Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Keterbukaan Proses Persidangan: Sebuah Perbandingan dari Tanah Hindustan

28 April 2026 • 19:23 WIB

Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India

28 April 2026 • 19:08 WIB

PN Gresik Kembangkan Jurnal Ilmiah “Grissee Court”, Perkuat Tradisi Riset dan Epistemologi Hukum Peradilan

28 April 2026 • 19:05 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Hatta Ali: Jalan Panjang Seorang Hakim
Sosok

Hatta Ali: Jalan Panjang Seorang Hakim

Irvan MawardiIrvan Mawardi12 March 2026 • 12:37 WIB9 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Di dunia peradilan, jabatan sering kali dilihat sebagai puncak perjalanan karier. Namun bagi seorang hakim, jabatan sesungguhnya hanyalah bagian dari perjalanan panjang pengabdian kepada hukum dan keadilan.

Demikian pula perjalanan Hatta Ali. Ia memimpin Mahkamah Agung Republik Indonesia selama satu dekade, tetapi kisah kepemimpinannya tidak dimulai dari ruang rapat pimpinan Mahkamah Agung. Kisah itu justru bermula jauh sebelumnya—dari ruang sidang pengadilan negeri di berbagai daerah, tempat seorang hakim muda belajar memahami perkara, menimbang keadilan, dan menjaga marwah profesinya.

Perjalanan panjang itulah yang menjadikan Hatta Ali bukan sekadar pemimpin lembaga peradilan, tetapi juga simbol dari ketekunan seorang hakim karier yang menapaki setiap jenjang profesinya dengan kesabaran dan dedikasi. Potret kisah dan perjuangan Hatta Ali sebagai salah seorang Begawan hukum di Indonesia ini dapat kita baca dan nikmati dalam sebuah buku yang ditulis D.Y. Witanto dkk yang berjudul.“ Hatta Ali THE UNTOLD STORIES Kisah Perjalanan Hidup Prof. Dr. M. Hatta Ali, S.H., M.H. “. Penerbit. Imaji Cipta Karya yang terbit tahun 2020. Buku setebal 618 halaman ini berhasil merangkum secara kuat dan lengkap perjalanan hidup M. Hatta Ali. Berikut beberapa rangkuman saya terhadap buku tersebut.

Masa Kecil yang Membentuk Karakter

Hatta Ali lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 7 April 1950. Masa kecilnya tidak sepenuhnya mudah. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, dan sejak usia muda sudah harus belajar menghadapi berbagai keterbatasan hidup.

Namun justru dari pengalaman itulah terbentuk karakter yang kelak dikenal luas: sederhana, tenang, dan teguh dalam prinsip.

Dalam berbagai kisah yang tercatat dalam buku profilnya, masa kecil Hatta Ali menggambarkan bagaimana nilai-nilai kerja keras, kedisiplinan, dan tanggung jawab mulai tertanam sejak dini. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi fondasi penting ketika ia memilih jalan hidup sebagai seorang hakim. Baginya, hukum bukan sekadar profesi, melainkan panggilan pengabdian.

Menempuh Jalan Hukum

Perjalanan pendidikan membawa Hatta Ali ke dunia hukum. Ia menempuh studi di Universitas Airlangga, salah satu pusat pendidikan hukum terkemuka di Indonesia.

Di kampus inilah minatnya terhadap profesi hakim semakin kuat. Hatta Ali memandang profesi hakim sebagai profesi yang memiliki tanggung jawab moral besar: menjaga keseimbangan antara kepastian hukum dan rasa keadilan dalam masyarakat.

Pilihan untuk menjadi hakim bukanlah pilihan yang mudah. Profesi ini menuntut integritas, keteguhan, dan kesediaan untuk bekerja dalam kesunyian—tanpa sorotan, tetapi dengan tanggung jawab yang besar.

