Oleh : Eliyas Eko Setyo-Hakim PN Sampang
Bao Zheng, yang dikenal sebagai Bao Gong atau Seing kita mengenalnya saat menonton serial tv berjudul Justice Bao yang tayang pada tahun 1974 hingga 1975 yang diproduksi oleh CTSTV dengan total 350 episode yang diperankan oleh Yi Ming sebagai sosok Bao Zheng kemudian pada tahun 1993 sosok Judge Bao diperankan oleh Jin Chao-chun. Bao Zheng sendiri adalah nama yang dikenal luas di Tiongkok karena komitmennya yang teguh terhadap pendirian keadilan, serta integritas dan dedikasinya dalam menegakkan hukum yang selalu dijunjung tinggi. Legenda hidup ini sangat berpengaruh di Tiongkok hingga saat ini sebagai hakim yang menginspirasi.
Bao Zheng adalah seorang yang lahir di Hefei, ibu kota Provinsi Anhui, Bao dianggap sebagai salah satu orang bijak di Tiongkok kala itu. Orang-orang umumnya menyebutnya “Bao Si Keadilan”, berkat keahliannya dalam menangani kasus-kasus kriminal, keberaniannya dalam memberikan nasihat yang lugas, dan kebenciannya yang mendalam terhadap perbuatan jahat.
Ketenaran Bao Zheng sebagai penegak hukum yang tegas mulai dikenal ketika ia bertugas sebagai hakim di Kaifeng. Di sana Bao Zheng menangani kasus-kasus rumit dengan berani, Keadilan dan persamaan di mata hukum semakin ditegaskan dengan bercirikan topi lebar yang selalu dikenakan Bao Zheng. Topi tersebut seolah menjadi simbol bahwa di hadapannya semua orang sama tanpa memandang status sosial (equality before the law).
Dalam tugasnya Bao Zheng dibantu oleh 6 (enam) pemabantunya, yaitu kepala pengawal yang ahli beladiri Zhan Zhao, sekretaris penesehat yang pandai Gongsun Ce serta pengawal lainnya Wang Chao, Ma Han, Zhang Long dan Zhao Hu.
Selain itu Bao Zheng banyak membongkar kasus korupsi, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, bijaksana dalam menyelesaikan perselisihan, dan melindungi rakyat. Selama masa jabatannya, ia memegang beberapa posisi penting, termasuk sebagai menteri dan kanselir, serta memainkan peran penting dalam reformasi pemerintahan. Bao Zheng, Dalam satu kisah, ia tanpa ragu menghukum seorang pangeran yang melakukan korupsi untuk membangun menara gading yang mewah dengan uang rakyat. Bao Zheng merobohkan menara tersebut sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Dan satu hal lagi Bao Zheng memiliki tiga alat pancung dengan corak kepala hewan yang berbeda-beda, melambangkan status sosial pelanggar hukum. Rakyat biasa dihukum dengan alat pancung berkepala anjing, pejabat yang bersalah dihukum dengan alat pancung berkepala harimau. Bahkan, Bao Zheng tak segan menggunakan alat pancung berkepala naga untuk menghukum kaisar dan keluarganya jika terbukti bersalah.
Di dalam seriar TV terlihat Kecerdasan Bao Zheng juga terlihat dalam strateginya untuk menangkap pencuri lihai. Ia menyebarkan berita tentang seekor monyet pencuri yang meneror kota sehingga pencuri yang sebenarnya terpancing dan tertangkap basah. Sikapnya yang mendengarkan semua pihak secara cermat dan memberikan solusi yang adil membuatnya dihormati dan dicintai rakyat. Kisah-kisahnya menjadi teladan bagi seorang pemimpin untuk bersikap tegas, cerdas, dan bijaksana dalam menegakkan keadilan.
Di beberapa daerah Tiongkok kala itu, Bao Zheng dipuja sebagai dewa pelindung rakyat dan penegak hukum. Kuil-kuil didirikan untuk menghormatinya dan banyak orang yang berdoa kepadanya untuk mendapatkan keadilan. Integritas dan ketegasan Bao Zheng telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam Sejarah yang saat ini bukti nyatanya ada di Hefei Propinsi Anhui Tiongkok yang terletak di sebelah kuil Bao Gong di Kawasan hutan Henan dibangun pada tahun 1985 dalam bentuk pemakaman Bao Zheng.
Ketegasan, kebijaksanaan, dan integritasnya menjadi inspirasi bagi banyak orang khusunya para hakim dalam mengadili sebuah perkara hingga saat ini. Bao Gong tidak hanya mewakili komitmen Tiongkok terhadap nilai-nilai ketegasan hukum, tetapi juga menjadi simbol nilai-nilai tersebut bagi dunia. Bao Zheng meninggal pada usia 63 tahun, kematiannya ditangisi oleh rakyat yang kehilangan sosok pemimpin yang adil dan bijaksana Kisah dan semangat Bao akan terus menginspirasi yang diceritakan kembali lewat film, opera, buku, serial telivisi yang wajib ditonton sebagai tontonan yang mengedukasi akan sebuah Integritas dan Keadilan.(EES).
Referensi :
West, Stephen H.; Idema, Wilt L. (2010). Monks, Bandits, Lovers, and Immortals: Eleven Early Chinese Plays.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp:
SUARABSDKMARI

