Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB

“Penguatan Kompetensi Jurusita untuk Peradilan Berkualitas”

27 July 2026 • 10:03 WIB

Reputasi dan Komunikasi Krisis: Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital

27 July 2026 • 07:04 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim
Features

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

Refleksi tentang Pengabdian, Kemanusiaan dan Tanggung Jawab Negara kepada Para Pengadil
Itsnaatul LathifahItsnaatul Lathifah27 July 2026 • 12:12 WIB8 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Setiap kali saya mendengar kabar seorang hakim meninggal dunia, sosial media kita dipenuhi ucapan dan stiker-stiker doa, kita selalu mengucapkan kalimat yang sama: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semenit kita membuka pesan itu, rasa kalut menyelimuti, setelahnya kita lupa apa yang sebelumnya terjadi, sebab aktivitas sehari-hari yang padat, pekerjaan yang menumpuk, menuntut kita untuk tetap fokus dan melanjutkan hidup.

Tidak hanya keluarga, pasangan dan anak yang menuntut kita sehat dan waras, kerumunan orang dengan wajah cemas di ruang tunggu kantor kita juga berharap kewarasan kita dalam setiap perjumpaan dan setiap kata yang kita urai dalam putusan. Atasan-atasan kita pun sama, berharap tidak ada keluhan atas kinerja kita.    

Namun, di balik itu semua, ada satu pertanyaan yang juga layak diajukan dengan jujur: apakah sebagai manusia dan sebagai negara, kita sudah melakukan ikhtiar terbaik untuk menjaga mereka yang mengemban amanah peradilan?

Pertanyaan itu bukan muncul karena menolak takdir, melainkan karena agama dan akal sama-sama mengajarkan bahwa ikhtiar adalah bagian dari keimanan. Tidak cukup hanya menerima kematian sebagai ketetapan Tuhan jika pada saat yang sama kita membiarkan sebuah sistem terus-menerus menggerus kesehatan fisik, mental, dan kehidupan sosial para hakim yang berpengaruh pada harapan hidup para hakim.

Saya teringat begitu banyak cerita yang lama-kelamaan hilang begitu saja dari ingatan kita.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Selasa sore, 21 Juli 2026, salah seorang sahabat yang penuh semangat dan dedikasi, Hakim Pengadilan Agama Soreang Syamsul Zakaria, S.Sy., M.H. mengembuskan napas terakhir menjelang petang di Soreang kota tempat ia bertugas, setelah seharian melakukan aktivitas bekerja seperti biasanya, tanpa ada keluhan apapun. Jenazah baru tiba di kampung halamannya di Fajar Bulan, Lampung Barat keesokan sore harinya setelah melalui perjalanan panjang.

Ada juga salah seorang senior hakim yang meninggal di kursi kerjanya, sendirian ketika sedang menyusun putusan.

Ada hakim yang wafat sendirian di rumah dinas di ujung timur Indonesia karena penyakit yang mungkin telah lama dipendam di tengah kesibukan dan tuntutan hidupnya, serta jauhnya akses fasilitas kesehatan untuknya. Jenazahnya harus menempuh ribuan kilometer sebelum akhirnya sampai ke pelukan keluarganya setelah tiga hari berlalu.

Ada pula hakim yang ditemukan telah meninggal di kamar kosnya setelah beberapa hari berlalu, karena saat itu sedang libur panjang dan tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa ia telah tiada.

Cerita-cerita itu mungkin berbeda nama, berbeda daerah, berbeda waktu. Namun polanya terasa begitu serupa. Mereka meninggal jauh dari rumah. Jauh dari pasangan. Jauh dari anak-anak. Semuanya pergi dalam kesunyian, namun penuh khidmah menjalankan tugas negara.

Ironisnya, kita sering kali menganggap semua itu sebagai bagian dari risiko profesi, bagian dari wilayah ketuhanan, yang seolah-olah tidak ada domain manusia untuk mengusahakannya.

