“Reductio Ad Absurdum, yang sangat dicintai Euclid, adalah salah satu senjata matematikawan paling ampuh. Keampuhannya jauh melampaui gambit apapun dalam permainan catur.” (G.H. Hardy)
Bertrand Russell, seorang filsuf asal Inggris mengemukakan sebuah paradoks terkenal yang kemudian disebut sebagai paradoks tukang cukur. Sebuah pertanyaan menarik muncul dalam konteks ini, apakah tukang cukur yang “hanya mencukur orang yang tidak mencukur dirinya sendiri” akan mencukur dirinya sendiri? Jika seseorang mengajukan klaim tukang cukur itu akan mencukur dirinya sendiri, maka berdasarkan aturan, dia tidak akan mencukur dirinya sendiri karena ia “hanya mencukur orang yang tidak mencukur dirinya sendiri”. Kontradiksi ini harus dihindari sehingga klaim bahwa tukang cukur itu akan mencukur dirinya sendiri harus ditolak. Demikianlah reductio ad absurdum digunakan dalam upaya membatalkan sebuah klaim.
Reductio ad absurdum dikenal sebagai metode logika dan argumentasi untuk menyanggah suatu klaim atau pernyataan dengan menunjukkan jika pernyataan itu benar, maka akan mengarah kepada kesimpulan yang kontradiktif, konyol, atau absurd. Ketika kita akan menolak sebuah klaim dengan metode reductio ad absurdum, kita perlu asumsikan klaim tersebut benar. Kita kemudian mengembangkan logika dari asumsi tersebut hingga mencapai kesimpulan yang kontradiktif, konyol, atau absurd. Dari situ kita bisa menyimpulkan bahwa klaim tersebut harus ditolak.
Prinsip reductio ad absurdum berdiri tegak dalam sistem logika Aristoteles yang bersifat kaku. Dalam sistem logika Aristoteles, pernyataan tidak diizinkan benar dan salah secara bersamaan. Prinsip ini sangat mudah diterima dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat makroskopis, karena seseorang tidak mungkin berada di Jakarta sekaligus berada di luar Jakarta secara bersamaan. Secara sederhana, realitas tidak mengizinkan adanya kontradiksi.
Walaupun prinsip reductio ad absurdum tampak sangat kuat, namun ia tidak bisa sembarangan digunakan di setiap kondisi. Dalam konteks pembuktian di persidangan, fakta empiris tidak bersifat tertutup. Informasi juga bisa tidak tersedia, disembunyikan, salah catat, atau ambigu secara makna. Oleh karena itu, prinsip reductio ad absurdum tidak bisa digunakan sebagai alat bukti, namun ia bisa digunakan sebagai alat yang ampuh untuk menguji konsistensi argumen dan alat penyaring klaim. Jika suatu rangkaian argumen menghasilkan kontradiksi internal atau bertentangan dengan prinsip umum, maka klaim itu gugur secara rasional bahkan sebelum bukti lengkap ada.
Sebuah prinsip yang perlu diperhatikan dalam penerapan metode ini adalah absennya informasi tidak berarti menjadi kebenaran negasi. Dalam konteks apapun, kita tidak boleh menyangkal pernyataan seseorang hanya karena ketiadaan bukti empiris. Namun, kita boleh berkata: “Jika P benar maka akan terjadi Q. Tapi Q mustahil terjadi atau bertentangan dengan fakta tetap. Jadi, P tidak mungkin benar”.
Penjelasan sebelumnya mempertegas bahwa logika Aristoteles memang cocok dengan kehidupan manusia, namun tidak seluruhnya. Ada wilayah tertentu dalam ranah kehidupan manusia yang penuh ketidakpastian, bersifat probabilistik, serta penuh intensi tersembunyi dan konflik makna. Apakah berarti kontradiksi bisa sah dan legal dalam kehidupan manusia? Tentu sangat bisa, namun ini bukan karena realitas mengizinkan kontradiksi, namun karena norma tidak sama dengan realitas. Selain itu, sistem norma bekerja pada pluralitas level seperti hirarki norma, ruang lingkup norma (lex specialis vs lex generalis), waktu berlakunya hingga tujuannya. Jadi, bisa dikatakan bahwa kontradiksi ini hanya terjadi pada level normatif-institusional, bukan pada level ontologis. Ini menjelaskan mengapa dua hal yang bertentangan bisa sama-sama sah dalam suatu sistem norma. Sekali lagi, ini bukan pelanggaran logika Aristoteles, karena sah menurut norma tidak berarti benar secara ontologis.
Reductio ad absurdum yang berada dalam domain logika Aristotelian bisa berperan dalam mendeteksi ketegangan internal, memaksa eksplisitnya asumsi normatif, hingga membatasi manipulasi. Secara persis, ia tidak memutus, namun ia menelanjangi. Oleh karena itu, metode ini cocok digunakan sebagai kritik atau satire terhadap sistem politik, birokrasi, atau norma yang apabila diteruskan ternyata absurd sekali. Karena sifatnya yang frontal dan kaku, sistem logika Aristoteles dengan seperangkat alatnya bisa digunakan di level fakta dan inferensi, namun begitu kita masuk sistem norma, logika digantikan oleh hermeneutika dan kebijaksanaan praktis.
Pada akhirnya, saya teringat sebuah nasihat dari seorang profesor ketika mengajar mata kuliah Filsafat Matematika. Beliau berkata: “Ingat, logika tidak menjamin kebenaran. Logika hanya alat untuk menjamin kesahihan dalam penarikan kesimpulan. Benar atau tidaknya kesimpulan bergantung dari kebenaran premis-premisnya.”
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