Memulai Karier sebagai Hakim

Perjalanan Hatta Ali di dunia peradilan dimulai dari bawah, sebagaimana jalur yang ditempuh banyak hakim karier di Indonesia. Ia tidak langsung berada di pusat kekuasaan peradilan, melainkan menapaki setiap tahap profesinya secara bertahap.

Perjalanan karier ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan dalam lembaga peradilan dibentuk oleh pengalaman panjang, perpindahan tugas, dan kesediaan untuk ditempatkan di berbagai daerah.

Secara kronologis, perjalanan karier Hatta Ali berlangsung sebagai berikut.

Pada tahun 1982, ia memulai pengabdiannya sebagai Calon Hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Dua tahun kemudian, pada 1984, ia diangkat menjadi Hakim pada Pengadilan Negeri Sabang.

Penugasan ini menjadi fase awal pembentukan dirinya sebagai hakim yang bekerja langsung dengan realitas perkara di lapangan.

Pada tahun 1990, ia dipercaya menjadi Hakim pada Pengadilan Negeri Lubuk Pakam. Dari sana kariernya mulai memasuki fase kepemimpinan ketika pada 1995 ia diangkat sebagai Wakil Ketua Pengadilan Negeri Gorontalo, lalu pada 1996 dipercaya sebagai Ketua Pengadilan Negeri Bitung.

Setelah itu, pada 1998, Hatta Ali kembali bertugas sebagai Hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Pengalaman panjang di pengadilan tingkat pertama ini membentuk pemahaman yang mendalam tentang praktik peradilan—mulai dari pemeriksaan perkara, penilaian alat bukti, hingga penyusunan putusan yang harus berdiri di antara kepastian hukum dan rasa keadilan.

Sabang: Sekolah Kehidupan Seorang Hatta Ali

Penugasan di Sabang pada tahun 1984 menjadi salah satu episode paling berkesan dalam perjalanan karier Hatta Ali. Kota kecil di ujung barat Indonesia itu bukan sekadar tempat bertugas bagi seorang hakim muda. Sabang adalah ruang pembelajaran kehidupan—tempat seorang hakim memahami bahwa keadilan tidak selalu hadir dalam ruang sidang yang nyaman, tetapi sering kali lahir dari keterbatasan dan tantangan.

Baca Juga  Mahan Agung, Kota Baru, dan Simpul Sejarah Peradilan Lampung

Pada masa itu, Sabang masih jauh dari pusat pemerintahan dan fasilitas modern seperti yang kita kenal sekarang. Akses transportasi terbatas, sarana peradilan sederhana, dan kehidupan sosial masyarakat sangat berbeda dengan kota-kota besar. Namun justru dalam suasana itulah seorang hakim belajar melihat hukum dari jarak yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Bagi Hatta Ali, Sabang bukan sekadar tempat penugasan administratif. Ia menjadi ruang pembentukan karakter. Di sana ia belajar memahami masyarakat dengan segala dinamika sosialnya, menghadapi perkara dengan berbagai keterbatasan sarana, serta memaknai profesi hakim sebagai pengabdian yang harus dijalankan di mana pun negara menugaskan.

Pengalaman di Sabang juga meninggalkan pesan penting bagi generasi hakim berikutnya: bahwa penugasan di daerah pelosok bukanlah sekadar fase awal karier yang harus dilalui dengan terpaksa. Justru di tempat-tempat seperti itulah seorang hakim menempa kepekaan sosial, keteguhan integritas, dan kedewasaan dalam memandang hukum. Dari ruang-ruang sidang sederhana di daerah terpencil, sering kali lahir hakim-hakim yang kelak memimpin lembaga peradilan.

Sabang, dengan segala kesederhanaannya, menjadi salah satu jejak sejarah dalam perjalanan hidup Hatta Ali. Dari pulau kecil di ujung barat Nusantara itu, perjalanan panjang seorang hakim karier terus bergerak—melintasi berbagai pengadilan, berbagai amanah, hingga akhirnya memimpin Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Dan dari kisah itu, para hakim muda dapat belajar bahwa setiap penugasan, di mana pun tempatnya, selalu menyimpan pelajaran berharga bagi perjalanan profesi seorang hakim. Pesan autentiknya, dalam perjalanan seorang hakim, sering kali sejarah besar justru dimulai dari tempat-tempat yang paling jauh dari pusat peta.

