Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Kebugaran: Kemeriahan Senam Pagi Bersama di Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI

November 6, 2026

Dilmil IV-16 Balikpapan Jalin Sinergi dengan SMKN 1 Balikpapan, Buka Peluang PKL dan Edukasi Hukum Bagi Generasi Muda

November 6, 2026

Hakim Anak Dibekali Pemahaman Hak Anak, Pekerja Sosial Kemensos: “Orang Tua Jangan Hanya Sibuk Cari Uang”

November 6, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Independensi dan Transparansi Peradilan Militer dalam Bingkai Negara Hukum

Independensi dan Transparansi Peradilan Militer dalam Bingkai Negara Hukum

Ahmad JunaediBy Ahmad JunaediMarch 18, 2026 · 19:30 WIB12 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Abstrak

Peradilan Militer merupakan salah satu lingkungan peradilan yang diakui dalam sistem kekuasaan kehakiman Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Namun keberadaannya sering menjadi objek diskursus dalam kajian hukum, khususnya berkaitan dengan prinsip independensi peradilan, transparansi, serta asas persamaan di hadapan hukum (equality before the law). Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kedudukan Peradilan Militer dalam sistem kekuasaan kehakiman Indonesia setelah diterapkannya sistem satu atap (one roof system) di bawah Mahkamah Agung, serta menelaah bagaimana prinsip independensi, akuntabilitas, dan transparansi dijalankan dalam praktik peradilan militer. Penulisan ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan menelaah peraturan perundang-undangan serta literatur hukum yang relevan, disertai pendekatan komparatif terhadap praktik peradilan militer di beberapa negara. Kajian ini menunjukkan bahwa secara kelembagaan Peradilan Militer di Indonesia telah ditempatkan dalam kerangka kekuasaan kehakiman yang independen, namun tantangan utama tetap terletak pada konsistensi dalam menjaga integritas hakim serta transparansi proses peradilan.

Kata Kunci

Peradilan Militer; Independensi Hakim; Kekuasaan Kehakiman; Negara Hukum; Transparansi Peradilan.

Pendahuluan

Indonesia sebagai negara hukum menempatkan hukum sebagai dasar dalam penyelenggaraan kekuasaan negara. Prinsip tersebut ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Konsekuensi dari prinsip ini adalah bahwa seluruh kekuasaan negara harus tunduk pada hukum, termasuk kekuasaan kehakiman sebagai institusi yang memiliki fungsi utama menegakkan hukum dan keadilan.

Dalam sistem peradilan Indonesia, Peradilan Militer merupakan salah satu lingkungan peradilan yang memiliki karakteristik khusus karena berkaitan dengan sistem disiplin dan struktur organisasi militer. Karakteristik ini sering memunculkan perdebatan dalam diskursus hukum, khususnya mengenai bagaimana prinsip independensi peradilan dapat dijalankan dalam institusi yang secara organisatoris memiliki struktur komando yang kuat.

Penulisan utama dalam tulisan ini adalah bahwa keberadaan Peradilan Militer tidak bertentangan dengan prinsip negara hukum sepanjang sistem tersebut ditempatkan secara jelas dalam kerangka kekuasaan kehakiman yang independen, transparan, dan akuntabel. Dengan kata lain, yang menjadi persoalan bukanlah eksistensi Peradilan Militer itu sendiri, melainkan bagaimana memastikan bahwa hakim militer menjalankan fungsi yudisialnya secara bebas dari pengaruh komando maupun tekanan institusional. Sebagaimana pernah diingatkan oleh Montesquieu:

“There is no liberty if the judiciary power be not separated from the legislative and executive.”

Kutipan tersebut mengingatkan bahwa kebebasan warga negara hanya dapat terjamin apabila kekuasaan kehakiman benar-benar berdiri secara independen dari kekuasaan lainnya.

Kedudukan Peradilan Militer dalam Sistem Kekuasaan Kehakiman

Perubahan Undang Undang Dasar 1945 melalui Amandemen   ke-I sampai dengan ke-IV membawa perubahan mendasar terhadap penyelengaraan kekuasaan kehakiman, dan diatur lebih lanjut dengan  Undang-Undang  Nomor 4 Tahun 2004 yang pada saat ini telah berubah menjadi Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Konsekuensi dari perubahan ini adalah pengalihan organisasi, administrasi, dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung.

Peradilan Militer  merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari empat lingkungan peradilan lainnya sebagaimana amanat dari Udang-Undang Dasar tahun 1945 , Pasal 24 Ayat (2) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Amandemen ketiga merumuskan sebagai berikut:

“Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.”

