Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menelusuri Absennya Peran Korban Dalam Mekanisme Pengakuan Bersalah

7 March 2026 • 21:16 WIB

David Versus Goliath: Ketika Usia Tidak Lagi Menjamin Kebijaksanaan

7 March 2026 • 17:02 WIB

Palu Hakim Tidak Lebih Tinggi dari Wahyu: Renungan Nuzulul Qur’an bagi Para Penegak Keadilan

7 March 2026 • 13:30 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Hukum Sebagai Dialektika Pencerahan: Membongkar Rasionalitas Instrumental dan Merekonstruksi Legitimasi dalam Kritik Mazhab Frankfurt
Features Filsafat Uncategorized

Hukum Sebagai Dialektika Pencerahan: Membongkar Rasionalitas Instrumental dan Merekonstruksi Legitimasi dalam Kritik Mazhab Frankfurt

Syailendra Anantya PrawiraSyailendra Anantya Prawira18 December 2025 • 09:24 WIB5 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Mazhab Frankfurt, atau Teori Kritis, lahir dari kesadaran akan kegagalan proyek pencerahan, sebuah proyek yang menjanjikan pembebasan rasional, tetapi justru melahirkan bentuk-bentuk dominasi dan birokrasi yang baru. Bagi para pemikir utama seperti Max Horkheimer, Theodor W. Adorno, dan kemudian Jürgen Habermas, hukum adalah medan krusial dimana dialektika ambivalen modernitas ini dipertarungkan. Hukum modern, dengan formalitas, sistematisasi, dan klaim universalitasnya, secara historis mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan janji keadilan dalam sisi rasionalitasnya. Namun, teori kritis menunjukkan bagaimana janji itu berbalik, mengubah hukum dari instrumen pembebasan menjadi mekanisme administrasi dan penindasan sosial.

Horkheimer dan Adorno: Hukum sebagai Rasionalitas Instrumental yang Totaliter

Inti dari kritik awal mazhab frankfurt, yang tercantum dalam magnum opusnya Horkheimer dan Adorno, Dialectic of Enlightenment (1944), adalah diagnosis mengenai rasionalitas instrumental. Rasionalitas instrumental ialah jenis akal budi yang hanya berfokus pada efisiensi, perhitungan sarana-tujuan, dan kontrol, mengabaikan tujuan akhir etis atau nilai-nilai kualitatif.

Hukum modern, yang berakar pada rasionalitas formal-Weberian, adalah manifestasi sempurna dari rasionalitas instrumental. Sistem hukum didasarkan pada seperangkat aturan yang konsisten, tidak personal, dan dapat diprediksi. Meskipun hal tersebut adalah langkah maju dari hukum pra-modern yang serampangan, Horkheimer dan Adorno berpendapat bahwa formalitas ini telah menjadi penjara.

Formalisme hukum memisahkan proses legal dari keadilan materiil yang menekankan  pada substansi dari suatu aturan hukum, bukan hanya formalitasnya saja. Dalam masyarakat yang didominasi oleh kapitalisme terorganisir (atau “masyarakat yang dikelola secara total” – fully administered society), hukum bertindak sebagai perangkat birokrasi yang memelihara sistem. Keadilan tidak lagi ditentukan oleh etika atau kepatutan substantif, melainkan oleh kepatuhan prosedural. Hukum menjadi mesin yang bekerja secara efisien untuk melegitimasi ketidaksetaraan struktural yang ada.

Adorno, khususnya, menyoroti bagaimana sistem yang sepenuhnya dirasionalisasi ini memusnahkan individualitas dan kritik. Hukum, alih-alih memberikan kebebasan subjek otonom, justru mengatur dan mengekang subjek tersebut. Ketika hukum menjadi terlalu terorganisir dan administrasi menjadi total, ia kehilangan kapasitasnya untuk menjadi kritis. Hukum adalah manifestasi dari dominasi yang dilembagakan; ia menjanjikan keteraturan, tetapi keteraturan itu diperoleh dengan mengorbankan kebebasan substantif. Dengan kata lain, di bawah rasionalitas instrumental, hukum formal dapat menjadi legalitas tanpa legitimasi etis yang mendalam. Pengalaman fasisme dan totalitarianisme membuktikan bagi mereka bahwa sistem legal yang sangat rasional sekalipun dapat berfungsi sebagai instrumen teror, karena rasionalitasnya adalah rasionalitas kekuasaan, bukan pembebasan.

