Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

September 16, 2026

Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan

September 16, 2026

Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok

September 16, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Manusia Lahir dari Cinta, Hidup dengan Cinta, Matipun karena Cinta

Manusia Lahir dari Cinta, Hidup dengan Cinta, Matipun karena Cinta

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin HasibuanApril 5, 20268 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Ada sesuatu yang sunyi, namun paling hakiki dalam kehidupan manusia, ialah cinta. Ia tidak selalu berisik seperti puisi, tidak selalu tampak seperti pelukan, dan tidak selalu hadir dalam kata-kata yang indah. Tetapi, justru dalam diam itulah ia bekerja. Ia menggerakkan, menghidupkan, bahkan menentukan arah keberadaan manusia. Jika ditelusuri secara jujur, manusia lahir dari cinta, hidup dengan cinta, dan pada akhirnya, mati pun karena cinta. Namun ironisnya, justru dalam kehidupan sehari-hari, cinta sering kali menjadi konsep yang paling disempitkan, direduksi hanya pada relasi romantis, atau bahkan dianggap kelemahan, ketika dibawa ke dalam dunia kerja.

Padahal, jika kita menelusuri lebih dalam, cinta adalah fondasi eksistensial manusia. Ia bukan sekadar perasaan, melainkan energi spiritual yang menghidupkan makna. Dalam perspektif yang lebih tinggi, cinta bukan hanya soal manusia dengan manusia, tetapi juga manusia dengan seluruh makhluk, manusia dengan pekerjaannya, bahkan manusia dengan Tuhannya. Inilah yang oleh A. Helwa dalam Secrets of Divine Love disebut sebagai divine love. Cinta ilahiah yang menuntut totalitas, ketundukan, bahkan “perbudakan,” dalam arti spiritual: menjadi “bucin” kepada cinta itu sendiri.

Namun, menjadi “bucin” dalam konteks ini bukanlah kehilangan akal sehat, melainkan menemukan kesadaran tertinggi bahwa hidup tanpa cinta adalah kehampaan. Menjadi budak cinta berarti menyerahkan ego, menundukkan kesombongan, dan mengakui bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh posisi, jabatan, atau pengakuan, melainkan oleh seberapa dalam kita mencintai dan memaknai setiap peran yang kita jalani.

Lahir dari cinta bukan sekadar ungkapan sentimental. Ia adalah kenyataan ontologis. Seorang anak tidak hadir dari kehampaan, melainkan dari pertemuan dua manusia yang dalam satu atau lain bentuk, digerakkan oleh rasa kasih. Bahkan dalam kondisi yang paling sederhana sekalipun, ada energi kehidupan yang bekerja, yang oleh banyak tradisi spiritual disebut sebagai rahmat. Maka sejak awal, manusia sudah dibentuk oleh cinta. Ia bukan sekadar makhluk biologis, tetapi makhluk relasional, yang keberadaannya bergantung pada keterhubungan.

Namun, persoalan utama manusia bukanlah apakah ia pernah menerima cinta, melainkan apakah ia mampu menghidupkan cinta itu dalam perjalanan hidupnya. Di sinilah banyak orang tersesat. Mereka mencari makna di luar, mengejar status, jabatan, atau pengakuan, tetapi lupa bahwa inti dari semua itu adalah bagaimana mereka mencintai sesama, lingkungan, dan bahkan pekerjaan yang mereka jalani setiap hari.

Cinta kepada sesama makhluk hidup adalah bentuk paling nyata dari kemanusiaan. Ia bukan hanya tentang berbuat baik kepada orang yang kita sukai, tetapi justru kepada mereka yang berbeda, yang mungkin tidak kita pahami, bahkan yang pernah melukai kita. Cinta yang sejati tidak selektif, ia inklusif. Ia tidak bertanya, “Apa manfaatnya bagiku?” melainkan “Apa yang bisa aku berikan?”

Dalam konteks yang lebih luas, cinta juga harus meluas kepada lingkungan hidup. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi ruang kehidupan bersama. Ketika manusia merusak lingkungan, pada hakikatnya ia sedang mengkhianati cinta itu sendiri. Ia lupa bahwa udara yang ia hirup, air yang ia minum, dan tanah yang ia injak adalah bagian dari jaringan kehidupan, yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Mencintai lingkungan berarti merawat keberlanjutan kehidupan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk generasi yang akan datang.

Namun, ada satu bentuk cinta yang sering diremehkan, yaitu tentang cinta terhadap pekerjaan yang ia geluti. Banyak orang bekerja, bertujuan hanya untuk menggugurkan kewajiban, sekadar mencari nafkah, atau bahkan dengan rasa terpaksa. Pekerjaan dipandang sebagai beban, bukan sebagai ruang pengabdian. Di sinilah krisis makna terjadi.