Memasuki Kepemimpinan Peradilan

Memasuki awal dekade 2000-an, karier Hatta Ali semakin berkembang. Pada 2000, ia diangkat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Manado, kemudian pada 2001 dipercaya sebagai Ketua Pengadilan Negeri Tangerang. Dua jabatan ini menunjukkan kapasitasnya tidak hanya sebagai hakim yang memahami perkara, tetapi juga sebagai pemimpin lembaga peradilan yang harus mengelola organisasi, sumber daya manusia, dan administrasi peradilan.

Perjalanan kariernya kemudian berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi ketika pada 2003 ia diangkat sebagai Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Denpasar. Pengalaman sebagai hakim tinggi memperluas perspektif yudisialnya, terutama dalam memeriksa perkara pada tingkat banding yang menuntut ketelitian analisis hukum yang lebih mendalam.

Menuju Mahkamah Agung

Tahun 2004 menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Pada tahun itu, Hatta Ali dipercaya sebagai Hakim Tinggi sekaligus Sekretaris Ketua Mahkamah Agung. Setahun kemudian, pada 2005, ia mendapat amanah strategis sebagai Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung.

Pengalaman ini memberinya perspektif baru tentang bagaimana sistem peradilan bekerja secara nasional, bukan hanya dari sudut pandang hakim yang mengadili perkara, tetapi juga dari sudut pandang pengelolaan kelembagaan.

Menjadi Hakim Agung

Karier Hatta Ali terus berkembang hingga akhirnya ia dipercaya menjadi hakim agung di Mahkamah Agung Republik Indonesia pada tahun 2004. Penugasan ini menempatkannya di puncak struktur peradilan nasional. Di Mahkamah Agung, ia terlibat dalam berbagai perkara penting yang membutuhkan ketelitian dan pertimbangan hukum yang mendalam. Rekan-rekannya mengenal Hatta Ali sebagai pribadi yang tenang, tidak banyak berbicara, tetapi memiliki ketajaman analisis dalam memahami perkara. Karakter tersebut membuatnya dipercaya untuk menangani berbagai perkara strategis yang memerlukan keseimbangan antara kepastian hukum dan rasa keadilan.

Memimpin Mahkamah Agung

Pada tahun 2012, Hatta Ali terpilih sebagai Ketua Mahkamah Agung. Ia menggantikan Harifin A. Tumpa. Pemilihannya terjadi pada masa ketika lembaga peradilan Indonesia masih terus menghadapi tuntutan reformasi. Publik menginginkan peradilan yang lebih transparan, lebih akuntabel, dan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Dalam masa kepemimpinannya, Hatta Ali menaruh perhatian besar pada modernisasi peradilan dan penguatan integritas lembaga. Ia menyadari bahwa kepercayaan publik terhadap pengadilan tidak hanya ditentukan oleh kualitas putusan hakim, tetapi juga oleh cara lembaga peradilan bekerja secara keseluruhan. Karena itu, berbagai langkah reformasi terus didorong selama masa kepemimpinannya.

Baca Juga  Melalui Seleksi Ketat dan Terbuka, MA Kirim Tiga Kandidat Hakim MK Pengganti Anwar Usman

 “Sebelum Ayam Jantan Berkokok”: Akselerasi Modernisasi Peradilan

Salah satu fase kepemimpinan yang paling berkesan dari Hatta Ali adalah dorongannya yang kuat terhadap modernisasi peradilan melalui pemanfaatan teknologi informasi. Pada masa itulah Mahkamah Agung mulai bergerak lebih cepat meninggalkan pola administrasi perkara yang sepenuhnya manual menuju sistem yang lebih transparan dan terintegrasi secara digital. Langkah ini tidak sekadar pembaruan teknis, tetapi merupakan bagian dari transformasi besar dalam cara lembaga peradilan bekerja dan melayani masyarakat.

