Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ancaman Deepfake Dalam Persidangan, Alat Bukti Elektronik dan Perspektif Pembuktian di Lingkungan Peradilan Agama

October 24, 2026

Sewindu PA Soreang, Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak Bersama Pemkab Bandung

October 24, 2026

Problematika Pemberian Izin dan Persetujuan Pemblokiran Berdasarkan KUHAP 2025

October 23, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

Refleksi tentang Pengabdian, Kemanusiaan dan Tanggung Jawab Negara kepada Para Pengadil
Itsnaatul LathifahBy Itsnaatul LathifahJuly 27, 2026 · 12:12 WIB8 Mins Read5 Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Setiap kali saya mendengar kabar seorang hakim meninggal dunia, sosial media kita dipenuhi ucapan dan stiker-stiker doa, kita selalu mengucapkan kalimat yang sama: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semenit kita membuka pesan itu, rasa kalut menyelimuti, setelahnya kita lupa apa yang sebelumnya terjadi, sebab aktivitas sehari-hari yang padat, pekerjaan yang menumpuk, menuntut kita untuk tetap fokus dan melanjutkan hidup.

Tidak hanya keluarga, pasangan dan anak yang menuntut kita sehat dan waras, kerumunan orang dengan wajah cemas di ruang tunggu kantor kita juga berharap kewarasan kita dalam setiap perjumpaan dan setiap kata yang kita urai dalam putusan. Atasan-atasan kita pun sama, berharap tidak ada keluhan atas kinerja kita.    

Namun, di balik itu semua, ada satu pertanyaan yang juga layak diajukan dengan jujur: apakah sebagai manusia dan sebagai negara, kita sudah melakukan ikhtiar terbaik untuk menjaga mereka yang mengemban amanah peradilan?

Pertanyaan itu bukan muncul karena menolak takdir, melainkan karena agama dan akal sama-sama mengajarkan bahwa ikhtiar adalah bagian dari keimanan. Tidak cukup hanya menerima kematian sebagai ketetapan Tuhan jika pada saat yang sama kita membiarkan sebuah sistem terus-menerus menggerus kesehatan fisik, mental, dan kehidupan sosial para hakim yang berpengaruh pada harapan hidup para hakim.

Saya teringat begitu banyak cerita yang lama-kelamaan hilang begitu saja dari ingatan kita.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Selasa sore, 21 Juli 2026, salah seorang sahabat yang penuh semangat dan dedikasi, Hakim Pengadilan Agama Soreang Syamsul Zakaria, S.Sy., M.H. mengembuskan napas terakhir menjelang petang di Soreang kota tempat ia bertugas, setelah seharian melakukan aktivitas bekerja seperti biasanya, tanpa ada keluhan apapun. Jenazah baru tiba di kampung halamannya di Fajar Bulan, Lampung Barat keesokan sore harinya setelah melalui perjalanan panjang.

Ada juga salah seorang senior hakim yang meninggal di kursi kerjanya, sendirian ketika sedang menyusun putusan.

Ada hakim yang wafat sendirian di rumah dinas di ujung timur Indonesia karena penyakit yang mungkin telah lama dipendam di tengah kesibukan dan tuntutan hidupnya, serta jauhnya akses fasilitas kesehatan untuknya. Jenazahnya harus menempuh ribuan kilometer sebelum akhirnya sampai ke pelukan keluarganya setelah tiga hari berlalu.

Ada pula hakim yang ditemukan telah meninggal di kamar kosnya setelah beberapa hari berlalu, karena saat itu sedang libur panjang dan tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa ia telah tiada.

Cerita-cerita itu mungkin berbeda nama, berbeda daerah, berbeda waktu. Namun polanya terasa begitu serupa. Mereka meninggal jauh dari rumah. Jauh dari pasangan. Jauh dari anak-anak. Semuanya pergi dalam kesunyian, namun penuh khidmah menjalankan tugas negara.

Ironisnya, kita sering kali menganggap semua itu sebagai bagian dari risiko profesi, bagian dari wilayah ketuhanan, yang seolah-olah tidak ada domain manusia untuk mengusahakannya.

Padahal, profesi hakim memang menuntut integritas, keberanian, dan pengorbanan. Tetapi pengorbanan tidak pernah dimaksudkan untuk menghilangkan kemanusiaan. Negara membutuhkan hakim yang kuat, tetapi hakim tetaplah manusia. Mereka memiliki tubuh yang bisa lelah, pikiran yang bisa jenuh, dan hati yang merindukan rumah.

Sayangnya, sistem kita terkadang memperlakukan mereka seolah-olah mesin yang tidak mengenal batas.