Padahal pekerjaan, apa pun bentuknya, adalah salah satu medan paling konkret, untuk mempraktikkan cinta. Tidak ada pekerjaan yang rendah, jika dilakukan dengan niat yang tinggi. Yang membuat suatu pekerjaan menjadi mulia atau tidak, bukanlah jenisnya, melainkan cara manusia menjalaninya. Seorang petugas kebersihan yang bekerja dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan, jauh lebih bermartabat daripada pejabat tinggi, yang bekerja dengan lalai, mempersulit urusan pegawai maupun karyawannya, dan  bekerja hanya untuk memenuhi ambisi dan kepentingan pribadinya.

Baca Juga  RUU Jabatan Hakim sebagai Momentum Peningkatan Rule of Law Index Indonesia

Di sinilah konsep “bucin”, budak cinta, perlu direhabilitasi maknanya. Dalam budaya populer, “bucin” sering diasosiasikan dengan ketergantungan emosional yang tidak sehat. Namun dalam perspektif spiritual, menjadi “bucin” justru merupakan puncak kesadaran dan tunduk sepenuhnya kepada cinta yang murni, tanpa pamrih, tanpa manipulasi.

Menjadi bucin dalam arti ini adalah mencintai sesama makhluk hidup, lingkungan, dan pekerjaan dengan totalitas. Ia bekerja bukan karena diawasi, tetapi karena hatinya terpanggil. Ia membantu bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ia tidak bisa tidak membantu. Ia menjaga lingkungan bukan karena aturan, tetapi karena ia merasa menjadi bagian darinya.

Dalam dunia kerja, terutama di lingkungan pengadilan, konsep ini menemukan relevansi yang sangat mendalam. Pengadilan bukan sekadar tempat kerja. Ia adalah ruang penegakan keadilan, tempat di mana nasib manusia dipertaruhkan. Setiap keputusan, setiap berkas, setiap prosedur memiliki konsekuensi yang nyata bagi kehidupan orang lain.

Maka, bekerja di pengadilan tidak bisa sekadar melakukan pekerjaan administratif, ia harus bersifat eksistensial. Di sinilah konsep itqan dalam Islam menjadi sangat penting. Itqan berarti bekerja dengan totalitas, ketelitian, dan profesionalisme yang tinggi dan penuh integritas. Ia bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang proses yang dilakukan dengan kesungguhan.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Allah mencintai seseorang yang ketika bekerja, ia bekerja secara itqan/profesional dan penuh integritas. Ini bukan sekadar anjuran teknis, tetapi perintah moral dan spiritual. Bekerja dengan itqan adalah bentuk ibadah. Ia adalah manifestasi dari rasa syukur kepada Allah SWT.

Bayangkan seorang pegawai pengadilan yang datang setelah libur Panjang, setelah cuti bersama, setelah menikmati waktu bersama keluarga. Ia melangkahkan kaki ke kantor dengan perasaan berat, menganggap pekerjaan sebagai beban. Dalam kondisi seperti ini, pekerjaan akan dilakukan sekadarnya, tanpa jiwa, tanpa semangat. Namun, jika ia memahami bahwa pekerjaannya adalah manifestasi dari rasa syukur kepada Allah, maka segala sesuatu akan berubah. Ia akan melangkahkan kakinya dari rumah dengan niat untuk bekerja sepenuh hati, sebagai bentuk syukur atas anugerah yang diberi pada hari itu.

Ayat “اعملوا آل داوود شكراً” (Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur), memberikan pesan yang sangat mendalam. Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi bentuk ibadah. Setiap dokumen yang disusun, setiap perkara yang ditangani, setiap keputusan yang diambil, semuanya adalah wujud syukur atas nikmat kehidupan. Dalam perspektif ini, bekerja dengan asal-asalan bukan hanya persoalan profesionalitas, tetapi juga persoalan spiritual.

Ia berkata dalam hatinya, “Ya Allah, pekerjaan ini adalah amanah-Mu. Aku akan menjalaninya dengan sebaik-baiknya.” Niat ini sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Ia mengubah rutinitas menjadi ibadah, mengubah kewajiban menjadi pengabdian.

Sebaliknya, ketika seseorang bekerja dengan malas, dengan penuh keluhan, dengan sikap tidak peduli terhadap kualitas pekerjaannya, maka pada hakikatnya ia sedang mengingkari nikmat. Ia diberi pekerjaan, diberi kesempatan untuk berkontribusi, tetapi ia tidak menghargainya. Dalam perspektif ini, ketidakprofesionalan bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah spiritual.

Di lingkungan pengadilan, hal ini menjadi sangat krusial. Baik pimpinan maupun aparatur di level paling bawah memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan keharmonisan. Harmoni bukan berarti tanpa perbedaan, tetapi kemampuan untuk mengelola perbedaan dengan bijak.

