Ada sesuatu yang menarik ketika kita menelusuri perjalanan panjang dua peradaban besar: Islam dan Tiongkok. Keduanya tumbuh dalam ruang budaya, bahasa, dan keyakinan yang berbeda, namun sama-sama menganggap ilmu sebagai pusat kehidupan manusia.
Dalam perjumpaan keduanya, tersimpan sebuah kisah yang bukan hanya historis, melainkan juga filosofis sebuah kisah tentang bagaimana manusia mengejar makna, keteraturan, dan kesempurnaan melalui pengetahuan.
Bayangkan para pelaut Arab yang tiba di pelabuhan Guangzhou pada abad ke-7. Mereka datang membawa rempah dan kain, tetapi tanpa disadari mereka juga membawa gagasan: cara berpikir, logika, dan semangat keilmuan Islam yang terus berkembang sejak masa Nabi.
Pada saat yang sama, mereka berhadapan dengan sebuah negeri yang memiliki tradisi literasi ribuan tahun; negeri yang melihat keteraturan dunia sebagai sesuatu yang lahir dari harmoni antara manusia dan kosmos. Pertemuan inilah yang kemudian menjadi jendela kecil menuju dialog panjang dua dunia intelektual.
Dalam tradisi Islam, ilmu adalah cahaya. Ia membimbing manusia memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam alam dan dirinya sendiri. Pengetahuan tidak pernah netral; ia selalu terkait dengan akhlak, tanggung jawab, dan tujuan hidup. Sebagaimana dinyatakan para ulama klasik, ilmu harus diamalkan agar menjadi sempurna. Tanpa amal, ia hanya menjadi beban.
Di Tiongkok, pengetahuan memiliki dimensi moral yang tak kalah kuat. Sejak masa Konfusius, belajar dilihat sebagai perjalanan untuk memperbaiki diri, menata keluarga, dan akhirnya memperbaiki dunia.
Seorang pelajar bukan sekadar orang yang mengumpulkan informasi, tetapi seseorang yang membentuk batin dan wataknya. Pepatah 知行合 “mengetahui dan bertindak adalah satu”—menjadi pedoman bahwa pengetahuan tanpa perbuatan adalah hampa.
Pertanyaannya: bagaimana dua cara pandang yang tumbuh jauh dari satu sama lain ini justru menemukan jembatan pemahaman?
Jawabannya mungkin terletak pada gagasan yang secara simbolik sering dikutip dalam tradisi Islam: “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina.” Meski hadis ini lemah, pesannya meresap kuat dalam imajinasi umat Islam. Cina digambarkan sebagai tempat yang jauh, sulit dijangkau, namun kaya pengetahuan. Ia menjadi metafora bahwa ilmu layak dikejar meski memerlukan perjalanan jauh dan pengorbanan besar.
Di sisi lain, tradisi Tiongkok memiliki gagasan yang serupa: “Bacalah sepuluh ribu buku, tempuhlah sepuluh ribu mil.” Pepatah ini menegaskan bahwa pembelajaran sejati adalah perpaduan antara kajian teks dan pengalaman hidup, antara pemikiran dan perjalanan.
Melalui dua imajinasi ini, kita melihat bagaimana Islam dan Tiongkok memandang ilmu sebagai sesuatu yang tak boleh dibatasi oleh geografi maupun budaya. Ilmu adalah jembatan yang menautkan manusia dengan dunia yang lebih luas, sekaligus menautkan hatinya dengan nilai-nilai yang lebih tinggi.
Di masa dinasti Ming dan Qing, dialog intelektual menjadi lebih hidup. Tokoh-tokoh Muslim Tiongkok seperti Wang Daiyu dan Liu Zhi mencoba menerjemahkan konsep-konsep besar Islam ke dalam bahasa filsafat Konfusianisme.
Mereka menulis tentang Tuhan, etika, hukum, dan tujuan hidup dengan cara yang dapat dimengerti oleh masyarakat Tiongkok pada zamannya. Upaya mereka menunjukkan bahwa ilmu tidak harus tunduk pada batas-batas identitas; ilmu justru tumbuh subur ketika dua tradisi berani saling membaca, saling menafsir, dan saling memberi ruang.
Jika kita melihat dari perspektif Indonesia hari ini, narasi ini terasa dekat. Negara ini tumbuh di persimpangan dua arus besar: Islam sebagai fondasi spiritual masyarakat, dan budaya Tiongkok yang memberi warna kuat pada perdagangan, filsafat, dan etika kerja. Keduanya bertemu dalam realitas sehari-hari, menciptakan pola pikir yang menggabungkan nilai religius, disiplin, harmoni, dan keterbukaan terhadap dunia.
Secara filosofis, Indonesia dapat mengambil inspirasi dari keduanya: Semangat pencarian ilmu Islam, dorongan universal untuk mencari pengetahuan tanpa batas. Disiplin dan etika belajar Tiongkok dengan konsistensi, penghargaan pada guru, dan kerja keras. Sintesis moral ini menjadikan ilmu sebagai amal sosial, bukan prestise personal.
Hubungan Islam dan Tiongkok dalam tradisi ilmu menunjukkan bahwa peradaban tumbuh paling subur ketika ide-ide dari berbagai budaya bertemu, berdialog, dan saling menguatkan, bukan saling meniadakan.
Mungkin inilah yang menjadikan hubungan Islam dan Tiongkok dalam tradisi ilmu begitu menarik: keduanya mengajarkan bahwa pencarian ilmu adalah perjalanan batin, perjalanan pemikiran dan pengalaman, perjalanan menuju diri serta menuju dunia.
Pada akhirnya, perjumpaan dua peradaban ini memberi kita satu pesan mendasar: bahwa ilmu adalah ruang tempat manusia dari berbagai latar dapat saling berjumpa, saling memperkaya, dan bersama-sama menempuh jalan menuju kebijaksanaan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


