Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengenang Jürgen Habermas: Mengapa Rasionalitas Publik Sangat Penting bagi Demokrasi?

19 March 2026 • 13:15 WIB

Disiplin atau Distrust? Ketika Pimpinan Pengadilan Menghadapi Era Work From Anywhere

19 March 2026 • 08:50 WIB

Independensi dan Transparansi Peradilan Militer dalam Bingkai Negara Hukum

18 March 2026 • 19:30 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Memahami Konsep Perbedaan Pejabat Negara dengan Pegawai Negeri Sipil: Hakim Berada Dimana ?
Artikel Features

Memahami Konsep Perbedaan Pejabat Negara dengan Pegawai Negeri Sipil: Hakim Berada Dimana ?

Epri WahyudiEpri Wahyudi29 January 2026 • 11:12 WIB11 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pengertian pejabat negara ditinjau dari segi bahasa dapat dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pejabat diartikan sebagai pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting (unsur) pimpinan. Adapun dalam konteks negara, pejabat adalah orang yang memegang jabatan penting dalam pemerintahan.

Dalam konteks teori pembagian kekuasaan, lembaga-lembaga yang melaksanakan fungsi utama sebagai alat kelengkapan negara yaitu lembaga eksekutif, lembaga legislatif, dan lembaga yudikatif maka pejabat yang melaksanakan fungsi lembaga tersebut adalah subjek penting sehingga disebut sebagai pejabat negara, bahkan dalam perkembangan negara saat ini setiap individu juga merupakan bagian dari kelembagaan negara sepanjang melaksanakan fungsi dari law creating dan law applying. Seperti dapat kita lihat adanya Komisi Pemberantasan Korupsi dan Komisi Yudisial.

Secara yuridis pendefinisian tentang pejabat negara dapat dilihat dari berbagai peraturan perundang-undangan, diantaranya yaitu:

  1. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme, menyebutkan: “Penyelenggara Negara adalah Pejabat Negara yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif, atau yudikatif dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. 
  2. Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, menyebutkan: “Pejabat Negara adalah pimpinan dan anggota lembaga tertinggi/tinggi negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Pejabat Negara lainnya yang ditentukan oleh Undang-Undang”.
  3. Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, menyebutkan: “Pejabat Negara adalah pimpinan dan anggota lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pejabat Negara yang secara tegas ditentukan dalam Undang-Undang”.

Walaupun secara yuridis belum terdapat kesamaan definisi pejabat negara, namun setidak-tidaknya dari peraturan perundang-undangan yang menyebut dan mendefinisikan tentang pejabat negara dapat dipahami bahwa pejabat negara adalah individu (pimpinan dan/atau anggota) yang berkaitan dan menjalankan tugas utama dari suatu lembaga negara yang disebutkan dalam UUD NRI 1945 dan undang-undang secara langsung.

Kemudian, Pegawai Negeri Sipil (PNS), menurut KBBI pegawai adalah orang yang bekerja pada pemerintah (perusahaan dan sebagainya), sedangkan pegawai negeri adalah pegawai pemerintah yang berada di luar politik, bertugas melaksanakan administrasi pemerintahan berdasarkan perundang-undangan yang telah ditetapkan. 

Secara yuridis pendefinisian PNS diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara. PNS merupakan rumpun Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagaimana dapat dilihat dari ketentuan Pasal 1 angka 1, angka 2, dan angka 3, yaitu sebagai berikut:

Pasal 1 angka 1

  • Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah.

Pasal 2 angka 2

  • Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan diberikan penghasilan berdasarkan peraturan perundangundangan.

Pasal 1 angka 3

  • Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan.

Jika merujuk pada pengertian-pengertian di atas, tentu dapat dipahami bahwa PNS merupakan subjek dalam lingkup pengaturan di bawah kekuasaan pemerintah atau eksekutif, meskipun dalam menjalankan tugasnya seorang PNS menduduki jabatan dalam pemerintahan dalam arti cabang kekuasaan lainnya di luar eksekutif, seperti kekuasaan legislatif dan judisial.