Sebuah kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal di lingkungan peradilan lahir pada masa itu. Dalam salah satu forum internal, Hatta Ali menegaskan komitmennya dengan ungkapan yang kemudian dikenang banyak hakim dan aparatur peradilan: “Sebelum ayam jantan berkokok, 1 Januari 2014 semua pengadilan sudah mengimplementasikan CTS.” Pernyataan tersebut merujuk pada Case Tracking System (CTS)—sebuah sistem pelacakan perkara yang menjadi embrio dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) yang kini digunakan secara nasional di seluruh pengadilan Indonesia.

Kalimat itu bukan sekadar metafora retoris. Ia mencerminkan gaya kepemimpinan yang menuntut percepatan perubahan. Pada saat sebagian lembaga peradilan masih beradaptasi dengan teknologi informasi, Hatta Ali justru mendorong percepatan transformasi agar pengadilan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Implementasi CTS pada akhirnya menjadi tonggak penting dalam perjalanan modernisasi peradilan, karena sistem tersebut memungkinkan publik memantau perjalanan perkara secara lebih terbuka dan akuntabel.

Dari kebijakan inilah kemudian lahir ekosistem digital peradilan yang lebih luas—mulai dari SIPP hingga berbagai inovasi layanan berbasis elektronik yang berkembang pada tahun-tahun berikutnya. Bagi banyak hakim dan aparatur peradilan, kalimat “sebelum ayam jantan berkokok” bukan hanya slogan kepemimpinan, tetapi juga simbol dari tekad untuk membawa lembaga peradilan memasuki era modern: peradilan yang lebih transparan, lebih efisien, dan lebih dekat dengan masyarakat pencari keadilan.

Dari kalimat sederhana itu, Hatta Ali seolah mengingatkan bahwa modernisasi peradilan bukanlah pilihan, melainkan keharusan—dan perubahan besar selalu dimulai dari keberanian seorang pemimpin untuk berkata: waktunya sekarang.

Kepemimpinan yang Tenang

Selama satu dekade memimpin Mahkamah Agung, Hatta Ali dikenal sebagai pemimpin yang tidak banyak tampil di panggung publik. Ia lebih sering bekerja dalam kesunyian birokrasi peradilan. Namun di balik sikap yang tenang itu, ia dikenal memiliki komitmen kuat terhadap integritas lembaga peradilan. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa kehormatan hakim adalah fondasi utama kepercayaan publik terhadap pengadilan. Bagi Hatta Ali, hakim tidak hanya dituntut memiliki kemampuan hukum yang baik, tetapi juga integritas moral yang tinggi.

Ketika masa jabatannya berakhir pada tahun 2022, Hatta Ali meninggalkan Mahkamah Agung dengan sejumlah capaian penting. Modernisasi sistem peradilan berjalan lebih cepat, transparansi lembaga meningkat, dan kesadaran akan pentingnya integritas hakim semakin menguat di lingkungan peradilan. Namun warisan kepemimpinannya tidak hanya berupa kebijakan atau program kerja. Yang lebih penting adalah teladan tentang bagaimana memimpin lembaga peradilan dengan ketenangan, kesederhanaan, dan komitmen pada prinsip hukum.

Jejak dalam Sejarah Peradilan

Sejarah peradilan sering kali ditulis melalui putusan-putusan penting yang lahir dari ruang sidang. Tetapi sejarah juga dibangun oleh para pemimpin yang bekerja dalam kesunyian—membangun sistem, memperkuat institusi, dan menjaga marwah hukum.

Dalam perjalanan panjang peradilan Indonesia, nama Hatta Ali akan selalu dikenang sebagai salah satu pemimpin yang meneguhkan arah modernisasi Mahkamah Agung. Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah lembaga peradilan tidak hanya ditentukan oleh kewenangannya, tetapi oleh integritas orang-orang yang menjaganya. Dan dalam sejarah itu, Hatta Ali memilih jalan sunyi seorang hakim: bekerja tanpa banyak suara, tetapi meninggalkan jejak yang panjang bagi masa depan peradilan.