Dengan demikian, Peradilan Militer memiliki kedudukan konstitusional yang setara dengan lingkungan peradilan lainnya.

Dengan adanya pengalihan tersebut, pembinaan teknis yudisial hakim militer dilakukan oleh Mahkamah Agung sebagaimana diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. Hal ini menunjukkan bahwa dalam menjalankan fungsi yudisialnya, hakim militer berada dalam sistem pembinaan yang sama dengan hakim pada lingkungan peradilan lainnya.

Sebelum adanya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tersebut, Pembinaan Peradilan Militer berada di bawah Markas Besar Tentara Nasional Indonesia. Sampai dengan terbitnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2004 tentang Pengalihan Organisasi, Administrasi, dan Finansial Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Militer dari Markas Besar Tentara Nasional Indonesia ke Mahkamah Agung Republik Indonesia. Dan terhitung sejak 1 September 2004, organisasi, administrasi, dan finansial Peradilan Militer dialihkan dari TNI ke Mahkamah Agung. Akibat peralihan ini, seluruh prajurit TNI dan PNS yang bertugas pada pengadilan dalam lingkup peradilan militer akan beralih menjadi personel organik Mahkamah Agung, meski pembinaan keprajuritan bagi personel militer tetap dilaksanakan oleh Mabes TNI.

Berdasarkan Pasal 45 UU. No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan kehakiman, sejak dialihkannya organisasi, administrasi dan finansial sebagaimana dimaksud oleh Pasal 42 Ayat (3) maka :

1.   Pembinaan personil Militer di Lingkungan Peradilan Militer di Iaksanakan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang mengatur personil Militer. (berkaitan dengan kenaikan pangkat)

2.   Semua PNS di Lingkungan Peradilan Militer beralih menjadi PNS di Mahkamah Agung.

Dengan demikian Pemindahan kewenangan bidang organisasi, administrasi dan finansial Lembaga Peradilan dari eksekutif kepada yudikatif berdasar UU. No. 4 Tahun 2004 tersebut yang kemudian dirubah menjadi Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman , maka pembinaan Bidang Teknis Yudisial dan Non Teknis Yudisial Lembaga Peradilan kini berada satu atap di bawah kekuasaan Mahkamah Agung;

Upaya penguatan independensi peradilan semakin diperkuat melalui penerapan sistem satu atap (one roof system) di bawah Mahkamah Agung sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Baca Juga  ZI Bukan Sekadar Predikat: Integritas Harus Menjadi Budaya, Kemanfaatan Harus Dirasakan

Melalui sistem ini, pembinaan organisasi, administrasi, dan finansial badan peradilan, termasuk Peradilan Militer, berada di bawah Mahkamah Agung. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menghilangkan potensi intervensi dari kekuasaan lain terhadap lembaga peradilan.

Penguatan independensi ini juga tercermin dalam berbagai aspek pembinaan kelembagaan, antara lain proses rekrutmen hakim militer, pendidikan dan pelatihan teknis yudisial, pembinaan karier hakim, hingga pengembangan organisasi pengadilan militer yang dilakukan dalam kerangka kebijakan Mahkamah Agung. Bahkan indikator kinerja satuan kerja pengadilan militer juga mengikuti standar yang ditetapkan Mahkamah Agung sebagaimana diatur dalam Keputusan Sekretaris Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 27101/SEK/SK.RA1.3/X/2025 tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama Pengadilan Tingkat Banding dan Tingkat Pertama di Lingkungan Mahkamah Agung Tahun 2025-2029.

Dengan demikian, secara kelembagaan Peradilan Militer tidak lagi berada dalam sistem pembinaan yang terpisah, melainkan menjadi bagian integral dari sistem peradilan nasional yang berada di bawah Mahkamah Agung.

Mekanisme Pengawasan Hakim Militer

Independensi peradilan tidak dapat dipisahkan dari prinsip akuntabilitas. Hakim yang independen bukanlah hakim yang bebas tanpa pengawasan, melainkan hakim yang menjalankan kewenangannya secara mandiri namun tetap dapat dimintai pertanggungjawaban secara etik dan profesional.

Dalam sistem peradilan Indonesia, pengawasan terhadap hakim dilakukan melalui dua mekanisme, yaitu pengawasan internal dan pengawasan eksternal.

Pengawasan internal dilakukan oleh Mahkamah Agung melalui Badan Pengawasan sebagaimana diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pengawasan dan Pembinaan Atasan Langsung di Lingkungan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di Bawahnya.

