Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Dinamika Ujian Akhir Hingga Pamitan Hangat Peserta Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Bagi Hakim Peradilan Agama Seluruh Indonesia

October 9, 2026

Hukum Acara Dispensasi Kawin 2: Mengasah Rasa dan Karsa Hakim dalam Melindungi Kepentingan Terbaik Anak

October 9, 2026

Menembus Labirin Reformasi Peradilan: Mengurai Diskusi Strategis Pustrajak MA RI dan Kamar TUN untuk Arah Kebijakan Hukum 2027

October 9, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Disiplin atau Distrust? Ketika Pimpinan Pengadilan Menghadapi Era Work From Anywhere

Disiplin atau Distrust? Ketika Pimpinan Pengadilan Menghadapi Era Work From Anywhere

Khoiruddin HasibuanBy Khoiruddin HasibuanMarch 19, 2026 · 08:50 WIB8 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Perubahan besar dalam tata kelola pemerintahan, sering kali tidak dimulai dari perubahan regulasi, melainkan dari perubahan cara pandang terhadap kerja itu sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, birokrasi Indonesia mulai memasuki fase baru yang menempatkan fleksibilitas kerja sebagai bagian dari reformasi manajemen aparatur sipil negara.

Konsep Work From Anywhere (WFA) atau yang lebih luas dikenal sebagai Flexible Working Arrangement, muncul sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keseimbangan kerja aparatur negara. Namun ketika gagasan ini memasuki ruang institusi peradilan, respons yang muncul tidak selalu seragam.

Di sejumlah satuan kerja pengadilan, kebijakan WFA dipandang dengan penuh kehati-hatian, bahkan tidak jarang ditolak secara tegas oleh pimpinan pengadilan. Argumen yang sering dikemukakan adalah alasan klasik birokrasi: menjaga disiplin kerja, memastikan pelayanan publik tetap berjalan, serta mempertahankan pengawasan terhadap aparatur peradilan.

Sekilas, alasan tersebut terdengar rasional. Pengadilan adalah institusi yang menyelenggarakan pelayanan publik yang sangat sensitif: menerima, memeriksa dan memutus perkara yang menyangkut hak-hak warga negara. Dalam perspektif ini, kehadiran fisik aparatur peradilan dianggap penting, untuk menjamin kelancaran proses administrasi perkara dan pelayanan kepada masyarakat. Akan tetapi, jika ditelaah lebih dalam, larangan terhadap WFA sesungguhnya membuka perdebatan yang lebih luas, mengenai filsafat kepemimpinan dalam lembaga peradilan: apakah disiplin kerja benar-benar identik dengan kehadiran fisik di kantor, atau justru disiplin seharusnya diukur dari kualitas kerja dan tanggung jawab profesional?

Pertanyaan ini menjadi relevan, karena transformasi digital telah mengubah cara kerja hampir seluruh institusi publik, termasuk pengadilan. Digitalisasi sistem peradilan melalui berbagai aplikasi peradilan elektronik, menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan administratif maupun intelektual di lingkungan pengadilan, sebenarnya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ruang kantor. Penyusunan putusan, penelaahan berkas perkara, hingga komunikasi administrasi perkara, kini dapat dilakukan secara digital.

Di titik inilah muncul ketegangan antara dua paradigma manajemen organisasi. Di satu sisi, terdapat paradigma birokrasi klasik yang menempatkan, kehadiran fisik sebagai indikator utama disiplin kerja. Di sisi lain, berkembang paradigma manajemen modern, yang menilai kinerja aparatur berdasarkan output dan akuntabilitas hasil kerja. Ketika pimpinan pengadilan menolak WFA secara mutlak, pertanyaan yang kemudian muncul bukan sekadar soal kebijakan kerja, melainkan soal cara lembaga peradilan memaknai disiplin, kepercayaan, dan profesionalitas aparaturnya sendiri.

Dalam tradisi administrasi publik klasik, disiplin kerja memang sering dipahami secara sederhana: pegawai hadir di kantor pada jam kerja yang telah ditentukan, melaksanakan tugas di bawah pengawasan hierarkis, dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya melalui mekanisme birokrasi formal. Model ini berakar pada konsep birokrasi rasional yang dikemukakan oleh Max Weber, yang menekankan kepastian prosedur, struktur hierarki yang jelas, serta pengawasan administratif yang ketat.

