Ruang musyawarah itu tampak sama seperti hari-hari sebelumnya, meja kayu panjang dengan berkas yang tersusun rapi, kursi-kursi yang tidak pernah benar-benar nyaman, dan udara yang terlalu tenang untuk disebut netral. Namun sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tidak tercatat dalam buku register perkara, tetapi terasa dalam cara mereka membaca setiap halaman. Seolah-olah teks yang sama kini membuka kemungkinan yang tidak pernah mereka hadapi sebelumnya.
Ravindra Karsa duduk di tengah, seperti biasa, dengan sikap yang nyaris tidak pernah berubah sejak hari pertama ia menjadi hakim. Latar belakangnya dari Universitas Dharma Yustika membentuk cara berpikir yang tertib, hukum sebagai sistem yang harus dijaga konsistensinya agar tidak runtuh oleh variasi penafsiran.
Di sebelah kanannya, Elion Prasetra duduk sedikit bersandar, matanya tidak hanya membaca teks, tetapi seperti mencari konteks yang tidak tertulis. Ia datang dari Universitas Pranata Sosial Nusantara, tempat hukum dipahami sebagai respon terhadap kehidupan sosial, bukan sekadar norma yang berdiri sendiri.
Sementara itu, Mahira Sadyana di sisi kiri membuka berkas dengan ketenangan yang berbeda, lulusan Global Institute of Comparative Law and Justice itu terbiasa melihat hukum sebagai bagian dari percakapan global, selalu ada cara lain, selalu ada kemungkinan lain.
Perkara yang mereka hadapi tampak sederhana di atas kertas. Terdakwa terbukti memiliki narkotika. Jumlahnya kecil. Perannya tidak dominan. Tidak ada jaringan besar, tidak ada indikasi distribusi. Semua unsur terpenuhi. Justru karena itulah, tidak ada yang benar-benar sederhana.
“Undang-undang memang sudah tidak lagi menetapkan minimum,” kata Ravindra akhirnya, suaranya tenang namun tertahan, seolah ia sedang menata ulang sesuatu di dalam dirinya sendiri. “Tapi justru di situ letak persoalannya. Tanpa batas bawah, apa yang kita pakai untuk menjaga konsistensi? Kita bisa bicara keadilan, tapi kalau perkara yang serupa mulai diputus dengan jarak yang terlalu jauh, apakah itu masih bisa disebut adil?”
Elion tidak langsung menjawab. Ia memutar penanya perlahan, lalu meletakkannya di atas berkas. “Mungkin selama ini kita terlalu cepat menyamakan konsistensi dengan keseragaman,” ujarnya. “Sekarang, ketika batas itu dihapus, kita dipaksa melihat perkara ini sebagaimana adanya… bukan sebagai angka yang harus dicapai, tapi sebagai situasi yang harus dipahami.”
Ravindra menatapnya, tidak membantah, tapi juga tidak bergeser.
Mahira kemudian menutup berkasnya perlahan, seolah menandai bahwa percakapan itu perlu dinaikkan satu tingkat. “Di banyak sistem hukum,” katanya, “minimum memang ditinggalkan bukan karena mereka tidak butuh kepastian, tapi karena kepastian itu dipindahkan dari angka ke alasan. Jadi perbedaannya bukan lagi masalah, selama alasan di baliknya bisa dijelaskan secara terbuka dan konsisten.”
Ravindra mengernyit tipis. “Tapi itu membuka ruang yang terlalu lebar.”
“Ya,” jawab Mahira tanpa ragu. “Dan itu memang risiko dari perubahan. Tapi mungkin yang berubah bukan hanya undang-undangnya. Cara kita memahami keadilan juga ikut berubah.”
Ruangan itu kembali sunyi, tapi kali ini bukan karena buntu. Lebih seperti sesuatu yang sedang mencari bentuk.
Ravindra menunduk, membaca ulang berkas yang sama, namun dengan perhatian yang berbeda. Ia tidak lagi mencari batas minimum. Ia mulai melihat peran terdakwa, jumlah barang, dan keadaan yang selama ini terasa sebagai pelengkap. Elion memperhatikan itu tanpa mengganggu. Mahira hanya menunggu.
“Kalau begitu,” kata Ravindra akhirnya, lebih pelan, “yang kita jaga bukan lagi angka… tapi alasan yang membuat angka itu tidak menjadi sewenang-wenang.”
Elion mengangguk. “Dan mungkin itu lebih sulit.”
Mahira menambahkan, “Tapi juga lebih jujur.”
Tidak ada yang tersenyum. Tapi sesuatu di antara mereka terasa lebih ringan.
Di luar, hari terus berjalan seperti biasa. Perkara lain dipanggil. Putusan lain dibacakan. Tidak ada yang berubah di luar ruangan itu. Namun di dalam, tiga orang hakim itu baru saja melewati sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam undang-undang, sebuah pergeseran cara berpikir.
Mereka akhirnya menyepakati satu angka. Tidak sama dengan yang pernah mereka bayangkan di awal. Tidak juga terlalu jauh. Tapi kali ini, angka itu tidak berdiri sendiri. Ia disangga oleh alasan, yang mereka susun, uji, dan ragukan bersama.
Ketika berkas itu ditutup, tidak ada rasa selesai yang utuh.
Hanya satu kesadaran yang perlahan muncul:
bahwa ketika batas dihapus,
hakim tidak menjadi lebih bebas…,
melainkan lebih bertanggung jawab atas setiap batas yang ia ciptakan sendiri.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