Salah seorang senior sering kali bercerita, bukan karena dia mengeluh dengan tanggung jawab yang ia pikul, saya hanya melihat dia juga manusia. Saat itu dia cerita dalam sehari dalam satu majelis bisa sidang ratusan perkara, saya pikir ini sebuah candaan, setelah saya cek dalam satu tahun pengadilan agama ini menyelesaikan 7.200 perkara dengan kapasitas 6 orang hakim, jika dipukul rata, dalam setahun seorang hakim memiliki beban penyelesaian 1.200 konsepan perkara, dengan sidang berjilid-jilid. Celakanya ini terjadi hampir di setiap Pengadilan Agama Kelas I A. 

Baca Juga  Peringati HUT Ke-8, PA Soreang Gelar Donor Darah, Targetkan 100 Pendonor

Bagaimana mungkin dalam satu hari satu majelis harus memeriksa 50 hingga 80 perkara? Majelis Hakim sidang sampai malam, lalu kapan waktu untuk merenungkan keadilan untuk setiap perkara yang ia tangani? Kapan dia mempelajari istilah-istilah rumit dalam setiap perkaranya?

Di balik angka itu terdapat ratusan wajah pencari keadilan yang masing-masing berharap didengar. Di balik angka itu ada berita acara yang harus diperiksa, bukti yang harus diteliti, keterangan saksi yang harus dicermati, pertimbangan hukum yang harus disusun dengan penuh kehati-hatian. Putusan bukan sekadar produk administrasi yang dicetak dari sebuah mesin. Setiap putusan adalah hasil dari konsentrasi, tanggung jawab moral, dan pergulatan intelektual yang sangat melelahkan.

Semakin banyak perkara yang dipaksakan cepat selesai, semakin kecil kesempatan bagi hakim untuk memikirkan apa sesungguhnya keadilan untuk kasus ini? Semakin tipis ruang bagi hakim untuk beristirahat. Tubuh dipaksa bekerja ketika pikiran sudah lelah. Pikiran dipaksa tetap tajam ketika kesehatan mulai memberi sinyal bahaya.

Lalu kita heran ketika asam lambung kambuh, tekanan darah meningkat, penyakit jantung muncul, atau stroke datang tanpa aba-aba.

Di banyak kantor, bercanda menjadi cara paling mudah menyembunyikan lelah.

“Jangan kerja keras-keras. Kalau kita kenapa-kenapa, paling-paling dikirimi karangan bunga.”

Kalimat itu terdengar lucu.

Namun justru terasa menyakitkan.

Sebab semua orang yang mendengarnya tahu bahwa di dalam candaan itu tersimpan rasa takut yang nyata.

Takut sakit ketika jauh dari keluarga.

Takut meninggal sendirian di rumah kontrakan.

Takut anak-anak hanya melihat ayah atau ibunya pulang dalam peti.

Takut bahwa setelah semua pengabdian itu berakhir, sistem hanya mampu memberikan penghormatan terakhir berupa karangan bunga dan beberapa kalimat belasungkawa. Setelah itu, silakan lanjutkan hidup sebagaimana manusia pada umumnya.

Tidak ada satu pun hakim yang memilih profesi ini demi kemewahan. Sebagian besar memilih dengan sadar, percaya bahwa menegakkan keadilan di tanah air tercinta adalah sebuah panggilan hati, bentuk pengabdian dan wujud cinta sejati pada negara. Memilih menjadi hakim berarti merelakan kepentingan pribadi, sepenuhnya hidup didedikasikan tidak hanya untuk keluarga semata, namun untuk orang lain yang tidak pernah kita kenali dan tentunya pengabdian kepada negara. Jika jabatan hakim hanya digunakan untuk memikirkan kepentingan pribadi semata, tentu kita sedang mereduksi dan mengerdilkan keluruhan jabatan hakim itu sendiri.

Namun demikian idealisme juga membutuhkan ruang hidup yang sehat. Tidak adil apabila negara terus-menerus menuntut hakim menghasilkan putusan berkualitas tinggi, tetapi pada saat yang sama membiarkan beban kerja yang tidak manusiawi berlangsung tanpa pembenahan yang berarti.

Di sinilah kita perlu berani mengajukan pertanyaan yang selama ini mungkin mengusik nurani dan dianggap sangat sensitif.

Apakah mutasi nasional dalam bentuk yang berlaku sekarang benar-benar menjadi satu-satunya cara untuk memastikan bisnis proses peradilan tetap jalan?

Apakah kualitas hakim hanya dapat dibentuk dengan memindahkan mereka ribuan kilometer dari keluarga, dari orang tua yang menua, dari pasangan yang harus menjalani long distance marriage, dan dari anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran orang tuanya?

