Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Antinomi dalam KUHAP dan Beberapa Pesan Penting Wamenkum dalam Webinar KUHAP 2025

1 February 2026 • 17:20 WIB

Diskursus Putusan Bebas, Putusan Lepas, dan Upaya Hukumnya Menurut KUHAP Baru

1 February 2026 • 13:20 WIB

Dari Insentif ke Kebijaksanaan: Agenda Peradilan Pasca Kenaikan Gaji Hakim

1 February 2026 • 12:34 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Gimana sih Reaksi Manusia ketika Hukum “Nempel”di Tubuh Kita?
Satire

Gimana sih Reaksi Manusia ketika Hukum “Nempel”di Tubuh Kita?

Anna YulinaAnna Yulina17 January 2026 • 14:12 WIB5 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Ada moment lucu seorang pengendara motor tertangkap basah melawan arus,tapi tiba tiba di depannya ada Polisi di ruas jalan, daaaan apa yang dilakukan si pengendara motor??? Masuk ke penjual tanaman kembang dan pura pura membeli tanaman,kalau  POV (Point of View) diibaratkan sebuah video tiktok “MELAWAN ARUS TERPAKSA BELI KEMBANG”.Kemudian Ketika si pengendara motor bertemu dengan sesama pengendara motor lainnya ,akan berkembanglah cerita dari mulut mulut mereka yang ngedumel ,yang gemetar,dan alih alih untuk merasa harus berubah tapi akan berkata”Hukum kog gini amat sih”.

Okay, sekarang kita bahas kaitan reaksi manusia terhadap hukum

Dasar Teori: Otak Manusia vs. Hukum, Siapa Menang?

Bro ,jadi ada yang namanya Teori deterrence yang  jadi andalan utama di psikologi hukum, di mana orang nurut hukum gara-gara takut sanksi yang berat, pasti, dan cepet datengnya(kayak kena denda ETLE yang langsung potong rekening, tiba tiba seperti jailangkung datang tanpa diundang).Faktor psikologis lain termasuk compliance (nurut karena tekanan luar), identification (ikut karena idolain kita nurut), dan internalization (udah jadi kebiasaan dalem hati). Di Indo, budaya hukum yang lemah plus faktor ekonomi sering bikin orang “habituation” alias patuh cuma pas kepepet, sementara faktor hambat seperti kurangnya kesadaran atau ketidakpercayaan ke aparat malah dorong pelanggaran.

Kalau kita bicara reaksi,maka sering kita dengar “OKE BOSS atau AYO KITA DEMO”

Sekarang mari kita kulik sedikit tentang “AYO KITA DEMO”,yangmana ajakan berdemo bisa diartikan sebagai lu semua Masyarakat sipil kenapa diam bae Ketika ada yang mengusik tubuh lu ?atau dengan kata lain “Pembangkangan sipil”

Apa itu pembangkangan sipil?

Istilah pembangkangan sipil atau ‘civil disobedience’ dipergunakan pertama kali oleh Henry David Thoreau dalam esainya yang ditulis pada tahun 1848 untuk menjelaskan penolakannya terhadap pajak yang dikenakan pemerintah Amerika untuk membiayai perang di Meksiko dan untuk memperluas praktik perbudakan melalui Hukum Perbudakan.

Baca Juga  Doa di Atas Bukit Gundul

Tetapi definisi pembangkangan sipil yang paling diterima secara luas ditulis oleh John Rawls di tahun 1971, sebagai gerakan tanpa kekerasan dan dilakukan dengan hati-hati dengan tujuan untuk membawa perubahan dalam hukum atau kebijakan pemerintah.

Menurut pengacara Hak Asasi Manusia Alghiffari Aqsa, pembangkangan publik “adalah gerakan yang dilakukan oleh warga secara terorganisasi, yang bisa jadi melawan hukum, dan digunakan untuk mengoreksi hukum atau kebijakan publik.”

Oleh karena itu, orang-orang yang terlibat dalam pembangkangan sipil bersedia menerima konsekuensi hukum dari tindakan mereka, karena ini menunjukkan kesetiaan mereka pada supremasi hukum.

Pemikiran Thoreau ini kemudian menginspirasi sejumlah tokoh seperti Mahatma Gandhi untuk melakukan gerakan pembangkangan sipil di India.

Manusia tuh macem kucing,kadang nurut hukum kalau enak, tapi kalau gak, langsung lompat pagar

analogi “manusia macem kucing” itu gue pake buat gambarin sifat alami kita yang fleksibel banget soal nurut hukum,gak kaku kayak robot! Maksudnya gini nih:

Manusia tuh suka nurut hukum kalau rasanya enak atau untungin diri sendiri, kayak pake sabuk pengaman karena takut kena tilang (aman + gak ribet). Tapi begitu hukumnya gak nyaman, gak adil, atau ngerugiin, langsung deh kita cari cara “lompat pagar”,entah ngeles, cari celah, demo, atau malah langgar diam-diam.

Mari kita bedah psikologi dasar manusia bro.

Ketika manusia dalam keadaan terjepit atau tertekan (seperti ancaman sanksi hukum), otak langsung aktifin respons stres dasar dari sistem saraf simpatis: fight-flight-freeze-fawn (4F), yang bikin kita bertahan hidup secara insting.

