Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Keterbukaan Proses Persidangan: Sebuah Perbandingan dari Tanah Hindustan

28 April 2026 • 19:23 WIB

Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India

28 April 2026 • 19:08 WIB

PN Gresik Kembangkan Jurnal Ilmiah “Grissee Court”, Perkuat Tradisi Riset dan Epistemologi Hukum Peradilan

28 April 2026 • 19:05 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Labirin Cermin: Terjebak Perjamuan Abadi Yang Tak Pernah Usai
Satire

Labirin Cermin: Terjebak Perjamuan Abadi Yang Tak Pernah Usai

Iwan Lamganda ManaluIwan Lamganda Manalu14 March 2026 • 13:10 WIB5 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Di sebuah kota di mana matahari enggan bersinar terang karena tertutup debu ambisi, hiduplah seorang pria bernama Gandaru. Ia bukan penghuni penjara bawah tanah yang lembap, melainkan seorang penghuni Istana Kaca. Namun, bagi Gandaru, kaca-kaca itu bukanlah jendela untuk melihat dunia, melainkan cermin yang memantulkan ribuan wajah dosanya sendiri.

Gandaru, seorang dirigen dari sebuah orkestra yang sumbang. Musik yang ia pimpin adalah gemerincing koin yang jatuh di atas penderitaan, dan gesekan busur biola yang terbuat dari janji-janji palsu. Dahulu, ia mengira sedang menanam benih pohon peneduh, namun ternyata ia sedang menyemai akar-akar beracun yang kini melilit kakinya begitu kuat. Ia terjebak dalam sebuah tarian melingkar. Setiap langkah yang ia ambil untuk keluar justru membawanya kembali ke titik pusat: sebuah meja kayu jati tempat ia menandatangani “surat kematian” bagi hati nuraninya. Ia tahu bahwa tinta yang ia gunakan bukanlah tinta biasa, melainkan darah dari harapan orang-orang kecil yang ia hisap perlahan melalui sedotan birokrasi.

Di rumahnya, meja makan adalah panggung sandiwara. Istrinya duduk dengan anggun, mengenakan kalung mutiara yang nampak seperti butiran air mata yang membeku. Setiap suapan nasi organik yang mereka makan terasa seperti menelan kerikil tajam, karena Gandaru tahu nasi itu dibeli dari “uang sisa” proyek yang ia sunat. Ia ingin berteriak kepada istrinya bahwa rumah megah mereka hanyalah sebuah peti mati yang megah, dan setiap kemewahan yang mereka miliki adalah paku yang mempererat penutupnya. Namun, suaranya telah dicuri oleh kenyamanan. Ia telah menukarkan lidahnya dengan sepotong keju emas, dan kini ia hanya bisa mengecap rasa pahit di tengah pesta pora.

Labirin Tanpa Pintu: Lorong Cermin yang Menyesatkan

Gandaru sering merasa bahwa kantornya bukan lagi sebuah bangunan beton, melainkan sebuah labirin yang dibangun dari tumpukan berkas berdosa dan dinding-dinding cermin yang memantulkan kebohongannya dari segala arah. Ia pernah mencoba mencari pintu keluar sebuah jalan pulang menuju dirinya yang dulu, yang masih bisa menatap matahari tanpa rasa malu. Namun, setiap langkah yang ia ambil untuk menjauh dari pusat pusaran, justru terasa seperti tarikan gravitasi yang membawanya kembali ke titik nol.

Baca Juga  Menjaga Amanah Waktu

Lantai marmer yang ia pijak setiap hari bukan lagi sekadar batuan alam. Baginya, itu adalah permukaan telaga yang membeku, di mana di bawahnya ia bisa melihat bayangan ribuan orang yang ia korbankan sedang mengetuk-ngetuk es, meminta bagian mereka yang dicuri. Setiap kali ia mencoba berlari menuju pintu darurat, pintu itu berubah menjadi lukisan mati sebuah fatamorgana yang sengaja dipasang oleh “Sistem” untuk memberinya harapan palsu.