Terkait perbedaan pejabat negara dengan PNS, menurut Jimly Asshiddiqie dapat dilihat dari aspek kepentingan dan sistem rekrutmennya. Pejabat negara merupakan representasi kepentingan negara (politically elected official) sehingga sistem rekruitmennya dilakukan secara politis. Sedangkan PNS adalah untuk kepentingan administrasi negara (administratively appointed official) sehingga rekruitmennya dilakukan secara administrasi oleh atasannya.

Namun demikian, terdapat kategori pejabat negara dalam konteks ini merupakan representasi kepentingan negara tetapi sistem rekruitmennya tidak dilakukan secara politis, yaitu hakim. Hakim merupakan representasi kepentingan negara untuk menegakkan hukum dan keadilan, sehingga meskipun sistem rekrutmen hakim tidak dilakukan secara politis, namun atas nama kepentingan negara untuk menegakkan hukum dan keadilan maka hakim dikategorikan sebagai pejabat negara.

Baca Juga  Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Tasawuf: Optimalisasi Peran BSDK MA RI dalam Membangun Budaya Anti-Korupsi bagi Hakim

Jika melihat organisasi lembaga peradilan, di dalamnya terdapat tiga jabatan yaitu: hakim, jabatan pada kepaniteraan, dan jabatan administrasi lainnya yang mana diantara ketiganya tersebut memiliki kedudukan yang berbeda. Hakim adalah representasi kekuasaan kehakiman sehingga kedudukan hakim adalah pejabat negara. Pejabat dalam kepaniteraan adalah PNS yang menyandang jabatan fungsional sebagai administratur perkara, sedangkan pejabat administrasi lainnya adalah PNS yang tunduk pada ketentuan sebagaimana aturan pegawai negeri pada umumnya.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, tidak mengatur hal-hal lain di luar manajemen PNS dan PPPK, adapun pembahasan mengenai pejabat negara, undang-undang tersebut hanya menyebutkan siapa-siapa saja yang disebut sebagai pejabat negara serta ketentuan mengenai kondisi apabila ada PNS yang diangkat menjadi pejabat negara serta apabila tidak lagi menjadi pejabat negara.

Adapun keterkaitan antara pejabat negara dan PNS adalah dalam hal terjadi pengangkatan PNS menjadi seorang pejabat negara, maka PNS bersangkutan harus diberhentikan sementara dari statusnya sebagai seorang PNS, dan setelah selesai menjadi pejabat negara maka status PNS kembali diaktifkan, hal tersebut sebagaimana termuat dalam Pasal 88 dan Pasal 123 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Negara, yang menyebutkan sebagai berikut:

Pasal 88 ayat (1)

  1. PNS diberhentikan sementara, apabila:
    1. diangkat menjadi pejabat negara;
    2. diangkat menjadi komisioner atau anggota lembaga nonstruktural; atau
    3. ditahan karena menjadi tersangka tindak pidana
  2. Pengaktifan kembali PNS yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian.

Pasal 123 ayat (1) dan ayat (2)

  1. Pegawai ASN dari PNS yang diangkat menjadi ketua, wakil ketua, dan anggota Mahkamah Konstitusi; ketua, wakil ketua, dan anggota Badan Pemeriksa Keuangan; ketua, wakil ketua, dan anggota Komisi Yudisial; ketua dan wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi; Menteri dan jabatan setingkat menteri; Kepala perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh diberhentikan sementara dari jabatannya dan tidak kehilangan status sebagai PNS.
  2. Pegawai ASN dari PNS yang tidak menjabat lagi sebagai pejabat negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaktifkan kembali sebagai PNS.

