Ada sesuatu yang sunyi, namun paling hakiki dalam kehidupan manusia, ialah cinta. Ia tidak selalu berisik seperti puisi, tidak selalu tampak seperti pelukan, dan tidak selalu hadir dalam kata-kata yang indah. Tetapi, justru dalam diam itulah ia bekerja. Ia menggerakkan, menghidupkan, bahkan menentukan arah keberadaan manusia. Jika ditelusuri secara jujur, manusia lahir dari cinta, hidup dengan cinta, dan pada akhirnya, mati pun karena cinta. Namun ironisnya, justru dalam kehidupan sehari-hari, cinta sering kali menjadi konsep yang paling disempitkan, direduksi hanya pada relasi romantis, atau bahkan dianggap kelemahan, ketika dibawa ke dalam dunia kerja.
Padahal, jika kita menelusuri lebih dalam, cinta adalah fondasi eksistensial manusia. Ia bukan sekadar perasaan, melainkan energi spiritual yang menghidupkan makna. Dalam perspektif yang lebih tinggi, cinta bukan hanya soal manusia dengan manusia, tetapi juga manusia dengan seluruh makhluk, manusia dengan pekerjaannya, bahkan manusia dengan Tuhannya. Inilah yang oleh A. Helwa dalam Secrets of Divine Love disebut sebagai divine love. Cinta ilahiah yang menuntut totalitas, ketundukan, bahkan “perbudakan,” dalam arti spiritual: menjadi “bucin” kepada cinta itu sendiri.
Namun, menjadi “bucin” dalam konteks ini bukanlah kehilangan akal sehat, melainkan menemukan kesadaran tertinggi bahwa hidup tanpa cinta adalah kehampaan. Menjadi budak cinta berarti menyerahkan ego, menundukkan kesombongan, dan mengakui bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh posisi, jabatan, atau pengakuan, melainkan oleh seberapa dalam kita mencintai dan memaknai setiap peran yang kita jalani.
Lahir dari cinta bukan sekadar ungkapan sentimental. Ia adalah kenyataan ontologis. Seorang anak tidak hadir dari kehampaan, melainkan dari pertemuan dua manusia yang dalam satu atau lain bentuk, digerakkan oleh rasa kasih. Bahkan dalam kondisi yang paling sederhana sekalipun, ada energi kehidupan yang bekerja, yang oleh banyak tradisi spiritual disebut sebagai rahmat. Maka sejak awal, manusia sudah dibentuk oleh cinta. Ia bukan sekadar makhluk biologis, tetapi makhluk relasional, yang keberadaannya bergantung pada keterhubungan.
Namun, persoalan utama manusia bukanlah apakah ia pernah menerima cinta, melainkan apakah ia mampu menghidupkan cinta itu dalam perjalanan hidupnya. Di sinilah banyak orang tersesat. Mereka mencari makna di luar, mengejar status, jabatan, atau pengakuan, tetapi lupa bahwa inti dari semua itu adalah bagaimana mereka mencintai sesama, lingkungan, dan bahkan pekerjaan yang mereka jalani setiap hari.
Cinta kepada sesama makhluk hidup adalah bentuk paling nyata dari kemanusiaan. Ia bukan hanya tentang berbuat baik kepada orang yang kita sukai, tetapi justru kepada mereka yang berbeda, yang mungkin tidak kita pahami, bahkan yang pernah melukai kita. Cinta yang sejati tidak selektif, ia inklusif. Ia tidak bertanya, “Apa manfaatnya bagiku?” melainkan “Apa yang bisa aku berikan?”
Dalam konteks yang lebih luas, cinta juga harus meluas kepada lingkungan hidup. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi ruang kehidupan bersama. Ketika manusia merusak lingkungan, pada hakikatnya ia sedang mengkhianati cinta itu sendiri. Ia lupa bahwa udara yang ia hirup, air yang ia minum, dan tanah yang ia injak adalah bagian dari jaringan kehidupan, yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Mencintai lingkungan berarti merawat keberlanjutan kehidupan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk generasi yang akan datang.
Namun, ada satu bentuk cinta yang sering diremehkan, yaitu tentang cinta terhadap pekerjaan yang ia geluti. Banyak orang bekerja, bertujuan hanya untuk menggugurkan kewajiban, sekadar mencari nafkah, atau bahkan dengan rasa terpaksa. Pekerjaan dipandang sebagai beban, bukan sebagai ruang pengabdian. Di sinilah krisis makna terjadi.
