Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

November 1, 2026

MOVE!

November 1, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Benur, Izin Usaha, dan Batas Halus antara Administrasi dan Pidana Perikanan

Benur, Izin Usaha, dan Batas Halus antara Administrasi dan Pidana Perikanan

Laut Indonesia tidak hanya menyimpan ikan, tetapi juga masa depan. Ia menjadi sumber nafkah masyarakat pesisir, ruang hidup ekosistem, dan amanah konstitusional yang harus dijaga dengan hukum yang cermat. Karena itu, perkara pengangkutan benih bening lobster tanpa izin usaha tidak cukup dibaca sebagai pelanggaran administratif, tetapi juga sebagai pertanyaan penting tentang batas ketegasan negara dan proporsionalitas pidana sebagai jalan terakhir.
Unggul SenoajiBy Unggul SenoajiMay 25, 2026 · 09:10 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Laut Indonesia tidak hanya menyimpan ikan, tetapi juga masa depan. Ia menjadi sumber nafkah masyarakat pesisir, ruang hidup ekosistem, dan amanah konstitusional yang harus dijaga dengan hukum yang cermat. Perkara pengangkutan benih bening lobster tanpa izin usaha, sebab itu, tidak cukup dibaca sebagai pelanggaran administratif. Ia juga membuka pertanyaan penting tentang batas ketegasan negara dan proporsionalitas pidana sebagai jalan terakhir.

Laut Indonesia bukan sekadar ruang ekonomi. Ia adalah ruang hidup, sumber nafkah, sekaligus amanah konstitusional yang harus dijaga keberlanjutannya. Di dalamnya, ikan bukan hanya komoditas, melainkan bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat pesisir, nelayan kecil, pelaku usaha, dan generasi yang belum lahir.

Atas dasar itu, hukum perikanan tidak boleh dibaca hanya sebagai kumpulan pasal mengenai izin, larangan, dan ancaman pidana. Ia harus dibaca sebagai ikhtiar negara menjaga keseimbangan: antara pemanfaatan dan kelestarian, antara kemudahan berusaha dan tanggung jawab ekologis, antara kepastian hukum dan keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Dari titik inilah kajian mengenai penyidikan tindak pidana perikanan tanpa izin usaha dalam Laporan Polisi Nomor LP/A/398/IX/2021/SPKT.Ditpolairud/Polda Jawa Tengah menjadi menarik. Perkara tersebut berangkat dari dugaan pengangkutan benih bening lobster atau benur di wilayah Cilacap. Berdasarkan kajian Ahmad Silahuddin dan Andri Winjaya Laksana, peristiwa itu terjadi pada 31 Agustus 2021 sekitar pukul 18.45 WIB di Jalan Jeruk Legi Nomor 72, Cilacap Selatan, dengan barang bukti 53 kantong plastik berisi 9.320 ekor benur yang dibawa menggunakan mobil Avanza merah bernomor polisi R 9474 PK (Silahuddin & Laksana, 2025).

Pada pandangan pertama, perkara ini tampak sederhana. Ada benur. Ada pengangkutan. Ada dugaan ketiadaan izin. Meski begitu, hukum yang matang tidak boleh berhenti pada kesan awal. Di balik perkara tersebut tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar: kapan pelanggaran perizinan dalam usaha perikanan layak ditarik ke ranah pidana, dan kapan ia lebih tepat diselesaikan melalui instrumen administratif, pembinaan, atau pengawasan?

Pertanyaan ini penting sebab rezim hukum perikanan berada di persimpangan dua kepentingan besar. Di satu sisi, negara wajib melindungi sumber daya ikan dari praktik yang merusak, termasuk kegiatan perikanan tanpa izin yang berpotensi mengganggu tata kelola sumber daya laut. Di sisi lain, perkembangan hukum setelah hadirnya Undang-Undang Cipta Kerja membawa semangat penyederhanaan perizinan dan perizinan berusaha berbasis risiko. Pada titik ini, penegakan hukum perlu bekerja dengan presisi, bukan semata dengan kekerasan norma.

Konstruksi hukum dalam perkara tersebut bertumpu pada Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Perikanan yang dibaca secara sistematis dengan Pasal 92. Pasal 92 mengatur ancaman pidana terhadap setiap orang yang dengan sengaja melakukan usaha perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia dalam bidang penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran ikan tanpa SIUP. Ancaman pidananya tidak ringan, yakni pidana penjara paling lama delapan tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar (Silahuddin & Laksana, 2025).