Diskursus Kedudukan Hakim Sebagai Pejabat Negara

Untuk menyederhanakan pemahaman tentang perjalanan kedudukan hakim dalam peraturan perundang-undangan, penulis menguraikan dalam bentuk tabel di bawah ini:

DASAR HUKUMKEDUDUKANKETERANGAN
UU No. 14/1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman Hakim adalah pejabat peradilanTidak ada kejelasan apakah pejabat peradilan adalah termasuk pejabat negara atau bukan. Namun melihat Pasal 31 dapat dipahami bahwa sebagai seorang yang diangkat dan diberhentikan secara langsung oleh kepala negara maka hakim dapat dikategorikan sebagai seorang pejabat negara.
UU No. 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bebas Dan Bersih Dari KorupsiHakim adalah penyelenggara negaraTidak secara langsung menyebut hakim sebagai pejabat negara, namun jika melihat Pasal 1 angka 1 yang menyebutkan bahwa penyelenggara negara adalah pejabat negara, maka hakim adalah pejabat negara.
UU No. 14/1985 tentang Mahkamah AgungHakim adalah pejabat negaraHakim yang disebut pejabat negara hanya para hakim pada Mahkamah Agung. Hal tersebut dapat dipahami bahwa memang UU 14/1985 hanya mengatur hal-hal berkaitan dengan kedudukan Mahkamah Agung dan organisasi Mahkamah Agung, tidak termasuk lembaga peradilan di bawah Mahkamah Agung.
UU No. 49/2009 tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 2/1986 Tentang Peradilan Umum juncto UU No. 50/2009 Tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 7/1989 Tentang Peradilan Agama juncto UU No. 50/2009 Tentang Perubahan Atas Kedua Atas UU No. 5/1986 Tentang Peradilan Tata Usaha NegaraHakim adalah pejabat yang melakukan tugas kekuasaan kehakimanKategori pejabat yang melakukan tugas kekuasaan kehakiman adalah untuk membedakan dengan para pegawai yang ada di Pengadilan yaitu pada bagian kepaniteraan dan kesekretariatan yang adalah seorang PNS. Maksud sebagai pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman adalah untuk menunjukkan bahwa hakim berbeda dengan pegawai PNS yang ada di lembaga peradilan.
UU No. 48/2009 tentang Kekuasaan KehakimanHakim adalah pejabat negara Semua hakim di Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung serta seluruh badan peradilan di bawah Mahkamah Agung adalah pejabat negara, kecuali hakim ad doc.
UU No. 5/2014 tentang ASNHakim adalah pejabat negaraSemua hakim di Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung serta seluruh badan peradilan di bawah Mahkamah Agung adalah pejabat negara, kecuali hakim ad doc.

Selain dapat dilihat dari ketentuan yuridis tersebut, kedudukan hakim sebagai seorang pejabat negara dapat dilihat juga dari beberapa hal yang setidaknya cocok seperti pejabat negara pada umumnya, yaitu: 

  1. Hakim tidak memiliki atasan secara hierarki dalam menjalankan tugas dan fungsi yudisialnya. Bahwa jika merujuk pada struktur organisasi lembaga peradilan posisi hakim bukan berada pada garis komando dari seorang ketua atau wakil ketua pengadilan, melainkan adalah garis koordinasi.
  2. Hakim tidak memiliki rangkap jabatan, adapun terkait status ketua pengadilan yang dijabat oleh seorang hakim dan tidak diberhentikan dari status hakimnya tentu tidak dapat dikatakan jika hakim merangkap jabatan. karena pada hakikatnya lembaga kekuasaan kehakiman tidak dapat berjalan tanpa adanya seorang hakim, sehingga pimpinannya pun juga harus seorang hakim, sebagaimana lembaga legislatif diketuai oleh seseorang dewan.
  3. Meskipun terdapat peradilan tingkat pertama, banding, dan kasasi hal tersebut bukan merupakan hierarkis atas diri seorang hakim. Melainkan hanya menjadi mekanisme proses peradilan, dimana apabila masyarakat pencari keadilan tidak puas terhadap putusan pada tingkat pertama maka dapat mengajukan banding ke pengadilan tingkat banding, begitu juga jika tidak puas atas putusan tingkat banding maka masyarakat dapat mengajukan upaya hukum kasasi, sampai peninjauan kembali di Mahkamah Agung.
Baca Juga  Acara Pemeriksaan Cepat menurut KUHAP Baru: Perkara Tipiring dan Lalu Lintas dalam Satu Tarikan Napas