Padahal pekerjaan, apa pun bentuknya, adalah salah satu medan paling konkret, untuk mempraktikkan cinta. Tidak ada pekerjaan yang rendah, jika dilakukan dengan niat yang tinggi. Yang membuat suatu pekerjaan menjadi mulia atau tidak, bukanlah jenisnya, melainkan cara manusia menjalaninya. Seorang petugas kebersihan yang bekerja dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan, jauh lebih bermartabat daripada pejabat tinggi, yang bekerja dengan lalai, mempersulit urusan pegawai maupun karyawannya, dan bekerja hanya untuk memenuhi ambisi dan kepentingan pribadinya.
Di sinilah konsep “bucin”, budak cinta, perlu direhabilitasi maknanya. Dalam budaya populer, “bucin” sering diasosiasikan dengan ketergantungan emosional yang tidak sehat. Namun dalam perspektif spiritual, menjadi “bucin” justru merupakan puncak kesadaran dan tunduk sepenuhnya kepada cinta yang murni, tanpa pamrih, tanpa manipulasi.
Menjadi bucin dalam arti ini adalah mencintai sesama makhluk hidup, lingkungan, dan pekerjaan dengan totalitas. Ia bekerja bukan karena diawasi, tetapi karena hatinya terpanggil. Ia membantu bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ia tidak bisa tidak membantu. Ia menjaga lingkungan bukan karena aturan, tetapi karena ia merasa menjadi bagian darinya.
Dalam dunia kerja, terutama di lingkungan pengadilan, konsep ini menemukan relevansi yang sangat mendalam. Pengadilan bukan sekadar tempat kerja. Ia adalah ruang penegakan keadilan, tempat di mana nasib manusia dipertaruhkan. Setiap keputusan, setiap berkas, setiap prosedur memiliki konsekuensi yang nyata bagi kehidupan orang lain.
Maka, bekerja di pengadilan tidak bisa sekadar melakukan pekerjaan administratif, ia harus bersifat eksistensial. Di sinilah konsep itqan dalam Islam menjadi sangat penting. Itqan berarti bekerja dengan totalitas, ketelitian, dan profesionalisme yang tinggi dan penuh integritas. Ia bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang proses yang dilakukan dengan kesungguhan.
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Allah mencintai seseorang yang ketika bekerja, ia bekerja secara itqan/profesional dan penuh integritas. Ini bukan sekadar anjuran teknis, tetapi perintah moral dan spiritual. Bekerja dengan itqan adalah bentuk ibadah. Ia adalah manifestasi dari rasa syukur kepada Allah SWT.
Bayangkan seorang pegawai pengadilan yang datang setelah libur Panjang, setelah cuti bersama, setelah menikmati waktu bersama keluarga. Ia melangkahkan kaki ke kantor dengan perasaan berat, menganggap pekerjaan sebagai beban. Dalam kondisi seperti ini, pekerjaan akan dilakukan sekadarnya, tanpa jiwa, tanpa semangat. Namun, jika ia memahami bahwa pekerjaannya adalah manifestasi dari rasa syukur kepada Allah, maka segala sesuatu akan berubah. Ia akan melangkahkan kakinya dari rumah dengan niat untuk bekerja sepenuh hati, sebagai bentuk syukur atas anugerah yang diberi pada hari itu.
Ayat “اعملوا آل داوود شكراً” (Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur), memberikan pesan yang sangat mendalam. Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi bentuk ibadah. Setiap dokumen yang disusun, setiap perkara yang ditangani, setiap keputusan yang diambil, semuanya adalah wujud syukur atas nikmat kehidupan. Dalam perspektif ini, bekerja dengan asal-asalan bukan hanya persoalan profesionalitas, tetapi juga persoalan spiritual.
Ia berkata dalam hatinya, “Ya Allah, pekerjaan ini adalah amanah-Mu. Aku akan menjalaninya dengan sebaik-baiknya.” Niat ini sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Ia mengubah rutinitas menjadi ibadah, mengubah kewajiban menjadi pengabdian.
Sebaliknya, ketika seseorang bekerja dengan malas, dengan penuh keluhan, dengan sikap tidak peduli terhadap kualitas pekerjaannya, maka pada hakikatnya ia sedang mengingkari nikmat. Ia diberi pekerjaan, diberi kesempatan untuk berkontribusi, tetapi ia tidak menghargainya. Dalam perspektif ini, ketidakprofesionalan bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah spiritual.