Padahal, profesi hakim memang menuntut integritas, keberanian, dan pengorbanan. Tetapi pengorbanan tidak pernah dimaksudkan untuk menghilangkan kemanusiaan. Negara membutuhkan hakim yang kuat, tetapi hakim tetaplah manusia. Mereka memiliki tubuh yang bisa lelah, pikiran yang bisa jenuh, dan hati yang merindukan rumah.

Sayangnya, sistem kita terkadang memperlakukan mereka seolah-olah mesin yang tidak mengenal batas.

Salah seorang senior sering kali bercerita, bukan karena dia mengeluh dengan tanggung jawab yang ia pikul, saya hanya melihat dia juga manusia. Saat itu dia cerita dalam sehari dalam satu majelis bisa sidang ratusan perkara, saya pikir ini sebuah candaan, setelah saya cek dalam satu tahun pengadilan agama ini menyelesaikan 7.200 perkara dengan kapasitas 6 orang hakim, jika dipukul rata, dalam setahun seorang hakim memiliki beban penyelesaian 1.200 konsepan perkara, dengan sidang berjilid-jilid. Celakanya ini terjadi hampir di setiap Pengadilan Agama Kelas I A. 

Baca Juga  Revitalisasi Independensi Finansial Kekuasaan Kehakiman

Bagaimana mungkin dalam satu hari satu majelis harus memeriksa 50 hingga 80 perkara? Majelis Hakim sidang sampai malam, lalu kapan waktu untuk merenungkan keadilan untuk setiap perkara yang ia tangani? Kapan dia mempelajari istilah-istilah rumit dalam setiap perkaranya?

Di balik angka itu terdapat ratusan wajah pencari keadilan yang masing-masing berharap didengar. Di balik angka itu ada berita acara yang harus diperiksa, bukti yang harus diteliti, keterangan saksi yang harus dicermati, pertimbangan hukum yang harus disusun dengan penuh kehati-hatian. Putusan bukan sekadar produk administrasi yang dicetak dari sebuah mesin. Setiap putusan adalah hasil dari konsentrasi, tanggung jawab moral, dan pergulatan intelektual yang sangat melelahkan.

Semakin banyak perkara yang dipaksakan cepat selesai, semakin kecil kesempatan bagi hakim untuk memikirkan apa sesungguhnya keadilan untuk kasus ini? Semakin tipis ruang bagi hakim untuk beristirahat. Tubuh dipaksa bekerja ketika pikiran sudah lelah. Pikiran dipaksa tetap tajam ketika kesehatan mulai memberi sinyal bahaya.

Lalu kita heran ketika asam lambung kambuh, tekanan darah meningkat, penyakit jantung muncul, atau stroke datang tanpa aba-aba.

Di banyak kantor, bercanda menjadi cara paling mudah menyembunyikan lelah.

“Jangan kerja keras-keras. Kalau kita kenapa-kenapa, paling-paling dikirimi karangan bunga.”

Kalimat itu terdengar lucu.

Namun justru terasa menyakitkan.

Sebab semua orang yang mendengarnya tahu bahwa di dalam candaan itu tersimpan rasa takut yang nyata.

Takut sakit ketika jauh dari keluarga.

Takut meninggal sendirian di rumah kontrakan.

Takut anak-anak hanya melihat ayah atau ibunya pulang dalam peti.

Takut bahwa setelah semua pengabdian itu berakhir, sistem hanya mampu memberikan penghormatan terakhir berupa karangan bunga dan beberapa kalimat belasungkawa. Setelah itu, silakan lanjutkan hidup sebagaimana manusia pada umumnya.