Model tersebut memiliki keunggulan dalam menciptakan stabilitas organisasi, tetapi ia juga memiliki keterbatasan, ketika diterapkan dalam organisasi yang pekerjaannya bersifat intelektual dan profesional. Dalam konteks peradilan, sebagian besar pekerjaan hakim, justru berada dalam ranah penalaran hukum, yang tidak selalu dapat diukur melalui indikator administratif sederhana seperti absensi kehadiran.

Seorang hakim tidak sekadar menjalankan tugas administratif. Ia melakukan proses intelektual yang kompleks, seperti menilai bukti, menimbang fakta hukum, menyusun argumentasi hukum, dan merumuskan pertimbangan yang akan menjadi dasar putusan. Proses ini sering kali membutuhkan konsentrasi, refleksi, dan ruang berpikir, yang tidak selalu tersedia dalam rutinitas kantor yang padat. Dalam banyak tradisi peradilan di berbagai negara, hakim bahkan sering menyelesaikan pekerjaan intelektualnya di ruang kerja yang lebih privat, karena kualitas penalaran hukum sering kali dipengaruhi oleh kondisi kerja yang kondusif.

Baca Juga  Meninggalkan Warisan Kolonial: Urgensi Pembaruan KUH Perdata Indonesia

Karena itu, ketika disiplin kerja di lingkungan peradilan direduksi menjadi sekadar kehadiran fisik di kantor, terdapat risiko penyempitan makna disiplin itu sendiri. Disiplin yang sejati dalam profesi hukum, seharusnya diukur dari ketepatan waktu penyelesaian perkara, kualitas argumentasi putusan, serta integritas proses peradilan, bukan sekadar dari catatan absensi harian.

Secara normatif, gagasan mengenai fleksibilitas kerja, sebenarnya telah memperoleh legitimasi dalam kerangka hukum administrasi negara Indonesia. Reformasi manajemen aparatur sipil negara, melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, menekankan pentingnya sistem manajemen ASN yang berbasis kinerja dan profesionalitas. Dalam kerangka ini, birokrasi tidak lagi dipahami sebagai sekadar struktur administratif, tetapi sebagai organisasi yang harus mampu beradaptasi dengan dinamika kerja modern.

Pengaturan mengenai jam kerja dan pola kerja ASN, juga telah diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2023 tentang Hari Kerja dan Jam Kerja Instansi Pemerintah dan Pegawai ASN, yang memberikan ruang bagi instansi pemerintah, untuk menerapkan pola kerja yang lebih fleksibel, sepanjang tidak mengganggu pelayanan publik. Regulasi tersebut secara implisit menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja, bukanlah penyimpangan dari disiplin birokrasi, melainkan bagian dari strategi modernisasi manajemen pemerintahan.

Namun demikian, regulasi tersebut juga memberikan ruang diskresi kepada pimpinan instansi, untuk menentukan implementasinya sesuai dengan kebutuhan organisasi. Dalam konteks ini, pimpinan pengadilan memang memiliki kewenangan untuk mengatur pola kerja aparatur di satuan kerjanya. Akan tetapi, dalam perspektif hukum administrasi negara, setiap penggunaan diskresi harus tetap tunduk pada prinsip-prinsip asas-asas umum pemerintahan yang baik, seperti asas rasionalitas, proporsionalitas, dan kepastian hukum.

Artinya, kebijakan yang melarang WFA secara total atau membatasi WFA hanya satu hari, atau bahkan melarang untuk mengambil cuti tahunan di hari kerja yang dibolehkan untuk WFA, tanpa mempertimbangkan karakter pekerjaan, kebutuhan organisasi, dan perkembangan sistem peradilan digital, berpotensi menimbulkan pertanyaan mengenai rasionalitas kebijakan tersebut. Diskresi administratif tidak boleh berubah menjadi keputusan yang bersifat sewenang-wenang, atau semata-mata didasarkan pada preferensi pribadi pimpinan organisasi.

