Dalam diskursus pemberantasan korupsi, sering muncul pertanyaan klasik “mengapa pejabat tetap korup meskipun sistem pengawasan diperketat?” Banyak negara berkembang menjawabnya dengan menambah lapisan prosedur, membentuk komite etik atau meluncurkan program simbolik seperti zona integritas. Namun, sejumlah negara dengan tingkat korupsi rendah justru mengambil pendekatan yang lebih sederhana, keras dan rasional yaitu sistem gaji pejabat yang tinggi (high public officials’ remuneration) yang dipadukan dengan sanksi hukum yang tegas dan tanpa kompromi (zero tolerance enforcement).
Pendekatan ini bertumpu pada satu asumsi dasar pejabat publik adalah rational actors. Mereka mempertimbangkan untung-rugi (cost benefit calculation) sebelum bertindak. Jika keuntungan korupsi kecil dan risikonya besar baik secara finansial, hukum maupun reputasi maka korupsi menjadi pilihan yang irasional.
Rasionalitas di Balik Gaji Pejabat yang Tinggi
Konsep gaji pejabat yang tinggi sering disalahpahami sebagai pemborosan anggaran atau privilese elite. Padahal, dalam kerangka public governance, gaji tinggi adalah instrumen kebijakan (policy instrument), bukan hadiah.
Negara seperti Singapura misalnya, secara sadar menetapkan gaji menteri, hakim dan pejabat senior setara atau mendekati pendapatan sektor swasta (market competitive salary). Tujuannya bukan memanjakan pejabat, melainkan menciptakan opportunity cost yang sangat tinggi. Semakin besar pendapatan sah yang diterima, semakin besar pula kerugian yang ditanggung jika jabatan itu hilang akibat korupsi.
Dalam istilah ekonomi, ini disebut efficiency wage theory (membayar pegawai lebih tinggi dari rata-rata pasar untuk mendorong kinerja, loyalitas dan kepatuhan). Ketika pejabat tahu bahwa satu pelanggaran saja bisa menghapus karir bernilai puluhan tahun, maka pada akhirnya inisiatif untuk menyimpang akan menurun drastis.
Menghilangkan Alibi Moral
Di banyak negara, korupsi sering dibenarkan dengan narasi moral yaitu gaji kecil, kebutuhan keluarga atau tekanan sosial. Sistem gaji tinggi secara sistematis akan menghilangkan alibi tersebut (removal of moral excuse). Negara seakan berkata “kami telah membayar Anda secara layak dan terhormat, jadi tidak ada justifikasi apa pun untuk penyimpangan”.
Dengan demikian, korupsi tidak lagi dipersepsikan sebagai kegagalan sistem melainkan sebagai kesalahan personal (individual moral failure). Ini penting karena akuntabilitas menjadi jelas dan tidak kabur oleh alasan struktural.
Sanksi Keras sebagai Pilar Kedua
Gaji tinggi saja tidak cukup tanpa penegakan hukum yang tegas. Gaji tinggi justru berpotensi melahirkan elite corruption. Oleh karena itu, pilar kedua dari model ini adalah sanksi yang keras dan berat (severe sanctions) yang diterapkan secara konsisten.
Sanksi keras tersebut harus mencakup:
- hukuman penjara yang nyata (effective imprisonment),
- denda besar dan perampasan aset (asset forfeiture),
- pemecatan tidak hormat (dismissal with prejudice),
- serta kehancuran reputasi publik (reputational ruin).
Dan yang terpenting adalah sanksi ini bersifat tanpa pandang bulu (non-discriminatory enforcement). Jabatan tinggi tidak menjadi perisai melainkan justru memperberat tanggung jawab (higher office, higher accountability).
Zero Tolerance dan Kredibilitas Negara
Istilah zero tolerance sering terdengar klise, tetapi dalam konteks ini ia memiliki makna konkret yaitu tidak ada ruang diskresi untuk kompromi politik. Penegakan hukum dilakukan cepat, transparan dan berbasis bukti (evidence-based prosecution).
Dalam konteks Indonesia, prinsip zero tolerance enforcement bukanlah sekadar konsep teoritis. Ketua Mahkamah Agung, dalam berbagai kesempatan resmi, secara konsisten menegaskan bahwa tidak ada ruang kompromi terhadap pelanggaran integritas aparatur peradilan. Penekanan berulang ini memiliki makna institusional yang penting bahwa integritas bukan preferensi individual, melainkan garis kebijakan (policy line) yang mengikat seluruh jajaran. Pesan tersebut menegaskan bahwa jabatan, senioritas maupun prestasi masa lalu tidak dapat dijadikan alasan untuk toleransi terhadap penyimpangan. Dengan demikian, zero tolerance diposisikan bukan sebagai slogan moral, melainkan sebagai komitmen struktural untuk menjaga kredibilitas lembaga peradilan dan kepercayaan publik.
Kredibilitas sistem bergantung pada konsistensi. Sekali negara ragu menindak pejabat tinggi, seluruh bangunan integritas runtuh. Sebaliknya, satu kasus penindakan tegas terhadap elite dapat menciptakan efek jera yang luas (deterrence effect).
Perbandingan dengan Pendekatan Administratif
Banyak negara memilih jalur administrative seperti pedoman etik, laporan kepatuhan dan evaluasi berbasis dokumen. Pendekatan ini penting tetapi memiliki keterbatasan. Ia rawan menjadi formalistic compliance (patuh di atas kertas, rapuh dalam praktik).
Model gaji yang tinggi + sanksi keras berbeda karena:
- berfokus pada individu, bukan sekadar institusi,
- menargetkan insentif ekonomi dan risiko hukum,
- tidak bergantung pada simbol atau predikat.
Integritas tidak diukur dari sertifikat, melainkan dari ketiadaan impunitas (absence of impunity).
Risiko dan Kritik
Tentu, model ini bukan tanpa kritik. Ada kekhawatiran tentang kecemburuan sosial (social resentment) dan persepsi ketidakadilan. Namun, kritik ini dapat dijawab dengan transparansi dan hasil nyata. Publik cenderung akan menerima kenyataan gaji pejabat yang tinggi jika disertai dengan layanan publik yang berkualitas dan rendahnya korupsi.
Risiko lain adalah kegagalan penegakan hukum. Jika sanksi keras tidak benar-benar diterapkan, maka gaji yang tinggi justru memperparah ketimpangan. Artinya, kedua pilar harus berjalan simultan (jointly and consistently).
Integritas sebagai Keputusan Rasional
Model ini menempatkan integritas bukan sebagai slogan moral melainkan sebagai keputusan rasional (rational choice). Pejabat jujur bukan karena diawasi terus-menerus tetapi karena secara logis kejujuran adalah pilihan paling menguntungkan.
Dalam konteks ini, negara bertindak seperti arsitek insentif (incentive architect). Ia mendesain sistem di mana perilaku benar dihargai dan penyimpangan dihukum secara mahal.
Penutup
Sistem gaji pejabat yang tinggi yang dipadukan dengan sanksi keras adalah pendekatan yang realistis dan terbukti efektif di beberapa negara. Ia tidak menjanjikan kesempurnaan moral tetapi menawarkan stabilitas perilaku. Dengan menggabungkan high remuneration, strict enforcement, dan zero tolerance policy, negara menciptakan lingkungan di mana korupsi bukan hanya salah tetapi juga bodoh.
Pada akhirnya, integritas publik tidak tumbuh dari spanduk dan jargon, melainkan dari keputusan rasional yang dipaksa oleh sistem yang kredibel (credible institutional framework).
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