Baca Juga  Gelap Sunyi Malam Saksi Getir Hakim Daerah Ditengah Keterbatasan

Ataukah sudah saatnya kita memikirkan pendekatan lain yang lebih manusiawi?

Pengadaan hakim berdasarkan porsi kebutuhan, misal jika Pengadilan Agama krisis hakim sebab praktik hakim tunggal dimana-mana maka pengadaan calon hakim semestinya memberikan porsi yang lebih bagi matra yang kekeringan sumber daya hakim.

Dalam hal permutasian, apakah dimungkinkan mutasi dalam skala regional misalnya, bukan berarti menghilangkan kebutuhan organisasi. Ia justru berusaha menyeimbangkan kebutuhan organisasi dengan kebutuhan dasar manusia. Rekrutmen berbasis zonasi juga bukan berarti menutup mobilitas karier, melainkan mengurangi ketidakpastian hidup yang selama ini menjadi beban psikologis banyak hakim.

Ketika seorang hakim mengetahui bahwa sepanjang karirnya ia masih memiliki peluang besar untuk tetap berada dalam satu kawasan, ia dapat membangun kehidupan keluarga dengan lebih stabil. Anak-anak tidak terus-menerus berpindah sekolah. Pasangan tidak harus selalu memilih antara pekerjaan dan keluarga. Orang tua yang sudah renta tidak merasa ditinggalkan terlalu jauh.

Yang diperjuangkan bukanlah kenyamanan semata.

Yang diperjuangkan adalah keberlanjutan pengabdian dan kualitas kinerja.

Hakim yang sehat akan lebih mampu menjaga independensi. Hakim yang memiliki kehidupan keluarga yang stabil akan lebih tenang dalam mengambil keputusan. Hakim yang tidak terus-menerus dibayangi kelelahan fisik dan kecemasan psikologis akan memiliki kapasitas yang lebih baik untuk memberikan keadilan kepada masyarakat.

Karena pada akhirnya, kualitas peradilan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan regulasi atau megahnya gedung pengadilan. Kualitas peradilan sangat bergantung pada kualitas manusia yang menjalankannya.

Dan manusia hanya dapat memberikan yang terbaik ketika ia sendiri diperlakukan sebagai manusia.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun.

Ini juga bukan penolakan terhadap mutasi atau pengorbanan yang melekat pada profesi hakim.

Ini hanyalah sebuah ajakan untuk merenung.

Setiap kali seorang hakim berpulang secara mendadak, sesungguhnya kita sedang kehilangan lebih dari seorang teman. Kita kehilangan kekuatan, kehilangan harapan dan masa depan lembaga peradilan, kita kehilangan keadilan itu sendiri.

Karangan bunga dapat dikirim dalam hitungan jam.

Ucapan belasungkawa dapat selesai ditulis dalam beberapa detik.

Tetapi seorang hakim yang telah mengabdikan hidupnya bagi keadilan tidak akan pernah kembali.

Maka mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Mengapa mereka meninggal?” tentu jawabannya adalah takdir Allah.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Sudahkah kita membangun sistem yang sungguh-sungguh menghargai kehidupan mereka selama masih hidup?”

Sebab ukuran sebuah negara yang menghormati hukum bukan hanya terletak pada banyaknya putusan yang dihasilkan, melainkan juga pada kemampuannya menjaga orang-orang yang setiap hari memikul beban keadilan itu.

Semoga kita tidak menunggu semakin banyak kabar duka sebelum menyadari bahwa menjaga hakim tetap hidup, sehat, dan dekat dengan keluarganya bukanlah bentuk kemanjaan profesi, melainkan investasi terbesar bagi tegaknya keadilan di negeri ini.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman hakim Angkatan 8 yang pergi mendahului kami:

  1. Syamsul Zakariya, S.Sy., M.H. (PA Soreang)
  2. Siti Sofiyah, S.H., M.H. (PA. Sekayu)
  3. M. Febri Rahardian, S.H., M.H (PA Klaten)
  4. Hesti Yosepta Ardi, S.H (PA Lebong)
  5. Rasikh Adila, S.H.I. (PA Pulau Punjung)
  6. Putri Sartika Prematura, S.H. (PN Tanjung Pati)
  7. Amirah Layaha, S.H., M.Kn (PN Barru)
  8. Mario Reymodnd P. Silalahi, S.H. (Hakim PN Kuala Kurun)
  9. Bambang Hadiyanto, S.H., (PN Sukamakmue)
  10. Farida Dwi Jayanthi, S.H (PN Sumbawa Besar)