Sementara itu pengawasan eksternal dilakukan oleh Komisi Yudisial berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam ketentuan tersebut dinyatakan bahwa Komisi Yudisial memiliki kewenangan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.

Dalam praktiknya, Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial juga telah membentuk berbagai instrumen pengawasan bersama, antara lain melalui Peraturan Bersama Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial Nomor 04/PB/MA/IX/2012 dan Nomor 04/PB/P.KY/09/2012 tentang Tata Cara Pembentukan, Tata Kerja, dan Tata Cara Pengambilan Keputusan Majelis Kehormatan Hakim, serta Peraturan Bersama Nomor 02/PB/MA/IX/2012 dan Nomor 02/PB/P.KY/09/2012 tentang Panduan Penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim. Ketentuan ini berlaku bagi seluruh hakim di Indonesia, termasuk hakim militer.

Dengan demikian, apabila terdapat dugaan pelanggaran etik oleh hakim militer, proses pemeriksaannya dilakukan melalui mekanisme yang sama sebagaimana berlaku bagi hakim pada lingkungan peradilan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi akuntabilitas kelembagaan, Peradilan Militer tidak berada di luar sistem pengawasan peradilan nasional.

Independensi Peradilan dalam Perspektif Pemikiran Hukum Internasional

Independensi peradilan merupakan prinsip universal dalam sistem negara hukum modern. Banyak pakar hukum menempatkan independensi hakim sebagai prasyarat utama bagi tegaknya keadilan.

Montesquieu dalam karyanya The Spirit of the Laws menegaskan bahwa kebebasan hanya dapat terjamin apabila kekuasaan kehakiman dipisahkan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif. Pemisahan tersebut dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan yang dapat mengancam kebebasan warga negara.

Pandangan tersebut kemudian berkembang dalam teori konstitusional modern. Alexander Hamilton dalam The Federalist Papers menyatakan bahwa lembaga peradilan harus memiliki independensi yang kuat agar mampu menjadi penjaga konstitusi serta pelindung hak-hak masyarakat dari kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan oleh negara.

Dalam perkembangan hukum internasional, prinsip independensi peradilan juga ditegaskan dalam United Nations Basic Principles on the Independence of the Judiciary (1985) yang menyatakan bahwa hakim harus bebas dari tekanan, ancaman, atau intervensi dari pihak mana pun dalam menjalankan tugas yudisialnya.

Prinsip-prinsip tersebut memberikan landasan moral dan normatif bahwa independensi hakim bukan sekadar persoalan kelembagaan, melainkan juga persoalan integritas pribadi hakim itu sendiri.

Sementara itu, Ronald Dworkin menegaskan bahwa hukum tidak semata-mata merupakan kumpulan aturan, melainkan juga merupakan sistem prinsip yang harus ditafsirkan dengan integritas moral oleh hakim.

Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa keadilan tidak hanya bergantung pada teks hukum, tetapi juga pada integritas moral hakim dalam menerapkan hukum tersebut.

Analisis Komparatif Peradilan Militer di Beberapa Negara

Dalam praktik internasional, sistem peradilan militer tetap dipertahankan di berbagai negara demokratis dengan model yang berbeda-beda.

Di Amerika Serikat, sistem peradilan militer diatur melalui Uniform Code of Military Justice (UCMJ) yang memberikan yurisdiksi kepada pengadilan militer untuk mengadili pelanggaran hukum militer oleh anggota militer.

Di Belanda, reformasi hukum militer membatasi yurisdiksi pengadilan militer secara signifikan, sehingga sebagian besar perkara pidana yang melibatkan anggota militer diperiksa oleh pengadilan sipil dengan kamar khusus.

Sementara itu di Afrika Selatan, reformasi hukum pasca-apartheid menempatkan peradilan militer dalam kerangka konstitusi yang menjamin supremasi hukum sipil serta perlindungan hak asasi manusia.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan peradilan militer bukanlah anomali dalam sistem negara hukum modern, selama prinsip independensi peradilan tetap dijaga secara konsisten.

VI. Diskursus Hukum: Menempatkan Peradilan Militer dalam Kerangka Negara Hukum

Diskursus mengenai peradilan militer pada dasarnya berakar pada ketegangan antara dua kepentingan yang sama-sama penting: menjaga disiplin militer dan menjamin supremasi hukum.

Militer sebagai institusi pertahanan membutuhkan sistem disiplin yang kuat untuk menjaga kesiapan operasional. Namun dalam negara hukum, setiap bentuk kekuasaan harus tetap berada dalam pengawasan hukum.