Tidak ada satu pun hakim yang memilih profesi ini demi kemewahan. Sebagian besar memilih dengan sadar, percaya bahwa menegakkan keadilan di tanah air tercinta adalah sebuah panggilan hati, bentuk pengabdian dan wujud cinta sejati pada negara. Memilih menjadi hakim berarti merelakan kepentingan pribadi, sepenuhnya hidup didedikasikan tidak hanya untuk keluarga semata, namun untuk orang lain yang tidak pernah kita kenali dan tentunya pengabdian kepada negara. Jika jabatan hakim hanya digunakan untuk memikirkan kepentingan pribadi semata, tentu kita sedang mereduksi dan mengerdilkan keluruhan jabatan hakim itu sendiri.

Namun demikian idealisme juga membutuhkan ruang hidup yang sehat. Tidak adil apabila negara terus-menerus menuntut hakim menghasilkan putusan berkualitas tinggi, tetapi pada saat yang sama membiarkan beban kerja yang tidak manusiawi berlangsung tanpa pembenahan yang berarti.

Di sinilah kita perlu berani mengajukan pertanyaan yang selama ini mungkin mengusik nurani dan dianggap sangat sensitif.

Apakah mutasi nasional dalam bentuk yang berlaku sekarang benar-benar menjadi satu-satunya cara untuk memastikan bisnis proses peradilan tetap jalan?

Apakah kualitas hakim hanya dapat dibentuk dengan memindahkan mereka ribuan kilometer dari keluarga, dari orang tua yang menua, dari pasangan yang harus menjalani long distance marriage, dan dari anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran orang tuanya?

Baca Juga  Di Meja Hijau, Saya Belajar Tentang Manusia

Ataukah sudah saatnya kita memikirkan pendekatan lain yang lebih manusiawi?

Pengadaan hakim berdasarkan porsi kebutuhan, misal jika Pengadilan Agama krisis hakim sebab praktik hakim tunggal dimana-mana maka pengadaan calon hakim semestinya memberikan porsi yang lebih bagi matra yang kekeringan sumber daya hakim.

Dalam hal permutasian, apakah dimungkinkan mutasi dalam skala regional misalnya, bukan berarti menghilangkan kebutuhan organisasi. Ia justru berusaha menyeimbangkan kebutuhan organisasi dengan kebutuhan dasar manusia. Rekrutmen berbasis zonasi juga bukan berarti menutup mobilitas karier, melainkan mengurangi ketidakpastian hidup yang selama ini menjadi beban psikologis banyak hakim.

Ketika seorang hakim mengetahui bahwa sepanjang karirnya ia masih memiliki peluang besar untuk tetap berada dalam satu kawasan, ia dapat membangun kehidupan keluarga dengan lebih stabil. Anak-anak tidak terus-menerus berpindah sekolah. Pasangan tidak harus selalu memilih antara pekerjaan dan keluarga. Orang tua yang sudah renta tidak merasa ditinggalkan terlalu jauh.

Yang diperjuangkan bukanlah kenyamanan semata.

Yang diperjuangkan adalah keberlanjutan pengabdian dan kualitas kinerja.

Hakim yang sehat akan lebih mampu menjaga independensi. Hakim yang memiliki kehidupan keluarga yang stabil akan lebih tenang dalam mengambil keputusan. Hakim yang tidak terus-menerus dibayangi kelelahan fisik dan kecemasan psikologis akan memiliki kapasitas yang lebih baik untuk memberikan keadilan kepada masyarakat.

Karena pada akhirnya, kualitas peradilan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan regulasi atau megahnya gedung pengadilan. Kualitas peradilan sangat bergantung pada kualitas manusia yang menjalankannya.

Dan manusia hanya dapat memberikan yang terbaik ketika ia sendiri diperlakukan sebagai manusia.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun.

Ini juga bukan penolakan terhadap mutasi atau pengorbanan yang melekat pada profesi hakim.

Ini hanyalah sebuah ajakan untuk merenung.

Setiap kali seorang hakim berpulang secara mendadak, sesungguhnya kita sedang kehilangan lebih dari seorang teman. Kita kehilangan kekuatan, kehilangan harapan dan masa depan lembaga peradilan, kita kehilangan keadilan itu sendiri.

