Di sebuah kota di mana matahari enggan bersinar terang karena tertutup debu ambisi, hiduplah seorang pria bernama Gandaru. Ia bukan penghuni penjara bawah tanah yang lembap, melainkan seorang penghuni Istana Kaca. Namun, bagi Gandaru, kaca-kaca itu bukanlah jendela untuk melihat dunia, melainkan cermin yang memantulkan ribuan wajah dosanya sendiri.
Gandaru, seorang dirigen dari sebuah orkestra yang sumbang. Musik yang ia pimpin adalah gemerincing koin yang jatuh di atas penderitaan, dan gesekan busur biola yang terbuat dari janji-janji palsu. Dahulu, ia mengira sedang menanam benih pohon peneduh, namun ternyata ia sedang menyemai akar-akar beracun yang kini melilit kakinya begitu kuat. Ia terjebak dalam sebuah tarian melingkar. Setiap langkah yang ia ambil untuk keluar justru membawanya kembali ke titik pusat: sebuah meja kayu jati tempat ia menandatangani “surat kematian” bagi hati nuraninya. Ia tahu bahwa tinta yang ia gunakan bukanlah tinta biasa, melainkan darah dari harapan orang-orang kecil yang ia hisap perlahan melalui sedotan birokrasi.
Di rumahnya, meja makan adalah panggung sandiwara. Istrinya duduk dengan anggun, mengenakan kalung mutiara yang nampak seperti butiran air mata yang membeku. Setiap suapan nasi organik yang mereka makan terasa seperti menelan kerikil tajam, karena Gandaru tahu nasi itu dibeli dari “uang sisa” proyek yang ia sunat. Ia ingin berteriak kepada istrinya bahwa rumah megah mereka hanyalah sebuah peti mati yang megah, dan setiap kemewahan yang mereka miliki adalah paku yang mempererat penutupnya. Namun, suaranya telah dicuri oleh kenyamanan. Ia telah menukarkan lidahnya dengan sepotong keju emas, dan kini ia hanya bisa mengecap rasa pahit di tengah pesta pora.
Labirin Tanpa Pintu: Lorong Cermin yang Menyesatkan
Gandaru sering merasa bahwa kantornya bukan lagi sebuah bangunan beton, melainkan sebuah labirin yang dibangun dari tumpukan berkas berdosa dan dinding-dinding cermin yang memantulkan kebohongannya dari segala arah. Ia pernah mencoba mencari pintu keluar sebuah jalan pulang menuju dirinya yang dulu, yang masih bisa menatap matahari tanpa rasa malu. Namun, setiap langkah yang ia ambil untuk menjauh dari pusat pusaran, justru terasa seperti tarikan gravitasi yang membawanya kembali ke titik nol.
Lantai marmer yang ia pijak setiap hari bukan lagi sekadar batuan alam. Baginya, itu adalah permukaan telaga yang membeku, di mana di bawahnya ia bisa melihat bayangan ribuan orang yang ia korbankan sedang mengetuk-ngetuk es, meminta bagian mereka yang dicuri. Setiap kali ia mencoba berlari menuju pintu darurat, pintu itu berubah menjadi lukisan mati sebuah fatamorgana yang sengaja dipasang oleh “Sistem” untuk memberinya harapan palsu.