Baca Juga  Dilema Noodweer dalam KUHP Nasional: Integrasi Doktrin Daf‘ al-Ṣa’il dan Reorientasi Legal Reasoning Hakim

Seorang pimpinan yang otoriter, yang tidak menghargai bawahannya, yang menciptakan suasana kerja penuh dengan tekanan, yang bertindaknya semau “gue,”  yang diberi saran atau masukan dianggap hasutan ataupun upaya pembangkangan, dan lain sebagainya, pada dasarnya telah gagal dalam mencintai. Ia mungkin memiliki jabatan, tetapi kehilangan makna. Sebaliknya, seorang pegawai yang bekerja dengan setengah hati, yang tidak peduli terhadap kualitas pekerjaannya, juga telah mengkhianati cinta itu.

Orang-orang yang tidak mampu menciptakan keharmonisan dalam dunia kerjanya adalah mereka yang belum memahami makna syukur. Mereka melihat pekerjaan sebagai beban, bukan sebagai amanah. Mereka bekerja sekadarnya, bukan sepenuhnya. Dalam istilah Islam, mereka belum mencapai derajat itqan.

Al-Qur’an dan hadis memberikan banyak gambaran tentang karakteristik orang-orang yang bekerja dengan itqan. Mereka adalah orang-orang yang jujur (shiddiq), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fathanah), dan menyampaikan kebenaran (tabligh). Mereka tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral.

Mereka tidak menunda pekerjaan tanpa alasan, tidak mengabaikan detail, dan tidak bekerja asal-asalan. Mereka sadar bahwa setiap tindakan mereka diawasi, bukan hanya oleh manusia, tetapi oleh Tuhan. Kesadaran ini melahirkan disiplin yang tidak bergantung pada pengawasan eksternal.

Lebih dari itu, mereka juga memiliki kepekaan sosial. Mereka memahami bahwa pekerjaan mereka berdampak pada orang lain. Seorang panitera yang teliti, seorang hakim yang adil, seorang pegawai administrasi yang responsif, semuanya berkontribusi pada terciptanya keadilan yang substantif.

Inilah bentuk nyata dari cinta dalam dunia kerja, yaitu bekerja dengan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan memiliki makna bagi kehidupan orang lain. Ketika kesadaran ini hadir, maka pekerjaan tidak lagi terasa hampa. Ia menjadi ruang aktualisasi diri, sekaligus jalan menuju kedekatan dengan Tuhan.

Pada akhirnya, manusia akan kembali kepada asalnya. Ia akan meninggalkan dunia ini, tetapi yang tersisa adalah jejak cinta yang ia tinggalkan. Apakah ia pernah membuat orang lain merasa dihargai? Apakah ia pernah menjaga lingkungan dengan penuh tanggung jawab? Apakah ia pernah bekerja dengan sepenuh hati?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, akan menentukan bagaimana ia dikenang. Sebab pada akhirnya, manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari bagaimana ia mencintai.

Maka, menjadi “bucin” dalam arti yang sejati bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru itulah bentuk tertinggi dari kemanusiaan. Menjadi budak cinta berarti membebaskan diri dari ego, dari kepentingan sempit, dari sikap acuh tak acuh. Ia adalah jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Menjadi “bucin” terhadap cinta ilahiah berarti menjadikan cinta sebagai pusat kehidupan. Ia bukan sekadar emosi, tetapi prinsip hidup. Ia menuntun cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Ia mengubah pekerjaan menjadi ibadah, relasi menjadi keberkahan, dan kehidupan menjadi perjalanan menuju Tuhan.

Dalam dunia pengadilan, di mana keadilan seharusnya menjadi nilai utama, cinta justru menjadi fondasi yang sering dilupakan. Padahal, tanpa cinta, hukum bisa menjadi kaku, prosedur bisa menjadi dingin, dan keadilan bisa kehilangan ruhnya.

Sudah saatnya kita mengembalikan cinta ke dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan. Bekerja dengan cinta, dengan itqan, dan dengan rasa Syukur, bukan hanya akan meningkatkan kualitas kerja, tetapi juga akan membawa ketenangan batin.

Manusia lahir dari cinta. Hidup dengan cinta. Dan ketika ia mati, ia akan kembali kepada cinta itu. Pertanyaannya hanya satu: selama hidup, apakah ia benar-benar telah mencinta?

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel cinta lahir manusia mati
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

September 16, 2026

Meredefinisi Peran Ahli Hukum dalam Persidangan Perkara Pidana

September 16, 2026

Jadi Hakim Tuh Harus Pinter!

September 14, 2026
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,403 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026

Di Balik Tradisi ‘Mohon Izin’: Meneguhkan Etika dan Jati Diri Prajurit pada HUT ke-81 TNI AL

September 10, 2026
Don't Miss

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

By Sri Nurmina Sari, S.HSeptember 16, 20260

PENDAHULUAN Salah satu adagium hukum yang pertama kali diperkenalkan pada telinga penulis saat menjadi mahasiswa…

Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan

September 16, 2026

Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok

September 16, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi
  • Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan
  • Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok
  • Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe
  • Meredefinisi Peran Ahli Hukum dalam Persidangan Perkara Pidana

Recent Comments

  1. Masjudul Haq on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  2. Ahmad Satiri on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  3. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  4. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  5. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Sri Nurmina Sari, S.H
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.