Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pembentukan Habitus Yudisial dalam Perspektif Pierre Bourdieu

10 March 2026 • 21:01 WIB

Pengadilan di Tengah Badai Politik: Refleksi Keadilan dari The Trial of the Chicago 7

10 March 2026 • 20:12 WIB

Tim Penyusun Naskah Urgensi Perubahan PERMA 3/2020 Audiensi ke PT Bandung dan PTA Bandung

10 March 2026 • 17:37 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Pembentukan Habitus Yudisial dalam Perspektif Pierre Bourdieu
Artikel

Pembentukan Habitus Yudisial dalam Perspektif Pierre Bourdieu

Maria Fransiska WalintukanMaria Fransiska Walintukan10 March 2026 • 21:01 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pemikiran Pierre Bourdieu-sosiolog paling berpengaruh dalam ilmu sosial kontemporer-menjadi salah satu kerangka teoritis penting dalam studi sosiologi hukum modern. Melalui konsep field, habitus, capital, dan symbolic power, Bourdieu menawarkan pendekatan analitis untuk memahami hukum sebagai arena sosial yang dipenuhi relasi kekuasaan. Dalam artikelnya yang terkenal, “The Force of Law: Toward a Sociology of the Juridical Field”, Bourdieu menunjukkan bahwa hukum tidak hanya merupakan sistem norma yang netral, melainkan hasil dari kompetisi antaraktor dalam juridical field untuk menentukan interpretasi hukum yang sah (Bourdieu, 1987).

Pendekatan Bourdieusian telah banyak digunakan dalam kajian socio-legal studies, khususnya untuk menganalisis profesi hukum dan dinamika kekuasaan dalam bidang hukum, namun perhatian terhadap peran pendidikan hakim sebagai mekanisme pembentukan habitus yudisial masih relatif terbatas. Sebagian besar penelitian berfokus pada struktur profesi hukum, praktik litigasi, atau relasi kekuasaan antaraktor dalam sistem hukum, sementara dimensi pendidikan dan pelatihan hakim sebagai proses institusional yang membentuk disposisi profesional hakim belum banyak dianalisis secara sistematis. Kekosongan ini menjadi semakin relevan dalam konteks reformasi peradilan di berbagai negara, di mana kualitas pendidikan hakim sering dipandang sebagai faktor penting dalam membentuk budaya yudisial yang independen, reflektif, dan responsif terhadap dinamika sosial.

Konsep juridical field menggambarkan institusi peradilan sebagai jaringan aktor (hakim, advokat, akademisi hukum, dan pejabat negara) yang berinteraksi dalam suatu struktur kekuasaan simbolik. Para aktor tersebut memiliki berbagai bentuk kapital, seperti academic, professional, dan symbolic. Kapital inilah yang menentukan posisi para aktor dalam struktur kekuasaan hukum. Dalam konteks ini, hakim memiliki legal capital yang memberikan legitimasi untuk menafsirkan hukum secara otoritatif. Maka, putusan pengadilan tidak hanya merupakan penerapan norma hukum, tetapi juga praktik sosial yang memproduksi dan mereproduksi otoritas hukum (Bourdieu, 1987; Dezalay & Garth, 1996).

Kajian socio-legal studies menunjukkan bahwa perilaku hakim tidak hanya dapat dipahami melalui doktrin hukum formal. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal seperti Law & Social Inquiry dan Social & Legal Studies menunjukkan bahwa keputusan hakim dipengaruhi oleh habitus profesional yang terbentuk melalui pendidikan hukum, pengalaman praktik, serta budaya institusi peradilan. Bourdieu mendefinisikan habitus sebagai sistem disposisi yang tertanam melalui proses sosialisasi yang panjang dan membentuk cara individu memahami dunia sosial (Bourdieu, 1990).

Dalam profesi hukum, habitus yudisial terbentuk melalui pendidikan formal di fakultas hukum, pelatihan profesional, serta pengalaman institusional dalam sistem peradilan. Pendidikan dan pelatihan hakim diharapkan tidak hanya mewariskan pengetahuan hukum, tetapi juga membentuk orientasi intelektual dan profesional hakim dalam menjalankan fungsi yudisialnya. Perspektif Bourdieusian menunjukkan bahwa lembaga pendidikan hukum berperan sebagai mekanisme reproduksi struktur kekuasaan dalam bidang hukum dengan menghasilkan legal capital yang menentukan legitimasi profesional para aktor hukum (Bourdieu, 1984; Swartz, 1997).

Dalam konteks ini, pendidikan hakim dapat dipahami sebagai proses institusional yang membentuk identitas profesional sekaligus memperkuat posisi hakim dalam juridical field. Bahasa hukum, format putusan, dan gaya argumentasi yudisial berfungsi sebagai praktik simbolik yang membangun legitimasi keputusan hakim dan memperkuat otoritas lembaga peradilan.