Selain itu, terdapat dimensi lain yang tidak kalah penting, yaitu posisi hakim sebagai pemegang kekuasaan kehakiman. Prinsip ini ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang menempatkan hakim sebagai pejabat yang menjalankan fungsi kekuasaan negara secara independen. Independensi tersebut bukan hanya independensi dari intervensi eksternal, tetapi juga independensi intelektual dalam menjalankan fungsi penalaran hukum.

Jika manajemen organisasi terlalu menekankan kontrol administratif yang ketat, muncul paradoks yang menarik. Di satu sisi, lembaga peradilan menuntut hakim untuk berpikir secara independen dan bebas dari tekanan. Namun di sisi lain, pola manajemen kerja yang sangat birokratis, justru menempatkan hakim dalam kerangka kontrol administratif yang ketat, seolah-olah mereka adalah pegawai kantor biasa yang produktivitasnya diukur dari kehadiran fisik.

Di sinilah muncul pertanyaan filosofis yang lebih mendasar: apakah kepemimpinan peradilan hendak membangun disiplin melalui kontrol administratif, atau melalui kepercayaan terhadap profesionalitas aparaturnya?

Dalam teori organisasi modern, terdapat dua pendekatan utama dalam kepemimpinan. Pendekatan pertama adalah control-based leadership, yaitu model kepemimpinan yang menekankan pengawasan ketat, aturan yang rigid, serta kontrol struktural terhadap perilaku pegawai. Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa pegawai cenderung menghindari pekerjaan jika tidak diawasi secara ketat.

Baca Juga  Pendekatan Inversif dalam Filsafat Hukum: Menguji Ketahanan Legalitas di Hadapan Keadilan

Pendekatan kedua adalah trust-based leadership, yaitu model kepemimpinan yang menempatkan kepercayaan sebagai fondasi hubungan organisasi. Dalam pendekatan ini, profesional dipercaya untuk mengelola pekerjaannya sendiri, sementara organisasi menilai kinerja mereka berdasarkan hasil kerja yang dihasilkan.

Bagi organisasi yang berbasis profesi, seperti lembaga peradilan, model kedua sebenarnya lebih sesuai. Hakim, panitera, dan aparatur peradilan adalah profesi yang menuntut integritas tinggi dan tanggung jawab moral yang besar. Mereka tidak dapat diperlakukan semata-mata sebagai objek pengawasan administratif, karena pekerjaan mereka bersifat intelektual dan professional.

Karena itu, kebijakan yang terlalu menekankan kontrol administratif, sering kali justru menimbulkan persepsi, bahwa organisasi tidak sepenuhnya mempercayai profesionalitas aparaturnya sendiri. Dalam jangka panjang, situasi ini dapat berdampak pada budaya organisasi. Aparatur yang merasa tidak dipercaya, cenderung bekerja sekadar memenuhi kewajiban administratif, bukan berusaha menghasilkan kinerja terbaik.

Selain itu, penolakan terhadap fleksibilitas kerja juga berpotensi menghambat proses modernisasi lembaga peradilan. Selama satu dekade terakhir, Mahkamah Agung telah melakukan berbagai inovasi digital, mulai dari sistem pendaftaran perkara elektronik hingga persidangan daring. Transformasi ini menunjukkan bahwa peradilan Indonesia sedang bergerak menuju sistem yang lebih modern dan efisien.

Namun modernisasi teknologi tidak akan menghasilkan perubahan yang signifikan, jika tidak diikuti oleh perubahan paradigma manajemen organisasi. Digitalisasi peradilan seharusnya diikuti oleh pola kerja yang lebih adaptif, bukan justru dipaksa kembali ke pola kerja administratif yang kaku.

Tentu saja, fleksibilitas kerja bukan berarti kebebasan tanpa batas. Persidangan tetap membutuhkan kehadiran fisik hakim dan aparatur peradilan, terutama dalam perkara-perkara yang memerlukan pemeriksaan langsung di ruang sidang. Pelayanan publik di meja informasi, kepaniteraan, dan administrasi perkara juga tetap membutuhkan kehadiran aparatur pengadilan di kantor.

