Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Independensi Pengawasan Syariah Dan Implikasinya Terhadap Kewenangan Pengadilan Agama Dalam Sengketa Ekonomi SYARIAH

21 April 2026 • 14:12 WIB

Ketua MA: Pemidanaan Bukan Lagi Sekadar Pembalasan

21 April 2026 • 12:06 WIB

Penyesuaian Pidana di Era KUHP Baru: Antara Fleksibilitas Norma dan Ancaman Disparitas Putusan

21 April 2026 • 11:59 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Manusia Lahir dari Cinta, Hidup dengan Cinta, Matipun karena Cinta
Artikel

Manusia Lahir dari Cinta, Hidup dengan Cinta, Matipun karena Cinta

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin Hasibuan5 April 2026 • 07:33 WIB8 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Ada sesuatu yang sunyi, namun paling hakiki dalam kehidupan manusia, ialah cinta. Ia tidak selalu berisik seperti puisi, tidak selalu tampak seperti pelukan, dan tidak selalu hadir dalam kata-kata yang indah. Tetapi, justru dalam diam itulah ia bekerja. Ia menggerakkan, menghidupkan, bahkan menentukan arah keberadaan manusia. Jika ditelusuri secara jujur, manusia lahir dari cinta, hidup dengan cinta, dan pada akhirnya, mati pun karena cinta. Namun ironisnya, justru dalam kehidupan sehari-hari, cinta sering kali menjadi konsep yang paling disempitkan, direduksi hanya pada relasi romantis, atau bahkan dianggap kelemahan, ketika dibawa ke dalam dunia kerja.

Padahal, jika kita menelusuri lebih dalam, cinta adalah fondasi eksistensial manusia. Ia bukan sekadar perasaan, melainkan energi spiritual yang menghidupkan makna. Dalam perspektif yang lebih tinggi, cinta bukan hanya soal manusia dengan manusia, tetapi juga manusia dengan seluruh makhluk, manusia dengan pekerjaannya, bahkan manusia dengan Tuhannya. Inilah yang oleh A. Helwa dalam Secrets of Divine Love disebut sebagai divine love. Cinta ilahiah yang menuntut totalitas, ketundukan, bahkan “perbudakan,” dalam arti spiritual: menjadi “bucin” kepada cinta itu sendiri.

Namun, menjadi “bucin” dalam konteks ini bukanlah kehilangan akal sehat, melainkan menemukan kesadaran tertinggi bahwa hidup tanpa cinta adalah kehampaan. Menjadi budak cinta berarti menyerahkan ego, menundukkan kesombongan, dan mengakui bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh posisi, jabatan, atau pengakuan, melainkan oleh seberapa dalam kita mencintai dan memaknai setiap peran yang kita jalani.

Lahir dari cinta bukan sekadar ungkapan sentimental. Ia adalah kenyataan ontologis. Seorang anak tidak hadir dari kehampaan, melainkan dari pertemuan dua manusia yang dalam satu atau lain bentuk, digerakkan oleh rasa kasih. Bahkan dalam kondisi yang paling sederhana sekalipun, ada energi kehidupan yang bekerja, yang oleh banyak tradisi spiritual disebut sebagai rahmat. Maka sejak awal, manusia sudah dibentuk oleh cinta. Ia bukan sekadar makhluk biologis, tetapi makhluk relasional, yang keberadaannya bergantung pada keterhubungan.

Namun, persoalan utama manusia bukanlah apakah ia pernah menerima cinta, melainkan apakah ia mampu menghidupkan cinta itu dalam perjalanan hidupnya. Di sinilah banyak orang tersesat. Mereka mencari makna di luar, mengejar status, jabatan, atau pengakuan, tetapi lupa bahwa inti dari semua itu adalah bagaimana mereka mencintai sesama, lingkungan, dan bahkan pekerjaan yang mereka jalani setiap hari.

Cinta kepada sesama makhluk hidup adalah bentuk paling nyata dari kemanusiaan. Ia bukan hanya tentang berbuat baik kepada orang yang kita sukai, tetapi justru kepada mereka yang berbeda, yang mungkin tidak kita pahami, bahkan yang pernah melukai kita. Cinta yang sejati tidak selektif, ia inklusif. Ia tidak bertanya, “Apa manfaatnya bagiku?” melainkan “Apa yang bisa aku berikan?”

