Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pulau Weh: Riwayat Tentang Ombak, Batu Karang, dan Para Pengembara

28 November 2025 • 20:01 WIB

Pray for Sumatera — Doa, Empati, dan Solidaritas untuk Saudara Kita yang Terdampak Bencana

28 November 2025 • 16:42 WIB

JEJAK API YANG TAK BISA BERBOHONG

27 November 2025 • 15:05 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Orkes Damai: Sebuah Kisah Setengah Wajar
Roman

Orkes Damai: Sebuah Kisah Setengah Wajar

25 November 2025 • 09:37 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Sesungguhnya, sebelum terlanjur sampai mana-mana, penulis tidak meminta izin maupun persetujuan dari pembaca, namun hanya ungkapan apologia semata. Kalau-kalau tulisan ini memanglah terdapat kesamaan nama, peristiwa, locus dan tempus, mohon kiranya untuk dimaklumi sahaja, syukur-syukur dimaafkan.

Ini kisah dapat dinilai oleh masing-masing pembaca. Boleh empat per empat wajar, delapan per sembilan wajar, atau malah tidak wajar sama sekali. Namun, menurut hemat penulis, selama sesuatu masih bisa manusia bayangkan, selama peristiwanya masih membumi, maka entah di belahan dunia manapun pasti hal serupa boleh jadi memang eksis atau akan eksis.

Dahulu siapa yang menyangka jika saat ini komputer dapat berbicara dengan manusia menggunakan bahasa alami dan membantu tugas sehari-hari, seperti halnya dalam film 2001: A Space Odyssey? Maka, agar tetap terlihat waras, penulis memposisikan kisah ini setengah wajar saja.

Kisah ini berpusat pada seseorang yang bernama Wastib Bunduk, tapi sering ditafsirkan secara ekstensif olehnya sebagai Pengawas dan Penertib, Buru dan Ciduk. Bukan tanpa sebab disebut demikian, kegiatan sehari-harinya memang mengawasi, menertibkan, memburu, dan menciduk warga di wilayahnya yang kedapatan atau sangat-amat-memungkinkan-dicurigai melakukan kejahatan. Supaya mempermudah pembaca memahami tupoksi Wastib, penulis menyandingkannya serupa dengan hansip, namun dengan wewenang ekstra.

Wastib bukanlah sembarangan orang. Riwayat hidupnya tidak bisa disebut main-main. Pernah ia menjalani pendidikan Calon Hansip selama 1,5 tahun—meskipun akhirnya mengundurkan diri. Saat ini ia juga membuka bimbingan belajar bagi anak-anak muda yang berkeinginan menjadi Calon Hansip—meskipun harus membayar mahal untuk mengikuti bimbingan belajar tersebut.

“Profesi hansip adalah profesi yang serius, bahkan duarius. Meski tidak secara penuh diakomodir oleh undang-undang, profesi hansip sejatinya merupakan summum bonum, kebajikan tertinggi. Voluntair dalam pengabdian. Menyentuh dan bersinggungan langsung dengan realitas kehidupan dan alam yang begitu luas dan rumit,” kira-kira seperti itu yang dituturkan olehnya saat Zoom.

Meski banyak yang mencibir dan menghardiknya, lebih banyak pula yang memujinya. Bahkan ada yang menyebut Wastib sebagai lambang peradaban.

Salah satu mantan peserta bimbelnya yang kini telah menjadi Kepala Siskampling di suatu kota besar secara jujur dan di bawah sumpah mengatakan, “Bapak Wastib adalah pejuang kemanusiaan-keadilan. Sokoguru penegakan hukum.”

Pujian dari Kepala Siskampling seperti di atas bukanlah omong kosong. Untuk urusan yang ini, penulis coba meyakinkan pembaca bahwa Wastib adalah sosok yang paripurna pengetahuan dan wawasannya. Selain mengeyam pendidikan formal sebagai mantan Calon Hansip, ia juga gemar membaca dan mengulik pikiran serta karya orang-orang hebat, mulai dari Spinoza hingga Slavoj Zizek, dari van Apeldoorn sampai Satjipto Rahardjo, bahkan seluruh buku Enny Arrow telah ia baca tuntas.

Cukup kiranya penggambaran Wastib Bunduk, seorang sederhana dengan kualitas wahid, yang tinggal serapat-rapatnya dengan masyarakat dusun. Dusun yang ia cintai tulus tanpa pamrih.

Wastib tinggal sebatang kara di rumahnya yang sederhana. Dindingnya belum dilapisi semen, tanpa plafon, tanpa furnitur mewah, juga ada foto lamanya saat masih menjadi Calon Hansip. Konsep rumah ini Wastib sebut sebagai rustic-brutal-industrial. Termasuk daun pintunya berasal dari bekas rumah tetangganya yang pernah dieksekusi oleh pihak berwenang.