Sumber utama: D.Y. Witanto dkk. “ Hatta Ali THE UNTOLD STORIES Kisah Perjalanan Hidup Prof. Dr. M. Hatta Ali, S.H., M.H. “. Penerbit. Imaji Cipta Karya. 2020

Irvan Mawardi
Kontributor
Irvan Mawardi
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Biografi Hatta Ali Hatta Ali Ketua Mahkamah Agung Kisah Hakim mahkamah agung Perjalanan Karir Hakim Profil Hatta Ali
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Hari Ketiga Pelatihan BSDK: Tinggalkan Warisan Kolonial, Ratusan Hakim Dalami Paradigma Baru KUHAP 2025

22 April 2026 • 12:29 WIB

Sosialisasi di PTA Kepri: Komitmen dan Dukungan Pimpinan Kunci Sukses Keterbukaan Informasi Publik!

22 April 2026 • 12:27 WIB

Independensi Pengawasan Syariah Dan Implikasinya Terhadap Kewenangan Pengadilan Agama Dalam Sengketa Ekonomi SYARIAH

21 April 2026 • 14:12 WIB
Demo
Top Posts

Keterbukaan Proses Persidangan: Sebuah Perbandingan dari Tanah Hindustan

28 April 2026 • 19:23 WIB

Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India

28 April 2026 • 19:08 WIB

Dr. Varun Kapoor : Ancaman Kejahatan Siber ada di sekitar kita. Bagaimana cara menyikapinya?

28 April 2026 • 19:04 WIB

Bisakah Hakim Mempercayai Jejak Digital?

28 April 2026 • 18:39 WIB
Don't Miss

Keterbukaan Proses Persidangan: Sebuah Perbandingan dari Tanah Hindustan

By Misbahul Anwar28 April 2026 • 19:23 WIB0

Dampak Keterbukaan Keterbukaan merupakan salah satu instrumen untuk membangun kepercayaan, mencegah manipulasi dan memastikan akuntabilitas…

Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India

28 April 2026 • 19:08 WIB

PN Gresik Kembangkan Jurnal Ilmiah “Grissee Court”, Perkuat Tradisi Riset dan Epistemologi Hukum Peradilan

28 April 2026 • 19:05 WIB

Dr. Varun Kapoor : Ancaman Kejahatan Siber ada di sekitar kita. Bagaimana cara menyikapinya?

28 April 2026 • 19:04 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Keterbukaan Proses Persidangan: Sebuah Perbandingan dari Tanah Hindustan
  • Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India
  • PN Gresik Kembangkan Jurnal Ilmiah “Grissee Court”, Perkuat Tradisi Riset dan Epistemologi Hukum Peradilan
  • Dr. Varun Kapoor : Ancaman Kejahatan Siber ada di sekitar kita. Bagaimana cara menyikapinya?
  • Mekanisme Restitusi Berbasis Standar Biaya Dalam Perkara Jinayat Di Aceh

Recent Comments

  1. Tipisnya Hidup dan Kematian dalam Perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal: “Ketika Tasbih Mengalahkan Klakson” Suara BSDK Liputan Khusus Kegiatan BSDK Kerjasama dengan National Judicial Academy on Catatan Perjalanan: Dari Bhopal ke Jabalpur, “Roller Coaster” Darat Menuju Madhya Pradesh High Court
  2. Analisis Batas Fungsi Pengawasan DPR dan Prinsip Judicial Independence dalam Seruan Komisi III pada Kasus Vonis Bebas Amsal Sitepu - LP2KI FH-UH on Batas Kewenangan Konstitusional: Antara Fungsi Pengawasan DPR dan Kemandirian Kekuasaan Kehakiman
  3. is cenforce legal on Debu di Atas Map Hijau
  4. kamagra north sydney on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  5. what is vidalista 80 on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.