Dalam konteks yang lebih luas, cinta juga harus meluas kepada lingkungan hidup. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi ruang kehidupan bersama. Ketika manusia merusak lingkungan, pada hakikatnya ia sedang mengkhianati cinta itu sendiri. Ia lupa bahwa udara yang ia hirup, air yang ia minum, dan tanah yang ia injak adalah bagian dari jaringan kehidupan, yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Mencintai lingkungan berarti merawat keberlanjutan kehidupan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk generasi yang akan datang.

Namun, ada satu bentuk cinta yang sering diremehkan, yaitu tentang cinta terhadap pekerjaan yang ia geluti. Banyak orang bekerja, bertujuan hanya untuk menggugurkan kewajiban, sekadar mencari nafkah, atau bahkan dengan rasa terpaksa. Pekerjaan dipandang sebagai beban, bukan sebagai ruang pengabdian. Di sinilah krisis makna terjadi.

Padahal pekerjaan, apa pun bentuknya, adalah salah satu medan paling konkret, untuk mempraktikkan cinta. Tidak ada pekerjaan yang rendah, jika dilakukan dengan niat yang tinggi. Yang membuat suatu pekerjaan menjadi mulia atau tidak, bukanlah jenisnya, melainkan cara manusia menjalaninya. Seorang petugas kebersihan yang bekerja dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan, jauh lebih bermartabat daripada pejabat tinggi, yang bekerja dengan lalai, mempersulit urusan pegawai maupun karyawannya, dan  bekerja hanya untuk memenuhi ambisi dan kepentingan pribadinya.

Baca Juga  Keshalehan Diri Pribadi dan Keadilan Sosial

Di sinilah konsep “bucin”, budak cinta, perlu direhabilitasi maknanya. Dalam budaya populer, “bucin” sering diasosiasikan dengan ketergantungan emosional yang tidak sehat. Namun dalam perspektif spiritual, menjadi “bucin” justru merupakan puncak kesadaran dan tunduk sepenuhnya kepada cinta yang murni, tanpa pamrih, tanpa manipulasi.

Menjadi bucin dalam arti ini adalah mencintai sesama makhluk hidup, lingkungan, dan pekerjaan dengan totalitas. Ia bekerja bukan karena diawasi, tetapi karena hatinya terpanggil. Ia membantu bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ia tidak bisa tidak membantu. Ia menjaga lingkungan bukan karena aturan, tetapi karena ia merasa menjadi bagian darinya.

Dalam dunia kerja, terutama di lingkungan pengadilan, konsep ini menemukan relevansi yang sangat mendalam. Pengadilan bukan sekadar tempat kerja. Ia adalah ruang penegakan keadilan, tempat di mana nasib manusia dipertaruhkan. Setiap keputusan, setiap berkas, setiap prosedur memiliki konsekuensi yang nyata bagi kehidupan orang lain.

Maka, bekerja di pengadilan tidak bisa sekadar melakukan pekerjaan administratif, ia harus bersifat eksistensial. Di sinilah konsep itqan dalam Islam menjadi sangat penting. Itqan berarti bekerja dengan totalitas, ketelitian, dan profesionalisme yang tinggi dan penuh integritas. Ia bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang proses yang dilakukan dengan kesungguhan.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Allah mencintai seseorang yang ketika bekerja, ia bekerja secara itqan/profesional dan penuh integritas. Ini bukan sekadar anjuran teknis, tetapi perintah moral dan spiritual. Bekerja dengan itqan adalah bentuk ibadah. Ia adalah manifestasi dari rasa syukur kepada Allah SWT.

Bayangkan seorang pegawai pengadilan yang datang setelah libur Panjang, setelah cuti bersama, setelah menikmati waktu bersama keluarga. Ia melangkahkan kaki ke kantor dengan perasaan berat, menganggap pekerjaan sebagai beban. Dalam kondisi seperti ini, pekerjaan akan dilakukan sekadarnya, tanpa jiwa, tanpa semangat. Namun, jika ia memahami bahwa pekerjaannya adalah manifestasi dari rasa syukur kepada Allah, maka segala sesuatu akan berubah. Ia akan melangkahkan kakinya dari rumah dengan niat untuk bekerja sepenuh hati, sebagai bentuk syukur atas anugerah yang diberi pada hari itu.