Baca Juga  Camar-Camar yang Mengawasi Sejarah

Di balik konsep huniannya yang ekonomis, Wastib memiliki sebuah ruangan khusus di bawah tanah. Tempat ia menahan, mendidik, dan membina warga dusunnya yang melakukan kejahatan. Tempat itu dia namakan Alcatrox, terinspirasi dari Alcatraz.

“Atas nama kepercayaan dan konsensus warga-warga terdahulu yang telah mengangkat saya sebagai pengawas dan penertib, maka saya telah buru dan ciduk terhadap anda-anda yang bernama Ujur dan Sibab! Oleh karena diduga dan sangat patut dicurigai telah mengkritisi kebijakan Ketua RT mengenai iuran bulanan rukun tetangga. Pro Justitia!” Lantang ia ucapkan kata-kata tersebut saat melakukan Operasi Burcid terhadap Ujur dan Sibab.

Ujur dan Sibab adalah tahanan sekaligus binaan ke-4 dan ke-5 Wastib bulan ini. Jadi totalnya 5 orang, padahal Alcatrox sebetulnya dapat menampung hingga 7 orang. Namun, atas dasar kemanusiaan, Wastib membatasi kuota “pendaftaran murid baru”-nya.

“Hasil buru ciduk sore atau malam?” tanya Suput kepada Ujur dan Sibab. Suput adalah senior dari mereka berdua. Bisa dibilang kakak pertama. Ia awal bulan “daftar” di Alcatrox.

Ujur menjawab, “Tadi pagi, masih anget ini.”

“Gila! Mana ada penahanan tanpa peristiwa pidana!” kata Sibab saat Wastib mendudukkannya bersama para senior.

“Metodologinya ante factum. Tahan dulu baru cari peristiwanya. Ini aturan paling baru. Paling mutakhir,” jawab Wastib sambil memborgol Ujur dan Sibab secara berantai dengan para senior.

“Kalau tidak ada peristiwanya?” tanya Sibab.

“Ya, bagus,” jawab Wastib.

“Bagus darimananya!” jawab lagi Sibab.

“Bagus karena selama di sini kau tidak perlu bayar iuran rukun tetangga, kan? Ya, setidaknya kalian tidak kabur atau menghilangkan bukti, sih,” jawab lagi Wastib.

“Mana ada kami kabur,” sahut Ujur.

“Mana mungkin kalian kabur,” potong Wastib.

“Kami mau disediakan pembela!” jawab Sibab lagi.

“Di dusun tidak ada pembela. Kalian juga tahu. Justru kau yang aneh, Bab. Kau meminta hal yang tidak ada. Mengada-ada!” jawab Wastib lagi.

“Wastib, dengan segala hormat, kami tidak bersalah,” jawab Ujur sambil memelas.

“Subversif! Penentang semesta!” tunjuk Wastib menggunakan jari kelingking, karena pantang bagi pria terhormat menunjuk-nunjuk menggunakan jari telunjuk, apalagi jari tengah. Maka, demi memelihara adat yang bersih, Wastib konsisten menggunakan jari kelingkingnya.

Wastib mendongak ke atas, merentangkan tangannya sambil berkata, “Tuhan, Engkau tahu tangan-tangan ini kotor karena ulah kejahatan. Bukan kejahatan yang saya bikin-bikin, tapi kejahatan yang orang lain buat. Sungguh Tuhan, saya mohon ampun atas perbuatan saya yang nirdosa. Kalau-kalau memang ada dosa, kiranya dianggap lunas saja.”

“Kedua orang ini telah menjadi penentang. Ampuni mereka di akhirat kelak. Sedangkan di dunia, berikan mereka berkah saja. Boleh lewat saya, boleh langsung ke orangnya,” mata Wastib hampir penuh dengan air mata.

“Berkah macam apa!” potong Sibab.

“Engkau dapat lihat sendiri, Tuhan. Mereka potong doa hamba. Sedikit tambahan saja, mohon kiranya Engkau beri mereka berkah bukan dalam bentuk pangan, tapi angan-angan,” tambah Wastib.

Baca Juga  Gema Palu di Ruang Hening

Alcatrox tidak hanya sebuah tempat. Lebih dari itu, ia adalah sistem penahanan, penyelidikan-penyidikan, penuntutan, penjatuhan hukuman, sekaligus pemenjaraan secara terintegrasi dan tersentralisasi pada Wastib sebagai One-Man Show. Para “murid” diborgol secara berantai. Kaki orang pertama terantai dan terhubung dengan tangan orang kedua, kaki orang kedua terantai dan terhubung dengan tangan orang ketiga, dan begitu seterusnya. Wastib terilhami setelah menonton film Human Centipede. Baginya, model pengekangan seperti ini menimbulkan rasa senasib dan sepenanggungan.