Namun demikian status sebagai pejabat negara kepada hakim tidak luput dari perdebatan, diantaranya ialah sebagai berikut:

  1. Perdebatan mengenai sistem pengadaan hakim melalui sistem pengadaan, dimana pada umumnya pejabat negara mekanisme pengadaannya adalah melalui proses seleksi, pemilihan umum, atau penunjukan. Sedangkan sampai saat ini pengadaan hakim pada tingkat pertama dan tingkat banding masih menggunakan sistem rekrutmen sehingga belum mencerminkan sebagai seorang pejabat negara pada umumnya.
  2. Perdebatan mengenai jumlah hakim yang bersifat kolektif tidak seperti pejabat negara umumnya yang sifatnya individual. Adapun jumlah hakim di Indonesia saat ini yaitu 5.803 (lima ribu delapan ratus tiga) hakim pada peradilan tingkat pertama, 1.279 (seribu dua ratus tujuh puluh sembilan) hakim pada peradilan tingkat banding, dan 45 (empat puluh lima) hakim agung pada Mahkamah Agung.
  3. Perdebatan mengenai masa kerja hakim yang tidak tergantung pada waktu tertentu atau temporer layaknya pejabat negara pada umumnya. Pejabat negara pada umumnya dalam mengemban jabatannya setidak-tidaknya hanya selama 5 tahun saja, sedangkan hakim dalam mengemban jabatannya bisa sampai dengan usia pensiun. Adapun saat ini secara yuridis telah ditetapkan masa kerja hakim pada tingkat pertama adalah sampai dengan usia 65 (enam puluh lima) tahun, untuk hakim pada tingkat banding adalah 67 (enam puluh tujuh tahun), dan hakim pada Mahkamah Agung adalah adalah 70 (tujuh puluh) tahun.
  4. Perdebatan mengenai sejauh mana kemampuan keuangan negara dalam memberikan hak-hak bagi hakim sebagai seorang pejabat negara karena jumlahnya yang begitu banyak, tidak seperti pejabat negara pada umumnya. Artinya perdebatan ini adalah terkait hal-hal yang bersifat materil atas konsekuensi kedudukan sebagai seorang pejabat negara.
  5. Perdebatan mengenai adanya peradilan tingkat pertama, peradilan tingkat banding, dan peradilan tingkat kasasi tentu harus dibedakan antara hakim tingkat pertama, hakim tingkat banding, dan hakim pada Mahkamah Agung itu sendiri. Sedangkan pejabat negara pada umumnya tidak ada pembedaan antara yang satu dengan yang lainnya.

Perdebatan-perdebatan tersebut tentu dapat dipahami karena memang jabatan hakim sampai saat ini masih belum mapan. Artinya masih perlu adanya aturan khusus yang mengatur tentang kedudukan hakim itu sendiri. Namun demikian menurut penulis jika ditinjau dari konsep jabatan yang bersandarkan pada teori kekuasaan negara, maka perdebatan-perdebatan tersebut bukan perdebatan yang bersifat prinsip karena hanya terkait implikasi yang bersifat teknis. Oleh karena itu tentu saja perdebatan tersebut tidak menghalangi untuk memberikan kedudukan kepada hakim adalah sebagai seorang pejabat negara.

