Malik mengenal bukit itu sebelum ia mengenal kitab kuning dan istilah-istilah besar tentang maslahat. Sejak kecil, bukit di belakang desanya adalah tempat ia belajar banyak hal tanpa sadar. Di sanalah ia berlari tanpa alas kaki, memanjat pohon jambu, dan berbaring memandang awan sambil menebak-nebak bentuknya. Bukit itu hijau, teduh, dan seperti penjaga desa yang diam namun setia. Kini, setiap kali Malik memandang ke arah yang sama, yang ia lihat hanyalah tanah merah dan bekas roda kendaraan berat. Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, Malik pergi menuju Lembaga Cahaya Umat dengan mengendarai sepeda ontel warisan bapaknya. Ia datang sebagai santri dan relawan,…
Read More