Baca Juga  Peningkatan Kesejahteraan Hakim sebagai Pintu Masuk Perbaikan Peradilan Berkelanjutan

Pandangan tersebut menjadi relevan dalam diskursus tentang peradilan modern. Dengan kesadaran bahwa reformasi peradilan tidak hanya berkaitan dengan perubahan regulasi atau struktur organisasi, tetapi juga dengan transformasi habitus profesional para hakim. Desain pendidikan dan pelatihan hakim kemudian menjadi faktor kunci dalam membentuk budaya yudisial yang mendukung independensi, integritas, dan akuntabilitas peradilan.

Dalam konteks Indonesia, peran Mahkamah Agung sangat sentral dan strategis atas konsistensi penerapan hukum dan memastikan akses masyarakat terhadap keadilan. Meski demikian, pengadilan sebagai arena sosial tidak pernah sepenuhnya netral. Kompleksitas aturan hukum serta praktik penafsiran hukum yang kaku sering kali menempatkan pengadilan dalam tarik-menarik antara kekuasaan dan keadilan.

Dalam situasi tersebut, hakim menjadi aktor kunci dalam menentukan orientasi lembaga peradilan. Pendidikan hakim sebagai tahap awal pembentukan habitus profesional seyogyanya tidak hanya berfungsi sebagai wahana pendidikan teoritis dan pelatihan teknis prosedur persidangan. Lebih jauh, tahapan tersebut perlu menjadi ruang reflektif yang memungkinkan calon hakim dan hakim memahami hubungan antara das sollen dan das sein. Serta mempertimbangkan sejauh mana hukum mampu mewujudkan keadilan dalam praktik.

Kritik terhadap kesenjangan antara hukum dan keadilan juga dikemukakan oleh Jacques Derrida dalam esainya “Force of Law: The Mystical Foundation of Authority.” Hukum dan keadilan tidak pernah sepenuhnya identik. Sebagai sistem aturan positif, hukum sering kali tidak mampu sepenuhnya merepresentasikan keadilan yang bersifat terbuka dan tak tereduksi. Sehingga, hukum harus selalu terbuka terhadap proses deconstruction, yaitu upaya kritis untuk meninjau kembali struktur makna yang menopang otoritas hukum (Derrida, 1992).

Dalam pandangan Derrida, hukum pada dasarnya merupakan praktik interpretatif yang bergantung pada Bahasa yang membawa sejarah, makna, dan ambiguitas yang membuatnya tidak pernah sepenuhnya netral. Sebagai konsekuensi, pencarian kepastian absolut melalui formalisme hukum sering kali menjadi problematik. Kesadaran terhadap dimensi interpretasi hukum ini memiliki implikasi penting bagi pendidikan hakim. Tidak hanya terbatas pada penguasaan doktrin hukum formal, tetapi juga mencakup refleksi kritis terhadap bagaimana hukum bekerja dalam realitas sosial.

Secara umum, pendidikan hukum di Indonesia masih cenderung didominasi oleh pendekatan doktrinal yang mengulang teori-teori klasik seperti yang dikemukakan oleh Hans Kelsen dan John Rawls yang terkadang luput mengaitkannya secara mendalam dengan dinamika sosial hukum. Akibatnya, pendidikan hukum berpotensi menghasilkan profesional yang mahir memahami teks hukum, tetapi kurang peka terhadap dimensi sosial dari praktik hukum.

Dalam kacamata Bourdieu, kondisi tersebut dapat dipahami sebagai proses reproduksi symbolic capital dalam juridical field. Pendidikan hakim menghasilkan legitimasi profesional sekaligus menempatkan hakim dalam struktur kekuasaan hukum yang telah ada. Fenomena ini berkaitan dengan konsep distinction, yang digunakan Bourdieu untuk menjelaskan bagaimana individu menampilkan posisi sosial melalui simbol status dan praktik budaya tertentu (Bourdieu, 1984).

Baca Juga  Menyulam Mutu, Menjemput Reputasi: Catatan dari Workshop Jurnal Hukum dan Peradilan di Bali

Dalam konteks profesi hukum, distinction dapat tercermin dalam berbagai bentuk, mulai dari simbol status profesional hingga budaya institusional, yang menegaskan hierarki sosial dalam lembaga peradilan. Kapital simbolik dan sosial yang dimiliki hakim tidak hanya memberikan legitimasi profesional, tetapi juga membentuk relasi kekuasaan yang dapat memengaruhi proses penafsiran hukum.

Untuk merespons dinamika tersebut, pendidikan hakim perlu dirancang sebagai ruang pembelajaran yang lebih reflektif dan multidisipliner. Kritik terhadap model pendidikan hukum formalistik pernah disampaikan oleh Duncan Kennedy dalam tradisi Critical Legal Studies. Kennedy berpendapat bahwa pendidikan hukum seharusnya tidak hanya melatih pemahaman doktrin hukum, tetapi juga mendorong analisis terhadap hubungan antara hukum, politik, ekonomi, dan masyarakat (Kennedy, 1982).