Karangan bunga dapat dikirim dalam hitungan jam.

Ucapan belasungkawa dapat selesai ditulis dalam beberapa detik.

Tetapi seorang hakim yang telah mengabdikan hidupnya bagi keadilan tidak akan pernah kembali.

Maka mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Mengapa mereka meninggal?” tentu jawabannya adalah takdir Allah.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Sudahkah kita membangun sistem yang sungguh-sungguh menghargai kehidupan mereka selama masih hidup?”

Sebab ukuran sebuah negara yang menghormati hukum bukan hanya terletak pada banyaknya putusan yang dihasilkan, melainkan juga pada kemampuannya menjaga orang-orang yang setiap hari memikul beban keadilan itu.

Semoga kita tidak menunggu semakin banyak kabar duka sebelum menyadari bahwa menjaga hakim tetap hidup, sehat, dan dekat dengan keluarganya bukanlah bentuk kemanjaan profesi, melainkan investasi terbesar bagi tegaknya keadilan di negeri ini.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman hakim Angkatan 8 yang pergi mendahului kami:

  1. Syamsul Zakariya, S.Sy., M.H. (PA Soreang)
  2. Siti Sofiyah, S.H., M.H. (PA. Sekayu)
  3. M. Febri Rahardian, S.H., M.H (PA Klaten)
  4. Hesti Yosepta Ardi, S.H (PA Lebong)
  5. Rasikh Adila, S.H.I. (PA Pulau Punjung)
  6. Putri Sartika Prematura, S.H. (PN Tanjung Pati)
  7. Amirah Layaha, S.H., M.Kn (PN Barru)
  8. Mario Reymodnd P. Silalahi, S.H. (Hakim PN Kuala Kurun)
  9. Bambang Hadiyanto, S.H., (PN Sukamakmue)
  10. Farida Dwi Wijayanti, S.H (PN Sumbawa Besar)

Lahumul fatihah

Itsnaatul Lathifah
Kontributor
Itsnaatul Lathifah
Hakim Pengadilan Agama Rembang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Amanah Peradilan Beban Kerja Hakim Kehidupan Sosial Kesehatan Fisik Kesehatan Mental Kesejahteraan Hakim Mutasi Hakim Profesi Hakim
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB

Meneguhkan Negara Hukum Melalui Perlindungan Sosial: Sinergi Kebijakan Publik dan Lembaga Peradilan bagi Petani dan Pekerja Sektor Informal

1 July 2026 • 14:00 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB

Meneguhkan Negara Hukum Melalui Perlindungan Sosial: Sinergi Kebijakan Publik dan Lembaga Peradilan bagi Petani dan Pekerja Sektor Informal

1 July 2026 • 14:00 WIB
Don't Miss

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

By Itsnaatul Lathifah27 July 2026 • 12:12 WIB0

Setiap kali saya mendengar kabar seorang hakim meninggal dunia, sosial media kita dipenuhi ucapan dan…

“Penguatan Kompetensi Jurusita untuk Peradilan Berkualitas”

27 July 2026 • 10:03 WIB

Reputasi dan Komunikasi Krisis: Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital

27 July 2026 • 07:04 WIB

Konvergensi Hukum Acara Peradilan Agama dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan: Analisis Implementasi PERMA Nomor 4 Tahun 2025

26 July 2026 • 09:00 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim
  • “Penguatan Kompetensi Jurusita untuk Peradilan Berkualitas”
  • Reputasi dan Komunikasi Krisis: Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Konvergensi Hukum Acara Peradilan Agama dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan: Analisis Implementasi PERMA Nomor 4 Tahun 2025
  • Menghadirkan Ilmu dan Hati Nurani dalam Putusan Pengadilan

Recent Comments

  1. Gustav on PA Soreang Berduka: Hakim Samsul Zakaria Meninggal Dunia
  2. BruceFieda on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  3. Albertoselve on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  4. Jefferylog on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  5. Gregoryaliff on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.