Mengingat ancamannya berat, pembuktiannya tidak boleh ringan. Unsur “dengan sengaja” harus menjadi pusat perhatian. Dalam hukum pidana, kesengajaan bukan sekadar kata yang ditempelkan dalam rumusan pasal. Ia adalah pintu masuk untuk menilai sikap batin pelaku. Apakah seseorang benar-benar mengetahui kewajiban izin dan dengan sadar mengabaikannya? Ataukah yang terjadi adalah kelalaian administratif, ketidaktahuan, atau kekacauan tata kelola perizinan?

Baca Juga  Tujuan Pemidanaan, Inovasi Pemaafan Hakim, dan Ragam Pidana dalam KUHP Nasional

Kajian tersebut menegaskan bahwa dalam perizinan berbasis risiko, unsur kesengajaan tidak cukup dimaknai sebagai kehendak melakukan perbuatan fisik semata. Kesengajaan harus menjangkau kehendak atau kesadaran untuk tidak memenuhi kewajiban perizinan. Dalam rumusan yang lebih jernih, untuk memidana seseorang karena tidak memiliki izin usaha perikanan, penegak hukum perlu membuktikan bahwa pelaku memang mengetahui kewajiban izin dan secara sadar tidak mengurusnya, bukan sekadar terjatuh dalam maladministrasi (Silahuddin & Laksana, 2025).

Di sini terlihat betapa pentingnya membedakan hukum administrasi dan hukum pidana. Izin usaha perikanan memang bukan formalitas kosong. Dalam Undang-Undang Perikanan, SIUP adalah izin tertulis yang wajib dimiliki perusahaan perikanan untuk menjalankan usaha perikanan dengan sarana produksi yang tercantum dalam izin tersebut. Izin adalah alat kendali negara untuk memastikan usaha perikanan berjalan tertib, terukur, dan tidak merusak sumber daya.

Meski demikian, pidana juga bukan alat yang boleh digunakan untuk semua bentuk pelanggaran. Dalam negara hukum yang beradab, pidana adalah instrumen keras yang harus ditempatkan secara proporsional. Ia diperlukan ketika pelanggaran telah mengandung kesalahan yang nyata, menimbulkan bahaya serius, atau menunjukkan sikap mengabaikan hukum secara sadar. Jika setiap kekurangan administratif otomatis diperlakukan sebagai tindak pidana, hukum kehilangan kehalusan nalarnya.

Pembaruan hukum pidana nasional memberi cahaya baru untuk membaca persoalan ini. KUHP Nasional menegaskan bahwa pertanggungjawaban pidana pada dasarnya bertumpu pada kesengajaan atau kealpaan yang ditentukan oleh undang-undang. Lebih jauh, pemidanaan tidak lagi dimaksudkan semata sebagai pembalasan, tetapi juga untuk melindungi masyarakat, membina pelaku, menyelesaikan konflik, memulihkan keseimbangan, dan menjaga martabat manusia.

Cara pandang ini penting bagi hakim, penuntut umum, penyidik, dan seluruh aparat penegak hukum. Perkara perikanan tanpa izin tidak cukup dibaca hanya dengan pertanyaan: “Apakah izin ada atau tidak?” Pertanyaan itu memang penting, tetapi belum selesai. Pertanyaan berikutnya harus diajukan dengan jernih: “Apakah ketiadaan izin itu merupakan pilihan sadar untuk melanggar hukum? Apakah ada keuntungan ekonomi yang sistematis? Apakah perbuatan itu mengancam kelestarian sumber daya ikan? Apakah pidana penjara benar-benar diperlukan?”

Pada sisi penyidikan, perkara benur ini juga memperlihatkan tantangan yang khas. Barang bukti berupa benih bening lobster bukan benda mati yang dapat disimpan begitu saja. Ia adalah organisme hidup yang memerlukan penanganan cepat. Kajian tersebut mencatat bahwa benur tidak dapat bertahan lama jika oksigen dalam kantong plastik habis, sehingga penghitungan harus segera dilakukan. Fakta ini menunjukkan bahwa penyidikan tindak pidana perikanan membutuhkan bukan hanya keterampilan hukum, tetapi juga kepekaan teknis dan ekologis.