Di sinilah pentingnya memastikan bahwa Peradilan Militer benar-benar menjalankan fungsi yudisialnya secara independen. Seperti pernah diingatkan oleh Lord Acton:

“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”

Peringatan tersebut relevan bagi setiap sistem kekuasaan, termasuk dalam konteks lembaga peradilan. Independensi hakim menjadi benteng utama untuk memastikan bahwa kekuasaan tidak berubah menjadi alat yang menekan keadilan.

Baca Juga  Penggunaan Teknologi Informasi dalam Penanganan Perkara di Lingkungan Peradilan Militer

Dalam konteks Indonesia, integrasi Peradilan Militer ke dalam sistem satu atap di bawah Mahkamah Agung merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa peradilan militer menjalankan fungsi yudisialnya secara independen.

Dengan demikian, tantangan utama bukan terletak pada keberadaan peradilan militer itu sendiri, melainkan pada konsistensi dalam menjaga integritas hakim serta transparansi proses peradilan.

Refleksi Hakim: Di Antara Seragam dan Hati Nurani

Di ruang sidang pengadilan militer, seorang prajurit datang membawa dua hal: seragam yang ia kenakan, dan perbuatannya yang harus dipertanggungjawabkan.

Namun ketika pintu ruang sidang dibuka dan persidangan dimulai, ada satu hal yang harus ditinggalkan di luar kekuasaan komando yaitu:

  1. Di hadapan hukum, pangkat tidak lagi berbicara, yang berbicara hanyalah fakta, hukum, dan hati nurani. Seorang hakim militer mungkin mengenakan seragam yang sama dengan terdakwa yang dihadapinya. Ia memahami disiplin yang sama, tradisi yang sama, bahkan mungkin pernah berdiri dalam barisan yang sama. Tetapi ketika ia duduk di kursi hakim, ia memikul tanggung jawab yang berbeda.
  2. Ia tidak lagi berdiri sebagai prajurit. Ia berdiri sebagai penjaga keadilan, dan di situlah integritas seorang hakim diuji. Karena hukum yang adil tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari keberanian untuk mengatakan yang benar ketika kebenaran itu mungkin tidak nyaman bagi siapa pun.

Pada akhirnya, sejarah peradilan tidak akan mengingat berapa banyak perkara yang telah diputus, tetapi akan mengingat apakah para hakimnya memiliki keberanian untuk menempatkan hukum lebih tinggi dari pangkat, lebih tinggi dari jabatan, bahkan lebih tinggi dari dirinya sendiri. Sebab di sanalah kehormatan peradilan sesungguhnya berada, dan selama masih ada hakim yang memiliki keberanian itu, maka peradilan akan tetap berdiri sebagai benteng terakhir keadilan.

Kesimpulan

Independensi dan transparansi merupakan dua prinsip fundamental yang tidak dapat dipisahkan dalam penyelenggaraan kekuasaan kehakiman, termasuk dalam lingkungan Peradilan Militer. Dalam kerangka konstitusi Indonesia, keberadaan Peradilan Militer memiliki dasar yang jelas sebagai salah satu lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung. Oleh karena itu, secara normatif Peradilan Militer telah ditempatkan dalam sistem kekuasaan kehakiman yang merdeka sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta peraturan perundang-undangan di bidang kekuasaan kehakiman.

Penerapan sistem satu atap (one roof system) di bawah Mahkamah Agung menjadi langkah penting dalam memperkuat independensi kelembagaan Peradilan Militer, karena pembinaan organisasi, administrasi, dan finansial badan peradilan tidak lagi berada dalam struktur komando militer. Hal ini menunjukkan bahwa secara institusional Peradilan Militer telah diarahkan untuk menjalankan fungsi yudisialnya secara bebas dari pengaruh kekuasaan lain.

Namun demikian, independensi kelembagaan tersebut harus diikuti dengan integritas personal para hakim militer dalam menjalankan tugasnya. Independensi peradilan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh struktur kelembagaan, tetapi juga oleh keberanian moral hakim untuk memutus perkara berdasarkan hukum dan hati nurani, tanpa dipengaruhi oleh tekanan kekuasaan, kepentingan institusi, maupun solidaritas korps.

