Pembinaan teknis yudisial bukan semata-mata forum untuk membicarakan persoalan teknis peradilan, regulasi, administrasi, maupun dinamika pelaksanaan tugas sehari-hari. Di balik rutinitas tersebut, sesungguhnya terdapat ruang yang lebih luas untuk melakukan refleksi mengenai bagaimana aparatur peradilan menjalani kehidupannya sebagai manusia, sebagai bagian dari keluarga, sekaligus sebagai insan yang mengemban tanggung jawab institusional. Pesan tersebut terasa kuat dalam Pembinaan Teknis Badan Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung Republik Indonesia bulan Agustus 2026 yang dilaksanakan secara daring pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kegiatan yang diikuti jajaran Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara seluruh Indonesia tersebut dibuka oleh Marsda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H., selaku Direktur Jenderal Badan Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung RI. Dalam pembukaannya, Dirjen menegaskan kembali bahwa pembinaan teknis merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap bulan sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan pembinaan dan komunikasi di lingkungan peradilan. Namun, pembinaan kali ini membawa pesan yang melampaui rutinitas kedinasan: menata kehidupan ke depan.
Materi tersebut pada awalnya tampak sederhana. Namun, semakin direnungkan, semakin terasa bahwa substansinya justru menyentuh persoalan yang sering luput dari perhatian seseorang yang terlalu lama tenggelam dalam kesibukan pekerjaan. Dalam paparannya, Dirjen mengangkat kisah seorang pensiunan yang mengungkapkan bahwa apabila diberikan kesempatan kembali ke usia 40 tahun, ada satu keputusan yang ingin diubahnya. Bukan bekerja lebih keras, bukan pula mengejar jabatan yang lebih tinggi. Justru yang ingin diubah adalah keinginannya untuk lebih cepat mempersiapkan kehidupan setelah pensiun. Pesan ini sederhana, tetapi sekaligus menohok. Sebab, selama puluhan tahun seseorang dapat terlalu sibuk mengejar karier, terlalu fokus mencari penghasilan, dan terlalu yakin bahwa waktu masih panjang. Padahal, waktu tidak pernah benar-benar menunggu. Usia bertambah, kondisi fisik berubah, dan pada suatu titik masa pengabdian akan berakhir. Yang sering terlupakan adalah bahwa pekerjaan memiliki batas waktu, sedangkan kehidupan setelah pekerjaan tetap harus dijalani.

Sebagai peserta pembinaan dari lingkungan Peradilan Militer, saya melihat pesan tersebut bukan hanya sebagai nasihat tentang pensiun. Lebih jauh, materi ini merupakan ajakan untuk mengubah cara pandang mengenai keberhasilan dalam menjalani kehidupan. Selama seseorang masih aktif bekerja, ukuran keberhasilan sering kali diletakkan pada jabatan, prestasi, penghasilan, penghargaan, dan capaian karier. Semua itu tentu penting dan merupakan bagian dari tanggung jawab profesional. Namun, kehidupan tidak berhenti pada ukuran-ukuran tersebut. Ada fase ketika jabatan tidak lagi melekat, kewenangan tidak lagi berada di tangan, ruang kerja tidak lagi menjadi tempat datang setiap pagi, dan agenda kedinasan tidak lagi memenuhi kalender harian. Pada saat itulah seseorang akan berhadapan dengan dirinya sendiri: apakah selama puluhan tahun bekerja ia juga telah menyiapkan kehidupan yang layak dijalani setelah pekerjaan berakhir? Pertanyaan ini penting karena masa depan tidak seharusnya dipersiapkan ketika masa depan itu sudah berada di depan mata. Masa depan harus disiapkan ketika seseorang masih mempunyai waktu, kesehatan, kesempatan, dan kemampuan untuk memilih.
Slide yang disampaikan dalam pembinaan tersebut menggambarkan lima hal yang dibutuhkan seseorang ketika memasuki masa pensiun. Pertama, bukan hanya uang semata. Kedua, kesehatan yang terjaga. Ketiga, hubungan yang hangat dengan keluarga. Keempat, aktivitas yang membuat hidup tetap bermakna. Kelima, ketenangan karena telah mempersiapkan masa depan sejak jauh-jauh hari. Kelima hal tersebut menunjukkan bahwa pensiun tidak dapat dipahami secara sempit sebagai persoalan finansial. Uang memang diperlukan, tetapi uang tidak dengan sendirinya menghadirkan kesehatan, keharmonisan keluarga, makna hidup, ataupun ketenangan batin. Bahkan, seseorang dapat memiliki kecukupan secara ekonomi, tetapi tetap mengalami kekosongan apabila selama masa aktif bekerja ia kehilangan kedekatan dengan keluarga, tidak menjaga kesehatan, atau tidak mempunyai aktivitas yang bermakna setelah tidak lagi bekerja. Karena itu, persiapan masa depan seharusnya bersifat menyeluruh. Menabung bukan hanya menabung uang, tetapi juga menabung kesehatan, menabung hubungan baik dengan keluarga, menabung pengetahuan, membangun kebiasaan positif, dan menemukan aktivitas yang membuat kehidupan tetap mempunyai tujuan.