Baca Juga  Keshalehan Diri Pribadi dan Keadilan Sosial

Jürgen Habermas: Hukum sebagai Jembatan antara Sistem dan Dunia Kehidupan

Sementara Horkheimer dan Adorno pesimistis terhadap kemampuan rasionalitas modern hukum untuk membebaskan, generasi kedua mazhab frankfurt yang dipimpin oleh Jürgen Habermas mengambil jalur yang berbeda. Habermas tidak menolak hukum; sebaliknya, ia berupaya merekonstruksi potensinya yang emansipatif. Habermas berargumen bahwa kegagalan pencerahan bukanlah karena rasionalitas itu sendiri, melainkan karena rasionalitas direduksi menjadi bentuk instrumental (seperti yang dikritik oleh Adorno & Horkheimer). Ia mengusulkan konsep rasionalitas komunikatif, yakni akal budi yang berorientasi pada pemahaman timbal balik dan konsensus yang dicapai melalui diskursus bebas dan setara.

Dalam bukunya Faktizität und Geltung (Faktisitas dan Validitas/Legitimasi Hukum), Habermas menempatkan hukum sebagai institusi sentral yang menjembatani dua dimensi masyarakat modern: Sistem (ekonomi dan administrasi) dan Dunia Kehidupan (Lifeworld).

  1. Hukum dan sistem, dimana hukum berfungsi sebagai media yang merasionalisasi dan menstabilkan sistem, menyediakan prosedur, hak properti, dan kontrak yang diperlukan bagi ekonomi pasar dan birokrasi negara. Hal tersebut masuk ke dalam aspek faktisitas hukum, yakni aturan positif yang secara empiris berlaku dan ditegakkan.
  2. Hukum dan Dunia Kehidupan, dimana hukum juga menarik legitimasinya dari dunia kehidupan, yaitu ranah interaksi sosial, budaya, dan praktik komunikatif. Hal tersebut masuk ke dalam aspek validitas atau legitimasi hukum.

Bagi Habermas, agar hukum itu sah, ia harus dihasilkan melalui prinsip diskursus yang menegaskan bahwa norma atau aturan hanya valid jika manusia yang ada dalam pusaran sistem hukum tersebut dapat mengamininya sebagai partisipan dalam diskursus praktis yang rasional. Hukum yang sah adalah hukum yang menjaga keseimbangan antara kekuasaan birokratis (Sistem) dan kebebasan partisipatif warganya (Dunia Kehidupan).

Ketegangan Sentral: Kolonisasi Hukum dan Demokrasi Deliberatif

Kritik Habermas terhadap hukum berpusat pada fenomena kolonisasi dunia kehidupan. Hal tersebut terjadi ketika logika instrumental sistem (yakni, uang dan kekuasaan birokratis) mulai menyerbu dan menggantikan logika komunikatif dunia kehidupan. Dalam konteks hukum, kolonisasi ini terjadi ketika:

  1. Yuridisasi (Juridification), yakni kehidupan sosial diatur secara berlebihan oleh hukum formal, dimana masalah-masalah etis dan moral yang seharusnya diselesaikan melalui dialog dan budaya (Dunia Kehidupan) malah diubah menjadi kasus-kasus hukum prosedural (Sistem).
  2. Instrumentalisasi Hukum, dimana hukum semakin digunakan oleh negara atau kepentingan ekonomi untuk mengontrol dan mengadministrasikan, bukan untuk memediasi kebebasan masyarakat.
Baca Juga  TEGAS! KETUA SAMPAIKAN REKOMENDASI SANKSI KY TIDAK BOLEH MENYANGKUT ASPEK PEMERIKSAAN TEKNIS YUDISIAL

Habermas melihat hukum modern sebagai media yang secara unik diperlukan karena dua alasan. Pertama, ia merupakan sarana satu-satunya untuk mengintegrasikan masyarakat yang terfragmentasi. Kedua, hukum mengandung potensi emansipatif, karena ia adalah satu-satunya bentuk kekuasaan yang secara intrinsik harus mengklaim legitimasi melalui diskursus rasional.

Oleh karena itu, proyek Habermas adalah tentang membangun demokrasi deliberatif. Hukum tidak hanya harus adil dalam isinya, tetapi juga harus dihasilkan melalui proses demokratis yang memastikan partisipasi setara, keterbukaan, dan diskursus publik yang rasional, dimana warga negara melihat diri mereka sebagai perumus aturan yang mereka patuhi (otonomi publik dan privat). Hukum, dalam visi Habermas, menjadi pelindung bagi praktik komunikasi itu sendiri, memastikan bahwa rasionalitas komunikatif dapat menghasilkan norma yang sah dan benar-benar membebaskan.

