Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Perkuat Kepastian Hukum, Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera Ikuti Pelatihan Eksekusi Riil dan Problematika Penyelesaiannya

November 5, 2026

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Pengadilan Negeri Sidoarjo Bersama Pemkab Sidoarjo dan KPK Perkuat Integritas serta Pencegahan Suap dan Gratifikasi

November 5, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Dialektika Lex Specialis dan Lex Posterior dalam Konflik Norma

Dialektika Lex Specialis dan Lex Posterior dalam Konflik Norma

David PasaribuIrene Cristna SilalahiBy David Pasaribu and Irene Cristna SilalahiMarch 20, 2026 · 13:15 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Dalam sistem hukum terkini yang dipenuhi proliferasi peraturan, konflik hukum (conflicts of laws) merupakan keniscayaan. Persoalan obesitas regulasi (hyper regulations) sering melahirkan situasi di mana satu norma tampak bertentangan dengan norma lainnya. Untuk mengatasi konflik tersebut, doktrin hukum mengenal sejumlah asas preferensi, antara lain lex superior derogat legi inferiori, lex specialis derogat legi generali, dan lex posterior derogat legi priori.

Persoalan menjadi kompleks ketika asas preferensi hukum justru saling menegasikan. Konflik terjadi dalam situasi di mana terdapat norma undang-undang yang lebih lama (lex priori) tetapi bersifat khusus (lex specialis) vis-à-vis dengan norma undang-undang yang lebih baru (lex posteriori) namun bersifat umum (lex generalis). Dalam konteks ini muncul dialektika esensial: asas preferensi manakah yang harus didahulukan? Untuk menjawabnya, berkembang prinsip lex posterior generalis non derogat legi priori speciali, yang penerapannya bersifat kasus per kasus dan memerlukan penelusuran melalui interpretasi hukum.

Asas Lex Specialis vs. Asas Lex Posterior

Asas lex specialis derogat legi generali berangkat dari gagasan bahwa norma yang dirancang secara khusus untuk mengatur suatu bidang tertentu harus diutamakan dibanding norma yang bersifat umum. (Nurfaqih Irfani, 2020: 311). Rasionalitasnya terletak pada presumsi bahwa pembentuk undang-undang memberikan perhatian lebih rinci dan mendalam terhadap objek regulasi tertentu, sehingga norma tersebut memiliki daya berlaku yang lebih spesifik dan tepat sasaran.

Sebaliknya, asas lex posterior derogat legi priori bertumpu pada dimensi temporal. Norma yang lebih baru dianggap mencerminkan kehendak hukum yang lebih mutakhir dari pembentuk undang-undang. Dengan demikian, jika terjadi pertentangan antara dua norma yang sederajat, norma yang lebih baru dipandang mengesampingkan norma sebelumnya (Claudio Panzera, 2024: 143).

Secara konseptual, kedua asas ini sama-sama sahih dan berfungsi menjaga konsistensi sistem hukum. Akan tetapi, ketika keduanya berhadapan—misalnya ketentuan lama yang bersifat khusus menegasikan ketentuan baru yang bersifat umum—maka asas preferensi tidak lagi bersifat sederhana.

Pendekatan Kasuistis dalam Penyelesaian Konflik Norma

Fabian O. Raimondo mengintrodusir bahwa lex posterior derogat legi priori, lex specialis derogat legi generali, dan lex posterior generalis non derogat legi priori speciali merupakan tiga prinsip umum yang dalam setiap tatanan hukum, mengatur hubungan antara norma atau prinsip yang berasal dari sumber yang sama. (Fabian O. Raimondo, 2007: 44).

Asas lex posterior generalis non derogat legi priori speciali bermakna “a later general law does not repeal a prior special law” (aturan umum yang lebih baru tidak mencabut aturan khusus yang lebih lama) (Raul Narits, 1996). Namun, penerapannya tidak dapat dilakukan secara mekanis. Prinsip ini menuntut pendekatan kasuistis melalui analisis per kasus dengan mempertimbangkan sejumlah parameter yang relevan. Pertama, perlu ditelusuri apakah terdapat klausul pencabutan secara eksplisit (derogation norm) dalam undang-undang yang lebih baru. Jika pembentuk undang-undang menyatakan secara tegas bahwa norma khusus sebelumnya dicabut, maka asas lex posterior memperoleh legitimasi.

Kedua, apabila tidak terdapat pencabutan eksplisit, perlu dilakukan interpretasi sistematis terhadap keseluruhan struktur undang-undang baru. Apakah norma umum tersebut memang dimaksudkan sebagai kodifikasi menyeluruh yang menggantikan seluruh rezim sebelumnya? Ataukah ia hanya memberikan pengaturan payung (umbrella law) yang tetap membuka ruang keberlakuan norma khusus? Sebagai contoh, meskipun KUHP baru (UU No. 1 Tahun 2023) yang berlaku sejak 2 Januari 2026 mengubah sebagian ketentuan dalam UU Tipikor (UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001), hal itu tidak serta-merta menghapus keberlakuan UU Tipikor secara keseluruhan. Sepanjang ketentuan lainnya tidak diubah atau dicabut, UU Tipikor tetap berlaku sebagai lex specialis.