Kajian tersebut menyimpulkan bahwa penyidikan dalam perkara ini memenuhi kriteria Peraturan Kepolisian Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyidikan Tindak Pidana. Meski begitu, hambatan yang muncul tidak sederhana. Dari sisi substansi hukum, terdapat pergeseran paradigma antara rezim perikanan yang kuat menekankan kelestarian sumber daya dan rezim perizinan berusaha yang membawa semangat kemudahan investasi. Dari sisi struktur hukum, dibutuhkan penyidik profesional yang mampu membaca norma perizinan berbasis risiko. Dari sisi budaya hukum, terdapat tantangan masyarakat yang sering kali lebih tergoda oleh insentif ekonomi daripada kesadaran menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan (Silahuddin & Laksana, 2025).

Baca Juga  Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau Menyapa: Menguatkan Pemahaman KUHP Nasional dan Tantangan Pembaharuannya

Keadaan ini mengajarkan satu hal penting: penegakan hukum perikanan tidak boleh berjalan sendiri. Ia memerlukan koordinasi yang kuat antara penyidik, penuntut umum, pengawas perikanan, ahli, dan lembaga perizinan. Tanpa pemahaman yang sama, perkara serupa dapat diperlakukan berbeda-beda. Di satu tempat dipandang sebagai kejahatan serius, di tempat lain dianggap sekadar pelanggaran administratif. Ketidakkonsistenan seperti ini dapat melukai kepastian hukum sekaligus mengaburkan rasa keadilan.

Kehati-hatian, tentu, tidak berarti pembiaran. Benur adalah bagian dari masa depan laut. Perdagangan dan pengangkutan benur tanpa kendali dapat merusak keberlanjutan sumber daya, melemahkan tata kelola, dan menempatkan nelayan kecil dalam lingkaran ekonomi yang rapuh. Negara tetap harus hadir secara tegas. Bedanya, ketegasan itu harus berwajah proporsional: tajam terhadap kejahatan yang terorganisasi dan eksploitatif, tetapi tetap bijak terhadap pelanggaran yang lebih tepat diselesaikan melalui pembinaan dan pemulihan kepatuhan.

Sebagai penutup, perkara ini memperlihatkan bahwa hukum perikanan bukan semata urusan laut, izin, dan barang bukti. Ia adalah cermin tentang bagaimana negara memperlakukan sumber dayanya, bagaimana aparat membaca kesalahan, dan bagaimana pengadilan kelak menimbang keadilan. Hukum yang baik tidak hanya bertanya apakah suatu norma dilanggar, tetapi juga mengapa pidana diperlukan, untuk siapa hukum ditegakkan, dan masa depan apa yang hendak diselamatkan.

Laut Indonesia membutuhkan hukum yang tegas, tetapi tidak gegabah. Membutuhkan aparat yang berani, tetapi juga cermat. Membutuhkan hakim yang menjaga kepastian, tetapi tetap mendengar denyut keadilan. Sebab dalam setiap benur yang diselamatkan, sesungguhnya ada pesan yang lebih besar: bahwa kekayaan laut bukan warisan yang boleh dihabiskan hari ini, melainkan amanah yang harus diteruskan dengan akal sehat, nurani, dan hukum yang berkeadaban.

Referensi

Silahuddin, A., & Laksana, A. W. (2025). Legal analysis of investigation of fishery criminal acts without a business license: Police report study No. LP/A/398/IX/2021/SPKT.Ditpolairud/Polda Jawa Tengah. Ratio Legis Journal, 4(4), 4782–4801.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.

Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyidikan Tindak Pidana.

Unggul Senoaji
Kontributor
Unggul Senoaji
Hakim Ad Hoc Pengadilan Negeri Merauke

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Benih Bening Lobster Benur Hukum Perikanan Izin Usaha Perikanan Kelestarian Laut KUHP Nasional Pengangkutan Benur Penyidikan Perikanan Tindak Pidana Perikanan
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak

October 30, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

By Bagus Partha WijayaNovember 1, 20260

Sebagai implementasi nyata sekaligus inisiasi program kepedulian dilingkungan Pengadilan Militer dibawah kepemimpinan Kolonel Laut (H)…

MOVE!

November 1, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer
  • MOVE!
  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.