Pendekatan multidisipliner menjadi penting karena hakim dalam praktiknya berhadapan dengan persoalan hukum yang memiliki dimensi sosial yang kompleks. Hakim tidak hanya menafsirkan undang-undang, tetapi juga menilai fakta sosial yang berkembang dalam masyarakat. Dalam konteks ini, kemampuan melihat perkara dari berbagai perspektif menjadi bagian penting dari kompetensi yudisial.

Pada akhirnya, reformasi pendidikan hakim dapat menjadi strategi penting dalam memperkuat kualitas sistem peradilan. Integrasi perspektif sosiologi hukum, filsafat hukum, dan ilmu sosial lainnya dapat membantu membentuk habitus yudisial yang lebih reflektif, kritis, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Dalam kerangka Bourdieusian, transformasi ini berarti membentuk konfigurasi baru dalam juridical field, di mana hakim tidak lagi dipandang sebagai “la bouche de la loi”, tetapi sebagai aktor institusional yang bertanggung jawab menafsirkan hukum secara bijaksana untuk mewujudkan keadilan.

DAFTAR PUSTAKA

Bourdieu, Pierre. 1984. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Cambridge: Harvard University Press.

Bourdieu, Pierre. 1987. “The Force of Law: Toward a Sociology of the Juridical Field.” Hastings Law Journal 38.

Bourdieu, Pierre. 1990. The Logic of Practice. Stanford: Stanford University Press.

Derrida, Jacques. 1992. “Force of Law: The Mystical Foundation of Authority.” In Deconstruction and the Possibility of Justice, edited by Drucilla Cornell, Michel Rosenfeld, and David Gray Carlson. New York: Routledge.

Dezalay, Yves, and Bryant Garth. 1996. Dealing in Virtue: International Commercial Arbitration and the Construction of a Transnational Legal Order. Chicago: University of Chicago Press.

Kennedy, Duncan. 1982. “Legal Education and the Reproduction of Hierarchy.” Journal of Legal Education 32.

Swartz, David. 1997. Culture and Power: The Sociology of Pierre Bourdieu. Chicago: University of Chicago Press.

Maria Fransiska Walintukan
Kontributor
Maria Fransiska Walintukan
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

habitus yudisial Pendidikan Hakim pierre bourdieu Reformasi Peradilan Sosiologi Hukum
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Pengadilan di Tengah Badai Politik: Refleksi Keadilan dari The Trial of the Chicago 7

10 March 2026 • 20:12 WIB

Amanah di Balik Kesejahteraan Hakim:

10 March 2026 • 15:40 WIB

Potensi Hangusnya Hak Cuti Tahunan Calon Hakim Dalam Masa Pendidikan Dan Pelatihan: Sebuah Solusi Normatif

10 March 2026 • 15:02 WIB
Demo
Top Posts

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB

Penerapan Asas Equality Of Arms dalam Pembuktian Kebocoran Data Pribadi

24 February 2026 • 09:05 WIB
Don't Miss

Pembentukan Habitus Yudisial dalam Perspektif Pierre Bourdieu

By Maria Fransiska Walintukan10 March 2026 • 21:01 WIB0

Pemikiran Pierre Bourdieu-sosiolog paling berpengaruh dalam ilmu sosial kontemporer-menjadi salah satu kerangka teoritis penting dalam…

Pengadilan di Tengah Badai Politik: Refleksi Keadilan dari The Trial of the Chicago 7

10 March 2026 • 20:12 WIB

Tim Penyusun Naskah Urgensi Perubahan PERMA 3/2020 Audiensi ke PT Bandung dan PTA Bandung

10 March 2026 • 17:37 WIB

Soal Pungli di Peradilan, Ketua Mahkamah Agung: Rp1.000 pun Kami Tindak

10 March 2026 • 16:40 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Pembentukan Habitus Yudisial dalam Perspektif Pierre Bourdieu
  • Pengadilan di Tengah Badai Politik: Refleksi Keadilan dari The Trial of the Chicago 7
  • Tim Penyusun Naskah Urgensi Perubahan PERMA 3/2020 Audiensi ke PT Bandung dan PTA Bandung
  • Soal Pungli di Peradilan, Ketua Mahkamah Agung: Rp1.000 pun Kami Tindak
  • Optimalisasi Mediasi Berbuah Manis: Indeks Perdamaian Peradilan Agama Tembus 60,51%

Recent Comments

  1. duspatal on Konsekuensi Hukum Penetapan Pengembalian Berkas oleh KPN dalam Proses MKR di Tingkat Penyidikan dan Penuntutan
  2. bnf levothyroxine on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  3. doxycycline on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Mayor Laut (H) A. Junaedi, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Letkol Chk Dendi Sutiyoso, S.S., S.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.