Ketiga, interpretasi historis menjadi penting untuk menggali original intent pembentuk undang-undang. Risalah pembahasan, naskah akademik, serta asbabunnuzul kebijakan legislasi dapat menjadi indikator apakah legislator bermaksud melakukan penderogasian norma atau sekadar harmonisasi regulasi.

Baca Juga  Sudah Berdamai, Lalu Berubah Pikiran: Haruskah Hakim Tetap Menjatuhkan Akta Perdamaian?

Keempat, perlu diuji dampak praktis dari penderogasian norma. Apakah penerapan suatu norma akan merusak perlindungan hukum tertentu, atau menimbulkan tumpang tindih dalam kebersisteman hukum? Melalui pendekatan di atas, hakim atau akademisi hukum (legal scholar) tidak hanya bertumpu pada urutan waktu pembentukan undang-undang, tetapi juga pada desain kebijakan hukum yang lebih holistik.

Relevansi dalam Praktik Hukum dan Peradilan

Dalam praktik hukum dan peradilan, konflik antar norma kerap terjadi. Contohnya dalam hukum administrasi, yakni pertentangan antara norma fiktif negatif dalam UU Peradilan Tata Usaha Negara (Pasal 3 UU No. 5 Tahun 1986 jo. UU No. 51 Tahun 2009) dan norma fiktif positif dalam UU Administrasi Pemerintahan (Pasal 53 UU No. 30 Tahun 2014) jo. Pasal 175 UU Cipta Kerja (UU No. 6 Tahun 2023). Kedua legislasi tersebut saling menegasikan dan hingga kini masih menyisakan persoalan dalam praktik peradilan administrasi.

Sedangkan dalam hukum internasional terdapat hubungan antara aturan konvensional atau kebiasaan di satu sisi, dan prinsip-prinsip hukum umum, di sisi lain. Misalnya, hak lintas suatu negara melalui wilayah negara ketiga dapat diatur oleh kebiasaan bilateral yang berbeda dari prinsip hukum umum tentang hak lintas (lex specialis derogat legi generali). Contoh lainnya, prinsip hukum umum yang baru muncul tidak membatalkan aturan konvensional (lex posterior generalis non derogat legi priori speciali). Namun, perlu diingat bahwa prinsip hukum umum tentang konflik hukum ini tidak berlaku jika aturan ius cogens dipertaruhkan, karena aturan ini lebih tinggi dalam hierarki daripada semua aturan hukum internasional lainnya (Fabian O. Raimondo, 2007: 47-48).

Lebih lanjut, Putusan Mahkamah Agung Polandia 23 Mei 2003 Nomor III CZP 27/03 menegaskan bahwa asas lex posterior generalis non derogat legi priori speciali bermakna dalam hal norma lama yang bersifat khusus bertentangan dengan norma baru yang bersifat umum, pada prinsipnya norma yang lebih rinci tetap diprioritaskan berdasarkan pertimbangan substansial. Namun, dalam kondisi tertentu norma yang lebih baru dapat diutamakan. Karena tidak terdapat kriteria yang tegas, penyelesaiannya dilakukan secara kasuistis (kasus per kasus) melalui penafsiran terhadap peraturan yang bertentangan. (Michał Araszkiewicz et al. 2021: 746).

Sedangkan Mahkamah Konstitusi Italia dalam Putusan Nomor 29 Tahun 1976 menyatakan bahwa asas lex posterior generalis non derogat legi priori speciali pada dasarnya menegaskan keutamaan kriteria spesialitas dibandingkan kronologis. Namun demikian, penafsiran tetap harus bertumpu pada kehendak pembentuk undang-undang (voluntas legis), sehingga tidak tertutup kemungkinan bahwa aturan umum yang lebih baru memiliki cakupan sedemikian luas hingga tidak mentolerir pengecualian, bahkan terhadap aturan khusus, yang karenanya dapat dianggap dicabut secara implisit. (J. A. Tardío Pato, 2003:207).

Baca Juga  Dialektika Asas Hakim Pasif dan Peran Aktif Hakim dalam Persidangan Perdata: Upaya Menembus Formalitas Menuju Keadilan Substantif

Di sisi lain, Bobbio (1958) menegaskan bahwa tidak ada “kriteria atas kriteria” dalam menyelesaikan konflik norma. Namun dalam praktik, kriteria hierarkis umumnya diutamakan dibandingkan kriteria temporal dan kriteria kekhususan, sedangkan kriteria kekhususan biasanya didahulukan daripada kriteria temporal. Pengecualian terjadi apabila norma umum yang lebih baru merupakan pengaturan yang bersifat lengkap dan secara tegas meniadakan setiap pengecualian. (Paolo Guidotti & Fabrizio Turchi: 109).