Lahumul fatihah

Itsnaatul Lathifah
Kontributor
Itsnaatul Lathifah
Hakim Pengadilan Agama Rembang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Amanah Peradilan Beban Kerja Hakim Kehidupan Sosial Kesehatan Fisik Kesehatan Mental Kesejahteraan Hakim Mutasi Hakim Profesi Hakim
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Peringati HUT Ke-8, PA Soreang Gelar Donor Darah, Targetkan 100 Pendonor

October 19, 2026

5 Comments

  1. Sarmin syukur on July 28, 2026 5:12 am

    Inilah suara hati ribuan hakim…tapi sayang..suara itu meskipun banyak tidak pernah terdengar oleh hati yg tidak punya nurani..sehingga hanya menjadi cerpen belaka.




    Reply
  2. Agus A on July 28, 2026 8:49 am

    Sangat membawa pada renungan




    Reply
  3. Abdul Kasim on July 28, 2026 10:19 am

    Tulisan yang menyentuh, Mengingat Almarhum istri yang selalu selesai sidang hampir jam 8 malam, sesampai di rumah Kontrakan hanya istirahat untuk Makan malam, kemudian lanjut Mengerjakan Putusan, dan selalu istirahat diatas jam 1 malam, kemudian mesti bangun Pagi untuk absensi digital. Alfatihah, untuk Istriku Farida Dwi Jayanthi. “(Bukan Wijayanti)




    Reply
  4. Isty on July 28, 2026 9:51 pm

    Terimakasih sudah menyuarakan ini sahabatku, jarak yang terbentang antara saya dan suami kadang menghadirkan sebuah renungan, apakah ini jalan hidup yg kupilih? Diantara kebijakan yg bisa mendekatkan keluarga, mengapa masih bnyak psangan yg berjauhan, anak2 yg hnya bisa mlihat ayahnya via vidcall, pdahal keduanya (suami istri) yang mengabdikan negeri di rumah Mahkamah Agung tercinta ini.
    Apakah mereka tega, anak2 kami tmbuh dan besar tanpa kehadiran org tua yg lgkap??




    Reply
  5. Syihabuddin on August 6, 2026 9:04 pm

    Terimakasih atas refleksinya…
    Almarhum Mas Syamsul Zakaria adik kelas di Ponpes UII, sungguh kaget mendengar kabar kepergiannya yg sangat mendadak…
    Semoga Almarhum/Almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran… Kerja Hakim, kerja 24 jam yg memerlukan dedikasi dan integritas…
    Semoga menjadi perhatian dan kesadaran bagi segenap pemangku kepentingan untuk ditindaklanjuti dg kebijakan terbaik…
    Salam hormat dr warga asli pelosok Rembang.




    Reply
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026

Belajar Keadilan Iklim dari Secangkir Kopi: Setiap Daerah Punya Cerita, Alam Punya Keunikan

October 15, 2026
Don't Miss

Ancaman Deepfake Dalam Persidangan, Alat Bukti Elektronik dan Perspektif Pembuktian di Lingkungan Peradilan Agama

By Muhamad Deni SaputraOctober 24, 20260

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menghadirkan tantangan baru dalam dunia peradilan. Salah satunya adalah…

Sewindu PA Soreang, Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak Bersama Pemkab Bandung

October 24, 2026

Problematika Pemberian Izin dan Persetujuan Pemblokiran Berdasarkan KUHAP 2025

October 23, 2026

PTA Kepri Sukses Gelar FKP Tahun 2026, Monev Implementasi SEMA 1/2023

October 23, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Ancaman Deepfake Dalam Persidangan, Alat Bukti Elektronik dan Perspektif Pembuktian di Lingkungan Peradilan Agama
  • Sewindu PA Soreang, Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak Bersama Pemkab Bandung
  • Problematika Pemberian Izin dan Persetujuan Pemblokiran Berdasarkan KUHAP 2025
  • PTA Kepri Sukses Gelar FKP Tahun 2026, Monev Implementasi SEMA 1/2023
  • Ancaman Pidana Mati yang Kehilangan Dasar: Menelusuri Eksistensi Pasal 2 ayat (2) Undang Undang Tipikor  Pasca Berlakunya KUHP Nasional

Recent Comments

  1. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  2. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  3. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
  4. Abdul Mustopa on Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia
  5. H. Moh. Nasri on Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Sebagai Pembelajaran Diklat Pertama di Hari Pertama
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
  • Avatar photo Reza Kresna Adipraya
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Robiatul Adawiyah, S.H., M.H.
  • Avatar photo Rocky Gerung
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.