Di lorong-lorong sepi itu, ia sering berpapasan dengan rekan-rekan sejawatnya. Mereka semua tampak seperti zombie yang mengenakan dasi sutra. Mereka saling melempar senyum porselen, namun di balik mata mereka, Gandaru melihat ketakutan yang sama: ketakutan akan kegelapan jika lampu-lampu kekuasaan ini dipadamkan. Mereka adalah sesama penghuni labirin yang telah lupa bagaimana rasanya menghirup udara yang tidak berbau uang haram. Pernah suatu kali, ia mencoba berteriak di tengah kesunyian ruang arsip, berharap ada malaikat atau bahkan iblis yang datang untuk memutuskan rantai emas di kakinya. Namun, yang ia dengar hanyalah gema suaranya sendiri yang mengejeknya: “Kau adalah bagian dari rantai ini, Gandaru,” terdengar lagi teriakan itu: “Jika satu mata rantai putus, seluruh kapal akan tenggelam. Dan kau tahu, kau tidak bisa berenang di lautan dosamu sendiri.”;

Ia menyadari dengan pedih bahwa labirin ini tidak memiliki penjaga bersenjata. Penjaganya adalah rasa takutnya sendiri. Takut akan kemiskinan yang pernah ia benci, takut akan tatapan rendah orang-orang jika ia jatuh, dan takut akan keheningan yang akan datang jika semua hiruk-pikuk ini berhenti. Ia terkurung dalam sebuah paradoks: ia membenci setiap inci dari labirin ini, namun ia juga merasa bahwa di luar dinding ini, ia hanyalah seonggok daging tanpa nama yang akan segera membusuk.

Gandaru terus berjalan, menyusuri koridor yang tidak pernah berakhir. Setiap belokan hanya membawanya pada meja kerja yang sama, dengan tumpukan dokumen yang menuntut tanda tangannya sebagai tumbal harian. Ia sadar, pintu keluar itu sebenarnya ada, namun pintunya terkunci dari dalam dan kuncinya telah ia telan bulat-bulat demi menjaga rahasia-rahasia besar yang kini merayap di dalam perutnya seperti ulat bulu. Ia tidak lagi mencari pintu. Ia hanya terus berjalan, menghitung langkah-langkahnya yang sia-sia, sambil sesekali berhenti untuk mengagumi keindahan penjara yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Sebuah labirin tanpa pintu, di mana satu-satunya cara untuk keluar adalah dengan merobohkan seluruh strukturnya dan Gandaru terlalu pengecut untuk menjadi martir bagi nuraninya sendiri. Bagai sebuah boneka porselen yang digerakkan oleh benang-benang hitam yang menjuntai dari langit-langit kantornya. Ia tahu jalannya menuju jurang, namun ia terus berjalan dengan langkah yang tegak, seolah-olah sedang menuju singgasana.

Baca Juga  Dialektika Madilog dan Rasionalitas Yudisial: Menimbang Cara Berpikir Hakim dalam Mencari Keadilan

Penutup: Mahkota dari Duri Emas

Kini, Gandaru hidup dalam rutinitas neraka yang nyaman. Ia adalah jantung dari mesin raksasa yang memompa darah berupa uang gelap ke ribuan pipa birokrasi. Jika ia berhenti memompa, mesin itu akan meledak, dan serpihannya akan menghancurkan semua orang yang ia cintai. bukan karena tidak tahu jalan keluar, tapi karena ia terlalu takut pada harga yang harus dibayar untuk sebuah kebebasan. Ia lebih memilih terkungkung dalam dosa yang ia kenali daripada bebas dalam ketidakpastian yang jujur. Besok pagi, ia akan bangun lagi, mengenakan jas terbaiknya, dan kembali memutar roda lingkaran setan itu menjadi budak bagi mahkota yang terus membelenggu jiwanya hingga akhir waktu.

