Alkisah di sebuah negeri subur bernama Konoha‑Selatan, yang dipenuhi buah ranum dan lumbung padi berkilau, Sang Singa (si Raja Hutan) memutuskan bahwa satu penjaga saja tidak cukup untuk mengamankan kebun dari para penjarah. Maka, dihadirkanlah dua ekor serigala berbulu tebal dengan taring yang sama‑sama berkilau di bawah sinar bulan. Serigala Pertama adalah penguasa lama yang telah lama mendekam di pos jaga, cakarnya dipenuhi tinta emas dari ribuan berkas. Serigala Kedua adalah varian baru yang lahir dari barak prajurit, dada membusung penuh lencana dan sumpah sakti. Keduanya diberi mandat langit untuk memburu tikus‑tikus berdasi yang setiap malam menyusup ke gudang kerajaan.
Namun, alih‑alih mengendus bau uang basah yang merembes dari celah dinding, kedua makhluk mulia ini justru menghabiskan malam dengan saling memamerkan taring, mengukur lolongan siapa yang paling jantan di hadapan publik. Puncak komedi terjadi pada suatu petang, ketika angin membawa pengumuman agung bahwa seekor rubah yang juga Mantan Petinggi Serigala dari varian baru itu, yang dulu dikenal sebagai kepercayaan istana dalam memburu para tikus itu justru dicakar oleh serigala lama. Tidak lama setelah itu, cakar tersebut malah “dialihkan” dari cakar serigala lama ke cakar serigala varian baru dalam sebuah upacara sakral. Para kambing yang bertindak sebagai penonton di tribun bawah awalnya bertepuk girang, mengira itu adalah “pelimpahan” biasa yang menandakan proses keadilan akan berjalan mulus tanpa hambatan. Betapa terkejutnya mereka ketika kabar merembes bahwa rubah itu belum pernah digeledah, diinterogasi, atau bahkan dicium bulunya oleh kawanan Serigala varian baru. Ia hanya ditunjuk dari kejauhan, lalu diangkut dengan tandu emas ke kandang serigala varian baru dengan alasan “efisiensi”.
Secara filosofis, fenomena ini adalah parodi sempurna dari tesis kuno Quis custodiet ipsos custodes? siapa yang akan menjaga para penjaga ketika mereka sibuk menjaga diri dari penjaga lainnya? Dialektika Hegelian yang agung seketika runtuh menjadi dagelan pasar malam: tesis (Serigala lama berkata “kami serahkan sepenuhnya”) bertemu antitesis (Serigala varian baru berkata “kami siap menerimanya”), tetapi sintesisnya bukanlah keadilan murni, melainkan sebuah kompromi bernama “penyerahan lanjutan”, sebuah frasa yang tak tercatat dalam kitab suci hukum acara rimba, bahkan mungkin tak ditemukan dalam kamus manapun. Dua taring besar ini menciptakan kategori baru seperti mengadili tanpa memeriksa, menyerahkan tanpa melimpahkan, dan berbagi tugas tanpa menyelesaikan hutang. Padahal, dalam aturan acara rimba yang sah, sebelum mangsa diserahkan ke tukang olah (yang pengolahnya juga dari kawanan serigala varian baru), ia harus dicacah dulu oleh pemburu awal dengan minimal dua pisau yang sah. Fakta bahwa rubah itu belum pernah dicacah sama sekali membuat upacara serah‑terima ini sama absurdnya dengan mengadakan pesta pernikahan tanpa mempelai Wanita, hanya ada pelaminan, kue, dan tamu yang kebingungan.
Para tetua desa yang biasa disebut “pakar telik” lantang berseru bahwa ini terobosan modern untuk mempersingkat waktu. Namun, di balik gonggongan optimis itu, bisik‑bisik dari bawah tanah justru makin nyaring: “Bagaimana bisa mempercepat proses jika lampu hijaunya saja belum dinyalakan?” Kecurigaan pun merambat ke akar pepohonan. Burung hantu pakar politik berbisik bahwa ritual ini sebenarnya adalah perang proksi yang dibungkus dalam suatu kompromi. Kedua serigala, yang saling curiga, memilih mengunci rahangnya masing‑masing pada satu hewan yang sama, agar tak ada yang bisa menggigit lebih tinggi ke sarang elang‑elang di atas istana kerajaan. Skenario menakutkan mengintai, rubah itu bisa saja mengajukan “mantra pembatalan” karena dijadikan tersangka tanpa pernah melihat wajah pemburu utamanya. Jika mantra ini berhasil, seluruh istana Kerajaan akan tertawa getir dimana kasus ini akan batal karena prosedur, bukan karena tidak bersalah atau tidak cukup bukti. Atau lebih parahnya, Si serigala varian baru ini bisa sengaja memperlambat langkah, membiarkan kasus membusuk di meja kerjanya, lalu menguburnya pelan di bawah tumpukan berkas “teknis” sampai lenyap ditelan penguburan diam‑diam.