Respon otak yaitu Fight (melawan bro)Seperti kita kasih contoh  Ketika buruh merasa hukum yang nempel pada mereka dalam pasal pasal UU Cipta kerja ,maka Otak melepaskan adrenalin tinggi, bikin agresif: marah, demo, atau lawan otoritas sampe bentrok polisi.reaksi tubuh lu pasti jantung deg -degan seperti saat melamar istri dulu, dan mules kayak mau berak keciprit.

Baca Juga  Saat Janji Rumput Menguap, Keadilan Runtuh diterkam Kepentingan

Kemudian Otak juga akan merespon Flight (Kabur), (ingat ga gen Z sering mengeluarkan statement “kabur aja dulu”),maksudnya begini respons flight alias insting menghindari situasi itu kayak mode “lari dulu baru mikir” pas tubuh ngerasa terancam banget sama stres atau tekanan hukum. Otak langsung melepas hormon adrenalin, bikin lo pengen kabur dari masalah biar selamat,gak peduli konsekuensinya nanti.​

Respons Freeze (Membeku)

Pilih diam: Susah ambil keputusan, atau patuh pasif karena takut,contoh saksi pengadilan cemas sampe blank, efeknya bisa lama kayak trauma anak korban. Reaksi Tubuh bisa  kaku, sulit konsentrasi, malah tambah stress, begini Intinya, freeze ini survival tactic purba (pura-pura mati biar predator bosan), tapi di pengadilan malah bikin pelaku/saksi susah kooperatif. Hakim harus sabar dan pake pendekatan empati biar gak stuck di situ! Paham bro?

Respons Fawn (Menyenangkan)

Jadi respon terakhir ini masuk ke mode People pleaser, kira-kira begini maksudnya. Ketika hukum itu “nempel”, maka orang akan cenderung nurut berlebihan untuk menghindari konflik, kayak ngaku bersalah biar cepat beres urusan walau dalam hatinya dendam kesumat, kalau di ruangan sidang sering itu bro. Terdakwa langsung ngaku dan berjanji tobat ga akan ngulangi lagi, supaya hukumannya jadi ringan dan Hakimnya jadi tersentuh ibarat dengerin puisi di sore hari memandang sunsut di lautan.

Jadi Hukum itu bukan monster, gimana kalau hukum kita jadikan teman, ibarat bestie, kadang pinjam dulu 100, kadang menyenangkan, kadang nyebelin.

anna yulina
Anna Yulina
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Anna Yulina
Kontributor
Anna Yulina
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

satire
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Memaknai Perjanjian Utang Piutang Baru

30 January 2026 • 13:06 WIB

Dari Penempatan ke Pengabdian: Jalan Sunyi Seorang Hakim

27 January 2026 • 11:04 WIB

Sang Pemuja Tanah: Khotbah dari Singgasana Berdebu

9 January 2026 • 11:23 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Antinomi dalam KUHAP dan Beberapa Pesan Penting Wamenkum dalam Webinar KUHAP 2025

1 February 2026 • 17:20 WIB

Diskursus Putusan Bebas, Putusan Lepas, dan Upaya Hukumnya Menurut KUHAP Baru

1 February 2026 • 13:20 WIB

Blind Spot dalam Sistem Peradilan Pidana: Aspek “Perbuatan yang Didakwakan” dalam Konstruksi Surat Dakwaan

31 January 2026 • 22:30 WIB

Judicial Pardon di Pengadilan Negeri Garut: Wajah Baru Keadilan Humanis dalam Penegakan Hukum Pidana

31 January 2026 • 12:34 WIB
Don't Miss

Antinomi dalam KUHAP dan Beberapa Pesan Penting Wamenkum dalam Webinar KUHAP 2025

By Syihabuddin1 February 2026 • 17:20 WIB0

Pengantar Saat ini Wakil Menteri Hukum, Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, S.H., M.Hum., adalah sosok yang…

Diskursus Putusan Bebas, Putusan Lepas, dan Upaya Hukumnya Menurut KUHAP Baru

1 February 2026 • 13:20 WIB

Dari Insentif ke Kebijaksanaan: Agenda Peradilan Pasca Kenaikan Gaji Hakim

1 February 2026 • 12:34 WIB

Blind Spot dalam Sistem Peradilan Pidana: Aspek “Perbuatan yang Didakwakan” dalam Konstruksi Surat Dakwaan

31 January 2026 • 22:30 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Antinomi dalam KUHAP dan Beberapa Pesan Penting Wamenkum dalam Webinar KUHAP 2025
  • Diskursus Putusan Bebas, Putusan Lepas, dan Upaya Hukumnya Menurut KUHAP Baru
  • Dari Insentif ke Kebijaksanaan: Agenda Peradilan Pasca Kenaikan Gaji Hakim
  • Blind Spot dalam Sistem Peradilan Pidana: Aspek “Perbuatan yang Didakwakan” dalam Konstruksi Surat Dakwaan
  • Judicial Pardon di Pengadilan Negeri Garut: Wajah Baru Keadilan Humanis dalam Penegakan Hukum Pidana

Recent Comments

No comments to show.
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com :  redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Arraeya Arrineki Athallah
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Letkol Chk Ata Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Bustanul Arifin
  • Avatar photo Christopher Surya Salim
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dedy Wijaya Susanto
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Guse Prayudi
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo I Gede Adi Muliawan
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Mukhamad Athfal Rofi Udin
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo rahmanto Attahyat
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Raja Bonar Wansi Siregar
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.