Ayat “اعملوا آل داوود شكراً” (Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur), memberikan pesan yang sangat mendalam. Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi bentuk ibadah. Setiap dokumen yang disusun, setiap perkara yang ditangani, setiap keputusan yang diambil, semuanya adalah wujud syukur atas nikmat kehidupan. Dalam perspektif ini, bekerja dengan asal-asalan bukan hanya persoalan profesionalitas, tetapi juga persoalan spiritual.

Ia berkata dalam hatinya, “Ya Allah, pekerjaan ini adalah amanah-Mu. Aku akan menjalaninya dengan sebaik-baiknya.” Niat ini sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Ia mengubah rutinitas menjadi ibadah, mengubah kewajiban menjadi pengabdian.

Sebaliknya, ketika seseorang bekerja dengan malas, dengan penuh keluhan, dengan sikap tidak peduli terhadap kualitas pekerjaannya, maka pada hakikatnya ia sedang mengingkari nikmat. Ia diberi pekerjaan, diberi kesempatan untuk berkontribusi, tetapi ia tidak menghargainya. Dalam perspektif ini, ketidakprofesionalan bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah spiritual.

Di lingkungan pengadilan, hal ini menjadi sangat krusial. Baik pimpinan maupun aparatur di level paling bawah memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan keharmonisan. Harmoni bukan berarti tanpa perbedaan, tetapi kemampuan untuk mengelola perbedaan dengan bijak.

Baca Juga  Tirai Tipis Budaya dan Pidana: Fenomena Adat Merariq (Melarikan Mempelai Perempuan) Dalam Perkawinan Suku Sasak di Lombok

Seorang pimpinan yang otoriter, yang tidak menghargai bawahannya, yang menciptakan suasana kerja penuh dengan tekanan, yang bertindaknya semau “gue,”  yang diberi saran atau masukan dianggap hasutan ataupun upaya pembangkangan, dan lain sebagainya, pada dasarnya telah gagal dalam mencintai. Ia mungkin memiliki jabatan, tetapi kehilangan makna. Sebaliknya, seorang pegawai yang bekerja dengan setengah hati, yang tidak peduli terhadap kualitas pekerjaannya, juga telah mengkhianati cinta itu.

Orang-orang yang tidak mampu menciptakan keharmonisan dalam dunia kerjanya adalah mereka yang belum memahami makna syukur. Mereka melihat pekerjaan sebagai beban, bukan sebagai amanah. Mereka bekerja sekadarnya, bukan sepenuhnya. Dalam istilah Islam, mereka belum mencapai derajat itqan.

Al-Qur’an dan hadis memberikan banyak gambaran tentang karakteristik orang-orang yang bekerja dengan itqan. Mereka adalah orang-orang yang jujur (shiddiq), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fathanah), dan menyampaikan kebenaran (tabligh). Mereka tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral.

Mereka tidak menunda pekerjaan tanpa alasan, tidak mengabaikan detail, dan tidak bekerja asal-asalan. Mereka sadar bahwa setiap tindakan mereka diawasi, bukan hanya oleh manusia, tetapi oleh Tuhan. Kesadaran ini melahirkan disiplin yang tidak bergantung pada pengawasan eksternal.

Lebih dari itu, mereka juga memiliki kepekaan sosial. Mereka memahami bahwa pekerjaan mereka berdampak pada orang lain. Seorang panitera yang teliti, seorang hakim yang adil, seorang pegawai administrasi yang responsif, semuanya berkontribusi pada terciptanya keadilan yang substantif.

Inilah bentuk nyata dari cinta dalam dunia kerja, yaitu bekerja dengan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan memiliki makna bagi kehidupan orang lain. Ketika kesadaran ini hadir, maka pekerjaan tidak lagi terasa hampa. Ia menjadi ruang aktualisasi diri, sekaligus jalan menuju kedekatan dengan Tuhan.

Pada akhirnya, manusia akan kembali kepada asalnya. Ia akan meninggalkan dunia ini, tetapi yang tersisa adalah jejak cinta yang ia tinggalkan. Apakah ia pernah membuat orang lain merasa dihargai? Apakah ia pernah menjaga lingkungan dengan penuh tanggung jawab? Apakah ia pernah bekerja dengan sepenuh hati?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, akan menentukan bagaimana ia dikenang. Sebab pada akhirnya, manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari bagaimana ia mencintai.