Di Indonesia, penerapan asas lex posterior generalis non derogat legi priori speciali tampak dalam relasi antara UU TPPU (UU No. 8 Tahun 2010) dan KUHP baru. Berdasarkan kajian Muh. Afdal Yanuar, KUHP baru hanya mencabut ketentuan tertentu dalam UU TPPU, yakni Pasal 2 ayat (1), Pasal 3, Pasal 4, serta Pasal 5 ayat (1) dan (2) (vide Pasal 622 KUHP baru). Selebihnya, ketentuan UU TPPU tetap berlaku. Hal tersebut sejalan dengan asas lex posterior generalis non derogat legi priori speciali, di mana ketentuan khusus yang lebih lama tetap berlaku dibandingkan ketentuan umum yang lebih baru, kecuali ketentuan lex priori speciali secara tegas dinyatakan dicabut oleh lex posterior generali. Oleh karena itu, seluruh ketentuan dalam UU TPPU yang tidak dicabut oleh KUHP baru tetap berlaku dan tidak terderogasi. (Muh. Afdal Yanuar, 2023: 65).

Implikasi Teoretis dan Praktis

Secara teoretis, konflik antara lex specialis dan lex posterior menunjukkan bahwa asas preferensi bukanlah aturan absolut, melainkan pedoman interpretatif yang harus digunakan secara proporsional. Hukum bukan sekadar kumpulan norma yang tersusun secara kronologis, tetapi sistem yang memiliki struktur dan rasionalitas internal.

Secara praktis, penerapan prinsip lex posterior generalis non derogat legi priori speciali membantu mencegah terjadinya pencabutan implisit tanpa dasar yang jelas. Hal ini penting demi menjaga kepastian hukum dan mencegah gonjang-ganjing regulasi. Selain itu, pendekatan ini juga memperkuat prinsip kehati-hatian dalam legislasi. Pembentuk undang-undang didorong untuk secara eksplisit menyatakan apabila memang bermaksud mencabut atau menggantikan suatu norma, sehingga tidak memunculkan karut-marut legislasi.

Penutup

Konflik antara asas lex specialis derogat legi generali dan lex posterior derogat legi priori merupakan dialektika klasik yang secara perenial hidup dalam teori hukum. Ketika norma yang lebih baru bersifat umum vis-à-vis dengan norma yang lebih lama tetapi bersifat khusus, penerapan asas preferensi tidak dapat dilakukan secara simplistis.

Prinsip lex posterior generalis non derogat legi priori speciali menawarkan jalan tengah yang menjaga integritas sistem hukum. Namun, penerapannya menuntut analisis kasuistis (kasus per kasus) dan penelusuran yang cermat melalui interpretasi hukum.

Dengan demikian, penyelesaian konflik norma tidak hanya bergantung pada kronologi pembentukan undang-undang, tetapi juga pada pemahaman holistik terhadap struktur, tujuan, dan rasionalitas kebijakan legislasi. Pendekatan inilah yang memastikan bahwa hukum tetap koheren, konsisten, dan responsif terhadap dinamika masyarakat.

David Pasaribu
Kontributor
David Pasaribu
Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru
Irene Cristna Silalahi
Kontributor
Irene Cristna Silalahi
Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel Asas Hukum Ilmu Hukum Interpretasi Hukum Konflik Norma Lex Posterior Lex Specialis Teori Hukum
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia

November 5, 2026

Cepat dan Cermat: Cara Mahkamah Agung Menyelesaikan Perkara

November 4, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Perkuat Kepastian Hukum, Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera Ikuti Pelatihan Eksekusi Riil dan Problematika Penyelesaiannya

By Wafa'November 5, 20260

Seluruh peserta Pelatihan, baik dari Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera mengikuti materi “Eksekusi Riil…

Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak

November 5, 2026

Pengadilan Negeri Sidoarjo Bersama Pemkab Sidoarjo dan KPK Perkuat Integritas serta Pencegahan Suap dan Gratifikasi

November 5, 2026

Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia

November 5, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Perkuat Kepastian Hukum, Ketua Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah se-Aceh dan Panitera Ikuti Pelatihan Eksekusi Riil dan Problematika Penyelesaiannya
  • Merawat Etika Hakim di Ruang Sidang Anak
  • Pengadilan Negeri Sidoarjo Bersama Pemkab Sidoarjo dan KPK Perkuat Integritas serta Pencegahan Suap dan Gratifikasi
  • Penggunaan Artificial Intelligence dalam Peradilan: Pelajaran dari Pedoman Internasional bagi Mahkamah Agung Indonesia
  • Siapkan Generasi Hukum di Era AI, Pustrajak dan UIN Raden Intan Lampung Perkuat Sinergi

Recent Comments

  1. Dr. Sakwanah on Ketua MS Aceh Apresiasi Pelatihan BSDK, Harapkan Diklat Khusus Hukum Acara Jinayat
  2. Herman on Di Balik Mangrove, Ada Keadilan yang Harus Diperjuangkan
  3. Abdul Mustopa on MOVE!
  4. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  5. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Arie Guntoro
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Humas Pengadilan Negeri Sidoarjo
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ainun Najib
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.