Di lingkungan pengadilan, hal ini menjadi sangat krusial. Baik pimpinan maupun aparatur di level paling bawah memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan keharmonisan. Harmoni bukan berarti tanpa perbedaan, tetapi kemampuan untuk mengelola perbedaan dengan bijak.
Seorang pimpinan yang otoriter, yang tidak menghargai bawahannya, yang menciptakan suasana kerja penuh dengan tekanan, yang bertindaknya semau “gue,” yang diberi saran atau masukan dianggap hasutan ataupun upaya pembangkangan, dan lain sebagainya, pada dasarnya telah gagal dalam mencintai. Ia mungkin memiliki jabatan, tetapi kehilangan makna. Sebaliknya, seorang pegawai yang bekerja dengan setengah hati, yang tidak peduli terhadap kualitas pekerjaannya, juga telah mengkhianati cinta itu.
Orang-orang yang tidak mampu menciptakan keharmonisan dalam dunia kerjanya adalah mereka yang belum memahami makna syukur. Mereka melihat pekerjaan sebagai beban, bukan sebagai amanah. Mereka bekerja sekadarnya, bukan sepenuhnya. Dalam istilah Islam, mereka belum mencapai derajat itqan.
Al-Qur’an dan hadis memberikan banyak gambaran tentang karakteristik orang-orang yang bekerja dengan itqan. Mereka adalah orang-orang yang jujur (shiddiq), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fathanah), dan menyampaikan kebenaran (tabligh). Mereka tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral.
Mereka tidak menunda pekerjaan tanpa alasan, tidak mengabaikan detail, dan tidak bekerja asal-asalan. Mereka sadar bahwa setiap tindakan mereka diawasi, bukan hanya oleh manusia, tetapi oleh Tuhan. Kesadaran ini melahirkan disiplin yang tidak bergantung pada pengawasan eksternal.
Lebih dari itu, mereka juga memiliki kepekaan sosial. Mereka memahami bahwa pekerjaan mereka berdampak pada orang lain. Seorang panitera yang teliti, seorang hakim yang adil, seorang pegawai administrasi yang responsif, semuanya berkontribusi pada terciptanya keadilan yang substantif.
Inilah bentuk nyata dari cinta dalam dunia kerja, yaitu bekerja dengan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan memiliki makna bagi kehidupan orang lain. Ketika kesadaran ini hadir, maka pekerjaan tidak lagi terasa hampa. Ia menjadi ruang aktualisasi diri, sekaligus jalan menuju kedekatan dengan Tuhan.
Pada akhirnya, manusia akan kembali kepada asalnya. Ia akan meninggalkan dunia ini, tetapi yang tersisa adalah jejak cinta yang ia tinggalkan. Apakah ia pernah membuat orang lain merasa dihargai? Apakah ia pernah menjaga lingkungan dengan penuh tanggung jawab? Apakah ia pernah bekerja dengan sepenuh hati?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, akan menentukan bagaimana ia dikenang. Sebab pada akhirnya, manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari bagaimana ia mencintai.
Maka, menjadi “bucin” dalam arti yang sejati bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru itulah bentuk tertinggi dari kemanusiaan. Menjadi budak cinta berarti membebaskan diri dari ego, dari kepentingan sempit, dari sikap acuh tak acuh. Ia adalah jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Menjadi “bucin” terhadap cinta ilahiah berarti menjadikan cinta sebagai pusat kehidupan. Ia bukan sekadar emosi, tetapi prinsip hidup. Ia menuntun cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Ia mengubah pekerjaan menjadi ibadah, relasi menjadi keberkahan, dan kehidupan menjadi perjalanan menuju Tuhan.
Dalam dunia pengadilan, di mana keadilan seharusnya menjadi nilai utama, cinta justru menjadi fondasi yang sering dilupakan. Padahal, tanpa cinta, hukum bisa menjadi kaku, prosedur bisa menjadi dingin, dan keadilan bisa kehilangan ruhnya.
Sudah saatnya kita mengembalikan cinta ke dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan. Bekerja dengan cinta, dengan itqan, dan dengan rasa Syukur, bukan hanya akan meningkatkan kualitas kerja, tetapi juga akan membawa ketenangan batin.
Manusia lahir dari cinta. Hidup dengan cinta. Dan ketika ia mati, ia akan kembali kepada cinta itu. Pertanyaannya hanya satu: selama hidup, apakah ia benar-benar telah mencinta?
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