Kesimpulan: Dari Kritik Destruktif ke Harapan Rekonstruktif

Irisan pemikiran mazhab frankfurt dengan hukum mengungkap dilema inti modernitas: bagaimana akal budi, yang dimaksudkan untuk membebaskan, berubah menjadi rantai dominasi. Horkheimer dan Adorno memberikan kritik tajam dan pesimis: hukum adalah alat rasionalitas instrumental yang mengadministrasikan penindasan dan memusnahkan kritik. Dalam analisis mereka, formalitas hukum hanyalah tabir yang menyembunyikan kekerasan struktural sistem yang totaliter.

Namun, Habermas menawarkan jalan keluar rekonstruktif. Ia tidak menolak hukum, tetapi menuntut agar hukum harus ditebus melalui prinsip diskursus. Bagi Habermas, hukum adalah institusi yang harus menjaga dirinya tetap rentan terhadap kritik diskursif dunia kehidupan. Tatanan legal hanya akan menjadi sah dan adil sejauh ia dapat menjamin kondisi-kondisi bagi warga negara untuk bersama-sama merumuskan dan secara kritis merevisi aturan-aturan mereka sendiri.

Dengan demikian, mazhab frankfurt menyajikan dua sisi mata uang hukum modern: ia adalah rasionalitas instrumental yang mendominasi, dan ia adalah forum rasionalitas komunikatif yang berpotensi membebaskan. Perjuangan untuk keadilan dalam masyarakat modern, menurut mereka, adalah perjuangan berkelanjutan untuk memastikan bahwa hukum melayani dunia kehidupan, bukan sebaliknya.

Syailendra Anantya Prawira
Kontributor
Syailendra Anantya Prawira
Hakim Pengadilan Negeri Bantaeng

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

filsafat hukum
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Eksistensi Living Law Dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia Pasca Berlakunya Kuhp Nasional

7 March 2026 • 09:04 WIB

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Perkembangan Hukum Waris Islam di Indonesia

3 March 2026 • 14:03 WIB
Demo
Top Posts

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB

Penerapan Asas Equality Of Arms dalam Pembuktian Kebocoran Data Pribadi

24 February 2026 • 09:05 WIB
Don't Miss

Menelusuri Absennya Peran Korban Dalam Mekanisme Pengakuan Bersalah

By Rafi Muhammad Ave7 March 2026 • 21:16 WIB0

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Hukum Acara Pidana (selanjutnya disebut KUHAP), mekanisme Pengakuan…

David Versus Goliath: Ketika Usia Tidak Lagi Menjamin Kebijaksanaan

7 March 2026 • 17:02 WIB

Palu Hakim Tidak Lebih Tinggi dari Wahyu: Renungan Nuzulul Qur’an bagi Para Penegak Keadilan

7 March 2026 • 13:30 WIB

Perceraian Verstek yang Melibatkan Pegawai Negeri Sipil: Hubungan antara Kewenangan Yudisial Pengadilan dan Kewajiban Administratif Kepegawaian

7 March 2026 • 10:22 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menelusuri Absennya Peran Korban Dalam Mekanisme Pengakuan Bersalah
  • David Versus Goliath: Ketika Usia Tidak Lagi Menjamin Kebijaksanaan
  • Palu Hakim Tidak Lebih Tinggi dari Wahyu: Renungan Nuzulul Qur’an bagi Para Penegak Keadilan
  • Perceraian Verstek yang Melibatkan Pegawai Negeri Sipil: Hubungan antara Kewenangan Yudisial Pengadilan dan Kewajiban Administratif Kepegawaian
  • KUHAP 2025: Equality of Arms dalam Pembuktian Perkara Pidana

Recent Comments

  1. diflucan for yeast on “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
  2. amlodipine besylate 5mg on “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
  3. amoxicillin for ear infection on Menapak Batas di Suprau: Descente PTUN Jayapura di Pesisir Kota Sorong
  4. levitra generic online on Mempererat Integritas dan Spiritualitas: Rangkaian Giat Ramadan 1447 H di Pengadilan Negeri Kotabaru
  5. hello world on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Mayor Laut (H) A. Junaedi, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas, S.H., M.Kn.
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Letkol Chk Dendi Sutiyoso, S.S., S.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.