Di sinilah komedi tragis memuncak. Para kambing jelata yang berteduh di balik pagar bambu hanya bisa menggaruk kepala, menyaksikan dua serigala elit sibuk mengukur panjang ekor dan kekuatan lolongan, sementara di dalam lumbung, tikus‑tikus berdasi terus menggelapkan gandum dengan tenang. Si Beruang Besar, yang disebut‑sebut sebagai dalang, duduk di kursi goyang sambil minum madu, menikmati tontonan dua predator besar yang saling melempar kertas. “Biarkan mereka berdebat siapa yang paling berhak memegang tongkat dan memperoleh pujian dari Sang Singa,” pikirnya, “selama aku masih bisa terus mengais rezeki tanpa rasa was-was.” Sungguh sebuah kemewahan intelektual bahwa “keadilan” didefinisikan ulang bukan sebagai hilangnya kejahatan, melainkan sebagai seberapa banyak kamera yang menangkap sorot mata tajam sang serigala saat konferensi pers. Thomas Hobbes mungkin menangis di kuburnya melihat Leviathan modern ini, di mana kontrak sosial tak lagi melindungi rakyat dari hukum rimba, melainkan mempertontonkan hukum rimba di dalam ruang sidang. Kedua kekuatan saling mengintai dari balik semak birokrasi, menggunakan instrumen intelijen mutakhir bukan untuk melacak aliran uang haram, melainkan untuk mencari tahu apakah serigala sebelah menyembunyikan tulang di balik jubahnya.
Lalu, muncullah usul dari para bijak: minta Sang Singa menitahkan seekor Garuda yang dulunya independen, yang konon juga punya hak “turun langsung” untuk merebut bola api ini. Namun, ada ironi di sini, Sang Singa sendiri sedang sibuk menjaga jarak agar tidak disebut cawe‑cawe, meskipun proses ini masih berada di lingkungan istana kerajaan, belum masuk ke ruang sidang yang terbuka. Dengan demikian, ia bisa memerintah tanpa terlihat memerintah, seperti dalang bayangan yang menarik benang dari balik layar. Beberapa abdi istana berbisik bahwa jika Garuda benar‑benar turun, itu mungkin satu‑satunya cara menyelamatkan sistem hukum dari kehancuran, tetapi yang lain meragukan, karena Garuda pun tak lepas dari pusaran kepentingan yang sama, karena sekarang sudah tidak lagi independen.
Hingga suatu malam, angin membawa kabar burung samar tentang sehelai kertas bertinta gelap yang tiba‑tiba muncul. Isinya tidak jelas, tetapi membuat kedua serigala terdiam sejenak. Apakah itu surat perintah untuk benar‑benar memeriksa rubah? Apakah itu isyarat menghentikan semua gonggongan? Ataukah itu hanya skenario baru dalam drama panjang berjudul “Bagaimana Membiarkan Pencuri Kenyang Tanpa Membiarkan Penjaga Kehilangan Muka”? Di tengah kabut tebal yang menyelimuti malam itu, tak ada yang benar‑benar tahu apakah ketukan pintu gerbang adalah penertiban yang jujur dan transparan, gertakan taktis dalam papan catur kekuasaan, atau bagian dari skenario besar untuk saling mengunci kartu AS agar perahu besar tetap seimbang dalam kepura‑puraan yang abadi.
Satu hal yang pasti bahwa di negeri makmur ini, kitab hukum acara bukan lagi panduan, melainkan kanvas bagi para pelukis kekuasaan untuk mencorat‑coret sesuai selera kompromi. Dua taring besar tetap berdiri gagah, saling mengawasi, saling mencurigai, dan saling berbagi mangsa yang belum sempat mereka cium baunya. Seluruh energi penegakan hukum terserap ke dalam pusaran rivalitas internal dan yang paling diuntungkan tentu saja para tikus tanah yang berpesta pora di lumbung, sambil sesekali berhenti menonton laga dua predator besar. Kedua serigala tetap melolong dengan narasi demi bangsa dan negara, sementara di bawah kaki mereka, tanah perlahan amblas digerogoti oleh mereka yang tak pernah masuk radar kecurigaan. Selamat datang di rimba modern, di mana yang terpenting bukanlah siapa yang benar, melainkan siapa yang paling tampak sibuk di depan kamera dan di mana pencuri tertawa paling lebar ketika para penjaga sibuk saling menggonggong dan berbagi beban kosong.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