“Tidak perlu risau, kawan. Alcatrox tidak seburuk itu. Lihat betapa dinginnya AC yang Wastib sediakan untuk kita. Dengar-dengar, ia juga akan pasang home theater di sini,” ramah suara Fri Ta’im, adik tingkat dari Suput. Bisa disebut kakak kedua.

“Betul,” sahut Yesmen, boleh disebut kakak ketiga.

“Perlu kalian ketahui, di sini lebih enak dibanding di luar sana,” tambah Fri Ta’im.

“Mana mungkin enak, di mana letak enaknya?” tanya Ujur.

“Saya terangkan pelan-pelan, di sini kalian tidak perlu mencari makan dan minum, bahkan tidak perlu bayar pajak rukun tetangga, kegiatan gotong royong, membantu yang kesusahan. Kalian dibebaskan dari tanggung jawab. Manusia terpilih!” jawab Fri Ta’im.

“Benar,” sahut Yesmen.

“Ini sih barter tidak sebangun dan sebanding namanya. Boncos dong,” jawab Ujur.

Sebelum Fri Ta’im menjawab, Suput memotong, “Biarkan mereka merasakannya. Biarkan mereka nilai sendiri, Fri.”

“Setuju,” imbuh Yesmen.

Murid-murid Alcatrox yang kaki dan tangannya saling terantai dan terhubung, kecuali orang pertama dan orang terakhir, akhirnya saling membisu. Diam mereka diiringi Symphony No. 9 in D Minor, Op. 125 karya Ludwig van Beethoven yang diputarkan oleh Wastib pada pagi, siang, dan sore.

Pemutaran musik klasik adalah salah satu program yang disusun secara teliti dan terukur oleh Wastib. Selain itu, program unggulan lainnya adalah membacakan buku bagi para “murid”. Minggu ini jatah untuk novel karya Leo Tolstoy berjudul War and Peace. Bagi Wastib, membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan dan mengasah imajinasi, namun juga memperhalus jiwa.

Dan benar saja, Alcatrox tidak dikelilingi oleh tembok tinggi atau tebing berbatu, namun dikelilingi oleh tumpukan buku koleksi Wastib, yang tentunya belum ia baca seluruhnya. Sebagian besar asalnya karena impulsive buying, dan sisanya dari sumbangan. Wastib kerap bertanya kepada para “murid” Alcatrox, “Apakah kalian terbebas atau terkekang?”

Ketika mereka tidak mampu menjawab atau tidak paham pertanyaannya, Wastib sigap menambahkan, “Biarkan pengadilan sejarah yang membuktikan. Biarkan mahkamah histori yang putuskan.”

Bagi penulis, kisah ini bukanlah akhir. Ia adalah mukadimah bagi banyak babak selanjutnya. Untuk menutup babak pertama, izinkan penulis mengemukakan pertanyaan: Apakah penahanan terhadap Ujur dan Sibab telah sesuai dengan akal sehat?

Dr. H. Syamsul Arief, S.H., M.H.
Nugraha Wisnu Wijaya, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Oelamasi

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

roman
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Related Posts

Antara Buku, Pena, dan Penghapus

25 November 2025 • 14:45 WIB

Kemana Perginya?

25 November 2025 • 08:58 WIB

Gema Palu di Ruang Hening

24 November 2025 • 15:28 WIB
Demo
Top Posts

Pray for Sumatera — Doa, Empati, dan Solidaritas untuk Saudara Kita yang Terdampak Bencana

28 November 2025 • 16:42 WIB

Menjalin Jejak Kolaborasi Hijau: BSDK dan Departemen Kehakiman AS Bahas Kerja Sama Pelatihan Penegakan Hukum Satwa Liar

26 November 2025 • 19:14 WIB

Putusan yang Tak Bisa Dibacakan di Surga

26 November 2025 • 13:48 WIB

BSDK MA Gelar Pelatihan Filsafat Hukum untuk Hakim: Kelas Eksklusif Bagi Para Pencari Makna Keadilan

25 November 2025 • 12:16 WIB
Don't Miss

Pulau Weh: Riwayat Tentang Ombak, Batu Karang, dan Para Pengembara

By Redpel SuaraBSDK28 November 2025 • 20:01 WIB

Di ufuk utara Nusantara, Pulau Weh berdiri seperti batu karang agung yang sejak abad ke-16…

Pray for Sumatera — Doa, Empati, dan Solidaritas untuk Saudara Kita yang Terdampak Bencana

28 November 2025 • 16:42 WIB

JEJAK API YANG TAK BISA BERBOHONG

27 November 2025 • 15:05 WIB

Menjalin Jejak Kolaborasi Hijau: BSDK dan Departemen Kehakiman AS Bahas Kerja Sama Pelatihan Penegakan Hukum Satwa Liar

26 November 2025 • 19:14 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire SuaraBSDK Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.