Di lorong-lorong sepi itu, ia sering berpapasan dengan rekan-rekan sejawatnya. Mereka semua tampak seperti zombie yang mengenakan dasi sutra. Mereka saling melempar senyum porselen, namun di balik mata mereka, Gandaru melihat ketakutan yang sama: ketakutan akan kegelapan jika lampu-lampu kekuasaan ini dipadamkan. Mereka adalah sesama penghuni labirin yang telah lupa bagaimana rasanya menghirup udara yang tidak berbau uang haram. Pernah suatu kali, ia mencoba berteriak di tengah kesunyian ruang arsip, berharap ada malaikat atau bahkan iblis yang datang untuk memutuskan rantai emas di kakinya. Namun, yang ia dengar hanyalah gema suaranya sendiri yang mengejeknya: “Kau adalah bagian dari rantai ini, Gandaru,” terdengar lagi teriakan itu: “Jika satu mata rantai putus, seluruh kapal akan tenggelam. Dan kau tahu, kau tidak bisa berenang di lautan dosamu sendiri.”;
Ia menyadari dengan pedih bahwa labirin ini tidak memiliki penjaga bersenjata. Penjaganya adalah rasa takutnya sendiri. Takut akan kemiskinan yang pernah ia benci, takut akan tatapan rendah orang-orang jika ia jatuh, dan takut akan keheningan yang akan datang jika semua hiruk-pikuk ini berhenti. Ia terkurung dalam sebuah paradoks: ia membenci setiap inci dari labirin ini, namun ia juga merasa bahwa di luar dinding ini, ia hanyalah seonggok daging tanpa nama yang akan segera membusuk.
Gandaru terus berjalan, menyusuri koridor yang tidak pernah berakhir. Setiap belokan hanya membawanya pada meja kerja yang sama, dengan tumpukan dokumen yang menuntut tanda tangannya sebagai tumbal harian. Ia sadar, pintu keluar itu sebenarnya ada, namun pintunya terkunci dari dalam dan kuncinya telah ia telan bulat-bulat demi menjaga rahasia-rahasia besar yang kini merayap di dalam perutnya seperti ulat bulu. Ia tidak lagi mencari pintu. Ia hanya terus berjalan, menghitung langkah-langkahnya yang sia-sia, sambil sesekali berhenti untuk mengagumi keindahan penjara yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Sebuah labirin tanpa pintu, di mana satu-satunya cara untuk keluar adalah dengan merobohkan seluruh strukturnya dan Gandaru terlalu pengecut untuk menjadi martir bagi nuraninya sendiri. Bagai sebuah boneka porselen yang digerakkan oleh benang-benang hitam yang menjuntai dari langit-langit kantornya. Ia tahu jalannya menuju jurang, namun ia terus berjalan dengan langkah yang tegak, seolah-olah sedang menuju singgasana.
Penutup: Mahkota dari Duri Emas
Kini, Gandaru hidup dalam rutinitas neraka yang nyaman. Ia adalah jantung dari mesin raksasa yang memompa darah berupa uang gelap ke ribuan pipa birokrasi. Jika ia berhenti memompa, mesin itu akan meledak, dan serpihannya akan menghancurkan semua orang yang ia cintai. bukan karena tidak tahu jalan keluar, tapi karena ia terlalu takut pada harga yang harus dibayar untuk sebuah kebebasan. Ia lebih memilih terkungkung dalam dosa yang ia kenali daripada bebas dalam ketidakpastian yang jujur. Besok pagi, ia akan bangun lagi, mengenakan jas terbaiknya, dan kembali memutar roda lingkaran setan itu menjadi budak bagi mahkota yang terus membelenggu jiwanya hingga akhir waktu.
Ia memakai mahkota, namun mahkota itu terbuat dari duri emas yang menusuk hingga ke saraf kepalanya. Ia memimpin rapat-rapat besar dengan wibawa yang palsu. Sementara di balik jas mahalnya, jantungnya berdegup seperti genderang perang yang sedang meratapi kekalahan. Kesulitannya bukanlah tentang mencari makan, melainkan tentang mencari cara untuk bisa tidur tanpa melihat wajah-wajah orang yang ia khianati di balik kelopak matanya. Ia merana di tengah kelimpahan, dan ia terpenjara di tengah kebebasan yang semu. Ia memiliki segalanya, kecuali kunci untuk keluar dari dirinya sendiri. Ia tetap berada di dalam lingkaran itu, terus berputar hingga kepalanya pening, menanti saat di mana lingkaran itu akan mencekiknya hingga habis napas dalam sebuah perjamuan abadi yang tak pernah usai.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