Karena itu, pendekatan yang lebih rasional bukanlah menolak WFA secara total, melainkan merancang model kerja hibrida yang menyeimbangkan antara kebutuhan pelayanan publik dan fleksibilitas kerja profesional. Dalam model ini, pekerjaan yang membutuhkan interaksi langsung dengan masyarakat tetap dilakukan secara presencial, sementara pekerjaan yang bersifat administratif atau intelektual dapat dilakukan secara fleksibel dengan pengawasan berbasis sistem digital.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai WFA di lingkungan peradilan bukan sekadar soal lokasi kerja. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih fundamental, tentang bagaimana lembaga peradilan memandang aparaturnya: apakah mereka sekadar pegawai yang harus diawasi secara administratif, atau profesional yang dipercaya untuk menjalankan tanggung jawabnya dengan integritas.

Jika disiplin hanya diukur dari kehadiran fisik di kantor, maka lembaga peradilan mungkin berhasil menjaga keteraturan administratif. Namun jika disiplin dipahami sebagai komitmen moral dan profesional untuk menegakkan keadilan, maka ukuran keberhasilan peradilan tidak lagi terletak pada absensi harian, melainkan pada kualitas putusan, kecepatan penyelesaian perkara, dan kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan itu sendiri.

Di tengah transformasi digital yang terus berlangsung, kepemimpinan peradilan menghadapi pilihan yang tidak sederhana: mempertahankan paradigma lama yang menekankan kontrol administratif, atau berani beralih ke paradigma baru yang menempatkan kepercayaan dan profesionalitas sebagai fondasi organisasi. Pertanyaan yang tersisa mungkin sederhana, tetapi implikasinya sangat mendalam: apakah kita sedang membangun disiplin organisasi, atau sebenarnya sedang memelihara distrust terhadap aparaturnya sendiri?

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel disiplin distrust pengadilan work from anywhere
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia

October 8, 2026

Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Dilakukan oleh Badan Usaha: Siapa Saja Yang Berhak Menggugat Secara Perdata?

October 8, 2026

Menakar Ringannya Perbuatan

October 8, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,548 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026
Don't Miss

Dinamika Ujian Akhir Hingga Pamitan Hangat Peserta Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Bagi Hakim Peradilan Agama Seluruh Indonesia

By Abdul Azis Ali RamdlaniOctober 9, 20260

Megamendung, Jumat, 9 Oktober 2026 – Udara segar dan suasana tenang melingkupi area pusat pelatihan.…

Hukum Acara Dispensasi Kawin 2: Mengasah Rasa dan Karsa Hakim dalam Melindungi Kepentingan Terbaik Anak

October 9, 2026

Menembus Labirin Reformasi Peradilan: Mengurai Diskusi Strategis Pustrajak MA RI dan Kamar TUN untuk Arah Kebijakan Hukum 2027

October 9, 2026

Kepala BSDK Dorong Wali Lingkungan Hidup, Pelatihan Hakim Harus Menjangkau Pemulihan Ekologis

October 9, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Dinamika Ujian Akhir Hingga Pamitan Hangat Peserta Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Bagi Hakim Peradilan Agama Seluruh Indonesia
  • Hukum Acara Dispensasi Kawin 2: Mengasah Rasa dan Karsa Hakim dalam Melindungi Kepentingan Terbaik Anak
  • Menembus Labirin Reformasi Peradilan: Mengurai Diskusi Strategis Pustrajak MA RI dan Kamar TUN untuk Arah Kebijakan Hukum 2027
  • Kepala BSDK Dorong Wali Lingkungan Hidup, Pelatihan Hakim Harus Menjangkau Pemulihan Ekologis
  • Bedah Kasus di Akhir Kursus: Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Telah Sampai pada Intinya

Recent Comments

  1. H. Moh. Nasri on Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Sebagai Pembelajaran Diklat Pertama di Hari Pertama
  2. H. Moh. Nasri on Bedah Kasus di Akhir Kursus: Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Telah Sampai pada Intinya
  3. Pandu PW on Ketika Perkawinan Tidak Tercatat : Isbat Nikah sebagai Jalan Menuju Perlindungan Hak Anak
  4. Mery Donna Tiur Pasaribu on Praperadilan dan Batas Kekuasaan
  5. indarka pp on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reza Kresna Adipraya
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Wisnu Indradi
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.