Bahkan jika melihat kedudukan hakim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada dasarnya memiliki karakteristik khusus, sebagaimana dinyatakan oleh Jimly Asshiddiqie bahwa memang hakim memiliki kedudukan secara khusus dalam sistem ketatanegaraan dan salah satu upaya untuk menjaga independensi hakim adalah dengan pengaturan terhadap masa kerja, pengembangan karir, sistem penggajian, dan pemberhentian hakim.

Referensi

  • https://kbbi.web.id/jabat diakses pada 26 Januari 2026
  • https://kbbi.web.id/pegawai diakses pada 26 Januari 2026
  • Jimly Asshiddiqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, 2006, Jakarta: Konstitusi Press, hal. 32.
  • Jimli Asshiddiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, 2008, Jakarta: Buana Ilmu Populer, hal. 388.
  • Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Jilid II, Cetakan Pertama, 2006, Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK RI, hal. 55-57.
  • Ibid, hal. 57
  • Laporan Tahunan 2024 Mahkamah Agung Republik Indonesia.
  • Pasal 19 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum, Pasal 18 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, dan Pasal 19 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
  • Pasal 11 huruf b Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung.
  • Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Jilid II, 2006, Jakarta: Konstitusi Press, hal. 52-56.
Epri Wahyudi
Kontributor
Epri Wahyudi

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel hakim pegawai negeri sipil pejabat negara pns
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Disiplin atau Distrust? Ketika Pimpinan Pengadilan Menghadapi Era Work From Anywhere

19 March 2026 • 08:50 WIB

Independensi dan Transparansi Peradilan Militer dalam Bingkai Negara Hukum

18 March 2026 • 19:30 WIB

Bukti Elektronik di Peradilan Agama : Antara Keniscayaan Digital, Tantangan dan Solusi Implementasinya

18 March 2026 • 12:30 WIB
Demo
Top Posts

Etika Bermedia Sosial bagi Hakim: Antara Ekspresi Diri dan Marwah Peradilan

13 March 2026 • 20:03 WIB

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB
Don't Miss

Mengenang Jürgen Habermas: Mengapa Rasionalitas Publik Sangat Penting bagi Demokrasi?

By Muamar Azmar Mahmud Farig19 March 2026 • 13:15 WIB0

Kabar wafatnya Jürgen Habermas pada 14 Maret 2026 lalu, menandai berakhirnya salah satu suara paling…

Disiplin atau Distrust? Ketika Pimpinan Pengadilan Menghadapi Era Work From Anywhere

19 March 2026 • 08:50 WIB

Independensi dan Transparansi Peradilan Militer dalam Bingkai Negara Hukum

18 March 2026 • 19:30 WIB

Bukti Elektronik di Peradilan Agama : Antara Keniscayaan Digital, Tantangan dan Solusi Implementasinya

18 March 2026 • 12:30 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Mengenang Jürgen Habermas: Mengapa Rasionalitas Publik Sangat Penting bagi Demokrasi?
  • Disiplin atau Distrust? Ketika Pimpinan Pengadilan Menghadapi Era Work From Anywhere
  • Independensi dan Transparansi Peradilan Militer dalam Bingkai Negara Hukum
  • Bukti Elektronik di Peradilan Agama : Antara Keniscayaan Digital, Tantangan dan Solusi Implementasinya
  • Gaya Kepemimpinan Sebagai Sumber Konflik, Bagaimana Jadi Pemimpin Yang Baik?

Recent Comments

  1. ursodiol cost on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
  2. atorvastatin calcium on Kerahasiaan Perkara Perceraian: Mengkaji Ulang Anonimisasi Putusan
  3. dapoxetine 30mg on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  4. cefixime trihydrate on Mempererat Integritas dan Spiritualitas: Rangkaian Giat Ramadan 1447 H di Pengadilan Negeri Kotabaru
  5. lisinopril 5 mg on Konsekuensi Hukum Penetapan Pengembalian Berkas oleh KPN dalam Proses MKR di Tingkat Penyidikan dan Penuntutan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Letkol Chk Dendi Sutiyoso, S.S., S.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.