Di sisi lain, transparansi peradilan menjadi unsur penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan. Proses peradilan yang terbuka, akuntabel, serta dapat diawasi oleh masyarakat merupakan bagian dari mekanisme kontrol yang memastikan bahwa kekuasaan kehakiman dijalankan secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, penguatan independensi dan transparansi Peradilan Militer bukan sekadar persoalan kelembagaan, melainkan juga merupakan bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik terhadap sistem peradilan secara keseluruhan. Selama kedua prinsip tersebut dijaga secara konsisten, Peradilan Militer akan tetap mampu menjalankan perannya sebagai bagian dari kekuasaan kehakiman yang menegakkan hukum dan keadilan dalam kerangka negara hukum.

Daftar Pustaka

  1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
  2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer.
  3. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
  4. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
  5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2004 tentang Pengalihan Organisasi, Administrasi, dan Finansial Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Militer dari Markas Besar Tentara Nasional Indonesia ke Mahkamah Agung Republik Indonesia.
  6. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pengawasan dan Pembinaan Atasan Langsung di Lingkungan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di Bawahnya.
  7. Peraturan Bersama Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial Nomor 04/PB/MA/IX/2012 dan Nomor 04/PB/P.KY/09/2012 tentang Tata Cara Pembentukan, Tata Kerja, dan Tata Cara Pengambilan Keputusan Majelis Kehormatan Hakim.
  8. Peraturan Bersama Nomor 02/PB/MA/IX/2012 dan Nomor 02/PB/P.KY/09/2012 tentang Panduan Penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim
  9. Keputusan Sekretaris Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 27101/SEK/SK.RA1.3/X/2025 tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama Pengadilan Tingkat Banding dan Tingkat Pertama di Lingkungan Mahkamah Agung Tahun 2025-2029.
  10. Asshiddiqie, Jimly. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Rajawali Pers.
  11. Marzuki, Peter Mahmud. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana.
  12. Harahap, Yahya. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP. Jakarta: Sinar Grafika.
  13. Montesquieu. The Spirit of the Laws.
  14. Hamilton, Alexander. The Federalist Papers.
  15. Dworkin, Ronald. Taking Rights Seriously. Harvard University Press.
Ahmad Junaedi
Kontributor
Ahmad Junaedi
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Independensi Hakim Kekuasaan Kehakiman Negara Hukum Peradilan Militer Transparansi Peradilan
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia

November 5, 2026

Cepat dan Cermat: Cara Mahkamah Agung Menyelesaikan Perkara

November 4, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Notoir Feiten dan Relevansinya Dalam Personalisasi Pengetahuan Era Kini

November 6, 2026

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026
Don't Miss

Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Kebugaran: Kemeriahan Senam Pagi Bersama di Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI

By JohanesNovember 6, 20260

Jakarta, 6 November 2026 – Sejumlah pejabat dan pegawai di lingkungan Gedung Sekretariat Mahkamah Agung…

Dilmil IV-16 Balikpapan Jalin Sinergi dengan SMKN 1 Balikpapan, Buka Peluang PKL dan Edukasi Hukum Bagi Generasi Muda

November 6, 2026

Hakim Anak Dibekali Pemahaman Hak Anak, Pekerja Sosial Kemensos: “Orang Tua Jangan Hanya Sibuk Cari Uang”

November 6, 2026

Notoir Feiten dan Relevansinya Dalam Personalisasi Pengetahuan Era Kini

November 6, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Mempererat Silaturahmi dan Menjaga Kebugaran: Kemeriahan Senam Pagi Bersama di Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI
  • Dilmil IV-16 Balikpapan Jalin Sinergi dengan SMKN 1 Balikpapan, Buka Peluang PKL dan Edukasi Hukum Bagi Generasi Muda
  • Hakim Anak Dibekali Pemahaman Hak Anak, Pekerja Sosial Kemensos: “Orang Tua Jangan Hanya Sibuk Cari Uang”
  • Notoir Feiten dan Relevansinya Dalam Personalisasi Pengetahuan Era Kini
  • Ini Empat Lembaga Penting bagi Anak Berhadapan dengan Hukum

Recent Comments

  1. Aman on Kejahatan Siber: Hakim Harus Cermat Menguji Bukti
  2. Dr. Sakwanah on Ketua MS Aceh Apresiasi Pelatihan BSDK, Harapkan Diklat Khusus Hukum Acara Jinayat
  3. Herman on Di Balik Mangrove, Ada Keadilan yang Harus Diperjuangkan
  4. Abdul Mustopa on MOVE!
  5. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Arie Guntoro
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Dismas Lukito Ornasto
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Humas Pengadilan Negeri Sidoarjo
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ainun Najib
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.