Ia memakai mahkota, namun mahkota itu terbuat dari duri emas yang menusuk hingga ke saraf kepalanya. Ia memimpin rapat-rapat besar dengan wibawa yang palsu. Sementara di balik jas mahalnya, jantungnya berdegup seperti genderang perang yang sedang meratapi kekalahan. Kesulitannya bukanlah tentang mencari makan, melainkan tentang mencari cara untuk bisa tidur tanpa melihat wajah-wajah orang yang ia khianati di balik kelopak matanya. Ia merana di tengah kelimpahan, dan ia terpenjara di tengah kebebasan yang semu. Ia memiliki segalanya, kecuali kunci untuk keluar dari dirinya sendiri. Ia tetap berada di dalam lingkaran itu, terus berputar hingga kepalanya pening, menanti saat di mana lingkaran itu akan mencekiknya hingga habis napas dalam sebuah perjamuan abadi yang tak pernah usai.

Iwan Lamganda Manalu
Kontributor
Iwan Lamganda Manalu
Hakim Pengadilan Negeri Mandailing Natal

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Alegori Cerpen Esai Sastra filsafat Ironi Iwan Lamganda Manalu Kemunafikan korupsi Kritik Sosial Labirin Cermin Metafora Perjalanan Batin. Renungan satire
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Seberapa Cerdaskah Anda?

23 April 2026 • 15:19 WIB

Dialektika Madilog dan Rasionalitas Yudisial: Menimbang Cara Berpikir Hakim dalam Mencari Keadilan

21 April 2026 • 08:08 WIB

Dialektika Filsafat, Agama, dan Hukum dalam Mencari Keadilan di Negara Hukum Indonesia

7 April 2026 • 09:22 WIB
Demo
Top Posts

Keterbukaan Proses Persidangan: Sebuah Perbandingan dari Tanah Hindustan

28 April 2026 • 19:23 WIB

Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India

28 April 2026 • 19:08 WIB

Dr. Varun Kapoor : Ancaman Kejahatan Siber ada di sekitar kita. Bagaimana cara menyikapinya?

28 April 2026 • 19:04 WIB

Bisakah Hakim Mempercayai Jejak Digital?

28 April 2026 • 18:39 WIB
Don't Miss

Keterbukaan Proses Persidangan: Sebuah Perbandingan dari Tanah Hindustan

By Misbahul Anwar28 April 2026 • 19:23 WIB0

Dampak Keterbukaan Keterbukaan merupakan salah satu instrumen untuk membangun kepercayaan, mencegah manipulasi dan memastikan akuntabilitas…

Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India

28 April 2026 • 19:08 WIB

PN Gresik Kembangkan Jurnal Ilmiah “Grissee Court”, Perkuat Tradisi Riset dan Epistemologi Hukum Peradilan

28 April 2026 • 19:05 WIB

Dr. Varun Kapoor : Ancaman Kejahatan Siber ada di sekitar kita. Bagaimana cara menyikapinya?

28 April 2026 • 19:04 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Keterbukaan Proses Persidangan: Sebuah Perbandingan dari Tanah Hindustan
  • Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India
  • PN Gresik Kembangkan Jurnal Ilmiah “Grissee Court”, Perkuat Tradisi Riset dan Epistemologi Hukum Peradilan
  • Dr. Varun Kapoor : Ancaman Kejahatan Siber ada di sekitar kita. Bagaimana cara menyikapinya?
  • Mekanisme Restitusi Berbasis Standar Biaya Dalam Perkara Jinayat Di Aceh

Recent Comments

  1. Tipisnya Hidup dan Kematian dalam Perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal: “Ketika Tasbih Mengalahkan Klakson” Suara BSDK Liputan Khusus Kegiatan BSDK Kerjasama dengan National Judicial Academy on Catatan Perjalanan: Dari Bhopal ke Jabalpur, “Roller Coaster” Darat Menuju Madhya Pradesh High Court
  2. Analisis Batas Fungsi Pengawasan DPR dan Prinsip Judicial Independence dalam Seruan Komisi III pada Kasus Vonis Bebas Amsal Sitepu - LP2KI FH-UH on Batas Kewenangan Konstitusional: Antara Fungsi Pengawasan DPR dan Kemandirian Kekuasaan Kehakiman
  3. is cenforce legal on Debu di Atas Map Hijau
  4. kamagra north sydney on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  5. what is vidalista 80 on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.