Sang Sahabat
Aku mengenalnya sejak lama bukan sejak kami duduk sebangku, bukan pula sejak saling bertukar nomor telepon, melainkan sejak aku belajar memahami arti diam yang bekerja dan tindakan yang tidak ingin dipuji. Ia bukan siapa-siapa dalam daftar jabatan, bukan pula nama yang sering disebut dalam sambutan atau laporan tahunan. Tetapi entah mengapa, dalam banyak perkara kehidupan, justru dialah yang paling sering hadir tanpa undangan, tanpa pamrih.
Kami memanggilnya Sang Sahabat.
Ia tidak pernah keberatan dengan sebutan itu, meski aku tahu ia tidak terlalu suka kata yang terlalu besar. “Sahabat itu tugas berat,” katanya suatu hari. “Ia menuntut kejujuran, bahkan ketika kita ingin berbohong pada diri sendiri.”
Kalimat itu menggangguku lama.
Sang Sahabat adalah sosok yang sederhana. Pakaian kerjanya selalu rapi, tetapi tidak pernah mencolok. Sepatunya bersih, tetapi tidak mengkilap berlebihan. Ia datang lebih awal dari banyak orang, pulang lebih akhir dari kebanyakan yang lain. Anehnya, ia tidak pernah terlihat lelah atau mungkin lelahnya disimpan rapi di antara doa-doa yang tidak diucapkan keras-keras.
Jalan Sunyi Sang Sahabat
Dalam sebuah lingkungan yang gemar mengukur keberhasilan dari banyaknya bicara dan cepatnya naik jabatan, Sang Sahabat memilih jalan sunyi: bekerja tanpa banyak suara. Ia tahu benar bahwa tidak semua kebenaran perlu diumumkan, dan tidak semua kebaikan harus disaksikan manusia.
Aku sering bertanya-tanya, dari mana ia belajar semua itu.
Suatu hari, ketika hujan turun tanpa jeda, kami duduk di beranda kecil sambil menunggu waktu Magrib. Hujan di kota ini selalu membawa kenangan tentang doa-doa yang pernah naik bersama uap tanah basah. Aku memberanikan diri bertanya, “Kenapa kamu tidak pernah marah, bahkan ketika diperlakukan tidak adil?”
Ia tersenyum, senyum orang yang sudah lama berdamai dengan dirinya sendiri.
“Karena marah itu mahal,” katanya pelan. “Dan tidak semua hal layak dibayar dengan hati.”
Aku terdiam.
Di zaman ketika orang berlomba menuntut pengakuan, Sang Sahabat justru sibuk memperbaiki niat. Ketika banyak orang sibuk mencari panggung, ia sibuk mencari arah kiblat. Ia tahu benar bahwa hidup ini bukan kompetisi popularitas, melainkan perjalanan pulang.
Namun jangan salah. Ia bukan orang yang pasif. Ia tahu kapan harus bicara, dan lebih tahu kapan harus diam. Dalam rapat, suaranya jarang terdengar pertama. Tetapi ketika ia berbicara, ruangan mendadak hening. Bukan karena suaranya keras, melainkan karena kata-katanya jujur.
Dalam kehidupan sering kali ia sampaikan dengan cara yang paling lembut.
“Lucu ya,” katanya suatu ketika, “orang ingin terlihat paling sibuk, padahal yang paling sibuk seharusnya adalah hati sibuk memperbaiki diri.”
Aku tertawa kecil, meski tahu kalimat itu seperti cermin yang memantulkan wajahku sendiri.
Sang Sahabat tidak menghakimi. Ia tidak gemar memberi nasihat panjang. Tetapi kehadirannya sendiri sudah cukup menjadi pengingat. Ketika seseorang tergoda jalan pintas, ia hadir sebagai rambu yang diam. Ketika seseorang hampir menyerah, ia hadir sebagai kursi kosong yang siap diduduki untuk sekadar menghela napas.
Ia pernah berkata, “Kita ini sering sibuk membenarkan diri, lupa bertanya: apakah Allah ridha?”
Kalimat itu kembali menghantuiku.
Tuhan Tempat Bergantung dan Tempat Kembali
Dalam kehidupan sosial, kita sering memoles dosa dengan istilah-istilah cantik. Keserakahan disebut ambisi, ketidakjujuran disebut keluwesan, dan kelalaian disebut kesibukan. Sang Sahabat melihat semua itu, tetapi tidak dengan sinisme. Ia melihatnya dengan sedih yang produktif, yang melahirkan doa.
Ia percaya bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari teriakan, melainkan dari keteladanan. Ia percaya bahwa iman bukan sekadar hafalan, melainkan kebiasaan yang diulang dalam tindakan kecil.
Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas, ia selalu menyempatkan diri membaca beberapa ayat. Tidak lama, tidak pula panjang. “Sekadar mengingatkan diri,” katanya, “bahwa aku ini bukan pemilik hari ini.”
Aku sering mengejeknya dalam hati. Dalam dunia yang menuntut kecepatan, kebiasaan itu terasa seperti kemewahan. Tetapi anehnya, justru ia yang paling tenang menghadapi tekanan.
Suatu ketika, ia menjadi sasaran kesalahpahaman. Namanya disebut-sebut dalam bisik-bisik yang tidak enak. Banyak orang menyarankan agar ia membela diri, meluruskan cerita, bahkan menyerang balik. Ia hanya mengangguk.
“Jika aku benar,” katanya, “kebenaran tidak membutuhkan aku untuk berteriak. Jika aku salah, aku yang harus belajar.”
Aku tidak tahu apakah itu keberanian atau kepasrahan tingkat tinggi.
Hari-hari berlalu. Sang Sahabat tetap seperti itu. Dunia di sekelilingnya berubah cepat, penuh kegaduhan, penuh tuntutan instan. Ia tetap berjalan dengan langkah yang sama pelan, tetapi pasti.
Pada suatu malam, aku bertanya, “Apakah kamu tidak takut tertinggal?”
Ia tertawa kecil. “Takut tertinggal dari apa? Dunia ini sementara. Yang menakutkan justru tertinggal dari ampunan.”
Jawaban itu menamparku pelan.
Cerita tentang Konsistensi
Cerita tentang Sang Sahabat sebenarnya bukan cerita tentang kehebatan. Ini cerita tentang konsistensi sesuatu yang sering kita kagumi, tetapi jarang kita tiru. Ia tidak sempurna. Ia pernah kecewa, pernah sedih, pernah merasa sendirian. Tetapi ia tidak membiarkan perasaan itu mengendalikan akhlaknya.
Ia tahu bahwa hidup adalah ujian niat, bukan lomba citra.
Dalam sebuah percakapan terakhir sebelum kami berpisah arah, ia berkata, “Jika suatu hari aku tidak ada, jangan ingat aku sebagai orang baik. Ingat aku sebagai orang yang terus belajar menjadi lebih baik.”
Aku menunduk. Kata-kata itu terasa seperti doa.
Kini, setiap kali aku tergoda untuk mencari jalan mudah, aku teringat Sang Sahabat. Setiap kali aku ingin mengeluh, aku teringat ketenangannya. Setiap kali aku ingin diakui, aku teringat caranya menghilang dari sorotan.
Mungkin itulah makna sahabat yang sesungguhnya: bukan yang selalu ada di samping, tetapi yang selalu hadir dalam keputusan-keputusan penting hidup kita.
Dan mungkin, inspirasi terbesar bukan datang dari mereka yang bersuara paling keras, melainkan dari mereka yang paling khusyuk menjaga hati.
Sang Sahabat telah mengajarkanku satu hal penting:
bahwa hidup yang baik bukan tentang seberapa sering kita dipuji manusia,
tetapi seberapa sering kita jujur di hadapan Tuhan.
Dan sejak itu, aku mulai belajar pelan-pelan menjadi sahabat bagi diriku sendiri.
Tentang Kejujuran, Integritas, dan Keberanian
Beberapa orang menyebutnya naif. Sebagian lain menganggapnya terlalu lurus untuk dunia yang gemar berbelok. Di lorong-lorong sempit tempat keputusan kecil sering berdampak besar, Sang Sahabat kerap menjadi bahan perbincangan bukan karena kesalahannya, melainkan karena keteguhannya yang terasa asing.
“Apa gunanya jujur kalau yang lain licik tapi selamat?” tanya seseorang suatu siang.
Sang Sahabat tidak menjawab dengan debat. Ia hanya menatap sebentar, lalu berkata, “Keselamatan itu bukan hanya soal hari ini.”
Kalimat itu menggantung lama di udara.
Di tempat kami bekerja, banyak orang pandai berbicara tentang integritas, tetapi hanya sedikit yang mau hidup bersama risikonya. Spanduk-spanduk moral terpajang rapi, slogan-slogan kejujuran dicetak besar, namun sering kali hati manusianya tertinggal di belakang meja. Di sinilah dalam kehidupan bekerja tanpa perlu ditertawakan.
Sang Sahabat paham betul ironi itu.
Ia pernah berkata lirih, “Kita rajin menulis visi, tapi lupa menuliskannya di perilaku.”
Aku tersenyum pahit. Kalimat itu terlalu tepat untuk dibantah.
Dalam praktik keseharian, godaan tidak selalu berbentuk uang atau fasilitas. Kadang ia hadir sebagai pembenaran: semua orang juga begitu, ini demi kelancaran, atau yang penting hasil. Sang Sahabat selalu mengingatkan tanpa ceramah bahwa kelancaran tanpa keberkahan hanyalah percepatan menuju penyesalan.