Bagi seorang aparatur peradilan, refleksi tersebut menjadi semakin penting. Tugas di lingkungan peradilan menuntut konsentrasi, integritas, disiplin, dan tanggung jawab yang tinggi. Tidak sedikit waktu dan energi dicurahkan untuk menyelesaikan pekerjaan, menjaga kualitas pelayanan, memenuhi target kelembagaan, mengikuti perkembangan hukum, dan menjalankan tugas-tugas lain yang melekat pada jabatan. Semua itu merupakan bagian dari pengabdian yang patut dihormati. Namun, pengabdian kepada institusi tidak boleh membuat seseorang lupa bahwa dirinya juga memiliki kehidupan di luar institusi. Keluarga tetap membutuhkan kehadiran, tubuh membutuhkan perhatian, dan kehidupan pribadi membutuhkan ruang untuk berkembang. Karena itu, menata kehidupan ke depan bukan berarti mengurangi semangat bekerja atau menurunkan loyalitas terhadap institusi. Justru sebaliknya, seseorang yang mampu menata kehidupan secara seimbang akan memiliki fondasi yang lebih kuat dalam menjalankan tugas. Ia bekerja dengan kesadaran bahwa karier adalah bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan kehidupan.

Materi tersebut juga mengingatkan bahwa pensiun bukanlah akhir dari kehidupan produktif. Pensiun adalah perubahan fase kehidupan. Dalam slide ditegaskan bahwa pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, melainkan saat seseorang menikmati hasil dari keputusan yang telah diambil selama puluhan tahun. Pandangan ini penting untuk menghindarkan kita dari anggapan bahwa masa pensiun identik dengan kehilangan peran. Justru pada fase tersebut seseorang dapat memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang selama masa aktif belum sempat dilakukan. Akan tetapi, kesempatan itu hanya dapat dinikmati apabila dipersiapkan sejak sekarang. Karena itu, pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukan kapan kita pensiun, melainkan apa yang sedang kita persiapkan untuk kehidupan setelah pensiun. Apakah kesehatan telah dijaga? Apakah hubungan dengan keluarga telah dibangun dengan baik? Apakah kita memiliki aktivitas yang memberikan makna? Apakah kondisi keuangan telah dikelola secara bertanggung jawab? Dan yang tidak kalah penting, apakah kita telah berdamai dengan kenyataan bahwa setiap jabatan pada akhirnya akan berakhir?
Pada akhirnya, pembinaan teknis bulan Agustus 2026 tersebut memberikan pelajaran bahwa menata masa depan bukan pekerjaan yang dapat ditunda tanpa batas. Kita sering mengatakan masih ada waktu, padahal waktu justru merupakan sesuatu yang paling cepat berkurang. Penyesalan terbesar bukan selalu karena seseorang gagal mencapai sesuatu, melainkan karena ia terlambat menyadari bahwa kesempatan untuk mempersiapkannya telah berlalu. Pesan penutup dalam materi tersebut, “Better late than never,” menjadi pengingat bahwa meskipun persiapan mungkin belum dilakukan secara sempurna, tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Sebagai peserta pembinaan sekaligus penulis, saya memaknai materi Dirjen Badilmiltun ini bukan sekadar sebagai bahan pembinaan bulanan, tetapi sebagai teguran yang halus sekaligus ajakan yang kuat untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Karier perlu ditata, tetapi kehidupan juga harus ditata. Jabatan perlu dijalankan dengan penuh tanggung jawab, tetapi keluarga, kesehatan, dan masa depan juga tidak boleh dikorbankan. Sebab pada akhirnya, setiap orang akan sampai pada satu titik ketika jabatan ditinggalkan, ruang kerja ditutup, dan rutinitas kedinasan berhenti. Pada saat itulah yang tersisa bukan lagi pangkat dan jabatan, melainkan bagaimana kita telah menjalani kehidupan dan seberapa baik kita telah mempersiapkan hari esok.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