Maka, menjadi “bucin” dalam arti yang sejati bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru itulah bentuk tertinggi dari kemanusiaan. Menjadi budak cinta berarti membebaskan diri dari ego, dari kepentingan sempit, dari sikap acuh tak acuh. Ia adalah jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Menjadi “bucin” terhadap cinta ilahiah berarti menjadikan cinta sebagai pusat kehidupan. Ia bukan sekadar emosi, tetapi prinsip hidup. Ia menuntun cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Ia mengubah pekerjaan menjadi ibadah, relasi menjadi keberkahan, dan kehidupan menjadi perjalanan menuju Tuhan.

Dalam dunia pengadilan, di mana keadilan seharusnya menjadi nilai utama, cinta justru menjadi fondasi yang sering dilupakan. Padahal, tanpa cinta, hukum bisa menjadi kaku, prosedur bisa menjadi dingin, dan keadilan bisa kehilangan ruhnya.

Sudah saatnya kita mengembalikan cinta ke dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan. Bekerja dengan cinta, dengan itqan, dan dengan rasa Syukur, bukan hanya akan meningkatkan kualitas kerja, tetapi juga akan membawa ketenangan batin.

Manusia lahir dari cinta. Hidup dengan cinta. Dan ketika ia mati, ia akan kembali kepada cinta itu. Pertanyaannya hanya satu: selama hidup, apakah ia benar-benar telah mencinta?

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel cinta lahir manusia mati
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Independensi Pengawasan Syariah Dan Implikasinya Terhadap Kewenangan Pengadilan Agama Dalam Sengketa Ekonomi SYARIAH

21 April 2026 • 14:12 WIB

Dualisme Kewenangan dan Formasi Majelis: Solusi Penyelesaian Sengketa Niaga Syari’ah di Pengadilan Niaga

20 April 2026 • 19:00 WIB

Antara Komando dan Keadilan: Ujian Etika dan Independensi Hakim Militer Pasca KUHAP Baru

20 April 2026 • 18:49 WIB
Demo
Top Posts

Etika Bermedia Sosial bagi Hakim: Antara Ekspresi Diri dan Marwah Peradilan

13 March 2026 • 20:03 WIB

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB
Don't Miss

Independensi Pengawasan Syariah Dan Implikasinya Terhadap Kewenangan Pengadilan Agama Dalam Sengketa Ekonomi SYARIAH

By Hermanto21 April 2026 • 14:12 WIB0

Oleh; Hermanto, S.H.I., M.E. (Ketua Pengadilan Agama Mentok) A. Pendahuluan Perkembangan lembaga keuangan syariah di…

Ketua MA: Pemidanaan Bukan Lagi Sekadar Pembalasan

21 April 2026 • 12:06 WIB

Penyesuaian Pidana di Era KUHP Baru: Antara Fleksibilitas Norma dan Ancaman Disparitas Putusan

21 April 2026 • 11:59 WIB

Pelatihan Niaga Syariah Hari Kedua: Dekan FH UI Soroti Harmonisasi Regulasi Niaga Syariah

21 April 2026 • 11:54 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Independensi Pengawasan Syariah Dan Implikasinya Terhadap Kewenangan Pengadilan Agama Dalam Sengketa Ekonomi SYARIAH
  • Ketua MA: Pemidanaan Bukan Lagi Sekadar Pembalasan
  • Penyesuaian Pidana di Era KUHP Baru: Antara Fleksibilitas Norma dan Ancaman Disparitas Putusan
  • Pelatihan Niaga Syariah Hari Kedua: Dekan FH UI Soroti Harmonisasi Regulasi Niaga Syariah
  • Reposisi Peran Hakim dalam KUHAP Baru: Penguatan Judicial Control dalam Peradilan Militer

Recent Comments

  1. tadalafil cost goodrx on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  2. tadalafil 5mg directions on Konsekuensi Hukum Penetapan Pengembalian Berkas oleh KPN dalam Proses MKR di Tingkat Penyidikan dan Penuntutan
  3. doxycycline monohydrate 100mg on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
  4. lasix for dogs 12.5 mg on Kerahasiaan Perkara Perceraian: Mengkaji Ulang Anonimisasi Putusan
  5. esomeprazole magnesium 40 mg generic on Debu di Atas Map Hijau
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.