Suatu pagi, ketika suasana kantor mulai dipenuhi wajah lelah dan target yang menumpuk, ia mengutip ayat dengan sangat sederhana, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri:
“Bukankah Allah telah berfirman bahwa Dia bersama orang-orang yang sabar?”
Tidak ada nada menggurui. Hanya pengingat.
Ia percaya bahwa sabar bukan sikap pasif, melainkan kemampuan menahan diri agar tidak tergelincir saat ada kesempatan. Dalam dunia yang mengagungkan hasil, Sang Sahabat justru sibuk menjaga proses.
Paling sunyi ketika ia tetap mematuhi aturan, sementara yang lain sibuk mencari celah. Anehnya, justru ia yang sering dianggap memperlambat. Padahal, ia sedang memastikan arah tidak salah.
“Lebih baik lambat asal selamat,” katanya suatu hari, “daripada cepat tapi kehilangan makna dan martabat.”
Hari itu, aku sadar: keberanian tidak selalu bersuara lantang. Kadang ia hadir sebagai penolakan halus terhadap hal yang biasa, tetapi salah.
Sang Sahabat tidak anti perubahan. Ia hanya menolak perubahan yang mengorbankan nilai. Ia tahu zaman bergerak cepat, teknologi memudahkan banyak hal, tetapi ia juga tahu bahwa akhlak tidak bisa di-upgrade jika niatnya rusak.
Dalam satu percakapan sore, ia berkata, “Kita ini sering sibuk mengamankan karier, lupa mengamankan akhirat.”
Aku terdiam lama.
Ia sering mengingatkan hadis Nabi tentang Amanah bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban. Tetapi ia menyampaikannya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat cinta.
“Kalau amanah terasa berat,” katanya, “itu tanda iman masih bekerja.”
Ketika konflik muncul antara prosedur dan kepentingan, antara aturan dan tekanan Sang Sahabat memilih berdiri di tengah badai dengan tenang. Ia tidak merasa paling benar, tetapi ia menolak menjadi bagian dari yang salah.
Beberapa orang menjauh. Beberapa lain mendekat diam-diam, mencari kekuatan dari ketenangannya.
Aku menyaksikan sendiri bagaimana ia pernah kalah secara duniawi. Kesempatan yang seharusnya ia dapatkan berpindah ke tangan lain yang lebih pandai bersiasat. Banyak yang menyayangkan, lebih banyak lagi yang berbisik, “Seandainya dia mau sedikit fleksibel.”
Ia hanya tersenyum.
“Mungkin Allah sedang mengajariku ikhlas,” katanya.
Kalimat itu sederhana, tetapi sulit ditiru.
Di tengah semua itu, Sang Sahabat tetap menjaga kebiasaan kecilnya: shalat tepat waktu, menyapa petugas paling bawah dengan hormat yang sama, dan tidak pernah memulai hari tanpa doa. Ia yakin bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi posisi, melainkan seberapa bersih hati saat berada di posisi apa pun.
Suatu malam, saat kami berjalan pulang, aku bertanya, “Apa yang paling kamu takuti?”
Ia berhenti sejenak. Menatap langit yang gelap.
“Aku takut terbiasa dengan yang salah,” jawabnya.
Jawaban itu membuatku menggigil.
Kini aku mengerti, Sang Sahabat bukan sekadar tokoh dalam hidupku. Ia adalah cermin yang kadang membuatku tidak nyaman karena memperlihatkan apa adanya. Ia adalah satire hidup yang berjalan, tanpa harus menertawakan siapa pun.
Ia mengajarkanku bahwa iman tidak selalu tampak heroik. Kadang ia hanya berupa pilihan kecil yang konsisten.
Bahwa inspirasi sejati tidak lahir dari kata-kata indah, melainkan dari kesetiaan pada nilai saat tidak ada yang melihat.
Dan aku percaya, di negeri ini, kita tidak kekurangan orang pintar. Kita hanya sering kekurangan Sang Sahabat, mereka yang bersedia menjaga nurani di tengah riuhnya kepentingan.
Jika suatu hari kau bertanya padaku, siapa orang paling berpengaruh dalam hidupku, aku tidak akan menyebut nama besar. Aku akan menyebut seseorang yang mengajarkanku satu hal sederhana namun mahal:
Bahwa hidup yang lurus mungkin tidak selalu membuat kita cepat sampai,
tetapi ia memastikan kita tidak tersesat.
Dan itulah warisan terbesar Sang Sahabat inspirasi yang tidak berisik, iman yang tidak dipamerkan, dan kejujuran yang tetap tegak meski dunia sering mengajarkan sebaliknya.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


