasan. Misi kami ada di jantung kota, di lantai 18 gedung tempatku bekerja. “Barang”-nya adalah source code Janius, sebuah kecerdasan buatan yang bernilai miliaran.
“Peti besi”-nya adalah server utama di “Bilik Pendingin”, sebuah ruangan yang suhunya dijaga di titik beku, terisolasi total dari jaringan luar.
Rencananya sederhana. Aku akan masuk saat simulasi kebakaran tahunan, ketika semua protokol keamanan digital dilumpuhkan sementara. Tugasku mudah saja, menyalin data.
Malam itu pun tiba. Alarm meraung. Lampu merah berkedip di koridor yang tak berpenghuni. Tanganku seketika berkeringat gemetar saat mengetikkan kode sandi di pintu titanium Bilik Pendingin.
Hssstt…
Pintu terbuka, menyemburkan udara dingin. Di dalam, hanya ada dengungan ribuan mesin. Aku menarik modul data utama—sebuah kotak hitam seukuran koper—dan memasukkannya ke dalam ransel berlapis timah yang diberikan Marco.
Aku berlari menuruni tangga darurat, jantungku serasa hendak meledak. Aku hanya membayangkan wajah Maya. “Sekali ini saja,” batinku.
Aku mendorong pintu keluar darurat di lantai dasar dan berlari ke gang belakang yang gelap. Sebuah sedan hitam sudah menunggu, mesinnya menyala, persis seperti yang direncanakan. Aku melompat ke kursi penumpang.
Marco ada di belakang kemudi. Wajahnya tegang.
“Dapat?” tanyanya.
Aku mengangguk, terengah-engah, memeluk ransel itu. “Dapat. Ayo pergi.”
Dia menginjak gas. “Bagus. Kita ke hotel di pelabuhan. Pembeli sudah menunggu di sana. Setelah selesai, Maya akan dapat jadwal operasinya.”
Jantungku masih berdebar kencang, tapi melihat Marco yang memegang kendali membuatku sedikit tenang. Dia sang jenius. Dia tahu apa yang dia lakukan. Kami melaju menembus jalanan kota, bergabung dengan lalu lintas malam. Setiap lampu depan di kaca spion tampak seperti ancaman.
Kami tiba di area parkir Hotel Pelabuhan, sebuah bangunan tua megah yang sepi. Tempat ini dipilih karena tidak mencolok.
“Lantai P-3. Dia menunggu di sana,” kata Marco, mematikan mesin.
Keheningan di dalam mobil terasa memekakkan. Aku baru saja akan membuka pintu.
SKRRIIII!
Tiba-tiba, dua van hitam besar meluncur dari dua arah, memblokir jalan keluar di depan dan di belakang kami. Lampu sorot mereka yang kuat langsung menembus kaca depan, membutakan kami.
“KELUAR DARI MOBIL! TANGAN DI ATAS KEPALA!”
Itu bukan suara polisi. Itu suara yang kukenal. Suara tim Keamanan Internal perusahaan.
Marco membanting setirnya dengan frustrasi. “Sialan! Mereka sudah tahu!”
“Bagaimana bisa?!” teriakku.
Pintu mobil kami ditarik paksa dari luar. Mereka menyeretku dan Marco, membanting kami ke kap mobil yang masih hangat. Ransel berisi modul data itu direnggut dari tanganku.
“Kami sudah mengawasimu selama seminggu, Leo,” kata seorang pria berjas, pemimpin tim keamanan itu. “Kami tahu Marco akan mencoba sesuatu setelah dia dipecat. Kami hanya tidak tahu siapa orang dalamnya.”
Dia menatapku dengan tatapan kasihan. “Kau terlalu sering menemuinya di kedai kopi itu, Nak. Kalian berdua sudah jadi target operasi.”
Di ruang sidang, aku berteriak. Aku bilang aku tidak tahu nilainya sebesar itu. Aku bilang aku hanya disuruh menyalin data. Aku memohon tentang operasi adikku.
Hakim menatapku. Tatapannya dingin. “Keputusasaan tidak membenarkan kejahatan, Saudara Leo. Dan Anda, Saudara Marco, menggunakan kejeniusan Anda untuk kejahatan.”
Dan sekarang, palu itu sudah jatuh.
Marco divonis sembilan tahun penjara. Dia adalah otak di balik semua ini, sang pemberontak yang ingin balas dendam.
Aku? Aku hanya alat. Aku mendapat keringanan. Lima tahun.
Aku menatap tanganku. Tangan yang seharusnya mengetik kode untuk masa depan. Tim keamanan itu benar. Pertemuan-pertemuan di kedai kopi itu, di situlah semua ini berakhir bahkan sebelum dimulai.
Uang itu tidak pernah nyata.
Yang nyata hanyalah lima tahun ke depan di dalam sel ini, dan bayangan Marco yang berjalan di sampingku, menuju selnya sendiri. Lima tahun adalah sebuah keabadian kecil. Dan Maya… aku bahkan tidak berani memikirkannya.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


